Pemahaman Alkitab Oktober 2018

Oktober I

Bacaan : Kejadian 20 : 1 – 18
Tema Liturgis : Dipersekutukan dalam Kuasa Nama Kristus
Tema PA          : Perjumpaan butuh ketulusan

 

Keterangan Teks :

Setiap perbuatan berangkat dari suatu alasan. Tokoh-tokoh dalam bacaan ini juga berbuat sesuatu karena suatu alasan :

  1. Abimelekh mengambil Sara, dengan alasan Abraham mengatakan “Dia saudaraku”
  2. Abraham tidak jujur, dengan alasan menyangka orang Gerar tidak takut akan Allah dan takut dibunuh.

Nampaknya, ini cerita yang pantas disesali, mengingat untuk kedua kalinya Abraham melakukan kepalsuan / kebohongan di tempat baru mengenai identitas Sara, istrinya yang diakunya sebagai adiknya karena alasan ketakutan (bandingkan dengan Kejadian 12 : 10 – 20). Pada akhirnya, kita melihat kembali bahwa Allah turut campur tangan dalam menyelesaikan persoalan itu.

Abraham, sebagai seorang nabi yang dipanggil Tuhan dari negerinya menuju negeri yang akan ditunjukkan Tuhan baginya, pernah gagal menghayati pemeliharaan Allah. Ketakutan pada perjumpaan dan situasi baru yang mengancam membuat Abraham gagal tampil sebagai pribadi yang tulus dan jujur.  Justru, kita melihat teladan ketulusan dan sikap ksatria itu dari Abimelekh, yang ketika ditegur oleh Tuhan dia menerima dengan terbuka dan segera mengambil sikap terbaiknya.  Allah menjaga mereka yang tulus hati dan mencegah terjadinya perbuatan dosa Abimelekh karena Sara.

Ketulusan hati dibutuhkan dalam membangun hidup bersama. Abimelekh hampir menjadi korban hukuman Allah atas kesalahan yang tidak dibuatnya, namun ketulusan membuatnya menerima kesalahan Abraham, memaafkan dan bersedia berbagi hidup bersama.

 

Realitas kehidupan terkini dan penerapan :

  1. Dunia kita sekarang sangat transaksional, perhitungan untung dan rugi sangat mewarnai. Sekolah yang mengklaim diri sebagai terbaik, menuntut biaya yang melejit. Membantu anak belajar di luar jam sekolah, dihitung rupiah permenitnya. Menolong orang lain harus melewati tawar menawar batin mengenai manfaat apa yang akan didapat dari sana. Bahkan, membantu kerabat, saudara dan keluarga masih juga terhalang tembok pertimbangan untung dan rugi. Ketulusan dalam hidup bersama menjadi langka dan mulai tergusur, termasuk dalam hidup keluarga. Sementara, hidup bersama dalam keluargalah tempat latihan yang tepat untuk menumbuhkan dan merawat sikap yang tulus itu.
  2. Bulan ekumene mengingatkan kita pada semangat untuk tinggal dalam rumah bersama. Perjumpaan-perjumpaan kita dengan pribadi lain terjadi sejak di dalam rumah hingga ketika keluar dari rumah bertemu dengan mereka yang berbeda latar belakangnya. Dibutuhkan ketulusan dan kepercayaan diri tanpa kecemasan yang dilandasi pengharapan kepada Tuhan dalam menghidupi perjumpaan ini. Jika tidak, kita bisa gagal seperti Abraham yang menyembunyikan identitas istrinya dan membohongi raja Abimelekh. Sekalipun sikap Abraham ini berangkat dari sebuah alasan yang bisa diterima, namun sikapnya lebih banyak karena prasangka. Ia menyangka orang Gerar tidak takut akan Tuhan sehingga ia tidak percaya diri tinggal di situ. Ia cemas akan keselamatan dirinya, lantas berbohong tentang dirinya.
  3. Kali ini, mari belajar dari sikap raja Abimelekh yang memiliki ketulusan dan sikap ksatria. Ketika ditegur oleh Tuhan dia menerima dengan terbuka dan segera mengambil sikap terbaiknya, mengembalikan Sara pada Abraham. Abimelekh menegur kekeliruan Abraham dengan baik dan menawarkan “persaudaraan” dengan berbagi tempat  bersama Abraham. Ketulusan bukan sesuatu yang instan, namun butuh proses. Keluarga perlu terbuka terhadap proses ini dengan tumbuh bersama dengan ketulusan bersama anggota di dalamnya. Setiap orang dalam keluarga mungkin pernah keliru, tuluslah memaafkan dan menawarkan diri sebagai teman bertumbuh. Masing-masing orang dalam keluarga punya perbedaan, tuluslah menerima dengan yakin akan kasih-Nya yang berkarya. Jika sikap ini dibangun, ketika anggota keluarga keluar dari rumah dan berjumpa dengan orang-orang yang lebih banyak dan beragam, ia tidak kehilangan ketulusan, percaya diri dan tidak mengalami kecemasan. Anggota keluarga yang demikian akan menjadi anggota gereja dan masyarakat yang selalu percaya diri membangun perjumpaan dengan siapapun dan kapanpun.

 

Pertanyaan Reflektif :

  1. Menurut saudara apa yang menjadi tantangan besar dalam hidup bersama (keluarga, jemaat maupun masyarakat) dalam mengembangkan sikap tulus?
  2. Apa yang bisa kita lakukan sebagai pribadi, keluarga dan gereja supaya setiap orang memiliki ketulusan dalam setiap perjumpaan?

 

Penutup :

Perjumpaan dua orang atau lebih, berpotensi menimbulkan gesekan karena setiap orang berbeda dan bisa keliru. Dengan membangun sikap yang tulus dalam setiap perjumpaan disertai dengan harapan pada kasih Tuhan, maka setiap orang akan dimampukan untuk percaya diri dan tidak cemas dalam menjalin relasi. Hidup di dunia dengan orang baru apalagi berbeda penuh dengan prasangka. Salah satu cara menghancurkannya adalah dengan berjumpa, membangun relasi dan komunikasi. Tuluslah melakukannya dan yakinlah bahwa Allah turut serta di sana.

Oktober II

 

Bacaan: Roma 15:7-13
Tema: Siap Dipanggil dan diutus membawa pengharapan.

 

“Perbedaan Bukan Alasan Menolak Panggilan Tuhan.”

 

Keterangan Teks

Memahami perikop bacaan Roma 15:7-13 tentu tidak bisa dipisahkan dari perikop ini seutuhnya, Roma 15:1-13. Di ayat 1 Paulus memberikan suatu pengantar yang cukup jelas, di mana Paulus menyebutkan adanya orang atau suatu golongan yang “kuat” dan orang atau suatu golongan yang “tidak kuat”. Munculnya perbedaan antara yang “kuat” dan “tidak kuat” ini tentunya didasarkan pada suatu penilaian atau standard tertentu, sehingga suatu golongan merasa dirinya lebih kuat dan menganggap yang lainnya lebih lemah atau tidak kuat. Seringkali perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan adanya konflik di Roma, sekalipun tidak selalu tentang sesuatu yang bersifat teologis. Adanya perbedaan golongan yang demikian ini yang sedang dihadapi oleh Paulus dalam suratnya. Golongan yang merasa dirinya lebih kuat memberikan kriteria atau patokan supaya seseorang bisa diterima sebagai bagian dari yang kuat.Paulus dalam menghadapi golongan tersebut mengusulkan suatu model atau patokan yang berbeda, yang memungkinkan setiap orang bisa diterima tanpa memberikan penilaian tertentu terhadap orang tersebut. Patokan Paulus didasarkan pada tindakan Kristus yang menerima semua orang, tanpa mempercakapkan kelemahan atau kelebihan yang dimiliki.

Tujuan Kristus menerima setiap umatnya adalah untuk kemuliaan Tuhan (ay.7). setiap orang yang telah diterima oleh Kristus pasti memiliki sesuatu talenta atau karunia yang bisa dikembangkan untuk tujuan kemuliaan Allah.Di samping itu penerimaan Kristus terhadap semua orang adalah untuk menggenapi amanat sebagai bagian dari janji yang diberikan kepada nenek moyang (ay.8) untuk memungkinkan bangsa-bangsa supaya memuliakan Allah (ay.9). Pengharapan yang besar ini mungkin terjadi selama didasarkan pada suatu dasar yang tepat. Pengharapan yang tepat tersebut didasarkan hanya kepada Allah sendiri, sebagai sumber pengharapan (ay.13). JIka ditarik suatu benang merah dari bagian awal, maka kita akan menemukan bahwa adanya perbedaan antara yang satu dengan lainnya tidak perlu diperdebatkan karena Kristus menerima setiap orang dengan segala keberadaannya. Tugas masing-masing orang adalah membawa pengharapan, supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah.

 

Realita masa kini

Ketika membaca iklan atau pamflet tentang lowongan pekerjaan, tentu di sana akan disertakan syarat-syarat yang harus dilengkapi dan dimiliki oleh pelamar pekerjaan. Syarat-syarat tersebut mulai yang bersifat kelengkapan surat-surat, fisik, hingga skills atau kemampuan. Ketika membaca banyak persyaratan tersebut, seorang pelamar tentu akan mulai melihat keadaan dirinya dan memeriksa syarat-syarat mana yang dimiliki dan tidak dimiliki. Kebanyakan pelamar  mungkin akan dengan mudah melengkapi surat-surat dan segera mengajukan lamarannya. Namun segera mundur perlahan karena merasa diri tidak mampu memenuhi syarat-syarat lainnya terutama yang berhubungan dengan kemampuan atau skills. Seseorang terkadang merasa kurang percaya diri dengan apa yang dimilikinya termasuk kemampuan-kemampuan di dalam dirinya. Padahal masing-masing orang diberikan karunia atau talenta untuk mengembangkan dirinya. Seringkali rasa minderatau kurang percaya diri juga muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.

 

Penerapan

  • Tuhan Yesus menerima setiap umatnya dengan segala keberadaannya, apakah anda menyadarinya dalam kehidupan anda? Talenta atau karunia apa yang anda miliki? Sudahkah anda gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan? Atau hanya memenuhi kepuasaan diri sendiri?
  • Pemuda adalah harapan gereja. Masing-masing pemuda tentu mempunyai talenta dan karunia. Sebagai pemuda yang bertalenta, apakah anda siap diutus untuk membawa pengharapan bagi gereja dan dunia? Apa yang bisa anda lakukan untuk membawa pengharapan bagi gereja dan dunia? (Jika ada pemuda yang hadir. Jika tidak, maka pertanyaan ini bisa diajukan kepada semua warga jemaat yang hadir.)
 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •