Pemahaman Alkitab November 2018

NOVEMBER I

Bacaan : Bilangan 36: 1 – 13
Tema Liturgi : Membudayakan Perilaku yang benar dan Baik
Tema PA : Membudayakan ketaatan kepada Tuhan sebagai salah satu perilaku yang baik dan benar
Tujuan :

  1. Mengajak setiap peserta PA untuk memahami bahwa Taat kepada Tuhan perlu untuk dibudayakan
  2. Mengajak setiap peserta PA untuk mewujudkan ketaatan kepada Tuhan dalam perilaku hidupnya
  3. Mengajak peserta PA memahami bahwa Taat kepada Tuhan dapat membawa dampak yang baik dalam kehidupan

Keterangan Bacaan

Pasal penutup kitab Bilangan ini merupakan babak kedua kisah putri-putri Zelafehad (lihat Bil. 27:1-10). Milik pusaka mereka dipertanyakan oleh para pemimpin suku, bila perempuan-perempuan itu menikah dengan pria berlainan suku (ay.1-4). Hal itu dapat mengacaukan kepemilikan warisan tersebut. Menurut Allah, putri-putri Zelafehad harus menikah dengan orang-orang sesuku agar harta warisan mereka tidak beralih ketangan suku lain,sebab hal itu memang tidak diperbolehkan (5-9). Bagaimana respons putri-putri Zelafehad? Mereka patuh dan menikah dengan laki-laki dari kaum-kaum bani Manasye sehingga milik pusaka mereka tetap berada di tangan suku kaum ayah mereka sendiri (10-12).

Setiap suku dan masing-masing kaumnya akan mendapatkan warisan pusaka tanah perjanjian, kelak sesudah mereka mendudukinya. Warisan itu diberikan dengan prinsip yang jelas: tanah adalah mutlak milik Allah, bukan milik umat; maka tidak boleh diperjualbelikan (Im. 25:23)! Kalau sampai ada kebutuhan mendesak, seperti gagal panen, tanah boleh digadaikan sementara waktu. Dan kalaupun gagal ditebus, tanah-tanah itu kembali kepada si empunya tangan pertama pada tahun Yobel. Maka prinsip berikutnya juga penting yaitu, kepemilikan tanah harus selalu berada di dalam suku itu, tidak boleh dicampurkan ke suku lain.Oleh karena prinsip kedua inilah, permasalahan dari bani Gilead, di mana salah satu kaumnya, Zelafehad, bisa diatasi. Putri-putri Zelafehad, yang mendapatkan izin menjadi pewaris ayahnya, hanya boleh menikahi sesama anggota suku mereka (6). Ini dilakukan supaya tanah warisan ayah mereka jangan jatuh ke tangan suami yang bersuku lain.

Taat Kepada Tuhan Berdampak Pada Kebersamaan dan Solidaritas

Di balik peraturan ini, kita melihat cara Tuhan mengatur kehidupan umat, yang selalu harus berada dalam persekutuan dengan kaum terdekatnya. Ini bukan untuk menciptakan eksklusivitas, melainkan untuk membangun kebersamaan dan solidaritas. Kalau untuk sesama suku dan kaum tidak bisa saling membela atau mendukung, bagaimana bisa diharapkan terjadi solidaritas antar suku? Bukankah persekutuan yang solid adalah warisan penting untuk anak cucu mereka. Persekutuan anak-anak Tuhan bukan bersifat eksklusif. Persekutuan itu adalah suatu sarana untuk membangun kebersamaan dalam rangka pelayanan yang lebih mulia. Melalui kesaksian persekutuan yang intim, di mana terdapat kasih dan kepedulian termasuk peduli dengan masalah-masalah dosa, orang luar dapat dimenangkan. Bukankah hakikat gereja adalah dipanggil keluar dari dunia ini, lalu dipersekutukan dan dibina untuk diutus keluar menjadi berkat? Kiranya kita mewujudkan visi gereja yang menjangkau keluar lewat kesaksian persekutuan. (www.sabda/catatan-tafsir bilangan 36)

Pertanyaan untuk dipergumulkan

  1. Menurut saudara, apakah ketaatan kepada Tuhan dalam kehidupan saat ini masih nampak kuat? Apa alasannya?
  2. Menurut saudara, apakah hidup taat kepada Tuhan itu membawa dampak dalam hidup kita? Dampak apa yang saudara rasakan?
  3. Perlukah ketaatan kepada Tuhan itu ditingkatkan dalam kehidupan kita? Bagaimana caranya?
  4. Menurut saudara, bagaimanakah cara membudayakan hidup taat kepada Tuhan untuk anak-anak kita sebagai generasi penerus?

 


 

NOVEMBER II

Bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 54 – 8 : 1a
Tema Liturgi : Terimalah Anugerah, Tuhan Segera Datang
Tema PA : Jujur Ajur?

Berbagi Pendapat dan Pengalaman

Pendalaman Alkitab ini sebaiknya dibuka dengan sesi berbagi pendapat dan pengalaman mengenai Tema PA. Warga/peserta diajak untuk menggali tema PA secara kritis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masing-masing.

Adapun beberapa pertanyaan yang dapat diajukan antara lain :

  1. Pernahkah saudara mendengar istilah jujur ajur? Apa maksudnya?
  2. Pernahkah saudara mengalami pengalaman jujur ajur? Ceritakanlah pengalaman tersebut!
  3. Bagaimana perasaan saudara saat melakukan kejujuran namun malah mendapatkan celaka?
  4. Menurut saudara, mengapa seseorang yang melakukan kejujuran justru menerima perlakuan yang tidak baik?
  5. Ditengah realita seperti ini, apa yang saudara pilih? Tetap memilih mempertahankan kejujuran atau tidak?

{Catatan : Tugas dari pemimpin PA adalah mengarahkan diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut (atau bisa juga dengan tambahan pertanyaan yang lain), untuk menggali penghayatan dan pengertian warga/peserta mengenai tema PA. Dalam akhir sesi ini, pemimpin PA dapat merangkum seluruh pendapat yang telah dibagikan oleh warga/peserta.}

Gambaran Proses Diskusi Mengenai Pengertian dan Penghayatan Tema PA :

Istilah jujur ajur menggambarkan seseorang yang melakukan kejujuran/kebenaran namun malah menerima kemalangan. Istilah ini nampaknya sudah bukan sekedar istilah belaka, namun telah menjadi realita yang biasa.

Tidak perlu ditutupi lagi, semakin banyak orang memilih untuk menjalani hidup dengan ketidakjujuran. Sebab dengan kecurangan, segala sesuatu didapatkan dengan lebih mudah dan cepat. Selaras dengan gaya hidup manusia masa sekarang : super instan. Dengan demikian, kecurangan menjelma sebagai sebuah kebiasaan, bahkan kebutuhan. Seakan-akan ada hal-hal yang tidak mungkin dicapai hanya dengan modal kejujuran, dan harus menggunakan cara-cara yang curang.

Sebaliknya, kejujuran dilihat sebagai sebuah penghambat untuk mendapatkan kesuksesan dan mencapai target yang diinginkan. Jika disandingkan dengan gaya hidup jaman sekarang yang serba cepat, menjadi jujur berarti menjadi terlambat. Bahkan mandek, tidak bisa kemana-mana.

Namun di sisi lain, hukum masih memiliki tempat yang tinggi dalam masyarakat, sehingga kecurangan-kecurangan tersebut tidak boleh ketahuan. Kecurangan tersebut harus dilakukan sembunyi-sembunyi, sebab bila terlihat akan diganjar hukuman.

Celakanya, penegakan hukum juga tidak berjalan selancar dan sebersih yang seharusnya. Kecurangan juga telah menodai praktek penegakan hukum. Hukum diputar-balikkan, diolah sedemikian rupa sehingga seolah-olah telah mengadili dengan benar, padahal meloloskan kecurangan dengan kecurangan-kecurangan lain. Sampai di sini, kejujuran menjadi sebuah ancaman dan musuh bagi ketidakjujuran. Tidak heran bila dalam sejarah kehidupan manusia, banyak ditemukan kasus-kasus penekanan, penghilangan, bahkan pembunuhan oknum-oknum yang memperjuangan kebenaran dan kejujuran.

Di tengah realita yang demikian, kejujuran menjadi sangat langka dan mahal. Orang memilih untuk meninggalkan kejujuran, sebab kejujuran memiliki resiko yang besar. Kejujuran membuat kita memperoleh segala sesuatu dengan proses dan usaha, bukan dengan instan. Sungguh bertentangan dengan gaya hidup jaman sekarang. Selain itu, kejujuran kadang membuat kita dimusuhi, ditekan bahkan dihancurkan.

Pelan-pelan kejujuran ditinggalkan dan kebenaran berhenti diperjuangakn dengan alasan terlalu berat. Tidak kuat. Tidak mungkin berhasil. Sia-sia. Konyol.

Pembacaan dan Penafsiran Teks

Setelah berdiskusi, ajaklah warga/peserta untuk membaca Kisah Para Rasul 7 : 54 – 8 : 1a. Setelah membaca, pemimpin PA dapat kembali bertanya kepada warga :

“Adakah sesuatu dari bacaan yang berhubungan dengan diskusi kita sebelumnya? Apakah itu?”

{Catatan : Setelah sedikit membahas bacaan bersama dengan peserta, pemimpin PA dapat menjelaskan teks secara lebih mendalam dan mengajak warga/peserta untuk menafsirkan teks dengan lebih cermat.}

Kisah Para Rasul adalah tulisan kelanjutan dari Injil Lukas. Tulisan ini menjelaskan perjalanan Kekristenan mula-mula. Menceritakan pengalaman, perjalanan dan kejadian yang dialami oleh para Rasul dan orang-orang yang dipakai Tuhan sebagai pewarta Injil. Juga menceritakan ancaman, penderitaan, serta keadaan dan cara hidup jemaat mula-mula.

Kisah Para Rasul dibuka dengan cerita mengenai janji Yesus yang akan memberikan Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya (Kis 1 : 2). Setelah itu, diikuti dengan perkataan Yesus dalam pasal 1:8, bahwa para murid akan menjadi saksi-Nya sampai ke seluruh bumi. Inilah yang menjadi pondasi perkembangan Kekristenan pada masa itu. Dalam perjalanannya, Kekristenan lebih banyak mendapatkan ancaman dan penindasan. Namun, Roh Kudus yang dijanjikan itulah yang selalu menyertai pergerakan gereja, yang membuat gereja tetap bertahan, bahkan semakin tersebar.

Nama Stefanus muncul di dalam Kisah Para Rasul. Dijelaskan bahwa Stefanus adalah salah satu dari tujuh orang yang dipilih untuk mengurus pelayanan kepada janda-janda di dalam jemaat (Kis 6:1,3). Stefanus juga dikenal penuh dengan karunia dan kuasa, sehingga dimampukan mengadakan mujizat dan tanda-tanda (Kis 6 : 8), selain itu Roh Kudus memampukan Stefanus berkata-kata dengan penuh hikmat (Kis 6:10).

Secara khusus dalam Kisah Para Rasul 7 : 54 – 8 : 1a, diceritakan tentang kematian Stefanus. Stefanus dibawa dalam Sidang Mahkamah Agama dengan tuduhan mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (Kis 6:11). Tuduhan dan fitnahan yang ditujukan kepada Stefanus ini sama dengan yang ditujukan kepada Yesus. Penjelasan yang dilakukan Stefanus membuat para anggota Mahkamah Agama menjadi geram.

Stefanus yang seorang diri itu, tentu menerima tekanan dan intimidasi dari banyak orang di tengah pengadilannya. Dalam keadaan yang sulit itu, Stefanus yang penuh Roh Kudus itu menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah, serta Yesus berdiri di sebelah kanan Allah (ay 55). Ternyata Stefanus tidak sendiri memperjuangkan kebenaran yang diberitakannya. Stefanus benar-benar merasakan penyertaan Allah diberikan kepada mereka yang mau berjuang di dalam kebenaran.

Penyertaan dan kekuatan dari Tuhan yang dirasakan Stefanus itu, membuatnya menerima resiko untuk melakukan kebenaran dengan sikap layaknya ksatria. Dengan tenang ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Mempersembahkan roh-Nya kepada Tuhan (ay 59). Ia tahu bahwa resiko yang harus diterima untuk memberitakan kebenaran Injil, baginya saat ini adalah kematian. Dan dia telah siap.

Bahkan, penyertaan dan kekuatan dari Tuhan itu membuat Stefanus mampu mengasihani dan mengampuni orang-orang yang telah memfitnah dan menyiksa dirinya. Ia tidak menyimpan dendam dan meminta Tuhan untuk menghukum orang-orang yang telah mempermalukan, memfitnah dan menyiksanya. Stefanus benar-benar meneladani Yesus (lih Luk 23:34). Manusia yang mampu(dimampukan) melakukan teladan Yesus,menunjukkan bahwa dirinya benar-benar menerima penyertaan dan kekuatan nyata dari Allah.

Pembaruan / Pendalaman Penghayatan

Dengan pertolongan pembahasan perikop tersebut, kita kembali pada tema dan pertanyaan yang kita bahas di awal. Apakah realita jujur ajur membuat kita berhenti melakukan kejujuran dan memperjuangkan kebenaran? Mengapa?(tanyakan kembali pertanyaan ini kepada warga/peserta PA. Ajaklah peserta/warga merenungkan pertanyaan ini dengan mendalam,sebagai pusat pendalaman penghayatan PA kali ini)

Catatan pendukung : Melakukan kejujuran, memperjuangkan kebenaran memang memiliki resiko yang besar. Resiko itu mulai dari yang remeh-remeh sampai yang tidak sekedar remeh. Stefanus menjadi salah satu contoh kasus nyata yang memperlihatkan betapa perjuangan atas kebenaran dan Injil harus dibayar dengan nyawa. Perjuangan yang tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan namun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Kematian Stefanus (juga kematian Yesus) seolah-olah memperlihatkan bahwa kebenaran dapat dikalahkan dengan kecurangan. Namun, jika kita cermati lebih dalam tidaklah demikian. Kematian Stefanus bukan akhir dari jemaat Kristen, namun justru menjadi awal perkembangan Kekristenan yang semakin hari semakin meluas. Dan pada akhirnya sampai kepada kita pada masa ini.

Selain itu, dirasakan benar bahwa penyertaan Tuhan nyata kepada mereka yang mau berjuang di dalam kebenaran bersama dengan-Nya. Allah berkenan dan menyertai orang-orang yang menyerahkan dirinya untuk menjadi pewarta dan saksi kebenaran Injil di tengah-tengah dunia yang tenggelam dalam kegelapan dosa. Penyertaan Allah memampukan manusia untuk melakukan hal-hal yang mustahil dan besar, yang membawa kasih dan kedamaian dirasakan di tengah dunia.

Poin terakhir yang tidak boleh terlewat adalah : walaupun kehilangan nyawanya, Stefanus telah disambut oleh Allah di dalam kemulian-Nya. Mati demi kejujuran dan kebenaran bukanlah mati konyol. Kematian (dan kemalangan) karena melakukan kebenaran adalah kematian dalam kemuliaan Kristus.

 

Bagikan Entri Ini: