Pemahaman Alkitab Oktober 2017

OKTOBER I

 

Bacaan            : Filipi 1: 15 – 21
Tema Liturgis :
Ketaatan Membangun Persekutuan
Tema PA          :
Melayani dalam berbagai situasi dan kondisi

Keterangan Teks

Yang penting Injil diberitakan. Karena jelas apa misi yang diembannya, Paulus siap menanggung apa saja agar misi itu tercapai. Misi itu ialah Injil diberitakan ke seluruh dunia. Kesulitan dan penderitaan tidak menyurutkan niat dan kegiatannya, bahkan ia melihat semua halangan tadi menjadi sarana untuk kemajuan Injil (Filipi 1: 12).

Paulus bukan sekadar optimis, tetapi realistis. Keadaannya di penjara tidak membuat pekabaran Injil terhambat. Ia bisa memberitakan Injil kepada orang-orang di penjara, juga kepada pengawal dan pegawai istana di mana penjara itu berada. Lebih daripada itu, Paulus melihat akibat pemenjaraannya itu, orang lain semakin giat menginjili (ayat 14). Ada orang yang dikuatkan imannya untuk lebih setia dan mau melayani Tuhan karena kesaksian keteguhan iman Paulus. Namun ada juga orang yang sengaja ber-PI untuk memperberat situasi Paulus. Hal itupun bagi Paulus dianggap “telah menghasilkan” kemajuan bagi pemberitaan Injil (ayat 17).

Penjara tidak dapat menghalangi Injil diberitakan, dihayati, dan dinikmati. Itulah realitas yang difahami oleh Paulus. Realitas hidup orang percaya pada jaman sekarang ini sesungguhnya juga mengemban misi yang sama seperti apa yang emban oleh Paulus. Yaitu terus mengabarkan Injil melalui kesaksian-kesaksian (lakuning urip) dalam hidup yang dijalani dan kegiatan-kegiatan bersama dalam persekutuan yang dimaksudkan sebagai sarana bersaksi. Namun situasinya, orang percaya pada jaman sekarang ini, yang hidup dalam lingkungan keyakinan majemuk, gerak dan langkahnya dalam melaksanakan misi juga terpenjara (bukan dalam arti yang sebenarnya). Aturan yang tersirat (bukan tertulis) dalam masyarakat menjadikan gerak mereka terbatas dan bahkan dalam lingkup keterbatasan itu masih disusupi dengan benih-benih pemecah belah sehingga baik dari dalam maupun dari luar persekutuan yang mereka miliki selalu dibayangi ancaman di setiap saatnya. Harapannya misi pekabaran tentang kerajaan Allah dapat secara total berhenti dan ditiadakan.

 

Realita Hidup dan Penerapan

Mengacu dari pengalaman hidup Paulus. Dia adalah tokoh yang konsisten dengan pendirian dan kuat dalam tanggungjawab melaksanakan tugas misi pekabaran Injil. Walau berbagai-bagai keprihatinan dalam hidup silih berganti datang, namun pekabaran Injil tetap harus dilaksanakan. Dan jargon kita adalah omah gentheng saponana, abot entheng lakonana. Dalam artian kita memiliki kewajiban meneruskan perjuangan Paulus untuk mengabarkan injil dan memelihara persekutuan dalam segala situasi dan kondisi hidup. Baik itu secara pribadi maupun secara bersama dalam persekutuan di jemaat dan gereja

Untuk dapat memperkuat semangat pelayanan dan persekutuan kita, ada beberapa hal yang dapat kita renungi:

  1. Kesulitan dan keprihatinan yang kita alami, dalam cara pandang kita akankah itu dapat menjadi penghambat? Kalau ya, bagaimana kita dapat membaliknya supaya menjadi pendorong dan penyemangat dalam menjalankan kewajiban bersaksi, berpelayanan baik secara pribadi atau secara komunal (persekutuan)?
  2. Kita sadar bahwa dalam perkumpulan apapun, termasuk dalam persekutuan di jemaat ada benih-benih perpecahan di dalamnya. Tentunya kalau benih itu tumbuh subur akan sangat menghambat gerak pelayanan kita sebagai persekutan. Sikap dan tindakan seperti apa yang harus kita ambil supaya benih itu tidak berkembang? Sehingga yang terus tumbuh bukan perpecahannya tapi sukacita pelayanan dan semangat kebersamaan dalam berpelayanan.

 

Pdt. Teguh Hadi Saputro

 


OKTOBER II

 

Bacaan             : Ulangan 10 : 10 – 22
Tema Liturgis  : Hidup Penuh Kasih dan Kudus
Tema PA           : Yang muda penuh bakti, penuh cinta, yang muda mengabdi.

 

Keterangan Teks

Maka sekarang mengawali bagian penutup dari bagian utama pidato Musa, Takut akan Tuhan … mengasihi Dia. Tuntutan perjanjian yang mendasar dan mencakup segala sesuatu diulangi kembali di sini. Takut yang sesungguhnya dan kasih sejati kepada Allah merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan tanggapan tulus dari hati terhadap keagungan dan kemurahan Allah, dan secara berturut-turut serta bersamaan keduanya menghasilkan pengabdian dengan segenap hati dalam ketaatan bagi seluruh hal yang berkenan bagi Allah.

Takut Allah bukan berarti ketakutan yang memaksa diri untuk lari, menghindar dan bersembunyi dari hadapanNya. Namun lebih kepada kapatuhan terhadap ketetapan yang diberikan Allah bagi manusia supaya baik keadaannya (tidak cemar, kotor namun kudus dan dikenan Allah). Kasih terhadap Allah terwujud pada bakti dan pengabdian akan setiap tugas dan tanggung jawab yang wajib dilakukan bagi setiap umat dalam misi memuliakan nama-Nya. Maka dari itu benarlah kalau kita menyebut bahwa takut yang sesungguhnya dan kasih sejati adalah dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

 

Realitas Hidup dan Penerapan

Dengan begitu, bakti, cinta dan pengabdian adalah juga hal yang tidak dapat dipisahkan. Bakti dan cinta kita kepada Allah tidaklah dapat ditunjukan hanya secara verbal saja, namun harus terwujud pada sebuah pengabdian yang nyata yang dapat dilihat dan dirasakan, sebab kasih Allah kepada manusia tidak hanya secara verbal namun juga nyata dapat dirasakan, dilihat dan dinikmati oleh manusia.

Berarti melalui pidato Musa tersebut, ada harapan besar dari Allah bagi umatnya supaya tidak hanya menikmati kasih Allah itu sendiri saja, namun mewujudnyatakan kasih Allah supaya dapat dirasakan bersama-sama dengan sesama ciptaan. Hal berikut harapan Allah yang diwajibkan bagi umat adalah memuliakan namaNya dengan perilaku hidup kudus yang dapat disaksikan oleh orang lain. Sehingga orang lain yang menyaksikannya, baik langsung maupun tidak langsung juga turut memuliakan nama Allah.

 

Pertanyaan untuk dipergumulkan

  1. Sejauhmana pemahaman kita tetang perilaku hidup kudus yang dimaksudkan oleh Musa?
  2. Untuk mewujudkan kasih sejati dan takut yang sesungguhnya kepada Allah, bakti dan pengabdian yang bagaimanakah yang dapat kita lakukan bagi-Nya, baik di dalam lingkup gereja dan di luar lingkup gereja?

 

Pdt. Teguh Hadi Saputro

 

Bagikan Entri Ini: