Pemahaman Alkitab (PA) November 2023 (I)
Bulan Budaya
Bacaan: Amos 3 : 1 – 12
Tema Liturgis: Budaya sebagai Jalan Pewartaan Kerajaan Allah secara Kontekstual
Tema PA: Mensyukuri Keberadaan Diri
Pengantar
Terbentuknya suatu budaya terdiri dari berbagai unsur yang diteruskan turun temurun dan berkembang menjadi cara hidup/kebiasaan orang yang ada didalamnya, yang kemudian diwariskan, diteruskan kepada generasi selanjutnya. Setiap generasi dalam melanjutkan budaya tersebut tentunya diwarnai dengan situasi kondisi terkini tanpa merubah makna luhur budaya itu. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit generasi penerus budaya semakin meninggalkan warisan budaya itu, dengan dalih ada budaya lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.
Memang ada banyak ragam budaya di tengah masyarakat saat ini. Didukung dengan perkembangan teknologi tanpa sekat seantero jagad ini, menjadikan budaya apapun dapat dengan mudah dijumpai, dipelajari, diadopsi dan dihidupi, oleh kita yang tinggal jauh dari asal-usul budaya tersebut. Dengan demikian maka tidak bisa dielakkan generasi penerus budaya lokal dimana kita berada juga memilih budaya mana yang menurut kita kekinian dan dapat menjawab kemajuan realitas sosial.
Padahal kekayaan budaya kita inilah yang seharusnya kita pakai untuk mewarnai dunia, budaya yang kita miliki merupakan simbol keberadaan kita dengan berbagai dinamikanya, seperti yang berhubungan dengan pola pikir, etos kerja, dan lainnya. Demikian pula budaya-budaya yang tersaji dalam setiap kitab kita, budaya itu mewarnai perjalanan hidup umat Tuhan dalam berelasi dengan Tuhan dan sesamanya. Seperti dalam bahan PA kita saat ini yang diambil dari Amos 3:1-12.
Penjelasan Teks
Kitab Amos ditulis oleh nabi Amos yang berasal dari perbukitan Yudea di Kota Tekoa. Amos berasal dari Yudea yang berada di wilayah Israel Selatan (Yehuda) akan tetapi ia menjalankan tugas kenabiannya di Israel Utara. Amos diutus Allah untuk mengingatkan umat Israel bahwasanya Allah akan menghukum mereka, karena cara hidup umat Israel tidak menunjukkan relasi yang baik dalam kehidupan sosialnya. Nubuatan Amos terhadap Israel merupakan wujud kasih dan perhatian Allah terhadap Israel.
Pada ayat 1-2, terang terlihat pujian yang disampaikan Allah melalui Amos terhadap Israel, hanya Israel bangsa yang dikenal-Nya. Hal ini bukan berarti Allah tidak mengenal bangsa-bangsa lain, melainkan melalui pernyataan tersebut, Allah ingin menunjukkan bahwa Israel adalah bangsa pilihan dan berkenan bagi-Nya. Pemberitaan tidak berhenti pada pujian saja, pemberitaan selanjutnya adalah mengenai kecaman dan hukuman bagi Israel: “Sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (Ay. 2). Apabila melihat kembali seperti apakah bangsa Israel yang menjadi bangsa pilihan Tuhan, Israel merupakan bangsa kecil di antara bangsa-bangsa yang lain, sekaligus bangsa yang keras kepala, dan seringkali tidak tahu terima kasih kepada Allah. Keberadaan bangsa Israel tersebut dapat dilihat di ayat 3-8, yang menerangkan hubungan sebab akibat dari tindakan bangsa Israel dalam laku kehidupannya. Allah menghukum bangsa Israel, karena tindakan bangsa Israel yang tidak lagi setia kepada Tuhan dan berdosa.
Ayat 9-11, menerangkan bagaimana kemerosotan moral yang terjadi di Israel. Di Israel Utara saat itu terdapat aniaya, pemerasan, yang kaya tidak membantu yang miskin malah menindasnya. Bangsa-bangsa adidaya saingan Israel, yaitu Asyur dan Mesir diajak untuk menyaksikan kekacauan besar yang ada di Israel. Biasanya kekacauan terjadi oleh karena musuh-musuh menyerang Israel, akan tetapi kekacauan yang terjadi di Israel bukan berasal dari serangan luar (bangsa-bangsa lain) melainkan dari dalam bangsa Israel sendiri. Bangsa Israel terlampau jauh meninggalkan moralitas yang dibangun baik oleh leluhurnya, mereka hidup seperti tidak mengenal Allah, padahal mereka adalah bangsa pilihan Allah. Bahkan di ayat 12, menerangkan bagaimana parahnya kemerosotan moral Israel sampai tidak dapat ditolong kembali, seperti seorang gembala yang ingin menyelamatkan dombanya dari mulut Singa akan tetapi karena sudah terlambat maka perbuatan itu menjadi sia-sia.
Relevansi
Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, kita dipilih Tuhan untuk menjadi umat milik-Nya. Dengan berbagai pertanyaan dalam diri kita, seistimewa apa kita sehingga dipilih oleh Tuhan. Dan ketika kita dipilih oleh Tuhan bukan berarti kita memiliki keistimewaan semena-mena bertindak amoral, melainkan ketika kita dipilih-Nya maka ada tanggung jawab besar yang harus kita lakukan dalam hidup beriman. Kita mesti sadar diri bahwasanya kita ini berasal dari mana dan budaya apa yang melekat pada diri kita dan yang kita hidupi saat ini. Seperti bangsa Israel yang pada dasarnya dikenal sebagai bangsa yang keras kepala, namun dalam perjalanan kehidupan mereka terbentuk budaya laku hidup beriman kepada Tuhan. Apabila bangsa Israeal lepas dari budaya laku hidup beriman kepada Tuhan, maka bangsa Israel seperti yang sampaikan oleh Amos, mereka berada dalam kemerosotan moral yang kronis dan mereka bertanggung jawab akan perbuatan mereka sendiri.
Budaya yang melekat dalam diri kita, membawa kita sadar diri akan cinta kasih Tuhan dalam laku hidup kita. Seperti budaya menghormati orang tua, selaras dengan hukum kasih Tuhan, merawat ciptaan Tuhan selaras dengan perintah Tuhan bagi kita untuk mengelola dan merawat alam sebagaimana Tuhan menciptakan baik untuk kita. Berbagai hal lain menekankan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang kita, memiliki jalannya sendiri sebagai sarana pewartaan karya Tuhan di dunia, maka setialah dengan budaya dimana kita berada (dilahirkan).
Pertanyaan untuk Didiskusikan
- Kita hidup dimanapun tentunya ada budaya yang melekat di dalamnya. Sekarang budaya apa yang ada di tempat saudara saat ini?
- Seberapa penting budaya tersebut bagi kehidupan saudara?
- Seperti bangsa Israel yang menerima hukuman sebab akibat oleh karena terlampau jauh meninggalkan budaya baik dari leluhurnya, bagaimana respon saudara dalam memaknai budaya untuk memupuk iman percaya kita kepada Tuhan, dalam laku kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat dan bergereja! [gfc].
Pemahaman Alkitab (PA) November 2023 (II)
Bulan Budaya
Bacaan: Roma 2 : 1 – 11
Tema Liturgis: Budaya sebagai Jalan Pewartaan Kerajaan Allah secara Kontekstual
Tema PA:Cepat Menghakimi Lupa Melihat Diri
Pengantar
“Kuman di seberang lautan tampak, Gajah di pelupuk mata tidak tampak” secara umum makna peribahasa tersebut adalah lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada menyadari dan melihat kesalahan diri sendiri. Hal inilah yang umum terjadi dalam kehidupan. Mudah sekali kita melihat kesalahan saudara kita dan merasa diri sebagai pihak yang benar sehingga dengan mudah kita “menguliti” saudara kita. Nyatanya belum tentu kita berperilaku lebih baik daripada saudara kita tersebut.
Carl Jung seorang tokoh psikoanalis kelahiran Swiss menyatakan sebuah teori Ketidaksadaran Kolektif, dimana ketidaksadaran kolektif memiliki pengaruh besar pada kehidupan manusia, terlebih dalam sisa-sisa pengalaman manusia primitif (sifat alamiah makhluk hidup). Misalnya kemampuan untuk bertahan hidup. Ketidaksadaran kolektif adalah hal yang bersifat umum bagi semua manusia, dimana manusia bertanggung jawab atas sejumlah keyakinan dan naluri yang mendalam, seperti spiritualitas, perilaku seksual, juga naluri untuk mempertahankan hidup (hidup dan mati). Menyalahkan orang lain merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan diri agar tetap hidup, tanpa menyadari bahwasanya dirinya pun manusia yang memiliki salah (wujud ketidaksadaran kolektif).
Menyalahkan orang lain menjadi budaya dalam mencari aman untuk kepentingan diri. Kepentingan diri untuk lepas dari hukuman, kepentingan diri untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Dalam hidup kita, seberapa sering kita menyalahkan orang lain dibandingkan dengan kesadaran diri akan kesalahan kita. Perenungan inilah yang akan kita dalami bersama melalui PA saat ini.
Penjelasan Teks
“Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.” (Ay. 1). Paulus mengawali suratnya Roma 2 dengan teguran keras kepada setiap orang yang menganggap dirinya luput dari hukuman Tuhan. Mereka menganggap dirinya istimewa, orang pilihan, maka dengan mudah menyalahkan orang lain. Menurut Paulus mereka adalah orang Yahudi (lih. Psl 2:17). Orang Yahudi bersikap demikian karena mereka menaati Taurat Tuhan dan berupaya dengan sungguh menaatinya. Dengan demikian mereka menganggap diri mereka dapat lepas dari sesat lingkaran kekafiran dan mereka bermegah oleh karenanya. Terlepas dari tujuan teguran yang diperuntukkan kepada orang Yahudi, sejatinya teguran tersebut juga menyasar kepada semua orang tanpa terkecuali. Hal ini disebutkan di ayat 2, bahwasanya hukum Tuhan menyasar ke semua orang tanpa terkecuali bagi mereka yang berlaku salah dihadapan Tuhan.
Ditegaskan pula dalam ayat 3, bahwasanya setiap manusia sejatinya pernah melakukan kesalahan tanpa harus membandingkan dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Setiap orang seharusnya menyadari keberadaan dirinya, bukan senang melihat kesalahan orang lain. Sikap seperti ini membudaya bagi kehidupan orang Yahudi Roma, karena mereka menganggap diri mereka lebih baik dari orang non Yahudi. Mereka merasa lebih dekat, lebih dikasihi oleh Tuhan, padahal semua sama dihadapan Tuhan. Sama mendapatkan hukuman atas pelanggarannya, juga sama mendapatkan kesempatan berbalik kepada-Nya. Seperti yang tersampaikan Paulus di ayat 4, “kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya” ayat ini menunjukkan betapa besar cinta kasih Allah kepada manusia, sehingga Dia masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk berbalik kepada-Nya dan manusia dapat terluput dari hukuman Tuhan. Tuhan mengharapkan pertobatan (metanoia: “membalikkan pikiran” yang berlatarbelakang istilah Ibrani syub (berbalik)), dengan maksud seseorang yang berdosa menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya salah, oleh karena itu ia harus berbalik kepada jalan Tuhan meliputi seluruh aspek kehidupannya, bukan hanya pikirannya saja.
Sifat manusia yang angkuh tidak serta merta membuat seseorang mau mengakui kesalahan dan bertobat kepada Tuhan sebagaimana yang ada di ayat 5. Keangkuhan tersebut menunjukkan kesombongan yang dicontohkan oleh orang Yahudi yang “menimbun” kebaikan. Mereka menganggap kesalehan, kebaikan yang mereka lakukan akan dapat mengurangi dosa-dosa mereka. Mereka menganggap diri mereka dapat selamat dari dosa, karena kebaikan mereka sendiri. Mereka lupa bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Tuhan, manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri meskipun dengan amal dan perbuatan baik yang telah dilakukannya. Berbuat baik ataupun saleh merupakan respon syukur manusia yang menerima cinta kasih Tuhan, bukan dalam rangka mengumpulkan amal untuk keselamatan. Mereka juga lupa akan anugerah dan rahmat Tuhan, sehingga mereka meninggikan diri atas perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagaimana yang sudah tertuliskan di atas sejatinya manusia memiliki kecenderungan menganggap dirinya lebih baik dari yang lain, lebih unggul dari yang lain, sehingga dengan mudah menghakimi. Hal tersebut jelas tidak benar, terlebih menganggap diri lebih saleh, lebih dekat dengan Tuhan, lebih istimewa di hadapan Tuhan. Yang menjadi berkenan di hadapan Tuhan adalah setiap orang yang mau bertobat, berbalik kepada jalan Tuhan, juga setiap orang yang setia tekun berbuat baik dengan terus mencari kehendak Tuhan dalam hidupnya. Tuhan menerima setiap manusia, Tuhan tidak memandang muka.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan
- Bagaimana sikap kita apabila mengetahui saudara kita berbuat salah?
- Bagaimana pemahaman saudara terhadap pertobatan yang dilakukan di depan jemaat?
- Apa saja yang perlu kita pahami agar kita tidak mudah melihat kesalahan saudara kita, melainkan kita semakin bijak, mawas diri, dan semakin dekat dengan Tuhan? [gfc].