Pemahaman Alkitab Mei 2017

MEI I

Bacaan : Keluaran 24: 1-11
Tema Liturgis  : Memberi dengan sukacita

Pendahuluan

Beberapa ahli (Janzen, Child, Durham) membagi perikop ini ke dalam tiga struktur besar yaitu Kel 24:1-2, Kel 24:3-8, dan Kel 24:9-11.[1] Dari struktur besar ini, terdapat dua tema penting yaitu perjamuan makan bersama (ay.1-2 & 9-11) dan upacara pengikatan perjanjian darah (ay. 3-8).[2]

Hal utama yang perlu kita pahami dalam membaca Kel 24:1-11 adalah konteks mengapa kedua peristiwa dengan tema yang berbeda ini (bahkan menurut ahli, kebiasaan makan bersama sebenarnya tidak umum dalam kesatuan tema utama tradisi Sinai)[3] digabungkan dan ditempatkan setelah peristiwa Sinai. Diduga, perikop ini dibuat oleh editor untuk membawa pembaca kepada kesimpulan dari rangkaian narasi/ cerita Kel. 19-23, perjanjian Sinai.[4] Editor kemungkinan ingin membuat sebuah “akhir yang ideal”[5] namun sekaligus menciptakan sebuah alur yang mendukung untuk pewahyuan dan tuntunan TUHAN selanjutnya (bab 25 dst.). Selain itu, menurut Durham, Kel 24 dilihat sebagai upaya redaktur untuk mendasari persiapan pembentukan dan pensahan pemimpin-pemimpin/ wakil-wakil bangsa Israel, sekaligus sebagai penegasan peran Musa sebagai wakil dan perantara TUHAN dengan bangsa-Nya.[6]

Perikop ini membicarakan dua tema besar yaitu: ikatan perjanjian darah dan kehadiran wakil umat Israel di hadapan TUHAN dalam perjamuan makan. Meskipun berbeda,  keduanya disatukan oleh sebuah benang merah yaitu keduanya merupakan ungkapan yang umum digunakan oleh masyarakat Timur Tengah kuno untuk mengikat perjanjian (bdk. Kej 26:26-31; 31:43-54; Kej 15:7-20; Yer 43:18).[7]

Kata darah (Ibr: dim) dalam Perjanjian lama memiliki arti yang lebih bernuansa kehidupan daripada nuansa bagian tubuh. Darah biasa digunakan sebagai bahasa puitis untuk menunjuk hidup (bdk. 2Sam 1:22; Ul 12:23).[8] Di masyarakat sekitar bangsa Israel, darah memiliki makna yang sama mendalamnya. Masyarakat Mesopotamia percaya bahwa manusia diciptakan dari darah allah. Oleh masyarakat Mesir, darah dipercaya sebagai sumber hidup karena manusia lahir dari tetes-tetes darah ilahi. Sementara itu, oleh masyarakat Kanaan dan Arab, darah dipandang sebagai hidup. Orang Kanaan biasa mengatakan ungkapan: “tumpahkan darahnya” sebagai seruan untuk membunuh seseorang. Darah merupakan inti hidup yang utama.[9]

Sementara itu, di dalam dunia kuno, makan bersama menjadi simbol “sharing of life” (berbagi kehidupan). Mengkhianati orang yang sehidangan dipandang sebagai sebuah pukulan yang sangat telak bagi hidup bersama.[10] Oleh karena itu, makan bersama juga mengandung makna hidup yang sejalan dengan nilai darah.

Perayaan pengikatan perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel dibingkai dalam nuansa ikatan darah dan makan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan ini bukanlah perayaan yang main-main. Ia bermakna hidup. Selain itu, perayaan pengikatan yang serius ini juga menggambarkan bagaimana perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel adalah hal yang serius, yang berarti kehidupan bagi bangsa Israel.

 

Refleksi atas Kel 24:1-11

Perikop ini adalah respon umat Israel terhadap undangan Allah yaitu perjanjian-Nya. Mereka memilih untuk menjadi satu keluarga dengan TUHAN. Ikatan darah yang mereka lakukan berarti memberi diri untuk hidup di dalam hidup Allah sendiri. Dan ini berarti mereka konsekwen dengan tuntutan untuk menjadi kudus sebagaimana Allah itu kudus. Melanggar janji ini berarti Israel memutus ikatan darah di antara TUHAN dan mereka dan ini berarti juga memutus hidup mereka sendiri. Mulai saat ini hidup bangsa Israel sungguh bersumber dan berpuncak dari ikatan perjanjian mereka.

Dalam konteks hidup kekristenan, peristiwa perjamuan terakhir Yesus sangat dapat dipahami sebagaimana memahami Kel 24:1-11. Seperti pada perjanjian lama ini, Perjanjian baru dalam Yesus juga diikat lewat perayaan makan bersama dan ritual darah. Dalam darah Kristus, kita dipersatukan dalam satu keluarga Allah dan kita saling berbagi hidup dengan Allah. Bila dalam Perjanjian Lama darah yang digunakan hanya menjadi bagian upacara, dalam Perjanjian Baru darah Yesus yang tertumpah menjadi jaminan akan pengampunan dosa-dosa kita.[25] Dengan begitu kita dilayakkan oleh-Nya.

Ikatan baru ini diciptakan berdasarkan seluruh kata dan perbuatan dan pelayanan Kristus sendiri. Kristus bukan sekedar perantara, tapi Ialah Sabda Allah sendiri. Maka, kita dengan mengikuti perjamuan-Nya berarti telah berseru seperti umat Israel, “segala ketetapan-Nya akan kami lakukan.” Melakukan yang bertentangan dengan sabda, perbuatan, dan pelayaan Yesus berarti kita memutus ikatan yang telah kita buat. Memutus ikatan itu sama dengan mati, sebab hidup kita sudah satu di dalam-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa sumber hidup itu sendiri.

Manusia hanya dapat mendekati Tuhan bila rahmat-Nya ada. Dan, kita telah menerima rahmat itu lewat undangan masuk dalam perjanjian-Nya, ‘berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Tuhan’. Bersama dengan undangan itu, sekarang adalah saatnya kita senantiasa menguduskan diri agar layak masuk dalam perjamuan-Nya. Perjamuan-Nya harus menjadi puncak dan sumber hidup kita sebagaimana orang Israel menjadikan ikatan perjanjian itu sebagai puncak dan sumber yang terus-menerus mengingatkannya pada perintah Allah dan membuat mereka melaksanakan perintah Allah.

 

Pendalaman pribadi

  1. Dengan penyataan kasih Tuhan Allah yang luar biasa besar bagi umatNya, apakah yang patut dan layak kita haturkan bagi kemuliaan namaNya?
  2. Sudahkah kita menyatakan syukur yang terbaik kepada Tuhan yang berkenan mengikat perjanjian keselamatan kekal dengan kita manusia yang berdosa ini?

 

Pdt. Abednego Adi Nugroho

 

 

MEI II

 

Bacaan:Mazmur 100: 1 – 5
Tema Liturgis  : Masa Raya Unduh-Unduh: “Memberi dengan Sukacita”

Tema PA          : Bersyukur Selalu…

PENGANTAR

Bacaan Mazmur 100 ini adalah bagian dari bacaan Mazmur korban Syukur. Artinya, Mazmur ini biasa dinyanyikan atau dibacakan pada saat umat sedang mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan. Tentu praktek korban yang dimaksud adalah praktek korban yang dilakukan di Bait Allah. Sebagaimana dalam tradisi ritual umat Israel yang senantiasa mempersembahkan korban, maka jenis dan bentuk korbanpun berbeda-beda sesuai niat dan iman umat. Di antara jenis korban yang berbeda itu ada satu korban yang selalu dilakukan oleh umat yaitu korban syukur. Korban jenis ini rutin dilakukan dan tidak bergantung kepada kondisi. Artinya korban syukur itu adalah persembahan harian umat kepada Tuhan. Tentu berbeda dengan korban penebusan dosa yang dilakukan umat saat mereka berbuat dosa dan juga korban lainnya.

Menjadi menarik ketika korban syukur adalah korban rutin yang tidak bergantung kepada kondisi atau peristiwa yang dialami oleh umat Tuhan. Sehingga, muncullah pertanyaan: mengapa umat Tuhan selalu mempersembahkan korban syukur? Apakah umat selalu mengalami kondisi berlimpah berkat dan baik-baik saja? Tentu saja, sebagai manusia umumnya, umat Israel tetap mengalami kelimpahan dan kekurangan, sehat atau sakit, namun demikian bersyukur adalah bagian dari kehidupan dalam berbagai kondisi tersebut.

Cerminan hidup selalu bersyukur itulah yang dituliskan oleh Mazmur 100 ini. Pada bagian ayat 1-2 ada seruan untuk selalu bersorak-sorai bagi Tuhan. Sorak-sorai adalah perwujudan sikap hidup yang penuh dengan kegembiraan. Dan sorak-sorai itu berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan. Bolehlah dikatakan bahwa kegembiraan yang dibangun dan dilakukan umat itu semata karena Tuhan bukan bergantung dari peristiwa atau kondisi yang dialami oleh umat Tuhan. Artinya kegembiraan itu ditujukan bagi Tuhan bukan bagi diri sendiri, sebab kosekwensi atas dua hal itu berbeda. Jikalau kita bergembira untuk diri sendiri, maka sangat bergantung dengan kondisi kita. Masakan sakit bergembira? Masakan panen gagal bergembira? Masakan kekurangan bergembira? Itulah sebabnya kegembiraan kita disebabkan karena Tuhan dan ditujukan bagi Tuhan. Lebih jauh lagi alasan atas syukur kita ditegaskan di ayat ke-3: “…. Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita…”

Dalam ayat ke-4, undangan untuk bersyukur itu lebih dirinci lagi yaitu melalui nyanyian yang dinyanyikan di dalam rumah Tuhan. Gambaran pintu gerbang, pelataran adalah gambaran dari rumah Tuhan. Ungkapan syukur dan kebahagiaan kita itu haruslah dibawa ke dalam rumah Tuhan, diserahkan di dalam rumah Tuhan. Ini berarti bahwa ungkapan syukur kita haruslah diwujudkan dalam persekutuan kita dengan Tuhan. Mengapa kita bersyukur kepada Tuhan dan harus dinyatakan dalam persekutuan dengan Tuhan? Ayat 5 memberikan penjelasannya, yaitu: “Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun…” Jelaslah kini bahwa kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena: pertama, kita memiliki Tuhan yang baik. Jikalau Tuhan itu baik maka pasti apapun yang kita alami pastilah Tuhan juga yang menyertai. Kedua, kasih setia Tuhan selama-lamanya. Kasih setia Tuhan tidak ada habis-habisnya sepanjang masa dan tidak bergantung kepada jaman dan waktu apapun juga. Ketiga, kesetiaan Tuhan bukan hanya bagi kita saja tetapi juga kepada seluruh keturunan kita, yaitu orang yang selalu bersyukur kepada Tuhan. Undhuh-undhuh adalah ungkapan syukur kita kepada Tuhan. Ungkapan syukur ini bukan bergantung dari apa yang kita alami, tetapi karena Tuhan yang baik, Tuhan yang penuh kasih setia dan yang kesetiaanNya untuk selama-lamanya. Karena itu mari kita nyatakan syukur dengan penuh sukacita.

 

PANDUAN REFLEKSI

  1. Pernahkah saudara mengalami dan merasakan peristiwa sehingga saudara merasa sangat sulit bergembira apalagi bersyukur?
  2. Peristiwa apakah yang menjadikan saudara tetap bersyukur dan tidak ingin kehilangan ungkapan syukur?
  3. Dengan cara dan sikap bagaimanakah kita mampu menyatakan syukur kepada Tuhan dalam perayaan unduh-unduh ini?

Pdt. Eko Adi Kustanto

 

Bagikan Entri Ini: