Pemahaman Alkitab Juni 2017

JUNI I

 

Bacaan               : 2 Timotius 1: 8-12
Tema liturgis  : Kuasa Kristus memandirikan umatNya

 

Keterangan bacaan

Perikop ini merupakan nasehat Paulus kepada Timotius, anak rohani Paulus. Paulus sangat mengenal dan mengasihi Timotius. Timotius pembawaannya sangat halus, pemalu dan agak penakut. Ada kemungkinan pembawaan halus, pemalu dan agak penakut yang dimiliki Timotius dikarenakan ia dididik oleh 2 orang wanita tanpa adanya pengaruh seorang pria. Namun dia mempunyai iman yang tulus iklas (2 Tim. 1:5). Oleh karena itu, ketika Paulus merasa hidupnya tidak lama lagi (akan dihukum mati dalam waktu dekat), ia menulis surat 2 Timotius ini dari penjara Roma. Tentu tidak hanya disebabkan rasa kesepian dan firasat kematian yang membuat Paulus menulis surat ini, tetapi juga karena mengetahui bahwa Timotius menghadapi kesukaran dan menyadari akan kemungkinan penganiayaan berat dari luar gereja dan adanya guru-guru palsu di dalam gereja. Paulus merasa perlu menasihatkan Timotius agar tetap bertekun dalam memelihara Injil, memberitakan Firman Allah, menanggung kesukaran dan melaksanakan tugas-tugasnya.

Membaca perikop kita, 2 Timotius 1:8-12, nasehat Paulus dimaksudkan agar:

  1. Timotius memahami bahwa anugerah keselamatan yang diberikan “berwajah rangkap” yakni memberikan keselamatan itu kepada manusia, sekaligus memanggilnya memberitakan Injil. Paulus mau, pemahaman yang telah dimilikinya mengenai anugerah keselamatan juga menjadi pemahaman Timotius. Manusia beroleh selamat hanya oleh karena anugerah. Artinya bukan sebagai hasil usaha, atau pekerjan baik dari manusia melainkan sebagai pemberian/anugerah (Ef. 2:8-9). Jika demikian bagaimana sikap kita? Tanda bahwa kita memahami dan mengamini akan hal ini adalah kita mengucap syukur dan lebih dari itu kita terdorong atau terpanggil menyaksikan atau memberitakan perbuatan keselamatan yang telah dikerjakan Allah bagi kita. Istilah yang dipakai Paulus dalam hal ini “berhutang”. Ia mengatakan dirinya orang yang berhutang –berhutang untuk memberitakan Injil. Tidak hanya itu, Paulus juga mengatakan “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16b). Hal inilah yang dinasehatkan Paulus kepada Timotius, yakni agar tetap bersemangat dalam melayani Tuhan melalui tugas panggilannya. Kita bersaksi, kita memberitakan Injil, kita melakukan tugas pelayanan kita dengan sungguh-sungguh berdasarkan atau diakibatkan karena keselamatan dan panggilan.
  2. Timotius juga menyadari bahwa setia mengikut Tuhan, rajin dan tetap bersemangat dalam memberitakan Injil tidak berarti bebas dari penderitaan atau masalah. Bahkan kadang kuantitas dan kualitas penderitaan itu semakin meningkat. Apakah kita kemudian menjadi kendor dan kemudian mundur? Tentunya tidak. Nasehat Paulus kepada Timotius dan juga kepada kita sekarang adalah agar kita tidak menjadi malu dan patah semangat. Sebab bisa jadi ketika kehidupan kita sedang dalam penderitaan atau masalah, ada orang yang mengatakan bahwa itu tandanya kita kurang beriman. Bila penderitaan atau masalah itu kita alami, ingatlah bahwa Dia yang telah menyelamatkan kita, sekaligus memanggil kita adalah Allah mempunyai kuasa untuk memelihara kita.

 

Pesan bagi kita

  1. Setiap orang percaya terhisap ke dalam panggilan “umum”, yakni menyaksikan Tuhan Yesus Sang Juruslamat itu kepada siapa saja. Namun kata “menyaksikan” (memberitakan Injil) tidak harus melulu dengan kata-kata memperkenalkan serta mengajak supaya percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi juga dengan sikap hidup. Karena itu tidak boleh membuat alasan bahwa tugas memberitakan injil semata-mata adalah tugas pendeta atau majelis jemaat.
  2. Panggilan untuk memberitakan Injil sangat jelas dan alasannya pun sangat jelas; yakni: (a) karena kehendak Allah (2 Petrus 3:9); (b) Karena perintah Kristus (Matius 28:18-20); (c) Karena dorongan kasih (2 Korintus 5:14-15); (d) karena perasaan berhutang (Roma 1:14). Karena itu nasehat Paulus kepada Timotius juga menjadi nasehat kepada kita agar semangat memberitakan Injil tetap berkobar dalam diri kita. Gereja yang tidak lagi memberitakan Injil dapat dikatakan gereja yang bukan lagi gereja dalam arti yang sebenarnya.
  3. Gunakanlah segala sesuatu yang ada pada kita, apa pun itu, dalam rangka memberitakan Injil. Itulah salah satu indikator bahwa kita sudah benar-benar menerima anugerah keselamatan.

 

Pertanyaan untuk dipergumulkan

  1. Apakah kita sudah merasa bahwa segenap kehidupan kita merupakan wujud pemberitaan Injil bagi kemuliaan nama Tuhan?
  2. Bagaimanakah praktek pemberitaan Injil yang dilakukan oleh gereja kita selama ini? Sudah cukup atau masih perlu ditingkatkan?

 

Pdt. Abednego Adi Nugroho

 

JUNI  II

 

Bacaan            : Yeremia 18: 11 – 17
Tema Liturgis  : “Menjadi Anak yang Pemberani”
Tema PA         : Memilih Jalan….

 

PENGANTAR 

Mari saat ini kita menelaah Alkitab kita dengan menggunakan metode lectio devina. Terminology kata (istilah) ini berasal dari bahasa Latin yang secara bebas dapat diartikan pembacaan Kitab Suci dalam wibawa ilahi (divine reading). Metode lectio devina ini jelas pertama-tama meletakkan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Namun, Firman Tuhan itu harus juga dibaca secara kritis supaya dapat dimengerti maknanya. Jadi dalam metode ini bukan semata kita hanya sedang menyelidiki Alkitab saja, tetapi lebih jauh dari itu adalah berusaha mendengar suara pesan Alkitab bagi konteks kita hari ini.

Ada beberapa langkah yang perlu diketahui dalam metode pembacaan lectio devina ini yaitu:

  1. Persiapkan diri masing-masing dalam keteduhan hati. Karena itu menjaga suasana tenang dan teduh menjadi sangat penting.
  2. Setiap orang memiliki kebebasan memaknai setiap bagian yang menjadi fokusnya.
  3. Yang diutamakan dalam metode ini adalah mencari tahu makna perikop atau ayat yang menjadi fokus atau yang menarik hati saudara.
  4. Makna yang ditangkap secara subyektif (menurut pengertian masing-masing) itu diceriterakan dalam kelompok dan dipegang untuk dilakukan dalam kehidupan.
  5. Pemimpin diskusi bertugas mengatur alur jagongan (pembicaraan) dan tidak perlu membuat kesimpulan tunggal, apalagi sesuai makna yang dihayatinya sendiri.

 

MARI KITA MULAI

  1. Mari membentuk kelompok besar dengan duduk melingkar (jika tempatnya memungkinkan).
  2. Menyanyikan KJ 362: 1,3.
  3. Berdoa bersama.
  4. Buka Alkitab YEREMIA 18:11 – 17
  5. Ambillah posisi yang nyaman, dan mari mencoba tenang.
  6. Menyanyikan KJ 59:1,2 diulang dua kali (dalam sikap berdoa dan bayangkan ketika menyanyikan lagu ini kita sedang memohon kepada Tuhan secara langsung – dan diulang 3 kali) setelah selesai menyanyi cobalah tenang (2 sampai 3 menit).
  7. Pemimpin PA membaca perikop tersebut dengan perlahan dan suara yang dapat di dengar oleh semua peserta. Sementara peserta lain juga mengikuti/ menyimak pembacaan dari Alkitabnya masing-masing.
  8. Setelah dibacakan oleh satu orang mari hening sejenak.
  9. Masing-masing peserta dipersilahkan membaca dalam hati dengan dituntun jari tangannya. Pada saat membaca pertama kali bacalah seluruh ayat, kemudian ulangi lagi dan jari tangan saudara silahkan berhenti di bagian yang menarik hati saudara.
  10. Mari kita bicarakan, dimulai dari pemimpin PA memberikan kesempatan kepada peserta untuk menceriterakan bagian mana yang menarik hatinya? Mengapa itu menarik hati saudara? Bagi saudara apa maknanya dalam kehidupan pribadi saudara?
  11. Mengakhiri materi PA ini perkenankan saya mengutip salah satu ayat Mazmur yang begini: ”Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. (Mazmur 84:10) Selamat menikmati hadirat Tuhan.
  12. Menyanyikan KJ 392: 1- sambil mengumpulkan persembahan.
  13. Berdoa syafaat dan Berkat.

 

Pdt. Eko Adi Kustanto

Bagikan Entri Ini: