Pemahaman Alkitab Maret 2018

MARET I

Bacaan           : Yesaya 60:15-22.
Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri Dalam Ketaatan Kepada Kehendak Tuhan.
Tema PA          : “Membangun diri ke arah kemuliaan-Nya”.

Tujuan:

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang kehendak Tuhan atas kehidupan riil kita.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata).
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk mengosongkan diri secara riil/nyata untuk dapat membangun diri ke arah kemuliaan-Nya.

Keterangan Teks/Kitab:

Ayat 17-22: Nabi Yesaya melihat Allah kembali menyatakan kemurahan-Nya dalam bentuk yang sangat ‘duniawi’: kekayaan yang berlimpah ruah, kuasa, dan pengaruh.

Ayat 19-20: Lihat Kitab Wahyu 21:23-24 dan 22:5, dimana keindahan realitas di ayat 19-20 ini juga dijanjikan.

Ayat 19: Ayat ini memandang ke depan kepada Yerusalem dari langit baru dan bumi baru, di mana Allah dan Anak Domba itu sendiri akan menjadi terang abadi bagi umat-Nya. Masa depan yang Tuhan janjikan untuk Yerusalem seperti hari baru yang merekah dengan matahari yang terang. Terang kemuliaan Tuhan dan umat-Nya akan menarik bangsa-bangsa ke Yerusalem.

Yerusalem adalah pusat hidup keagamaan umat Israel; di situlah mereka dahulu mendirikan Bait Allah. Kota itu disebut ‘kudus’, artinya dipisahkan atau dikhususkan bagi Allah. Allah diyakini hadir di dalam Bait-Nya di Yerusalem. Yohanes melihat Yerusalem baru ‘turun’ dari surga (Wahyu 21:2). Ini menunjukkan bahwa Allah berkenan tinggal di tengah umat pilihan-Nya. Kota itu juga digambarkan sebagai mempelai perempuan yang siap menjumpai mempelai laki-laki, yaitu Allah.

Di masa Israel kuno, hanya para imam yang diperkenankan masuk ke dalam ruang-ruang paling suci di Bait Allah. Di Yerusalem baru, semua orang akan memuji dan menyembah Allah secara langsung.

Umat memberontak kepada Tuhan dengan menolak hukum-Nya, berlaku tidak jujur dan tidak adil (1:15-26), serta menyembah berhala (1:29). Berbuat baik berarti mematuhi perintah-perintah Tuhan, terutama yang berkaitan dengan keadilan.

Ayat 21: Perjanjian antara Tuhan dan Abraham, leluhur Israel, mencakup juga janji tentang tanah (Kej.17:7-8). Namun, Israel dapat mempertahankan tanah itu hanya jika mereka bertindak dengan benar, yakni mematuhi hukum Taurat dan menyembah Tuhan Allah saja (Ul.6:10-25). Allah ‘menanam’ Israel di tanah itu, sehingga umat bisa menjadi teladan keadilan Tuhan (Yes.5:2,7).

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  1. Setiap orang mempunyai cita-cita atau harapan untuk dapat membangun dirinya semakin baik, misalnya ingin menjadi seorang Kristen yang benar-benar memahami kekristenannya, agar hidupnya memiliki dampak positif bagi sesama dan lingkungannya. Namun, ada begitu banyak halangan sehingga cita-cita atau harapan tersebut kandas dan tak berwujud.
  2. Mutiara Kata: “Kehidupan adalah serangkaian masalah. Namun kita bebas memilih untuk mengeluh atau memecahkan masalah-masalah itu” (M.Scott Peck, 1936-2005, Penulis Amerika). Komentar anda dibutuhkan saat anda menjawab pertanyaan no. 3.

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas, maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Tuhan menghendaki agar kita hidup dalam damai sejahtera (bandingkan Yeremia 29:11). Bagaimana anda menggunakan kekayaan anda, kekuasaan atau jabatan anda, dan status sosial atau pengaruh anda agar damai sejahtera terwujud?
  2. Tuhan menghendaki agar kita mematuhi hukum-hukum-Nya, perintah-perintah-Nya, berlaku benar dan adil. Bagaimana anda menerjemahkan hal-hal tersebut ke dalam praktek hidup anda sehari-hari?
  3. Apakah anda mempunyai tip atau pengalaman pribadi sebagai bentuk latihan untuk mengosongkan diri secara riil/nyata, agar dapat membangun diri ke arah kemuliaan Tuhan? Bandingkan dengan mutiara kata di ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ tersebut di atas?

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

 

MARET II

 

Bacaan : Filipi 2:1-11.
Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri Dalam Ketaatan Kepada Kehendak Tuhan.
Tema PA          : “Membangun diri dan relasi dengan sesama”.

Tujuan:

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang kehendak Tuhan atas kehidupan riil kita.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata).
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk mengosongkan diri secara riil/nyata untuk dapat membangun relasi dengan sesamanya.

Keterangan Teks/Kitab:

Ayat 1-5: Banyak orang, juga orang Kristen, hidupnya berpusat hanya pada dirinya sendiri. Bagi Paulus, egois membuahkan perpecahan, untuk itu perlu kesatuan roh, kasih dan tujuan. Bekerja bersama dan peduli pada sesama merupakan ‘demonstrasi’ teladan Kristus.

Ayat 3: Egois dapat meruntuhkan gereja; sebaliknya, rendah hati dapat membangun sebab ada perspektif yang benar tentang diri sendiri (Roma 12:3). Kita memperlakukan sesama dengan hormat dan sopan, memikirkan kebutuhan sesama lebih penting daripada diri sendiri, sebagaimana Kristus menjadi teladan benar tentang kerendahan hati.

Ayat 4: Kota Filipi adalah sebuah kota kosmopolitan (terdiri dari orang-orang yang berasal dari pelbagai bagian dunia). Kisah Para Rasul 16 memberi kita gambaran keragaman gereja: Ada Lidia, seorang mualaf Yahudi dari Asia dan seorang pedagang kaya (16:14); budak perempuan (16:16-17) berbahasa Yunani; sipir penjara yang melayani penguasa penjajah, seorang Romawi (16:25-36). Dengan banyaknya perbedaan tersebut, kesatuan gereja sangat sulit dipertahankan. Namun, kesatuan harus dilindungi atau dijaga (3:2; 4:2). Paulus mendorong kita untuk melawan egois! Memperhatikan sesama dengan tulus merupakan langkah maju dan positif dalam memelihara kesatuan di antara para orang beriman.

Ayat 5-7: Tuhan Yesus Kristus yang rendah hati, rela menaati Allah dan melayani umat. Seperti Kristus, kita sebaiknya memiliki sikap pelayan, melayani Allah dan sesame (Bandingkan Markus 10:45).

Inkarnasi (penjelmaan/penitisan) merupakan pre-eksistensi Anak Allah yang mengambil tubuh manusia dan wujud manusia. Tetap sebagai Allah, Ia menjadi manusia, dan disebut Yesus. Ia mengesampingkan hak kemuliaan dan kuasa-Nya, dalam ketaatan-Nya pada kehendak Bapa. Yang membuat unik kemanusiaan-Nya adalah Ia bebas dari dosa. Dalam kesempurnaan kemanusiaan-Nya, Yesus menunjukkan segala sesuatu tentang karakter Allah yang dapat disampaikan atau dibawa dalam hubungan kemanusiaan. Tentang inkarnasi, baca juga: Yoh.1:1-14; Roma 1:2-5; II Kor.8:9; I Tim.3:16; Ibr 2:14; I Yoh.1:1-3.

Ayat 5-11: Sebuah bagian yang memuat banyak parallel tentang nubuat Hamba Tuhan yang menderita di Yesaya 53. Beberapa karakter Tuhan Yesus Kristus, dipuji dalam bab ini:

  1. Kristus selalu eksis/ada dengan Allah;
  2. Kristus sama dengan Allah sebab Ia adalah Allah (Yoh.1:1; Kol.1:15-19);
  3. Pikiran Kristus adalah Allah, Ia menjadi seorang manusia untuk memenuhi rencana Allah yang menyelamatkan semua manusia;
  4. Kristus tidak hanya memiliki perwujudan sebagai manusia, Ia sebenarnya menjadi manusia untuk mengenali dosa kita;
  5. Kristus rela mengesampingkan keilahian-Nya untuk mengasihi Bapa-Nya;
  6. Kematian Kristus di salib bagi dosa kita supaya kita tidak menghadapi mati kekal;
  7. Allah memuliakan Kristus sebab ketaatan-Nya;
  8. Allah membangkitkan Kristus ke posisi aseli pada tangan kanan Bapa, di mana Ia akan memerintah selamanya sebagai Tuhan dan Hakim kita. Bagaimana kita dapat berbuat sesuatu tanpa memuji Kristus sebagai Tuhan dan mendedikasikan diri kita bagi pelayanan-Nya?

Ayat 5-11: Ada yang berkata: ‘Saya dapat menghabiskan semua uang saya, sebab saya bekerja keras untuk hal itu’. Tetapi sebagai orang percaya, sebaiknya kita bersikap beda. Jika kita pengikut Kristus, kita harus ingin hidup sebagaimana Ia hidup. Kita sebaiknya mengembangkan sikap kemanusiaan-Nya, yaitu melayani.

Ayat 8: Mati di atas salib (penyaliban) adalah bentuk hukuman mati bagi kejahatan yang luar biasa kejam. Cara itu sangat menyakitkan dan hina. Para terpidana dipaku/diikat pada salib dan dibiarkan mati dengan sendirinya. Kematian mungkin tidak datang segera dan kematian selalu datang karena lemas atau sulit bernafas. Tuhan Yesus mati sebagai orang yang dikutuk (Gal.3:13). Ia seorang manusia sempurna yang harus mati supaya kita tidak menghadapi hukuman kekal.

Ayat 9-11: Orang dapat memilih mengakui Yesus sebagai Tuhan sekarang ini, sebagai langkah komitmen dan kasih, atau dipaksa untuk mengakui wibawa dan otoritas-Nya sebagai Tuhan saat Ia datang kembali yang kedua. Kristus dapat datang pada setiap peristiwa dan setiap saat. Apakah anda siap menemui-Nya?

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Cara Presiden RI (Bp. Joko Widodo) mengajak bangsa Indonesia membangun relasi yang mempersatukan adalah dengan menyatakan tekad dan komitmen: Saya Indonesia; saya Pancasila; saya NKRI; saya Bhineka Tunggal Ika.
  • Sebaliknya, ada sebagian orang yang ingin merusak relasi dengan sesamanya, dengan cara mendirikan kelompok produsen kabar bohong atau hoaks, misalnya: Saracen (bisnis ujaran kebencian).

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas, maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Tuhan menghendaki kita sebagai pelayan bagi sesama dan lingkungan atau alam semesta. Sebutkan beberapa contoh sikap melayani tersebut!
  2. Egois adalah sikap orang yang mementingkan diri sendiri. Menurut saudara, sikap apa saja yang termasuk egois? Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak tetap sebagai pribadi yang egois?
  3. Kita hidup di tengah-tengah sesama yang beraneka-ragam suku, agama, bahasa, bangsa, budaya, adat istiadat, sifat, kepribadian, dll. Bagaimana cara anda menempatkan diri secara benar, agar kehadiran anda membawa manfaat positif? Bandingkan dengan ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ tersebut di atas?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

Bagikan Entri Ini: