Pemahaman Alkitab Februari 2018

PEBRUARI I

 

Bacaan           : Markus 3:7 – 12
Tema Liturgis  : Injil adalah Kuasa dan Terang Kemuliaan Tuhan
Tema PA         : Ada Yesus, Ada Mujizat…

Gereja Dalam Konteks Masyarakat Mistik

Masyarakat kita rupanya sangat kaya dengan pemahaman mistik. Sayangnya, mistik itu kemudian dipersempit menjadi klenik. Dan kalau sudah bicara klenik kemudian disinilah muncul perdebatan seru dikalangan agama. Apalagi gereja protestan dengan berbagai alirannya. Bicara mistik di gereja kemudian menimbulkan pro kontra. Tidak kalah jeli kemudian banyak gereja gerakan baru yang membungkus klenik itu dengan kata yang lebih rohani. Ada kesan disana seolah bahwa dengan memakai istilah yang kelihatan rohani perdebatan semakin minim. Benarkah ? Tentu tidak semua benar. Ambillah contoh, praktek doa pengusiran setan dikalangan GKJW tentu masih menimbulkan pro dan kontra padahal ada sebagaian malah mungkin banyak warga GKJW yang mengharapkan hal itu dilakukan karena merasa bahwa dalam kehidupannya banyak kuasa yang mengikuti.

Haruslah diakui bahwa dalam sejarah gereja protestan, teologi mistik banyak diabaikan. Walaupun pada tahun 1991 ada seorang teolog dari Amerika Serikat yang berasal dari gereja Reformed mencoba mengembangkan teologi mistik itu dalam bagian dari pengembangan spiritualitasnya. Teolog tersebut bernama Howard Rice. Dalam konteks GKJW terkhusus awal mulai adanya persekutuan orang Kristen praktek teologi mistik sangat kental. Ambillah contoh komunitas Ngoro bersama C.L. Coolen, Mojowarno bersama Paulus Tosari dengan Serat Rasa Sejati dan juga di beberapa tempat lainnya.

Sebelum bicara lebih jauh perkenankan saya membatasi dulu maksud mistik yang kita pakai disini. Mistik yang saya maksudkan adalah hasrat manusia untuk merasa dan mengalami secara emosi menyatunya manusia dengan Tuhan. Hal ini memang bisa diartikan pengalaman gaib tetapi bukan dimaksudkan sebagai klenik. Pengalaman menyatu dengan Tuhan yang demikian inilah yang dapat dirangkum dalam pengalaman iman atau pengalaman spiritual. Terkesan subyektif (personal) tetapi sesungguhnya dapat menjadi pengalaman bersama (komunal). Contoh: menerima dan merayakan Perjamuan Kudus, jikalau kita tidak mengalami perasaan (emosi) menyatu dengan Tuhan pada saat makan roti dan minum anggur, pasti perjamuan kudus itu ya biasa saja. Tentu diskusinya akan lebih menarik jikalau kita arahkan kepada: bagaimana kita bisa mengalami pengalaman mistik itu ?

Mari Belajar Dari Teks Markus 3: 7 – 12

Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari bacaan kita hari ini yaitu:

  1. Yesus adalah Tuhan Bagi Siapapun
    Dalam perikop kita ini pengalaman mistik dialami bukan hanya satu atau dua orang saja tetapi banyak orang. Untuk menunjukkan jumlah yang mengikuti dan mengalami pengalaman mistik bersama Tuhan Yesus jumlahnya tak terbilang dalam ayat 7 menggunakan kata plethos yang berarti jumlah yang tak terbilang. Jadi pengalaman mistik yang terjadi pada Markus ini melibatkan banyak orang. Jumlah yang besar dan tak terbilang itu diperkuat lagi dalam ayat 7 dan 8 yang menyebutkan orang-orang dari berbagai penjuru kota yang datang mendekati Tuhan Yesus.  Disebutkan secara rinci dalam ayat tersebut bahwa yang datang adalah penduduk dari Galilea, Yudea, Yerusalem,Idumea, Yordan, Tirus dan Sidon. Penyebutan nama tempat-tempat itu kembali menegaskan bahwa yang datang dan mengalami pangalaman mistik bersama Tuhan Yesus adalah orang banyak yang majemuk karena tidak hanya berasal dari satu wilayah.
  2. Kuasa Tuhan Yesus Bekerja Tanpa Syarat
    Sampai di sini sejatinya Injil Markus memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan Yesus Kristus terbuka untuk didatangi dalam pengalaman spiritual oleh siapapun juga yang bersedia mendekatinya. Dan mereka yang mendekat kepadaNya mengalami pengalaman ajaib yaitu mengalami mujizat pada dirinya. Nampaklah benar bahwa Tuhan Yesus kuasanya tidak pernah dibatasi kepada siapa dan dimana tetapi kuasa Tuhan Yesus terjadi bagi semua. Dan kuasa yang tidak pilih-pilih itu tanpa syarat atau ritual tertentu sebab orang-orang yang sakit, kerasukan roh jahat hanya datang mendekat dan menjamah Tuhan Yesus maka orang sakit sembuh dan roh jahat pergi. Tidak sama sekali ada ritual macam-macam, cukup datang mendekat, menjamah Tuhan Yesus dan sembuh. Betapa ini berkebalikan dengan banyak praktek klenik yang ada dalam kebanyakan daerah yang untuk melakukan sesuatu yang ajaib memerlukan ritual dengan berbagai sarana yang beraneka macam. Pengalaman mistik bersama Tuhan Yesus sedemikian sederhana dan mudahnya.
  3. Tuhan Yesus Mengambil Jarak Saat Manusia Tidak Peduli yang Lainnya.
    Saking sederhana dan mudahnya pengalaman itu maka banyak orang berupaya untuk mendekat dan menjamah Tuhan Yesus. Bayangkan, kalau ada ratusan orang berdesakan untuk memegang satu orang maka pasti desak-desakan hebat malah menjadi kegaduhan luar biasa. Hal ini berbahaya bagi orang yang hendak dijamah demikian juga yang datang ingin menjamah. Dan kondisi itulah yang ingin dihindari oleh Tuhan Yesus. Oleh karenanya, Tuhan Yesus meminta para murid menyediakan perahu sebagai podium. Mengapa perahu ? Tentu parahu yang dijangkar di pinggir danau sulit untuk dijangkau namun juga memiliki posis yang lebih tinggi dari kebanyakan orang yang datang sehingga semua orang yang berebut ingin menjamah Tuhan Yesus dapat melihatNya. Namun bukan hanya itu, karena dalam kekacauan ketika semua orang berebut mendapatkan mujizat, justru Tuhan Yesus mengambil jarak dengan semua orang. Ini juga pelajaran berharga bagi kita yaitu: ketika kita sibuk berebut mendapatkan mujizat sampai tidak peduli kepada keselamatan orang lain, justru Tuhan sedang mengambil jarak dengan kita.
  4. Kuasa Tuhan Yesus Mengatasi Kuasa Roh Jahat.
    Bicara tentang dunia roh, selalu dari sudut manusia dipisahkan dengan roh jahat dan roh baik. Jahat atau baik adalah label yang diberikan oleh manusia dari sifat dan perannya. Kalau berperan membantu tentu dianggap baik demikian juga kalau mengganggu dianggap jahat. Tentu pelabelan ini sangat subyektif tetapi pelabelan dalam Injil Markus ini menegaskan kembali bahwa ada roh yang bukan dari roh Allah tetapi yang mengenali Allah. Dan roh ini begitu melihat Tuhan Yesus langsung rebah tersungkur dihadapan Tuhan Yesus. Jadi ada roh yang memang berseliweran diantara manusia namun ketika melihat Tuhan Yesus maka roh itu langsung tersungkur. Tersungkurnya roh itu tanpa sebab karena roh-roh itupun mengenali siapa Tuhan Yesus. Roh-roh itu dengan sangat jelas menyebutkan: “Engkau Anak Allah.” Pengakuan ini bukan sembarangan dan asal-asalan saja, sebab memang roh jahat itu tidak berdaya dihadapan Tuhan Yesus sehingga mereka sadar bahwa yang dapat mengalahkan mereka ya anak Allah. Apakah roh jahat ini mengenali jati diri Tuhan Yesus ? Belum tentu, tetapi perkara bahwa roh jahat tidak berdaya dihadapan Tuhan Yesus itu sangat jelas dalam bacaan kita.

Mari Kita Perdalam dan Perkaya

Tanggal 27 September 2017 ada sebuah film yang diputar di bioskop dan sangat menarik perhatian masyarakat. Judulnya adalah: Pengabdi Setan. Melihat antusiasme masyarakt pecinta film yang besar, rasanya hal-hal yang berbau angker dan klenik masih menjadi komoditas industri yang laku. Tentu ini mengindikasikan bahwa memang masyarakat kita masih sangat lekat dan dekat dengan hal-hal mistik baik yang dibungkus oleh agama maupun aliran kepercayaan lainnya. Dari fenomena yang demikian, mari sebagai orang Kristen kita saling berbagi pengalaman spiritual kita tentang pengalaman mistik bersama Tuhan. Adapun yang perlu kita bagikan adalah:

  1. Pengalaman mistik bersama Tuhan seperti apa yang pernah saudara alami selama ini ?
  2. Dengan cara bagaimanakah kita dapat mengaktualisasikan kuasa Tuhan Yesus dalam kehidupan sehari-hari?

Selamat berbagi kisah pengalaman iman, semoga dapat memperkaya dan melengkapi satu dengan lainnya. Tuhan Yesus Sang Kuasa memberkati kita. (to2k)

 

Pdt. Eko Adi Kustanto

 

 

PEBRUARI II

 

Bacaan           : II Korintus 5:17-21.
Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri Dalam Ketaatan Kepada Kehendak Tuhan.
Tema PA                      : “Membangun diri dan relasi dengan Tuhan”.

Tujuan:

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang kehendak Tuhan atas kehidupan riil kita.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata).
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk mengosongkan diri secara riil/nyata untuk dapat menaati kehendak Tuhan.

Keterangan Teks:

Ayat 17: Para orang Kristen adalah ciptaan baru. Roh Kudus memberi mereka isi (kualitas) baru; dengan demikian cara hidup mereka yang lama sudah berlalu (17). Para orang Kristen (kita) tidak direformasi atau dibentuk lagi, tidak direhabilitasi, dan tidak dididik ulang, melainkan kita diciptakan kembali (sebagai ciptaan baru). Oleh karena itu penting untuk tetap hidup dalam persekutuan dengan Kristus Yesus (Kolose 2:6-7). Pada perubahan tersebut, kita tidak hanya memulai hidup baru, melainkan kita juga mulai hidup baru di bawah seorang Tuan (Penguasa) baru yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Ayat 18-19: Allah membawa kita kembali kepada-Nya (rekonsiliasi = memulihkan hubungan ke keadaan semula) dengan cara menghilangkan (menghapuskan) dosa-dosa kita (baca juga Efesus 2:13-18) dan menjadikan kita berbudi (mempunyai kebijaksanaan; berakal; berkelakuan baik). Kita tidak lagi menjadi musuh Allah atau para orang yang tak dikenal (orang asing) bagi-Nya, apabila kita percaya dalam Kristus. Karena kita direkonsiliasi oleh Allah, maka kita memperoleh kemampuan untuk melakukan hal yang sama, sebagai pendamai bagi sesama, sebab kita memiliki ‘Firman rekonsiliasi’.

Ayat 20: Seorang duta besar adalah seorang wakil atau utusan resmi atas nama (bagi/untuk) suatu Negara terhadap Negara lainnya. Sebagai orang percaya, kita adalah para duta Kristus, yang diutus dengan misi rekonsiliasi-Nya bagi dunia. Seorang duta rekonsiliasi memiliki tanggungjawab penting. Kita tak boleh menganggap enteng tanggungjawab ini. Bagaimana sebaiknya anda mengisi jabatan anda sebagai duta Kristus?

Ayat 21: Jika kita percaya dalam Kristus, kita akan mampu membuat perubahan, meski kita berdosa namun kita dapat berbuat bagi kebenaran-Nya. Dosa kita dipikul Kristus pada penyaliban-Nya. Kebenaran-Nya dicurahkan kepada kita untuk mengubah kita. Hal ini adalah  penebusan Kristus bagi dosa. Di dunia, kerja barter (= perdagangan dengan saling bertukar barang) terjadi hanya bila dua orang bertukar barang-barang yang nilainya relatif sama. Tetapi Allah menawarkan barter kebenaran-Nya bagi dosa kita, sesuatu yang tak terbatas harga atau nilainya, bagi sesuatu yang benar-benar tak bernilai (dosa). Bagaimana kita berterima kasih bagi kebaikan-Nya untuk kita?

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Dunia modern menawarkan gaya hidup serba online! Misalnya: membeli pakaian, makanan; memanggil taksi, ojek; memesan tiket kereta api/pesawat terbang; transfer uang; ikut arisan, koperasi, investasi bodong; e-money, e-tol, dll. Kita tidak dapat melawannya, kecuali ikut mengalir begitu saja atau mengikutinya dengan bijak. Kelihatannya, semua hal dapat dilakukan dengan mudah.
  • Di tengah-tengah kita asyik dan terbuai dengan alat komunikasi modern, ada sebuah mutiara kata: “Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk saling berhubungan melalui segudang gawai, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk mengembangkan persahabatan sejati di dunia nyata” (Alex Morritt, Penulis buku dan perjalanan). Anda setuju dengan mutiara kata tersebut?

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Sebutkan ‘kehendak Tuhan’ yang anda percayai/hayati/alami dalam kurun waktu sebulan terakhir ini. Bagaimana respons atau tanggapan anda menghadapi kehendak Tuhan tersebut?
  2. Hal apa saja yang anda butuhkan agar anda dapat menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata) anda?
  3. Baca sekali lagi bagian ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ di atas. Langkah apa yang ingin anda lakukan untuk mewujudkan ‘melatih untuk mengosongkan diri secara riil/nyata’ agar dapat menaati kehendak Tuhan?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

Bagikan Entri Ini: