Pemahaman Alkitab Juni 2018

JUNI I

Bacaan   :  Yohanes  16 : 4b-15
Tema      : Roh Kudus Mengobarkan Semangat Bersaksi dan Melayani

Keterangan Teks :

Bayangkan perasaan  murid-murid  Yesus. Yesus  memberitahu bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka dan selanjutnya mereka akan dibenci dan diburu oleh orang-orang yang membenci Yesus. Tentu ini membuat mereka sedih sehingga kehilangan minat untuk mengetahui tujuan kepergian Yesus (5-6). Mereka tidak tahu apa gunanya kedatangan Roh Kudus bagi mereka. Oleh karena itu, Yesus memberikan mereka lebih banyak informasi mengenai makna kedatangan Roh Kudus bagi mereka. Yesus menyatakan bahwa Roh Kudus akan melakukan tiga jenis pelayanan saat Ia datang: Ia akan meyakinkan dunia (8-11), mengajar murid-murid (12-13), dan memuliakan Yesus (14-15).

Jelaslah bahwa Yesus tidak akan meninggalkan murid-murid begitu saja. Ada Roh Kudus yang akan memperlengkapi mereka dan memberi mereka kuasa sehingga mereka dimampukan untuk melaksanakan mandat yang Tuhan anugerahkan bagi mereka.

Kita, yang percaya kepada Yesus, mendapat perintah juga untuk memberitakan Injil kepada dunia yang tidak percaya ini. Ini bukan hanya berat, tetapi nampak mustahil! Bayangkan saja, memberitakan Injil kepada dunia yang membenci Kristus, membenci Injil, dan membenci murid-murid-Nya! Lalu bagaimana mungkin kita berharap agar orang datang kepada Yesus dalam iman? Melalui pemberitaan firman Tuhan dan melalui karya Roh Kuduslah orang menjadi beriman kepada Kristus.

Ingatlah bahwa Allah bekerja di dalam dan melalui kita untuk memenangkan orang berdosa bagi Kristus. Ketika kita memberitakan Injil, Roh Kuduslah yang sesungguhnya bekerja untuk meyakinkan orang berdosa mengenai kebenaran Injil.  Karena itu, jangan takut untuk mengabarkan Injil Tuhan. Namun kita tentu tidak boleh gegabah dan asal memberitakan. Kita perlu hikmat Tuhan untuk melaksanakan tugas berat, tetapi mulia ini, karena kita rindu Injil terus dikumandangkan.

Pertanyaan yang perlu digumuli:

  1. Bulan Kesaksian dan Pelayanan ini merupakan momentum yang diciptakan oleh GKJW agar warga mengembangkan diri dan menjadi Saksi serta Pelayan Kristus di tengah kehidupan nyata. Dengan melihat kenyataan jaman sekarang, apa prioritas untuk kesaksian dan pelayanan kita?
  2. Perasaan ragu, takut, enggan, serta kuatir sering menghalangi kita dalam memulai sebuah aksi pelayanan dan kesaksian. Susunlah strategi yang bisa dipakai untuk mengatasinya. Buatlah tim/kelompok lalu rumuskan strategi tersebut dan ungkapkan di depan yang lain. Tujuannya untuk berbagi supaya peran saling melengkapi/mengisi bisa terwujud dalam kegiatan kesaksian dan pelayanan.

Pdt. Kristian Handoyo Murti

JUNI II

Bacaan  : 1 Samuel 17:32-49
Tema Liturgis : Maju Terus Pantang Menyerah!
Kalender Liturgis : Pekan Anak.

Keterangan Teks:

Secara singkat bacaan ini mengisahkan tentang keberanian Daud. Ia diutus maju oleh Raja Saul yang tawar hati untuk menghadapi Goliat, tentara bangsa Filistin. Pada teks ini kita akan melihat karakter dari tiga tokoh melalui perannya masing-masing yaitu Daud, Saul dan Goliat.

Daud: seorang yang masih muda, berperawakan kecil, berprofesi sebagai gembala domba, dianggap kurang berpengalaman khususnya dalam peperangan. Tetapi ia memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Imannya membuat ia percaya diri dan pantang menyerah, berani maju meski dengan peralatan yang sederhana. Ia optimis, ia menghayati bahwa setiap pengalaman hidup dalam kesehariannya sebagai gembala adalah juga pengalaman iman.

Saul: seorang Raja Israel, secara usia lebih dewasa daripada Daud, memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam peperangan daripada Daud. Ia memiliki ‘modal’ (kekuasaan, perlengkapan perang, harta dan banyak prajurit), tetapi ia tawar hati sehingga menjadi pesimis dan takut saat menghadapi bangsa Filistin. Ia memandang rendah Daud yang dianggapnya kurang pengalaman tetapi tidak melihat potensi dalam diri Daud.

Goliat: secara fisik besar dan gagah dibanding dengan Daud, terlalu percaya diri, pongah dan suka menghina lawannya untuk menjatuhkan mental lawan.

Karakter ketiga tokoh ini jelaslah berbeda, akan tetapi karakter-karakter ini dekat dengan kehidupan kita di masa kini. Meski dirasa karakter Daud adalah yang paling ideal, namun sebenarnya ia juga bisa dibilang ngawur: gayanya anak muda, tetapi bukan sembarang ngawur. Ia ngawur dalam arti:  yang penting maju, bertindak, dalam nama Tuhan. Ia berani maju meski tampak kurang pengalaman dalam hal perang.  Tetapi ia memiliki pengalaman yang menjadi titik pijaknya melangkah sekaligus dihayatinya sebagai pengalaman iman, sebuah wujud nyata penyertaan Tuhan yakni  ketika ia menjaga domba dari serangan serigala. Itulah yang membuatnya berani maju pantang menyerah. Idealismenya diwujudnyatakan melalui tindakan nyata.

Berbeda dengan Saul yang justru menjadi tawar hati padahal telah diperlengkapi dengan berbagai modal yang ada padanya. Dia menjadi pantang maju, sebab keberaniannya terletak pada modalnya bukan pada Sang Pemberi Modal (Tuhan Allah yang memilihnya menjadi raja Israel), sehingga saat melihat lawannya tampak lebih kuat, hatinya menjadi tawar.

Realita masa kini dan pertanyaan untuk digumuli:

  1. Karakter yang ada pada diri Daud, pada diri Saul dan pada diri Goliat, bisa jadi juga ada pada diri kita. Kadangkala merasa seperti Daud, tetapi di lain waktu seperti Saul atau Goliat. Untuk itu sebelum melangkah lebih jauh, baik bila kita bercermin atas diri kita masing-masing. Ketika ada pergumulan atau tantangan dalam hidup berkeluarga, atau di tempat kerja bahkan juga dalam pelayanan di Gereja, bagaimanakah saya menghadapinya?
  2. Mengingat bahwa masa ini adalah pekan anak, tentu perenungan kita pun semestinya dekat dengan kehidupan anak-anak. Anak-anak adalah bagian penting dalam keluarga juga dalam pertumbuhan Gereja ke depan, yang mana tumbuh kembang anak-anak sendiri tidak terlepas dari peran orang tua di rumah, di sekolah dan di Gereja.Untuk itulah semestinya anak bukan sekedar menjadi obyek pelayanan tetapi diberi wadah untuk ikut serta terlibat dalam pelayanan di Gereja sebagai subyek-subyek yang melayani. Maka akan lebih baik bila anak-anak pun diikutsertakan dalam pemahaman Alkitab ini supaya ada kesempatan untuk saling belajar. Orang dewasa belajar untuk memberi kesempatan dan mendengar anak-anak berbicara. Anak-anak juga mendapatkan pelajaran/tambahan wawasannya dalam pertumbuhan imannya.

    Dengan demikian baiklah bila kita menggumuli beberapa hal berikut:

    1. Bagi warga dewasa:
      1. Sebagai orang tua di rumah, di sekolah (guru), di gereja (pamong, pendeta, guru katekisasi dst) Bagaimana kita memandang dan memperlakukan anak-anak ? Apakah seperti Daud yang maju dan tidak pernah menyerah dalam mendidik anak sebab ia mengimani Tuhan menolong, seperti Saul yang telah diperlengkapi sarana-prasarana tetapi tidak berani atau tawar hati sebab anak adalah pergumulan yang berat atau seperti Goliat yang memandang sepele apa yang dihadapi termasuk juga anak-anak sebab masih kecil dan belum berpengalaman ?
      2. Situasi dan kondisi akhir-akhir ini yang banyak mengancam kehidupan anak-anak kita. Kekerasan verbal atau fisik (bullying), kekerasan seksual, dampak buruk dari kemajuan informasi dan teknologi dst. Bagaimana bapak, ibu dan saudara melindungi dan mendampingi tumbuh kembang anak supaya tetap menjadi anak yang tangguh dan taat kepada Tuhan di tengah berbagai ancaman tersebut? Adakah muncul perasaan takut atau tawar hati seperti Saul, ataukah ini bukan hal yang penting untuk disikapi secara serius seperti Goliat?
      3. Pelayanan kepada anak itu penting, begitu pula mengajak anak untuk melayani adalah juga hal yang penting, untuk melatih sekaligus menumbuhkembangkan imannya melalui memberi diri untuk melayani Tuhan di tengah jemaatNya. Lalu bagaimana pendapat bapak, ibu dan saudara terkait dengan hal tersebut? Bagaimana cara menumbuhkembangkan iman pada Tuhan juga semangat untuk melayani seperti Daud, kepada anak-anak di tengah kesibukan pekerjaan dan pelayanan bapak, ibu, saudara sekaligus juga di tengah kesibukan anak-anak belajar baik di sekolah maupun di tempat les?
    2. Bagi Anak-Anak
      1. Manakah perbuatan dan sikap yang paling baik dari Daud, Saul dan Goliat? Mengapa demikian?
      2. Apakah adik-adik pernah merasa takut? Mengapa takut? Lalu apa yang adik-adik lakukan saat merasa takut?
      3. Apakah adik-adik pernah merasakan ditolong oleh Tuhan? Pada saat apa itu? Bagaimana caranya Tuhan menolong adik-adik? Bagaimana rasanya?
  3. Bagaimana cara memunculkan sikap berani maju dan pantang menyerah ketika menghadapi pergumulan dan dalam mendampingi anak-anak dengan berbagai karakternya di tengah berbagai keterbatasan atau pun kelimpahan menurut pengalaman bapak, ibu, saudara selama ini?

 

 

Selamat bergumul bersama anak-anak

Maju Terus Pantang Menyerah!

Pdt. Maria Theofani Widayat

 

Bagikan Entri Ini: