Pemahaman Alkitab Juli 2018

Juli I

Bacaan : Yeremia 7 : 1 – 15
Tema Liturgis : Tetap Setia dengan Panggilan-Nya
Tema PA        : Keluarga belajar

Keterangan Teks :

Yeremia adalah nabi yang hidup pada jaman yang bergolak, dibesarkan dalam waktu yang baik namun meninggal pada waktu sangat buruk sebagai seorang buangan di Mesir. Yeremia termasuk keluarga imam yang dipanggil dalam tugas kenabian ketika masih muda di tengah kondisi bangsa yang kacau. Yeremia melihat Bait Suci dihancurkan, Yerusalem ditinggalkan dan penduduknya dibuang ke Babel. Dia sendiri pada akhirnya juga dibuang ke Mesir sampai dengan meninggal karena dilempari batu. Di tengah hiruk pikuk situasi bangsanya, Yeremia memberikan pesan dengan nada pesimis dan optimis. Dia tenggelam dalam rasa pesimis ketika melihat keadaan yang menyedihkan, namun penuh rasa optimis ketika memandang Allah yang memberikan pengharapan, perjanjian, kekuatan dan kehendak kuat untuk membuat bangsa Israel menjadi bangsa yang kudus. Karenanya, di satu sisi Yeremia menegur kesalahan dan dosa melawan perjanjian yang dilakukan bangsanya, namun di sisi lain dia membangkitkan kesadaran bahwa kejahatan yang mereka lakukan adalah kejahatan melawan Allah. Yeremia mengajak bangsanya melihat bahwa sejatinya Allah mencintai mereka, pun ketika Allah menghukum mereka.

Yeremia 7 : 1-5 merupakan bagian kotbah Yeremia di Bait Suci yang mengajak bangsanya mendengarkan firman Tuhan. Yeremia memarahi orang-orang Yehuda atas kepercayaan mereka yang dipengaruhi oleh perkataan dusta (ayat 4) sekaligus mengajak mereka memperbaiki tingkah laku dan memperbarui hidup (ayat 3, 5-7). Yeremia mengkritik cara hidup keseharian dan peribadatan yang tidak selaras. Mereka meninggalkan kesetiaan terhadap perjanjian dan melawan hukum Tuhan dengan melakukan kejahatan sosial. Yeremia menyebut mereka menjadikan Bait Suci sebagai “sarang penyamun” karena merasa tetap bisa lepas dari hukuman karena ritual yang mereka lakukan. Pada akhirnya, Yeremia mengajak bangsanya setia pada panggilan-Nya dengan mengingatkan mereka pada tempat ibadat di Silo yang pernah hancur dan hal itu dapat terjadi pada Bait Suci (ayat 11-25).

Realitas kehidupan terkinidan penerapan :

  1. Februali lalu, Pak guru Budi di Madura, tewas karena serangan muridnya. Bu kepala sekolah Astri di Sulawesi Utara terluka karena diserang orang tua muridnya. Maudi Ayunda, artis yang sejak kecil sudah melakukan aksi sosial dengan membantu yang membutuhkan (bisa diganti sosok inspiratif lain). Dari mana orang-orang ini berangkat dan pulang? Keluarga. Jadi, keluarga menjadi komunitas pertama dan utama dalam pertumbuhan diri menjadi pribadi yang tangguh, baik ketika di rumah maupun keluar rumah. Di dalam keluargalah, karakter baik ditumbuhkan dengan aturan yang ditegakkan dengan disiplin, tegas (bukan keras), penuh kelembutan dan cinta kasih. Kesetiaan menjaga nilai dan melatih sikap-sikap yang luhur bisa dikawal ketika orang dewasa dalam keluarga cukup tangguh dan percaya diri sebagai “nabi” dan utusan Tuhan sebagaimana Yeremia menjaga bangsa Yehuda dengan teguran dan harapan.
  2. Realitanya, menjadi keluarga yang tangguh adalah proses belajar yang tak pernah berhenti. Sekolah bagi pasangan yang membangun hidup berkeluarga adalah pengalaman dan pengetahuan dalam sikap yang terbuka untuk terus belajar karena tantangan keluarga terus berubah. Era digital telah mengubah banyak hal dalam keluarga seperti komunikasi dan relasi. Rembugan membahas dan mencari tahu sesuatu yang dulu dibangun dalam suasana gayeng mulai luntur digantikan dengan google yang menjadi jawaban atas persoalan. Kegembiraan yang sebelumnya ditemukan dengan bermain bersama teman sampai lupa waktu, sekarang mulai hilang karena anak-anak dan orang dewasa telah menemukan hiburan yang membuatnya lupa waktu melalui gawai / gadget canggihnya. Di balik dampak positifnya, media digital telah memenangkan seluruh perhatian anak dan orang dewasa yang kita tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menghadapinya, terbentang dampak negatif yang besar. Karena itu, era yang berubah membuat pola relasi keluarga pun berganti sehingga kesediaan keluarga untuk terus belajar senantiasa dibutuhkan.
  3. Di tengah realita hidup itu, panggilan bagi setiap pribadi dalam keluarga masih sama : menjadi setia. Kesetiaan bukan instan, namun butuh belajar. Karenanya, setiap keluarga dipanggil untuk belajar setia menjalani hidup. Keluarga harus belajar menghadapi perubahan dan tantangan yang melemahkan hidup berkeluarga. Belajar dari Yeremia, mari menjadi keluarga yang saling mendampingi dengan cinta dan harapan. Ketika berhadapan dengan perilaku yang tidak sesuai, bukan hanya memberikan teguran namun juga pengharapan pada Allah yang memberikan kekuatan pada kita sebagai keluarga yang setia.

Pertanyaan Reflektif :

  1. Rumahlah tempat belajar karakter yang baik seperti sopan santun, penghargaan, maaf dan ketulusan, sehingga ketika keluar rumah selalu siap menebar kebaikan dan kebenaran dengan setia. Menurut saudara, apa tantangan dalam mewujudkan rumah sebagai tempat keluarga belajar?
  2. Hanya sedikit orang muda yang terlibat atas keprihatinan bangsanya, seperti Yeremia. Menurut saudara, teladan apa yang bisa kita lakukan selaku keluarga untuk menyiapkan anak-anak yang peduli?

Penutup :

Anak belajar dari kehidupannya, karenanya tugas utama keluarga adalah menjadi tempat belajar bagi semua anggota, tidak hanya anak, tapi orang tua juga. Lihatlah, ketika ada bayi baru lahir, mereka  yang lahir lebih dulu akan belajar banyak hal. Bapak dan ibu baru belajar bagaimana menggendong, kakak akan belajar bicara dengan pelan agar adik tidak terganggu, kakek dan nenek belajar tidak berbagi perhatian yang semakin banyak. Selain belajar pengasuhan secara fisik ini, keluarga juga terus belajar mengelola psikisnya, agar rumah menjadi tempat yang sehat untuk belajar. Mari menjadi terus menguatkan kehidupan kita sebagai keluarga belajar.

 


 

Juli II

 

Bacaan : Kolose 1 : 15 – 23
Tema Liturgi : Utamakan Tuhan maka segala sesuatu diberikan Kepadamu
Tema PA : Sudahkah Kristus menjadi yang utama dalam hidupku?
Tujuan :

  1. Mengajak setiap peserta PA untuk memahami mengapa Kristus perlu diutamakan  dalam hidupnya.
  2. Mengajak setiap peserta PA untuk memahami konsekuensi sebagai orang yang mengutamakan Kristus dalam hidupnya.

Latar belakang Teks

Rasul Paulus mendengar berita tentang jemaat Kolose melalui rekan sepelayanannya, Epafras, yang datang mengunjunginya di penjara. Waktu itu, Kondisi jemaat Kolose sedang menghadapi serangan dari ajaran dan filsafat yang berasal dari Yunani dan Yahudi, salah satunya adalah dari ajaran Gnostik. Salah satu pokok ajaran ini adalah mereka memandang Tuhan hanya sebagai sebuah dunia ide yang mutlak di mana ciptaan sebagai materi yang rusak. Dunia ide yang mutlak dan materi yang rusak ini tidak bisa disatukan satu sama lain. Hubungan antara keduanya terputus. Ciptaan mampu mencapai Tuhan hanya melalui pengetahuan (gnosis). Jadi, ajaran filsafat gnostik sangat sulit untuk menerima Tuhan yang mutlak itu ada di dalam dunia materi yang rusak. Itu sebabnya mereka sangat menentang inkarnasi Kristus, Allah menjadi manusia. Bagi mereka, Yesus hanyalah tokoh terakhir dari pengantara manusia dengan Tuhan di sepanjang sejarah manusia. Selain ajaran gnostik, jemaat Kolose juga dihadapkandengan ajaran-ajaran turun temurun tentang makanan dan minuman, tentang hari raya, yang mana keduanya perlu ditambahkan untuk mencapai keselamatan. Di tengah urgensi inilah, Paulus perlu menuliskan suratnya kepada jemaat Kolose agar mereka tidak terjerat masuk ke dalam pengaruh ajaran-ajaran menyimpang yang muncul di sana.

Alasan Paulus untuk menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam hidup (Keterangan Teks)

Dalam bacaan tadi, Rasul Paulus menyampaikan bahwa TUHAN Allah itu telah dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus sebagai ”gambar (eikon) Allah” yang artinya, Yesus Kristus adalah representasi dan manifestasi diri Allah yang benar-benar sempurna. Bila ingin melihat seperti apakah Allah itu, maka kita harus melihatnya pada Yesus. Karena tidak ada seorangpun yang telah melihat Allah. ”Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dia-lah yang menyatakan-Nya.” (Yoh.1:18).” Karena itu Dia adalah yang utama, atau Yang Sulung atau lebih utama dari segala yang diciptakan.” Kata ”sulung” di sini sama sekali tidak berbicara mengenai waktu (time) yang bersifat urutan, siapa yang dahulu dilahirkan daripada yang lain. Kata ”sulung” di sini berbicara tentang supremasi, keutamaan Yesus Kristus dari seluruh ciptaan. Yesus Kristus adalah pencipta dan seluruh rencana Allah Bapa di dalam kekekalan dikerjakanYesus di dunia sampai selesai. Yesus Kristus juga adalah batu penjuru, di mana seluruh ciptaan dibangun dengan pedoman dari batu penjuru. “Melalui Dia” artinya bicara kontinuitas dari pemeliharaan Yesus terhadap seluruh ciptaan. Pencipta tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. “Untuk Dia” artinya, seluruh ciptaan semata-mata adalah bagi kemuliaan-Nya saja. Ini seperti seorang pemahat seni yang membuat satu karya seni yang begitu detail dan agung sehingga karya tersebut membuat orang yang melihatnya kagum dan memuji sang pemahat tersebut karena karyanya sedemikian indah dan agung.

Yesus Kristus, sudah ada sebelum segala sesuatunya ada dan diciptakan. Dia adalah Pencipta yang terutama dari segala ciptaan. Dia tidak hanya mencipta, tapi juga memelihara seluruh ciptaan-Nya. Rasul Paulus juga berkata bahwa Yesus adalah kepala tubuh, yaitu jemaat. Artinya, seluruh anggota tubuh (gereja/Jemaat) bekerja sama bukan hanya karena sekadar organisasi, tapi oleh karena tunduk kepada Kepala yang mengaturnya.” Ia yang Sulung, yang pertama bangkit.” Lazarus pernah mati lalu dibangkitkan, tapi kemudian ia mati kembali. Tidak demikian dengan Yesus. Dia mati lalu bangkit, dan hidup untukselama-lamanya. Ketika Dia dikatakan yang sulung, yang pertama bangkit, artinya kebangkitan Yesus merupakan jaminan bahwa umat tebusan-Nya akan dibangkitkan juga pada waktu kedatangan-Nya yang kedua.

Yesus Kristus adalah sang Pencipta, kepala jemaat, lebih utama dari segala sesuatu. Seluruh kepenuhan Allah, kuasa dan keilahian-Nya ada di dalam Yesus. Hal ini terlihat dari sikap, perkataan, dan perbuatan-Nya ketika ada di dalam dunia ini. Dia dan Bapa adalah satu adanya (Yoh. 10:30). Dia adalah manifestasi dari Allah yang sempurna. Melihat Dia berarti melihat Allah (Yoh.14:9). Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia (Yoh.14:10). Yesus Kristus sebagai pemelihara ciptaan juga bertindak sebagai pendamai.  Ini adalah pekerjaan Yesus sebagai figur sentral dalam keselamatan. Dalam Kejadian 3:17 dicatat bagaimana fakta dosa tidak hanya mengakibatkan rusaknya relasi antara manusia dengan Allah, tapi juga antara manusia dengan alam (Kej.3:17). Yesuslah satu-satunya jalan yang mampu memperdamaikan/ merekonsiliasi relasi-relasi yang rusak itu, hingga relasi-relasi tersebut kembali dipulihkan. Dia memperdamaikannya melalui pengorbanan-Nya di kayu salib yang menebus dosa manusia. Kematian-Nya bersifat menggantikan (substitusi) dosa manusia.

Paulus Memotivasi Warga Kolose untuk dapat mengutamakan Kristus

Demikian juga Yesus Kristus itu telah mendamaikan warga Kolose. Menurut Paulus, dahulu sebelum mereka menerima Injil dan percaya kepada Kristus, mereka adalah orang-orang yang hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh Allah. Hal ini termanifestasi jelas dari perbuatan mereka yang jahat. Tetapi, mereka sekarang telah diperdamaikan melalui kematian Kristus. Efek dari pendamaian Kristus menjadikan status manusia yang dahulu adalah orang-orang berdosa kini menjadi orang-orang kudus. Artinya, mereka kini telah dipisahkan dari yang tidak kudus dan dikhususkan bagi Allah. Mereka kini menjadi milik Allah. Karena itu, Paulus mengingatkan mereka supaya tetap teguh pada pemberitaan Injil. Di tengah pergumulan dan tantangan adanya pengajaran tidak sehat yang muncul, Paulus berpesan agar mereka tidak digoncangkan dan digeser dari pengharapan Injil yang sudah mereka dengar. Mereka harus terus bertekun di dalam memperjuangkan Injil. Paulus percaya bahwa Tuhan tetap akan memimpin mereka di dalam menjalankannya.

Pertanyaan Untuk Digumuli

  1. Apakah Kristus saat ini juga menjadi yang utama dalam hidup kita? Mengapa?
  2. Jika kita mengakui Kristus sebagai yang utama dalam hidup kita, tindakan apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan pengakuan tersebut?
  3. Saat menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam hidup, apakah ada konsekuensi (dampak/pengaruh) dalam kehidupan kita?

 

 

Bagikan Entri Ini: