Pemahaman Alkitab Juli 2025

1 June 2025

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2025 (I)
Bulan Keluarga

Bacaan : Kejadian 18 : 1 – 15
Tema Liturgi: Berakar dalam Altar, Berbuah dalam Latar
Tema PA: Hidup sebagai Keluarga Allah

Pengantar:
Hidup berkeluarga tentunya tidak lepas dari persoalan, baik itu dari dalam maupun dari luar. Masalah dari dalam misalnya masalah komunikasi antara suami-istri, yang terkadang sering kali terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Demikian pula komunikasi antara orang tua dengan anak yang sering kali tidak berjalan dengan baik. Komunikasi yang tidak berjalan baik itu dapat menyebabkan pertengkaran dan masalah yang lebih besar, seperti KDRT. Masalah internal yang lain misalnya masalah ekonomi keluarga, keluarga yang belum dikaruniai anak atau keturunan setelah sekian tahun perkawinan. Sedangkan masalah dari luar, misalnya penilaian negatif orang lain terhadap keluarga, tekanan pekerjaan, dll. Di sinilah dibutuhkan kedewasaan dalam bersikap serta bijak dalam memutuskan sesuatu untuk menemukan jalan keluarnya.

Dalam bukunya Selamat Ribut Rukun, (Alm.) Pdt. Andar Ismael menyebutkan ketika seorang laki-laki dan perempuan disatukan dalam perkawinan dan membangun sebuah keluarga, niscaya mereka akan mengalami ribut rukun. Ada kalanya terjadi keributan, pertengkaran, perselisihan, ada kalanya mereka ini hidup rukun, saling mengasihi dan menghargai satu dengan yang lain. Oleh karena itu, setiap orang dewasa yang siap hidup berkeluarga, mereka harus sikap dewasa, berkomitmen untuk setia, dan bertanggung jawab dalam keluarga. Hidup sebagai keluarga yang disatukan dan diberkati Tuhan dalam perkawinan kudus, maka setiap keluarga harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai kepala keluarga. Artinya kita mempercayakan hidup dan perjalanan keluarga kita dalam pimpinan dan tuntunan Tuhan Yesus. Keyakinan kita ini tampak dalam kebersamaan kita dalam keluarga yang berdoa, bersekutu, beribadah kepada Tuhan. Masing-masing anggota keluarga hidup dalam kasih, saling percaya, saling mendukung dan menolong, sehati sepikir dalam hidup bersama.

Penjelasan Teks:
Bagian bacaan kita saat ini, Kejadian 18:1-15 merupakan kelanjutan kisah Kejadian 17 yang menceritakan tentang perjanjian antara Tuhan Allah dengan Abram tentang keturunan dan tanda sunat. Pada saat itu Abram berumur 99 tahun, Tuhan Allah meneguhkan janji-Nya tentang keturunan kepada Abram. ”Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.” (Kej. 17:2). Tuhan Allah juga berjanji akan menjadikan Abram sebagai bapa sejumlah besar bangsa dan menggantikan sebutan nama Abram menjadi Abraham (Kej. 17:4-5). Maka untuk menandai perjanjian itu ditetapkanlah tanda sunat, setiap anak laki-laki dari keturunan Abraham harus disunat (Kej. 17:10-11).

Kisah pada perikop kita, Kejadian 18 ini menggenapi janji Allah kepada Abraham akan keturunan. LAI dalam Terjemahan Baru 2 memberikan judul pada perikop ini : Penuguhan janji keturunan kepada Abraham dan Sara.  Kisah diawali dengan TUHAN menampakkan diri-Nya kepada Abraham di dekat pohon terbantin di Mamre (Ay. 1). Setelah menyampaikan perjanjian-Nya dengan Abraham, tidak begitu lama kemudian datanglah tiga orang tamu di depan kemah Abraham. Abraham menerima dan menyambut ketiga tamunya itu dengan ramah bahkan ia sampai bersujud ke tanah sebagai ungkapan hormatnya kepada ketiga tamunya tersebut (Ay. 2). Kemudian Abraham mempersilakan mereka untuk beristirahat sejenak, setelah mereka membasuh kaki. (Ay. 4).  Lalu ia menjamu mereka dengan mengolah makanan yang terbaik bagi mereka (Ay. 5). Abraham meminta kepada Sara untuk membuatkan roti bagi mereka, sementara ia mengambil seekor sapi dan mengolahnya untuk dihidangkan kepada ketiga tamunya itu (Ay. 6-8).

Sesaat kemudian Abraham berbincang dengan mereka, ketiga orang itu menanyakan, ”Dimanakah Sara, istrimu?” Abraham menjawab, ”Di sana, di dalam kemah.” Artinya percakapan antara Abraham dengan ketiga orang itu didengar juga oleh Sara yang ada dalam kemah, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Selanjutnya ketiga orang tadi menyampaikan firman TUHAN, ”Sesungguhnya Aku akan kembali menemui engkau tahun depan. Pada waktu itulah Sara, istrimu akan mempunyai seorang anak laki-laki.” (Ay. 10 TB2). Mareka  menyampaikan berita  sukacita bahwa Abraham dan Sara akan dikaruniai seorang anak yang telah lama mereka nanti-nantikan. Yang menarik adalah sikap Sara yang mendengarkan berita itu, ia tertawa (Ay. 12). Hal ini sangat wajar mengingat saat itu usia Sara sudah tua dan ia sudah mati haid, sangatlah tidak mungkin baginya mengandung dan melahirkan seorang anak (Ay. 11). Ketiga orang itu kemudian menyatakan kuasa Allah bagi keluarga Abraham, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi TUHAN (Ay. 14). Ketika TUHAN telah menyatakan kehendak dan kuasa-Nya, maka apa yang mustahil bagi manusia, dapat terjadi. Dan hal ini kemudian digenapi melalui peristiwa lahirnya Ishak, yang dikisahkan dalam Kejadian 21.

Relevansi:
Tema PA saat ini adalah Hidup sebagai Keluarga Allah. Seperti apakah keluarga Allah itu? Mungkin ada yang berpandangan bahwa keluarga Allah adalah keluarga yang tanpa masalah, keluarga yang sempurna, keluarga yang ideal, keluarga yang bahagia. Namun nyatanya kehidupan sebagai keluarga Allah tidak selalu sempurna. Kehidupan sebagai keluarga Allah juga tidak lepas dari tantangan, pergumulan, dan masalah hidup. Yang membedakan ialah keluarga Allah hidup dalam iman dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Keluarga Allah hidup dalam pengharapan dan keyakinan bahwa setiap tantangan, pergumulan dan masalah hidup dapat diselesaikan. Karena itu, hal utama dalam hidup keluarga Allah adalah selalu berusaha dan berjuang untuk melakukan yang terbaik, rela berkorban, percaya, setia, dan bertanggung jawab.

Dari kisah kehidupan keluarga Abraham yang belum mendapatkan keturunan hingga usia lanjut, kita dapat belajar :

  1. Selalu Percaya akan Janji Tuhan bagi Keluarga
    Tuhan telah berjanji pada Abraham tentang keturunan, dan Abraham teguh memegang janji itu hingga digenapi. Pun demikian sebagai keluarga Allah, kita  percaya pada janji Tuhan. Kita percaya Tuhan akan menuntun, menyertai, dan memberkati setiap dinamika kehidupan keluarga kita. Sesulit apapun perjalanan hidup keluarga kita, dengan iman yang teguh kita percaya dan mempercayakan diri dan hidup keluarga kita sepenuhnya pada Tuhan, sebab tiada yang mustahil bagi-Nya.
  2. Sabar Menanti Janji Tuhan
    Tuhan mengizinkan kita berproses dalam hidup. Ada misteri dalam hidup yang tidak dapat kita tebak sebab rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, namun dengan penuh pengharapan dan keyakinan iman, kita belajar untuk tekun menanti janji Tuhan dinyatakan bagi kita. Abraham dan Sara sabar menanti janji akan keturunan, hingga akhirnya janji itu digenapi di usia mereka yang telah lanjut. Demikian dengan kita tetaplah tekun dan sabar menanti janji Tuhan yang dinyatakan kepada kita.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Pesan apakah yang saudara dapatkan dari keluarga Abraham bagi perjalanan keluarga saudara?
  2. Pergumulan apakah yang saudara alami dalam keluarga? Bagaimana saudara melewati pergumulan tersebut? Bagikan sebagai kesaksian yang menguatkan!
  3. Sebagai warga jemaat, apakah yang dapat saudara lakukan untuk membangun kehidupan jemaat sebagai keluarga Allah? [AR].

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2025 (II)
Bulan Keluarga

Bacaan: Yakobus 2 : 14 – 26
Tema Liturgi: Berakar dalam Altar, Berbuah dalam Latar
Tema PA: Berkata dan Berbuat Benar Selaras dengan Kehendak Tuhan

Pengantar:
Ada pepatah yang menyebutkan ”Tong Kosong Nyaring Bunyinya”. Pepatah ini memiliki arti orang yang hanya pandai berbicara, namun tidak pandai melakukan apa yang telah ia katakan. Hal ini banyak kita jumpai di lingkup keluarga, gereja, dan masyarakat. Di keluarga bisa terjadi seorang suami mengatakan mengasihi istri dan anaknya, nyatanya dalam kehidupan keluarga itu terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Di gereja, bisa saja seseorang berkhotbah tentang hal mengampuni, tetapi dalam praktik hidupnya dia masih menyimpan kepahitan, sakit hati, bahkan dendam kepada orang lain. Atau bisa saja seseorang menyampaikan usul pembangunan gedung gereja dengan merincikan kebutuhan biayanya, namun pada saat dia dimintai donasi atau bantuan, dia tidak memberi donasi atau bantuan sedikit pun. Di lingkup masyarakat, ada pejabat daerah yang berjanji akan membangun jalan desa yang telah rusak, nyatanya setelah 1 tahun lebih jalan desa itu tak kunjung diperbaiki.

Dalam keseharian, ada harapan kita menjadi orang yang berintegritas dan dapat dipercaya. Artinya antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan selaras dan sejalan. Terlebih kita yang dipercaya sebagai para pelayan di Jemaat, baik sebagai anggota MJ, pengurus BPMJ, pengurus kelompok, dan pamong anak remaja, kita adalah orang-orang terpilih, yang dijadikan contoh dalam ucapan dan tingkah laku sehari-hari. Kita mengajarkan kebaikan, kasih, kesetiaan, dan firman Tuhan dengan harapan apa yang kita ajarankan itu juga kita lakukan. Kita sungguh-sungguh hidup benar, penuh kasih, dan setia dalam setiap tugas tanggung jawab yang dipercayakan pada kita. Tentu saja hal ini tidak mudah untuk kita lakukan, dibutuhkan komitmen dan tekad yang kuat dari diri sendiri untuk sungguh-sungguh mampu menjadi pribadi yang berintegritas dan dapat dipercaya. Karena itu, kita harus memohon kekuatan dan kemampuan pada Tuhan agar kita dapat melakukan setiap tugas yang dipercayakan pada kita.

Penjelasan Teks:
Seringkali pemahaman tentang iman dan perbuatan dipahani sebagai dua hal yang terpisah. Hal ini menyebabkan sering kali seseorang jatuh pada kesombongan rohani karena ia hanya menekankan sisi iman saja. Sebaliknya bagi orang yang lebih menekankan pada perbuatan, sering kali ia mengunggulkan perbuatan baik yang ia lakukan dengan tujuan kemanusiaan. Hal ini dapat membuatnya menjadi orang yang sombong, merasa hebat dengan kemampuan, kepandaian, maupun perbuatan baik yang ia lakukan kepada orang lain. Ia menjadi gila hormat dan pujian dari orang lain atas perbuatan baik yang ia lakukan. Karena itu, memisahkan antara iman dan perbuatan dapat menyebabkan kesesatan. Iman dan perbuatan harus dilihat sebagai satu keutuhan.

Rasul Yakobus melihat ada orang-orang Kristen yang tidak peduli dengan saudara mereka seiman yang menderita kekurangan (makanan dan pakaian) dan mengalami kesulitan dalam hidup mereka. Yakobus menegaskan bahwa tanpa ada kepedulian kepada mereka yang lemah, itu menunjukkan iman yang mati. Mereka yang tidak peduli terhadap sesamanya, tidak sungguh-sungguh menghayati iman mereka kepada Yesus Kristus (Ay. 14-17). Sia-sia saja mereka beriman kepada Yesus Kristus tetapi dalam praktik hidup mereka sehari-hari tidak mencerminkan kehidupan yang dipimpin Sang Kristus itu sendiri. Sebab setan pun juga percaya kepada Yesus Kristus dan gentar (Ay. 19). Artinya hidup beriman yang tidak disertai dengan perbuatan hanyalah iman yang kosong, sia-sia belaka. ”Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Ay. 17)

Untuk itu, Yakobus memberikan contoh Abraham yang mempersembahkan Ishak sebagai bukti bahwa iman juga harus disertai dengan perbuatan. Abraham yang dikenal sebagai Bapa orang beriman memberikan gambaran bahwa iman harus selalu sinergis dengan perbuatan nyata. Abraham mempersembahan Ishak anak yang dikasihinya kepada Tuhan (Ay. 21-24). Dia percaya akan janji Tuhan dan dia taat melakukan perintah Tuhan dalam hidupnya. Contoh kedua, Yakobus mencontohkan Rahab, seorang pelacur, yang menolong dan menyelamatkan para pengintai Israel di rumahnya. Rahab dibenarkan oleh Tuhan Allah karena iman dan perbuatannya. Ia dibenarkan karena ia telah menyelamatkan para pengintai Israel dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Keberanian Rahab ini adalah bukti iman yang mewujud dalam perbuatan. Pada akhirnya Yakobus mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, seperti tubuh tanpa roh. Maka hendaknya iman selalu disertai dengan perbuatan (Ay. 26).

Relevansi:
Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita harus menghayati iman yang mewujud di dalam perbuatan. Dengan mulut kita mengaku percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat kita yang hidup. Dalam ibadah Minggu, kita juga  mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli sebagai bentuk ungkapan pengakuan iman kita. Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan menjadi tanda bahwa kita percaya sepenuhnya kepada Allah Bapa Sang Pencipta, Yesus Kristus Sang Juru Selamat, dan Roh Kudus Sang Penolong.  Demikian pula sebagai pengikut Kristus, iman kita tersebut harus kita nyatakan melalui perbuatan nyata. Apa yang menjadi ajaran Tuhan Yesus dan teladan hidup-Nya harus mewarnai hidup kita. Contoh iman yang terwujud dalam perbuatan, yaitu kesediaan hidup saling mengasihi, saling mengampuni, saling menguatkan, berbagi, peduli, dll.

Hal yang penting adalah kesediaan kita melakukan. Kita dapat mempraktikkan iman dan perbuatan secara sinergis dimulai dari keluarga kita berlanjut dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat. Dimulai dari hal yang sederhana, seperti: memperkatakan kata-kata yang menyemangati, bersedia mendengarkan, mendampingi anggota keluarga yang sedang menghadapi masalah, peduli, dll. Bulan keluarga saat ini mengajak kita untuk fokus dengan kehidupan keluarga kita. Dimulai dari lingkup persekutuan terkecil, kita berusaha menyelaraskan perkataan dan perbuatan kita. Dengan demikian kita akan menjadi pengikut Tuhan Yesus yang membawa kebaikan dan menjadi berkat bagi sesama. Dari keluarga inti berlanjut pada komunitas Jemaat, dimana iman kita menjadi nyata melalui perbuatan mengasihi jemaat yang lain, mengunjungi saudara yang sakit, yang lemah dan berkekurangan. Demikian kita juga bersedia menjadi relawan yang ikut membantu saudara kita yang mengalami bencana alam, dll. Artinya dimulai dari lingkup persekutuan terkecil, yaitu keluarga kita masing-masing, berlanjut kepada lingkup persekutuan di Jemaat.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Sebutkan tokoh iman dalam Alkitab selain Abraham yang menunjukkan bahwa iman dan perbuatan harus selaras? Pesan apakah yang saudara dapatkan dari tokoh iman tersebut?
  2. Mengapa keteladanan iman dan perbuatan ini penting diajarkan sejak dini dalam keluarga?
  3. Berikan contoh dalam kehidupan saudara, pengalaman iman yang nyata dalam perbuatan! [AR].

Renungan Harian

Renungan Harian Anak