Pemahaman Alkitab Agustus 2025

1 July 2025

Pemahaman Alkitab (PA) Agustus 2025 (I)
Bulan Pembangunan

Bacaan: Nehemia 13 : 15 – 22
Tema Liturgis: Membangun Budaya Kritis Apresiatif
Tema PA: Membangun Budaya Kritis Apresiatif

Pengantar :

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun tidur lagi hahaha

Abis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa tidur lagi hahaha

Barang siapa yang ingin hidup awet muda
Bahagia di dunia ini kurangi tidur banyakin kopi hahaha
I love you full

Tersebut dia atas adalah cuplikan sebagian lirik lagu yang diciptakan oleh alm. Mbah Surip. Banyak orang menangkap kesan jenaka dari lagu tersebut. Namun jika kita mau memperdalam pesan yang ingin disampaikan melalui lirik lagu tersebut, dapat dikatakan bahwa pencipta lagu ingin memberikan semangat hidup bagi para pendengarnya agar tidak kebanyakan tidur.

Tidur adalah sebuah kebutuhan manusia, namun kebanyakan tidur akan membuat manusia itu kehilangan banyak waktu untuk mengisi kehidupan ini dengan makna yang baik. Demikian juga dalam membangun persekutuan di dalam gereja. Merasa puas diri dengan pelayanan yang dilakukan gereja selama ini dapat dimasukkan dalam pengertian gereja tersebut kebanyakan tidur. Bagaimana gereja selalu memiliki budaya kritis apresiatif dalam pelayanan, juga menentukan bagaimana gereja tersebut membangun dirinya secara menyeluruh, agar tidak kebanyakan tidur?

Penjelasan Teks:
Perikop Nehemia 13:15-22 terjadi setelah Nehemia menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem dan memulihkan kehidupan sosial dan agama di Yudea. Nehemia kembali ke Persia untuk melapor kepada Raja Artahsasta, meninggalkan Hanani sebagai gubernur. Setelah beberapa waktu, Nehemia kembali ke Yerusalem dan menemukan beberapa pelanggaran terhadap hukum Taurat.

Pada saat itu, masyarakat Yahudi di Yerusalem mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Beberapa masalah yang terjadi, orang-orang kaya memanfaatkan orang miskin dengan membebankan bunga tinggi. Orang-orang Yahudi melanggar hukum Sabat dengan melakukan pekerjaan pada hari itu. Banyak orang Yahudi menikah dengan orang-orang non-Yahudi, melanggar hukum Taurat. Bait Allah diabaikan dan para imam tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Perikop Nehemia 13:15-22 mengajarkan pentingnya mempertahankan kesucian dan ketaatan. Nehemia menekankan pentingnya mempertahankan kesucian dan ketaatan terhadap hukum Taurat. Nehemia menegur orang-orang kaya yang memanfaatkan orang miskin dan menekankan pentingnya keadilan sosial. Perikop ini menekankan pentingnya menghormati hari Sabat sebagai hari istirahat dan peribadatan. Nehemia juga menjadi contoh pemimpin yang saleh dan berani mengambil tindakan untuk memperbaiki kesalahan masyarakat.

Dalam konteks modern, perikop ini mengingatkan kita tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai moral dan spiritual, keadilan sosial dan perlindungan terhadap orang miskin, penghormatan terhadap tradisi dan hukum agama, serta perlunya pemimpin yang saleh dan berani mengambil tindakan untuk memperbaiki kesalahan masyarakat.

Relevansi:
Nehemia 13:15-22 memiliki relevansi yang signifikan dalam pembangunan gereja yang berbudaya kritis – apresiatif karena beberapa alasan:

  • Nilai-nilai yang Relevan
    1. Kritik terhadap ketidakadilan: Nehemia menentang praktik-praktik yang tidak adil dan menindas, seperti penganiayaan orang miskin dan pelanggaran hari Sabat. Hal ini menginspirasi gereja untuk mengkritik ketidakadilan sosial dan memperjuangkan keadilan.
    2. Penghormatan terhadap tradisi: Nehemia menekankan pentingnya mempertahankan tradisi dan hukum agama. Gereja dapat mempelajari cara menghormati tradisi tanpa ketinggalan zaman.
    3. Pemimpin yang saleh: Nehemia menjadi contoh pemimpin yang berani mengambil tindakan untuk memperbaiki kesalahan masyarakat. Gereja membutuhkan pemimpin yang saleh dan berani.
    4. Perubahan sosial: Nehemia memperjuangkan perubahan sosial dengan menentang praktik-praktik buruk. Gereja dapat menjadi agen perubahan sosial yang positif.
  • Prinsip-prinsip Pembangunan Gereja
    1. Kemandirian dan otonomi: Gereja harus mandiri dalam pengambilan keputusan dan tidak terpengaruh oleh tekanan eksternal.
    2. Keadilan sosial: Gereja harus memperjuangkan keadilan sosial dan melindungi orang-orang terlantar.
    3. Penghormatan terhadap keberagaman: Gereja harus menghormati keberagaman budaya dan agama.
    4. Pemuridan: Gereja harus memuridkan anggotanya untuk menjadi pemimpin yang saleh dan berani.
  • Implementasi dalam Gereja
    1. Pembangunan komunitas: Bangun komunitas yang solid dan mendukung.
    2. Pelayanan sosial: Lakukan pelayanan sosial untuk orang-orang terlantar.
    3. Pendidikan teologi: Berikan pendidikan teologi yang mendalam untuk memahami nilai-nilai Alkitab.
    4. Advokasi: Lakukan advokasi untuk keadilan sosial dan hak asasi manusia.

Dengan mempelajari Nehemia 13:15-22, gereja dapat membangun budaya kritis-apresiatif yang:

  1. Mengkritik ketidakadilan sosial.
  2. Menghormati tradisi.
  3. Membangun pemimpin yang saleh.
  4. Mendorong perubahan sosial positif.

 Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Apakah yang dilakukan Nehemia untuk mewujudkan budaya kritis apresiatif dalam membangun bangsa Israel?
  2. Apakah yang telah dan akan dilakukan jemaat di sini untuk mewujudkan pembangunan gereja dengan budaya kritis apresiatif berdasarkan bacaan Nehemia tersebut? [tes].

Pemahaman Alkitab (PA) Agustus 2025 (II)
Bulan Pembangunan

Bacaan: 1 Yohanes 4 : 1 – 6
Tema Liturgis: Membangun Budaya Kritis Apresiatif
Tema PA: Ujilah Segala Sesuatu

Pengantar:
Sebuah gereja kecil ingin membangun komunitas yang berbudaya kritis-apresiatif. Mereka memutuskan untuk menguji anggota jemaat dengan cara unik. Pendeta memasang spanduk di depan gereja bertuliskan: “Gereja Rohani: Silakan Uji Coba!” Di dalamnya, ia menyiapkan beberapa pertanyaan:

  1. Apakah Yesus datang sebagai manusia atau hanya sebagai roh?
  2. Apakah kasih sayang Allah hanya untuk orang Kristen saja?
  3. Apakah kebenaran hanya datang dari satu sumber?

Seorang anggota jemaat, Pak Tuhu datang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban yang tidak tepat. Pendeta kemudian memberinya “sertifikat” yang bertuliskan: “Pak Tuhu, Anda perlu belajar lagi!” Pak Tuhu terkejut, tetapi kemudian tersenyum dan berkata, “Saya memang perlu belajar lagi! Terima kasih, Pak Pendeta!”

Menguji roh berarti mempertanyakan dan mencari kebenaran. Gereja yang berbudaya kritis-apresiatif membutuhkan anggota yang berani bertanya, belajar, dan mencari kebenaran.

Penjelasan Teks:
Perikop ini ditulis oleh rasul Yohanes, salah satu murid Yesus. Surat 1 Yohanes ditulis sekitar tahun 90-100 M. Tujuan penulisannya adalah untuk mengingatkan jemaat tentang pentingnya kasih sayang, kebenaran, dan kesatuan, karena adanya perpecahan dalam jemaat Kristen oleh pengaruh gnostisisme dan doketisme. Adanya kelompok-kelompok dengan pandangan berbeda tentang Yesus dan kebenaran. Pengaruh gnostisisme, yakni ajaran yang menekankan pengetahuan rahasia dan menganggap materi sebagai jahat. Sedangkan pengaruh doketisme, yakni ajaran yang menganggap Yesus hanya sebagai roh, bukan manusia, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang identitas nabi palsu dan ajaran sesat.

Rasul Yohanes mengingatkan jemaat untuk menguji coba roh-roh (Ay. 1), untuk membedakan antara roh yang benar dan palsu. Ia menekankan pentingnya mengakui Yesus sebagai Manusia yang datang dari Allah (Ay. 2-3). Ia mengingatkan bahwa kasih sayang Allah lebih besar daripada kekuatan manusia (Ay. 4). Yohanes menekankan bahwa pengenalan akan Allah datang dari pengalaman pribadi, bukan hanya pengetahuan intelektual saja (Ay. 5-6).

Relevansi:
Dalam gereja masa kini, apa yang dipesankan Rasul Yohanes tersebut, masih relevan. Pentingnya kritis dan bijak dalam menghadapi ajaran-ajaran baru. Umat harus setia mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mengandalkan kasih sayang Allah dalam menghadapi tantangan. Dan mengembangkan pengenalan pribadi akan Allah melalui pengalaman dan doa, serta menghindari perpecahan dan memupuk kesatuan dalam jemaat.

Dari perikop tersebut kita dapat mengembangkan prinsip-prinsip pembangunan gereja, sebagai berikut:

  1. Kemandirian teologis: mengembangkan teologi yang independen dan kritis.
  2. Keadilan sosial: menunjukkan kasih sayang dan keadilan sosial.
  3. Penghormatan keberagaman: menghargai perbedaan pandangan dan latar belakang.
  4. Pemuridan: membangun anggota gereja yang dewasa dan kritis.

Implementasinya antara lain: memberikan pendidikan teologi warga gereja yang mendalam, membuat ruang diskusi terbuka untuk menguji coba ajaran-ajaran, melakukan pelayanan sosial yang menunjukkan kasih sayang, membangun program pengembangan rohani untuk mengenal Allah secara pribadi. Hal tersebut akan membawa manfaat: meningkatkan kesadaran teologis, membangun komunitas yang inklusif, mengembangkan pemimpin yang kritis dan bijak, meningkatkan kesadaran akan kebenaran dan kasih sayang Allah.

Dengan mempelajari 1 Yohanes 4:1-6, gereja dapat membangun budaya kritis-apresiatif yang menggabungkan kebenaran teologis, kasih sayang, dan pengenalan pribadi akan Allah.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Apakah yang dipesankan rasul Yohanes untuk mewujudkan budaya kritis- apresiatif dalam membangun jemaat mula-mula yang menghadapi tantangan pengaruh Gnostisisme dan Doketisme?
  2. Apakah yang telah dan akan dilakukan jemaat di sini untuk mewujudkan pembangunan gereja dengan budaya kritis apresiatif berdasarkan pesan rasul Yohanes tersebut? [tes].

Renungan Harian

Renungan Harian Anak