Pemahaman Alkitab Juli 2021

6 June 2021

Pemahaman Alkitab Juli 2021 (I)
Bulan Keluarga

Bacaan: 2 Raja – raja 20 : 1 – 11
Tema Liturgis:
Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang selalu Menyertai dan Memberkati
Tema PA:
Menjadikan Tuhan Yesus sebagai Fokus Kehidupan dengan Setia Melakukan Kebaikan

Pengantar PA:
Setiap manusia memiliki tingkat kesetiaan yang berbeda-beda di dalam menjalani hidup pemberian Tuhan. Ada yang begitu tekun menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan nyata, ada juga yang hanya asal-asalan menjalankan kehidupan pemberian Tuhan. Selain campur tangan Tuhan dalam kehidupan umat manusia, peran atau respon kita terhadap panggilan Tuhanlah yang dapat mempengaruhi kesetiaan iman kita.

Di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat, ini juga berdampak bagi kehidupan dalam keluarga. Tantangan bagi tiap keluarga di masa sekarang ini adalah menumbuhkan kembali semangat bersama dalam hal berkomunikasi, menjalani kegiatan bersama yang meneladani Tuhan Yesus, serta membangun pola persekutuan atau semacam doa bersama dengan keluarga di tengah kesibukan masing-masing. Seberapa besar waktu yang kita berikan untuk Tuhan di tengah keluarga kita? Masih ingatkan kita bahwa hanya Tuhan sajalah yang menjadi Pandu kehidupan dalam keluarga kita? Dalam perjalanan kehidupan yang dilalui umat percaya, tentu keluarga kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya permasalahan. Lalu bagaimana cara kita untuk mengatasi setiap kesulitan yang terjadi di keluarga kita?

Penjelasan Teks:
Hizkia adalah seorang raja besar Kerajaan Yehuda yang berjuang untuk membebaskan bangsanya dari cengkeraman kekuasaan Asyur. Ia juga merupakan raja pertama yang menghapuskan bukit-bukit pengurbanan tempat pemujaan ilah-ilah asing. Hizkia merupakan raja ke-12 Kerajaan Yehuda yang memerintah pada tahun 716-687 SM. Dalam kehidupannya selama memerintah menjadi raja, Hizkia melakukan pembaharuan dalam bidang keagamaan yang dilakukannya dan perlawanannya yang gigih terhadap kerajaan Asyur yang kuat di sebelah Timur. Hizkia telah melakukan segala kebaikan dengan jalan menyadarkan banyak orang kembali mengakui keberadaan Tuhan melalui dibukanya pintu-pintu Bait Allah. Kesadaran bahwa kekuasaan Tuhan Allahlah yang paling utama, meyakinkan banyak orang untuk mengambil sikap setia dan berbalik kepada Allah.

Kesetiaan Hizkia kepada Tuhan berbuahkan kebaikan, sekalipun Yesaya telah menubuatkan bahwa ia akan meninggal karena penyakitnya, Hizkia tetap memohon kepada Tuhan supaya mendengarkan doanya. Berkat kesetiaan dan relasinya yang baik dengan Tuhan Allah, maka Hizkia mendapatkan kesembuhan dan diberikan kesempatan untuk hidup kembali dalam beberapa tahun lagi. Tuhan masih memberikan kesempatan hidup bagi Hizkia, supaya ia bisa memperlihatkan kesetiaan imannya kepada Tuhan. Keputusan Tuhan yang mengabulkan atau menolak permohonan panjang umur Hizkia adalah hak penuh Tuhan. Namun, respons Hizkia dan tindakannya setelah doanya dikabulkan adalah tanggung jawab Hizkia sendiri. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana Hizkia mengisi hari-hari depannya akan membuktikan apakah permintaannya itu bijaksana atau tidak. Buah ara dipakai menjadi salah satu sarana kesembuhan bagi Hizkia. Buah ara tersebut manis rasanya, sehingga jika ditaruh di atas bisul atau borok kulit yang terinfeksi, ramuan ini akan membantu menyembuhkan dan mengeringkan infeksi tersebut.

Bahan Diskusi:

  1. Bagaimana bentuk kedekatan kita dengan Tuhan dalam keluarga?
  2. Apakah masalah terberat yang kita alami dalam keluarga, dan bagaimana cara kita menyelesaikannya?
  3. Meneladani kesetiaan yang dilakukan oleh Hizkia bahkan dalam hal sulit sekalipun, maka kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama walau dalam keberadaan yang berbeda. Bagaimana bentuk usaha kita untuk memelihara kesetiaan kepada Tuhan?
  4. Apakah bentuk penyertaan Tuhan yang menjadikan kita semakin setia kepadaNya? (GRA).

 


 

Pemahaman Alkitab Juli 2021 (II)
Bulan Keluarga

Bacaan: Lukas 18 : 35 – 43
Tema Liturgis:
Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang selalu Menyertai dan Memberkati
Tema PA :
Bersikap Peduli dan Mau Menolong Sesama adalah Panggilan Hidup di dalam Tuhan Yesus

 Pengantar PA:
Menumbuhkan sikap peduli di era sekarang ini tidaklah mudah. Di saat banyak orang bisa melakukan sesuatu dengan apa yang dipunyai dalam perkembangan sekarang ini. Misalnya saja dulu anak-anak akan selalu senang bermain bersama dengan permainan – permainan tradisional yang menekankan adanya kebersamaan dan kepedulian satu dengan yang lain. Namun sekarang keadaan yang seperti itu sudah mulai luntur, karena anak-anak bisa melakukan permainan di rumah masing-masing dengan handphonenya sendiri-sendiri. Sehingga tidak mengherankan jikalau mewujudkan sikap peduli itu sulit untuk saat sekarang ini. Namun sulit di sini bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sejauhmana seseorang mampu menghargai orang lain dengan segala keberadaannya, maka kemajuan teknologi, informasi, komunikasi dan lain sebagainya tidak akan menjadi penghalang.

Penjelasan Teks:
Kristus tidak hanya datang untuk membawa terang atas dunia yang gelap, sehingga menampakkan benda-benda yang seharusnya kelihatan bagi kita, tetapi juga untuk memberikan penglihatan bagi jiwa-jiwa yang buta. Kedatangan Tuhan sungguh memberkati banyak orang baik secara Rohani maupun Jasmani. Seorang pengemis itu bukan hanya buta, namun juga miskin dalam segi perekonomian, ia tidak mempunyai apa-apa untuk bertahan hidup dan juga tidak mempunyai kerabat untuk membantunya. Kehadiran Kristus benar-benar berarti bagi hidup seorang yang buta ini. Orang buta ini berharap bahwa dia dapat melihat lagi. Hal tersebut terbukti ketika banyak orang ramai saat Tuhan Yesus datang, ia berusaha melakukan sesuatu agar apa yang menjadi harapannya itu terwujud. Orang buta ini tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus bisa menyembuhkannya, imannya begitu kuat dan usahanya begitu besar supaya Tuhan Yesus dapat melihat dan menolongnya. Ia berdoa dengan iman dan juga mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Semua yang terjadi ini tentu bukan karena kebetulkan, namun kita bisa melihat bahwa di tengah kekurangannya, seorang yang buta ini tidak kehilangan pengharapan dan imannya kepada Tuhan Yesus yang adalah Mesias, Juru Selamat dunia. Apa yang dilakukannya itu tidak sia-sia, karena Tuhan Yesus melihat kesungguhan imannya yang berharap kepada-Nya.

Penyebutan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Anak Daud ini terlahir dari kepercayaan orang Israel yang menantikan kedatangan Mesias dari keluarga Daud. Mereka yang dengan tulus memohon pertolongan dan berkat Kristus tidak akan dibuat kecewa dalam pencarian mereka, walaupun mereka menemui tantangan dan penolakan. Mereka yang berjalan bersama-Nya menegur orang buta itu sebagai pembuat masalah bagi Guru mereka, ribut dan lancang, sehingga mereka meminta supaya ia diam. Akan tetapi, ia terus memohon. Malahan, teguran yang diberikan kepadanya hanyalah seperti membendung aliran sungai yang deras, yang semakin membuatnya meluap. Semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku.” Mereka yang ingin doanya dikabulkan harus gigih dalam berdoa. Peristiwa ini, yang merupakan penutup pasal ini, menyiratkan hal yang sama dalam perumpamaan yang terdapat di bagian pembuka pasal ini, yaitu bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Menumbuhkan sikap peduli terhadap kesulitan orang lain memanglah tidak mudah, seperti apa yang dilakukan banyak orang dan termasuk murid Tuhan Yesus. Namun kehadiran Tuhan justru menunjukkan kepeduliaan itu pada orang-orang yang kesusahan, menderita, sakit dan tersisihkan. Sungguh kehadiran-Nya merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan umat percaya.

 Anugerah Kristus hendaknya diakui dengan rasa syukur, untuk memuliakan Allah (Ayat 43). Pengemis yang miskin itu sendiri, yang penglihatannya dipulihkan, mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Bagi Kristus, memuliakan Bapa itu adalah pekerjaan-Nya, dan oleh karena itu, orang yang disembuhkan-Nya akan sangat menyenangkan hati-Nya bila mereka memuji Allah. Demikian pula halnya, orang yang paling menyenangkan hati Allah adalah mereka yang memuji Kristus dan menghormati-Nya, karena dengan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, kita memuliakan Allah Bapa. Kita mengikuti Kristus demi kemuliaan Allah sebagaimana yang akan dilakukan mereka yang matanya dibukakan.

Bahan Diskusi

  1. Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan seperti seorang buta dalam cerita tersebut?
  2. Kepeduliaan yang seperti apa yang seharusnya kita lakukan bagi sesama kita yang menderita?
  3. Apa saja hambatan dalam kita mewujudkan sikap peduli terhadap orang lain?
  4. Apakah pesan Tuhan Yesus dalam tindakan-Nya yang menolong seorang yang buta tadi? (GRA).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak