Pemahaman Alkitab Juni 2021 (I)
Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Bacaan PA I: Yesaya 26 : 16 – 27: 5
Tema Liturgis: Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi Kristus
Tema PA: Damai dengan Tuhan Membuktikan bahwa Aku adalah Saksi-Nya
Penjelasan Teks:
Dalam masyarakat modern, damai biasanya berarti keadaan tanpa perang atau ketenangan batin. Dalam Alkitab, arti damai lebih dari itu. Kata Ibrani untuk damai adalah syalom yang berarti keutuhan atau kesejahteraan. Jadi sapaan syalom berarti mengharapkan yang terbaik bagi orang yang disapa, termasuk kesehatan dan kesejahteraannya.
Dalam Perjanjian Lama, damai dipakai untuk menggambarkan keadaan tanpa perang (Yosua 10:1-4) atau keadaan aman dari serangan hewan buas atau musuh (Imamat 26:6-8). Kemakmuran dikaitkan dengan damai yang diberikan Allah. Dia memberi damai kepada orang yang hidup sesuai kehendak-Nya dan tetap setia kepada-Nya. Dia juga mengaruniakan damai kepada orang yang hidup sesuai dengan keadilan dan kebenaran. Namun orang yang tidak percaya kepada Allah dan melakukan kejahatan tidak akan hidup damai. Allah menjanjikan damai kepada umat Israel sebagai bagian dari perjanjian-Nya kepada mereka. Imam-imam juga mengucapkan damai dalam berkat untuk umat (Bilangan 6:22-26). Banyak kurban dan persembahan yang dituntut oleh hukum Taurat dibuat untuk memulihkan damai di antara sesama manusia atau antara manusia dan Allah (Imamat 4:1 – 7:10 ; Imamat 16:1-34).
Perjanjian Allah dengan Raja Daud harus digenapi oleh seorang pemimpin pilihan (Mesias) dari keturunan Daud yang akan dikenal sebagai Raja Damai (Yesaya 9:5-6). Yesaya juga mewartakan janji Tuhan untuk memberi Israel damai yang abadi (Yesaya 54:10). Damai abadi itu dijanjikan sebagai bagian dari masa depan baru yang disediakan Allah bagi umatNya.
Dalam Perjanjian Baru, damai berarti tidak ada konflik di antara orang-orang atau bangsa-bangsa (Lukas 11:21). Namun makna syalom juga muncul dalam ungkapan salam secara lisan dan tertulis (Lukas 7:50). Banyak surat Rasul Paulus yang mendorong orang Kristen untuk hidup dalam damai dengan saling menerima dan mengasihi walaupun ada perbedaan di antara mereka. Bahkan orang Kristen harus berdamai dengan orang luar yang hendak mencelakakan mereka. Kristus diutus ke dunia untuk mendamaikan Allah dan manusia. Damai itu berasal dari pengampunan. Umat Allah harus menyampaikan berita damai dan pengampunan itu kepada orang lain. Yesus memungkinkan damai dengan Allah terjadi dan memungkinkan orang-orang hidup bersama dengan damai.
Damai batiniah bagi pengikut Tuhan Yesus digambarkan sebagai damai yang melampaui segala akal, namun mampu mengendalikan pikiran dan perasaan manusia. Damai jenis ini tidak bisa diberikan oleh dunia, sebab damai ini terhubung dengan hal-hal rohani bukan kesejahteraan material. Injil Yesus Kristus digambarkan sebagai Injil damai sejahtera. Orang-orang yang membawa damai akan diberkati Allah dan disebut anak-anak Allah. Seperti janji-Nya dalam Yesaya 27:5, orang yang mencari damai dengan Allah akan mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan. Allah adalah tempat perlindungan yang paling aman, bahkan ditengah kesulitan yang dasyat sekalipun. Merasa aman sekalipun sedang berada dalam kondisi tersulit akan menjadi milik setiap orang yang tahu bahwa Allah adalah Sumber perlindungan.
Pertanyaan untuk didiskusikan :
- Apakah kita membutuhkan damai dengan Tuhan? Jika membutuhkan damai dengan Tuhan, apa yang harus kita lakukan?
- Apakah kita mengalami kesulitan untuk hidup damai dengan Tuhan? Jika mengalami kesulitan, apa yang harus kita lakukan? (Life).
Pemahaman Alkitab Juni 2021 (II)
Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Bacaan PA II: 1 Petrus 4 : 7 – 19
Tema Liturgis: Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi Kristus
Tema PA: Melayani dan Menanggung Penderitaan sampai Akhir.
Penjelasan Teks:
Seolah-olah melayani dan menderita adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Pada dasarnya penderitaan adalah segala sesuatu yang menyakitkan dan mengganggu. Penderitaan adalah alat yang Tuhan pergunakan untuk mencapai tujuan-Nya dalam kehidupan kita. Penderitaan dirancang untuk membangun kepercayaan kita kepada yang Maha Kuasa. Akan tetapi penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud-maksud Tuhan. Penderitaan menekan kita untuk meninggalkan kekuatan diri sendiri kepada hidup oleh iman dalam kekuatan yang berasal dari Allah.
Seseorang tidak akan menjadi orang percaya yang memiliki ketahanan, konsistensi, keteguhan dan kesabaran tanpa mengalami penderitaan. Dengan demikian, penderitaan harus diterima sebagai kasih karunia pula, sebab tidak semua orang diperkenankan mengalami hal ini. Hanya mereka yang dipilih untuk menjadi orang-orang yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus yang diberi kesempatan menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah penderitaan yang dialami seseorang oleh karena pekerjaan Tuhan, seperti yang dialami oleh Paulus dan jemaat Kristen pada waktu itu. Demi pemberitaan Injil mereka harus menderita. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan bahwa penderitaan menjadi kemegahan artinya sukacita atau dihargai serta menjadi kebanggaan. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah satu kemutlakan, sebab tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Orang yang menolak penderitaan berarti juga menolak kasih karunia.
Penderitaan karena atau bersama dengan Kritus adalah sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang dapat membuat orang percaya merasa malu atau terhina. Malah sebaliknya, di dalam penderitaan demi pekerjaan-Nya, orang percaya dapat merasa bangga mengalami penderitaan tersebut. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus mengatakan : Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Filipi 1:29). Dalam hal ini Paulus menunjukkan bahwa penderitaan juga adalah karunia. Jadi melayani dan menderita bagi Tuhan adalah dua hal yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Tidak ada orang Kristen yang memiliki percaya yang benar dan melayani dengan tulus tanpa mengalami penderitaan. 1 Petrus 4:19 “karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” Perintah untuk berbuat baik itu bersifat permanen, terus menerus, bukan hanya sesekali atau musiman. Seperti seorang petani yang telah menabur benih, ia tidak dengan serta merta berhenti bekerja, tetapi ia terus mengupayakan agar benih yang ia tabur tersebut terus bertumbuh dengan baik hingga waktu untuk menuai itu pun tiba.
Pertanyaan untuk didiskusikan :
- Jika kita sedang mengalami kesusahan, bagaimana cara kita menanggapi kesusahan itu? Apakah tanggapan kita mencerminkan iman dan kasih kepada Allah dan kepada sesama?
- Bagaimana seharusnya kita menanggapi kesusahan kita?
- Bagikanlah pengalaman saudara, meskipun menderita tetap melayani dan berbuat baik! (Life).