Pemahaman Alkitab Februari 2021

5 January 2021

Pemahaman Alkitab (PA) Februari 2021
Minggu Biasa I

Bacaan PA I : Ayub 36 : 1 – 23
Tema Liturgis :
Kebenaran tentang Siapa Allah yang Peduli atas Hidup Kita
Tema PA :
Allah yang Ada di Tengah-tengah Penderitaan Manusia

Pengantar PA :
Kecenderungan bahwa kesadaran akan Allah di dalam kehidupan manusia semakin nampak ketika ia mengalami masalah/kesulitan hidup. Manusia kembali memikirkan tentang Allah ketika ia mengalami penderitaan hidup dan kesadaran itu mempengaruhi bagaimana ia bertingkah laku dan bertindak dalam setiap pengambilan keputusan.

Penjelasan Teks :                                   
Ayub hidup dalam konteks pemahaman retribusi yaitu sebuah konsep pemikiran bahwa Allah itu adil, dan Dia akan mengganjar seseorang sesuai perbuatannya. Allah akan memberkati orang benar dan menghukum orang fasik, siapa yang taat kepada-Nya akan diberkati, dan siapa yang tidak taat kepada-Nya akan dihukum. Dalam arti sempit pemikiran ini sama dengan “balas jasa” atau “ganti rugi”. Sebuah pola pikir tradisional kala itu. Pemahaman inilah yang melatarbelakangi sikap mereka terhadap realitas kesadaran akan Allah dan kehadiran-Nya di dalam kehidupan.

Persoalan rumit yang dihadapi umat Israel kala itu adalah mereka dihadapkan pada kenyataan yang kontradiktif dalam hidup sehari – hari. Orang-orang saleh menderita (termasuk Ayub), sementara orang fasik/orang berdosa dapat menikmati hidup yang lebih baik. Maka konsekuensinya, mereka selalu memandang orang yang menderita sebagai orang yang telah melakukan dosa. Ada sesuatu yang salah yang telah dilakukan. Demikian jugalah yang dipikirkan oleh Bildad, Elifas dan Zofar terhadap Ayub yang mengalami kemalangan bertubi-tubi. Terjadi perdebatan antara Ayub dan ketiga sahabatnya. Ayub berkeyakinan bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun, sehingga karenanya ia mengalami kemalangan bertubi-tubi. Namun Ayub juga tidak dapat menjelaskan mengapa penderitaan itu harus ia alami.

Karena dialog/perdebatan antara Ayub dengan sahabat-sahabatnya terkait dengan keluhan Ayub dan bukan secara langsung dengan penderitaan yang dialaminya, maka misi dari para sahabat lebih merupakan usaha penghakiman daripada penghiburan pastoral. Para sahabat tersebut seolah-olah mengambil kedudukan sebagai dewan penatua yang siap menghakimi seorang pelanggar yang keras hati, yang “ngeyel” sebagai yang tidak melakukan dosa. Bagi Ayub, kehadiran ketiga sahabatnya bukan meringankan pergumulannya, namun justru semakin menambah beban penderitaannya.

Kehadiran Elihu yang lebih muda membuka jalan bagi Ayub dan ketiga sahabatnya dalam memahami siapa Allah di tengah penderitaan hidup. Menurutnya, Allah itu perkasa. Keperkasaan Allah adalah keperkasaan dalam soal kemurahan dan hikmat (ay. 5), dalam soal keadilan yang diberikan bagi semua orang, tanpa pandang bulu dan kasih karunia yang dicurahkan secara berkelimpahan kepada orang benar (ay. 6, 7). Tentang sifat Allah yang lain, Elihu menyadarkan bahwa Allah adalah Yang Kuasa. Kekuasaan ilahi-Nya diilustrasikan dengan berbagai gejala atmosfer: siklus hujan berupa penguapan dan pengendapan (36:26-28), guntur kilat yang gemuruh menakutkan (36:29-37:4), dan es serta salju musim dingin (37:5-13). Masing-masing gejala alam ini dikemukakan dengan diawali sebuah pengakuan tentang tak terpahaminya karya – karya Allah (36:26,29; 37:5).
Elihu mengamati bahwa berbagai kekuatan dasar dari alam ini ketika dilepaskan tidak berada di luar kendali Allah; semua itu melaksanakan perintah Allah (37:12), entah sebagai kutukan (36:31a; 37:13a; bdg. 1:16,19), atau sebagai berkat (36:31b; 37:13b).

Penjelasan ini memberikan pengertian bahwa kekuasaan Allah tidak terselami oleh pikiran manusia. Selalu menjadi misteri. Jika manusia berketetapan bahwa Allah adalah kuasa, maka manusia juga harus berkeyakinan bahwa Ia juga memiliki kuasa untuk melakukan atau tidak melakukan apapun untuk manusia dalam penderitaannya. Ia juga berbicara tentang makna penderitaan. Bahwa penderitaan memanggil orang benar untuk lebih rajin dalam pergumulan rohani, dan dengan demikian merupakan alat yang efektif untuk melepaskan manusia dari dosa dan segenap akibatnya (ay. 8-10, 15). Inilah kebenaran yang disuarakan oleh Elihu tentang Allah dan penderitaan hidup. Oleh karena itu, hendaknya dia (Ayub) memperhatikan karya-karya Allah yang agung (ay. 22a, 25), memperhatikan dengan sikap penuh penyerahan kepada ajaran yang diberikan Allah (ay. 22b, 23), sehingga dengan demikian mampu mengubah keluhan menjadi kidung pujian. (ay. 24).

Relevansi
Penderitaan adalah bagian dari hidup manusia yang tidak bisa dihindari. Allah ijinkan itu terjadi hari kemarin, sekarang dan besok. Pandemi Virus Corona 19 diyakini sebagai salah satu bentuk penderitaan yang dialami oleh semua orang tanpa terkecuali; orang benar dan orang berdosa. Kesadaran akan siapa Allah dalam penderitaan ini akan membedakan respon masing-masing orang dalam menyikapi penderitaan tersebut. Bagi mereka yang menyadari dan meng-amini bahwa Allah ada dalam penderitaan ini dengan segala bentuk pertolongan-Nya, akan menjadikan mereka tetap kuat. Dan bahkan dimampukan menjadi penolong yang menyelamatkan bagi orang lain yang juga sedang menderita.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Bagaimana menurut pendapat saudara, apakah Allah ada dalam kehidupan yang sarat dengan penderitaan ini?
  2. Bagaimana menurut pandangan saudara, apakah orang beriman layak mengalami kesulitan hidup (penderitaan karena pandemi Covid-19 saat ini)?
  3. Bagaimana kekuasaan/kedaulatan Allah mewujud di tengah penderitaan (Pandemi Covid-19) saat ini? (ES).

 


Pemahaman Alkitab (PA) Februari 2021
Minggu Biasa II

 

Bacaan PA II : Matius 12 : 9 – 14
Tema Liturgis :
Kebenaran tentang Siapa Allah yang Peduli atas Hidup Kita.
Tema PA :
Berbelas Kasih kepada Sesama yang Menderita

Penjelasan Teks :
Secara harafiah, teks ini tidak menyebutkan kapan peristiwa ini terjadi, namun jika melihat pada teks referensinya Lukas 6:6, peristiwa penyembuhan ini terjadi pada Hari Sabat. Kisah ini kembali menampilkan konflik antara Yesus dan orang-orang  Farisi. Orang-orang Farisi adalah kelompok elit agama Yahudi yang begitu erat memegang prinsip akan pentingnya kepatuhan secara harafiah pada peraturan-peraturan agama, yaitu Hukum Taurat, yang berjumlah 613 macam. Setiap orang Yahudi yang setia mau tak mau harus mematuhinya. Salah satu peraturan yang harus dijunjung tinggi ialah keharusan istirahat total dari segala kegiatan di hari Sabat, dilarang melakukan sesuatu apapun.

Bagaimana sesungguhnya Perjanjian Lama berbicara tentang Sabat? Semua Kitab Hukum PL mewajibkan, agar Sabat dirayakan dengan menghentikan pekerjaan harian. Peraturan Sabat yang tertua (Kel. 23:12) mendasarkan larangan bekerja pada pertimbangan manusiawi: Istirahat bagi manusia dan hewan. Di samping itu Ul. 5:15 menghubungkan perayaan Sabat dengan peristiwa keluarannya bangsa Israel dari Mesir. Pada zaman pembuangan itu bangsa Yahudi mulai menganggap Sabat, – di samping —> sunat -, sebagai “tanda” yang membuat Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain (Kel. 31:13-17Yeh. 20:12,20).  Sabat berasal dari kata kerja “syabat” yang berarti “berhenti dari sesuatu”. Jadi, hari perhentian kerja yang sangat penting bagi kehidupan orang Israel, dikukuhkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya penciptaan (Kej. 2:1-3) dan diterima demikian dalam semua bagian Alkitab PL.

Menurut Misynah Syabbat 7:2, ada 39 jenis kerja yang dilarang pada hari Sabat, yakni: Menabur, membajak, mengikat berkas-berkas gandum dan lain-lain), mengirik, menampi, memilih, menggiling, mengayak, membuat adonan, membakar (roti dan lain-lain), menggunting (bulu doma dan lain-kain), mencuci pakaian, memukul (kain dan sejenisnya), mengecat (kain dan sejenisnya), memintal, menenun, membuat sosok kain dua rangkap), menenun dua lembar benang, dan memisahkan dua lembar benang. Pekerjaan lain yang dilarang adalah mengikat, melepaskan ikatan, menjahit dua potong kain, merobek, memasang perangkap, menyembelih hewan, menguliti hewan, menggarami daging, membalut kulit, mengikis kulit, menggunting kuku, menulis dua buah huruf, menghapus dua buah huruf. Membangun rumah, merobohkan rumah, memadamkan api, meyalakan api, memukul dengan palu, membawa barang dari rumah ke tempat umum. Ada 39 jenis pekerjaan yang dilarang.

Menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, tidak masuk kategori yang dilarang, tetapi masalahnya beberapa rabi menganggapnya sebagai pekerjaan. Maka tidak heran sewaktu Yesus menyembuhkan seseorang yang mati sebelah tangannya di hari Sabat, hal itu kembali menjadi bahan konfrontasi antara Orang Farisi dan Yesus. Jika mereka bertanya, sesungguhnya mereka tidak mengharapkan jawaban Yesus. Mereka sesungguhnya sudah memiliki jawabannya. Pertanyaan yang mereka lontarkan sesungguhnya menjadi cara untuk menghakimi dan menghukum Yesus sebagai pelanggar berat hukum Sabat. Yesus menjawabnya dengan menanyakan ‘akal sehat mereka’, “Jika seseorang di antara kamu mempunyai seekor domba  dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan  mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba?” (Mat 12:11-12). Bisa jadi Yesus sangat marah atas tertutupnya budi dan hati mereka. Ia tandaskan bahwa “perbuatan baik itu jauh lebih mulia daripada kesetiaan buta akan hukum Sabat! Dari pernyataan Yesus ini kita bisa melihat dan merasakan prinsip pengajarannya. Dalam hidup ini ada suatu hal yang melebihi hari Sabat, yaitu belas kasih. Orang-orang Farisi melupakan bahwa hukum kasih adalah hukum tertinggi. Disini ada perbedaan asasi di antara Tuhan Yesus dan orang Farisi. Yesus Kristus mengajar hukum kasih, hal-hal ini muncul dalam kitab-kitab Injil. Dengan ini terlihat jelas bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak mengerti betapa dalamnya kasih Allah. Dan mereka tidak cukup mengerti juga tentang kasih terhadap sesama manusia, yang harus sejajar dengan kasih akan Allah itu sendiri. Inilah yang membedakan Yesus dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Dia bersikap dan bertindak belas kasih, meski itu bisa berarti menomorduakan beberapa tata kebiasaan tradisional. Yesus Kristus, Sang Anak Allah, meneladani semua sifat Sang Bapa, termasuk belas kasih-Nya. Belas kasih adalah sifat Allah dan sifat umat Allah juga.

Relevansi
Bisa saja kita dalam kehidupan sehari-hari berlaku seperti orang Farisi, yang seringkali ragu-ragu untuk menolong sesama yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Terkadang kita berpikir, “Jangan-jangan kita melanggar tata kebiasan kekristenan kita.” Dalam hal ini, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri: ”Kita ini melanggar atau menggenapi  hukum? Benarkah kita bertindak secara jujur dan tulus dari hati yang penuh belas kasih?” Kalau ‘ya’ berarti kita benar-benar mencoba mengikuti ‘jejak Yesus’! Menggenapi hukum Allah yaitu hukum kasih!

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Setujukah saudara dengan pendapat Orang-orang Farisi yang menyatakan bahwa Yesus melanggar Hukum Taurat?
  2. Menurut saudara, apakah yang lebih penting dalam kehidupan sehari-hari, melakukan ibadah bersama di Gereja atau menolong tetangga yang sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit?
  3. Di tengah pandemi Virus Corona saat ini, apa sajakah wujud tindakan belas kasih yang bisa saudara lakukan? (ES).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak