Sebuah Pengampunan yang Ajaib Oleh-oleh dari Rwanda, Afrika

Pengantar dari Admin:

Pada bulan September & Oktober 2016, Pdt. Sumardijana hadir mewakili GKJW dalam sidang umum United Evangelical Mission (UEM) di Kigali, Rwanda. Sidang ini dihadiri 62 peserta  dan dilangsungkan di sebuah hotel yang terletak kira-kira 20 km dari ibukota. Berikut ini kisah perjalanan beliau:

Rekonsiliasi Rwanda

Rekonsiliasi – Frida Kamuizma & Jean Baptiste Gatera melakukan rekonsiliasi setelah 20 tahun peristiwa genosida Rwanda. Suami Frida dibunuh oleh kelompok Jean Baptiste. Jean Baptiste telah mengakui kesalahannya dan Frida telah mengampuninya.

Tiga puluh menit menjelang mendarat di bandara Kigali, Rwanda, bayangan tentang konflik, kemiskinan, dan rasa tidak aman di tempat yang akan saya kunjungi semakin menguat.  Angan-angan saya tiba-tiba dipenuhi kenangan saat mengikuti pelatihan ekumene bersama beberapa pendeta dari daerah-daerah konflik.  Ada dua hal yang terus muncul di benak saya: krisis kemanusiaan di Somalia 1993  dan konflik antar suku di Srilanka.

Tahun 1993, hampir setiap hari TV menayangkan perang sipil dan kelaparan yang mengerikan di Somalia. Puluhan ribu orang meninggal akibat tidak ada makanan; orang-orang dewasa dan anak-anak yang terkapar dalam keadaan tubuh yang mengenaskan, tinggal tulang berbalutkan kulit.

Sementara itu,  di Srilanka juga terjadi konflik serius antara suku Tamil dan suku Sinhala. Konflik antar suku tersebut mengakibatkan Srilanka dilanda perang saudara selama kurang lebih 25 tahun.  Ratusan ribu orang tewas akibat pertikaian itu. Saya sendiri dapat merasakan kegelisahan yang dialami oleh teman sekamar saya, seorang pendeta Gereja Anglican Srilanka (beliau menikah dengan perempuan yang berbeda etnis).

Hati saya menjadi makin kecut ketika dalam perjalanan antara bandara ke tempat pertemuan terlihat banyak tentara/polisi yang memegang senjata laras panjang. Dalam hati saya sempat terbersit pikiran, “Apa masih belum aman, ya negeri ini? Wah, ngeri juga kalau belum aman!”

Namun kekhawatiran segera sirna setelah saya mendapat jawaban dari pengemudi yang menjemput kami ketika saya tanya, “Apakah hubungan antar warga masyarakat di sini sudah mulai pulih setelah peristiwa genocide[1] tahun 1994?” Dijawabnya dengan penuh semangat, “Ya, kami senang sekarang, karena negara kami sekarang menjadi negara yang damai. Kami berharap tidak ada lagi konflik di negara kami.”

Barangkali banyak di antara kita yang masih ingat peristiwa yang terjadi di Rwanda  pada tahun 1994. Sebuah peristiwa yang benar-benar menggegerkan karena hanya dalam waktu sekitar 3 bulan (antara 06 April – 04 Juli 1994)  lebih dari  satu juta orang terbunuh (angka tepatnya menurut pemerintah Rwanda adalah 1.074.017).  Penduduk Rwanda saat itu berjumlah tidak lebih dari 7,4 juta jiwa. Itu berarti lebih dari 14 % penduduk tewas karena dibunuh secara brutal dalam peristiwa kerusuhan.

Ratusan ribu anak-anak menjadi anak-anak yatim/-piatu. Suami menjadi duda, istri menjadi janda. Begitu banyak orang yang kehilangan sanak saudara dan kesepian. Keadaan Negara menjadi kacau terbengkelai. Sebuah peristiwa yang meninggalkan luka yang amat dalam.

Di Rwanda terdapat tiga suku, yakni Tutsi, Hutu, dan Twa.  Dari antara tiga suku itu, suku Hutu adalah yang terbesar, lebih kurang 85%. Di antara suku yang terbesar, yaitu Hutu ada sekelompok ektrem yang dikenal sebagai Interahamwe. Kelompok ekstrem ini memuncak kemarahannya ketika penguasa akan memberi ruang bagi warga dari suku Tutsi dan Twa untuk menjadi pejabat pemerintah. Kemarahan itu diwujudkan dengan cara membantai/ memunahkan orang-orang dari suku Tutsi.

Suku Tutsi yang jumlahnya jauh lebih sedikit juga mengadakan perlawanan, sehingga terjadilah kerusuhan yang menelan korban meninggal lebih dari 1 juta orang. (Catatan: 1. Saya hanya menulis sangat sederhana awal terjadinya konflik, yang sebenarnya pelik; karena tujuan utama tulisan bukan tentang konflik, tetapi   menyampaikan cara orang-orang Rwanda mengatasi keadaan setelah peristiwa mengerikan itu; 2. Bagi Saudara yang ingin mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang genocide di Rwanda bisa menonton Film, Hotel Rwanda/ 2004 yang dibintangi oleh Don Cheadle.

Light Group

Kigali Genocide Memorial Centre

Foto-foto korban pembunuhan di Kigali Genocide Memorial Centre

Di sela-sela sidang, panita menawari para peserta sidang untuk berkunjung ke beberapa tempat mengenal kehidupan sehari-hari rakyat Rwanda. Ada beberapa tempat yang ditawarkan yaitu lembaga pendidikan, rumah sakit, dan lembaga perdamaian/ rekonsiliasi. Tanpa berpikir panjang, saya memilih untuk mengunjungi lembaga perdamaian, dengan harapan akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang penanganan korban genocide.

Kamis, 05 Oktober 2016 seusai sarapan semua peserta sidang diajak mengunjungi Museum Kigali Genocide Memorial sebelum ke tempat tujuan masing-masing. Di museum ini kami harus bergantian masuk, karena keterbatasan daya tampung ruangan. Oleh petugas museum kami diajak untuk menonton –kira-kira 10 menit- sebuah tayangan video tentang kerusuhan yang melanda negeri itu pada tahun 1994.

Ketika kami menonton video itu, kami semua membisu; semua sibuk dengan imajinasinya masing-masing –terutama- saat pandangan mata kami berjumpa dengan pemandangan yang amat mengerikan tentang kebrutalan manusia. Saya sendiri tidak tahan melihat foto/ video tentang peristiwa genocide yang ditayangkan. Seusai menonton tayangan video, kami diajak untuk berkeliling menyaksikan foto-foto/ dokumentasi dan juga benda-benda (senjata) yang digunakan oleh para pelaku pada saat terjadinya peristiwa kerusuhan.

Setelah semua selesai mengunjungi museum, kami kemudian mengadakan ibadah singkat di depan makam tempat pengubaran massal para korban genocide. Letak makam itu masih berada di halamam museum. Serta-merta saya teringat pengalaman 50 tahun yang lalu saat saya masih tinggal di Solo dan menyaksikan kebrutalan yang sama saat peristiwa 1965.

Rombongan saya kemudian menuju ke sebuah desa namanya Remera. Dari jalan raya ke desa itu kami melewati jalan tanah, tetapi rata dan bersih sekali. Di desa inilah awal berdirinya sebuah kelompok yang memprakarsai bangkitnya semangat perdamaian bagi rakyat Rwanda. Kelompok ini menamakan dirinya, Light Group, sebuah komunitas yang bercita-cita membawa terang/ perdamaian di bumi Rwanda.

Di dalam gedung gereja di Desa Remera kami diajak bertemu dengan sebagian anggota komunitas Light Group. Ada dua puluh orang yang datang mewakili komunitas mereka. Selama 1,5 jam kami mendengarkan penjelasan baik dari Pdt. Jerome maupun dari wakil komunitas itu.

Saya nyaris fokus 100 % ketika mendengarkan apa yang mereka katakana. Benar-benar mencengangkan bahkan nyaris tidak masuk akal. Tetapi yang mereka alami benar-benar terjadi.  Bahkan Pdt. Jerome sendiri sebagai Pendiri Light Group dalam penjelasannya seringkali mengucapkan kata, “beyond our mind = melampaui akal” sebagai rasa kekagumannya atas karya Tuhan yang dialaminya. Saya meringkas penjelasan mereka sebagai berikut:

1. Pada tahun 2007 pemerintah membebaskan dari penjara mereka yang menjadi pelaku pembantaian selama masa genocide. Artinya, para pelaku pembunuhan itu akan kembali ke masyarakat dan bercampur dengan warga masyarakat, juga akan bertemu dengan keluarga-keluarga yang anggotanya mereka bunuh.

Rasa dendam tentu masih dimiliki oleh keluarga-keluarga korban. Sebuah keputusan  yang tidak mudah sebab ribuan warga masyarakat diliputi rasa dendam kepada para pembunuh. Selain itu para pelaku pembunuhan juga merasa tidak nyaman hadir di tengah masyarakat yang pandang matanya selalu memancarkan kebencian kepada mereka. Peristiwa 12 tahun sebelumnya masih amat membekas di benak masyarakat.

Mari kita mencoba menghayati keadaan pada waktu itu melalui kesaksian seorang ibu sebagai berikut: ” . . . pada waktu itu saya melihat dengan amat jelas seorang pria membunuh suami dan 4 (empat) anak saya. Mereka kemudian keluar lalu membakar rumah saya. Saya hampir pingsan, tetapi saya bisa berhasil lari ke rumah.  Sejak itu saya bersembunyi ketakutan berminggu-minggu lamanya.  Saat peristiwa itu berlangsung saya sedang hamil 7 bulan. . .  Pelaku pembunuhan terhadap keluarga saya itu tidak saya sangka datang ingin menemui saya. Dia berkali-kali datang ke rumah untuk menemui saya, tetapi kedatangannya selalu saya tolak”

Sang ibu itu tidak tahan menghadapi keadaan itu. Ia kemudian menemui pendetanya Jerome. Oleh pendeta dan gereja Ibu itu difasilitasi untuk mengadakan pertemuan dengan pelaku pembunuhan. Pertemuan itu tidak empat mata, tetapi bersama dengan orang-orang lain. Pelaku pembunuhan dan dan Sang Ibu tadi bersedia hadir.

Pada saat mereka hadir dalam pertemuan yang difasilitasi gereja, pelaku pembunuhan itu diminta untuk mengatakan sesuatu. Pelaku itu kemudian mengatakan, “. . . saya ikut menjadi pelaku pembunuhan saat peristiwa itu, dan saya telah membunuh suami dan 4 anaknya . . .” sambil ia mengarahkan jari telunjuknya menunjuk ke arah Sang Ibu yang suami dan anak-anak ia bunuh.

Bagaimana reaksi Sang Ibu itu? Marah, kemudian mengambil kursi lalu melemparkannya ke arah pria itu? Tidak, sama sekali tidak! Ia mengatakan, “. . . tetapi sekarang kita adalah teman . . .” Sungguh mencengangkan, sebab dialog semacam itu tidak hanya terjadi pada 2 orang tetapi sedikitnya 40 orang (anggota Light Group pada waktu itu sebanyak 40 orang).

Memang dialog seperti di atas tidak muncul tiba-tiba, karena sejak para pelaku pembunuhan di dalam penjara, mereka mendapatkan pembinaan intens tentang semangat meminta maaf dan menjalani hidup dengan cara baru. Demikian pula para korban juga mendapatkan pembinaan dan pelatihan secara intens oleh Gereja Presbiterian Remera untuk membangun semangat mengampuni.

2. Semangat pengampunan yang menjamah kehidupan mereka adalah pengampunan yang datang dari lubuk hati terdalam, sehingga tulus, sejati. Mengapa begitu? Sebab tidak sedikit di antara anggota keluarga pembunuh dengan keluarga korban yang kemudian menikah dan mereka menjalani hidup bersama dengan baik, padahal peristiwa tragedi baru beberapa tahun yll. Istilah yang dipakai untuk menyebut mereka yang tulus mengampuni dan tulus mengakui kesalahan adalah “Peace maker= Juru damai”. Para “Juru damai” inilah yang mendapat tugas dari Light Group untuk berkarya di tengah masyarakat supaya perdamaian itu menyebar ke seluruh pelosok Rwanda.

Secara pribadi bahkan sampai hari ini, saya nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada komunitas Light Group di Rwanda. Sebab bagaimana mungkin hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun sebuah pengalaman hidup yang begitu pahit, kelam, mengerikan dan menyayat hati bisa dipulihkan dengan baik. Lebih-lebih ada semangat hidup bersama yang amat kuat antara keluarga korban dengan keluarga pembunuh, sehingga bisa hidup bersama-sama menjadi sebuah keluarga yang rukun.

Ketika saya tidak dapat menahan rasa penasaran saya, lalu saya menghubungi pendeta di Rwanda. Saya bertanya kepadanya, “Apakah di tempat Anda ada filosofi atau nilai-nilai kehidupan yang sudah ditanamkan oleh nenek moyang Anda tentang kebesaran hati dan kesediaan untuk secara cepat mengampuni siapa pun yang telah menyakiti hati seseorang?” Dijawab ringkas, “Tidak, teman! Kami juga memiliki kebencian dan dendam, tetapi kami meyakini karya pengampunan Tuhan Yesus sendiri yang bekerja di Rwanda. Kami membuka hati terhadap karya Tuhan itu. Itu yang kami yakini. Tanpa pertolongan Tuhan, mustahil saat ini kami bisa hidup bersama dengan rukun!”

Refleksi

1. Kehidupan bersama di manapun selalu terbuka kemungkinan terjadinya konflik, perseteruan. Gereja pun bukan tempat steril terhadap konflik dan perseteruan. Di dalam kehidupan bersama selalu dijumpai orang dengan berbagai tipe, misalnya: rendah hati, lemah lembut, pemurah, ramah, penuh belas kasih, keras kepala, sombong, mudah curiga, kikir, mudah tersinggung, dan pemaaf.

Dengan adanya berbagai tipe itu, maka akan kita temui berbeda-beda pula cara orang menanggapi persoalan yang menimpanya. Ada orang yang masih bisa tersenyum tulus ketika ada yang membentak kepadanya, “Kenapa ibu mengatakan di depan banyak orang bahwa istri saya suka membungakan uang!” Padahal sebenarnya, bukan ibu yang dibentak itu yang mengatakan, tetapi yang duduk di belakangnya.

Sementara itu ada orang yang menerima perlakuan sama seperti di atas, langsung bangkit amarahnya, dan memutuskan sejak saat itu tak mau lagi berhubungan dengan pembentak. Tak ada ampun, baginya! Bukankah tidak terlalu sulit menemukan contoh-contoh seperti ini dalam kehidupan sehari-hari kita?

2. Entah benar entah tidak –saya belum pernah membaca data hasil penelitian- bahwa pada dasarnya Orang Jawa tidak mudah mengampuni. Setidaknya ada beberapa filosofi yang hampir setiap saat masuk ke telinga dan batin kita, misalnya:

Ciri wanci lelai digawa mati (kebiasaan seseorang tidak akan berubah sampai meninggal dunia);
Watuk gampang diobati, yen watak? (Sakit batuk mudah disembuhkan, kalau watak?)

Ungkapan-ungkapan itu memberi isyarat betapa nyaris mustahil berharap adanya  perubahan hidup pada diri seseorang. Sehingga tidak jarang ada permusuhan antar keluarga yang berlangsung sampai belasan tahun bahwa terwariskan sampai ke cucu, itu pun bukan disebabkan oleh persoalan maha berat seperti kasus pembunuhan atau kekejaman, tetapi karena –misalnya- merasa tidak dihargai pendapatnya atau tidak disapa ketika bertemu; atau seseorang yang kemudian mogok/ ngambek karena tidak diberi kesempatan untuk menduduki posisi yang sudah lama diincar dalam sebuah kepanitiaan di sebuah instansi.

3. Mereka yang menjadi komunitas Light Group tidak memiliki nilai filosofi khas yang menyebabkan mereka mudah untuk mengampuni. Satu-satunya yang mereka andalkan untuk bisa mengubah hidup mereka adalah kesediaan hati mereka untuk dibentuk oleh Roh Kudus.

Dari cerita dan kesaksian yang sempat saya dengarkan dari mereka, menyatakan bahwa amat sulit membuka diri terhadap karya Tuhan. Mereka harus melewati berkali-kali pembinaan dan penempaan batin/ rohani; sampai pada akhirnya benar-benar terbuka hatinya untuk karya Tuhan. Buah dari kesediaan mereka untuk secara sungguh-sungguh membuka hati terhadap karya Tuhan adalah kehidupan bersama yang rukun. Setidaknya pengalaman mereka bisa menjadi cermin bagi kita tentang beberapa hal, a.l.:

  • Ungkapan, “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan” adalah pengalaman riel, bukan teori. Karya pengampunan dan penebusan dari Sang Kristus Ini benar-benar mereka alami. Mereka sendiri mengatakan bahwa jikalau bukan karena karya Kristus mustahil kami bisa hidup bersama dengan rukun dan damai.  Padahal, keluarga-keluarga ini sebelumnya saling bermusuhan bahkan saling membunuh, bahkan ada yang berbesan antara keluarga korban dengan keluarga pelaku pembunuhan.
  • Filosofi yang mewarnai kahidupan sehari-hari di masyarakat kita seperti: “ciri wanci lelai digawa mati”, “Wis gawan bayi”, dan “Yen watuk gampang obate, yen watak?” yang intinya pesimistis terhadap perubahan hidup seseorang tidak perlu dipertahankan. Bagi seseorang yang sudah menerima Kristus dan mau hidup dibentuk oleh Dia, maka kuasa-Nya mampu mengubah hidup seseorang, termasuk wataknya! Perlu diteguhkan keyakinan kita bahwa kuasa Sang Kristus melampaui kekuatan apa pun!
  • Salah satu kunci penting supaya terjadi perubahan hidup yang baik adalah kesediaan berjuang untuk tidak dikuasai oleh egoisme; sebagaimana anggota-anggota Light Group yang mau menyadari keburukkannya sendiri untuk diubah menjadi Selama tidak ada perjuangan untuk mau menyadari kekurangan diri sendiri dengan jujur dan tulus, maka  sampai usia berapa pun tak usahlah berharap adanya perubahan hidup pda diri seseorang; lebih-lebih jikalau pikiran dan hatinya hanya diarahkan untuk menuntut orang lain (suami atau istrinya) berubah.

[1] Genocide berasal dari gabungan kata dalam bahasa Yunani “geno= ras/ suku” dan bahasa Latin”sida= pembantaian”. Genocide: pembantaian terhadap ras atau suku tertentu.

Foto: Elena Hermosa untuk Trocaire

Bagikan Entri Ini:

  • 25
    Shares