Tinjauan Teologis Pandemi Covid-19 Dalam Konteks GKJW

I. PENGALAMAN SEJARAH

Pandemi Covid-19 yang kita alami sekarang ini bukanlah pengalaman wabah penyakit pertama bagi penduduk Jawa Timur. Nenek moyang kita juga pernah mengalami wabah besar yang melanda bumi Jawa Timur di tahun 1900-an yaitu wabah pes yang mengakibatkan banyak korban jiwa meninggal dunia.

A. Wabah Pes di Jawa Timur Tahun 1910 – 1916
Berawal dari paceklik yang melanda Jawa. Persediaan beras waktu itu tidak mencukupi bagi seluruh rakyat. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda terpaksa mengimpor beras secara besar-besaran dari Myanmar, India dan Tiongkok di bulan Agustus 1910. Kapal-kapal pengangkut beras berlabuh di Surabaya. Ternyata bukan hanya beras yang mereka angkut, melainkan tikus-tikus pembawa kutu yang mengandung bakteri pes juga ikut terangkut. Dari Surabaya, beras diangkut dengan menggunakan kereta api ke daerah-daerah yang mengalami paceklik.

Salah satu tujuan mereka adalah membawa beras ke Malang dan Wlingi, namun karena jalur kereta api ke Wlingi mengalami longsor karena banjir, maka beras-beras itu terpaksa disimpan dulu di gudang-gudang Stasiun Malang dan sekitarnya. Selama proses penyimpanan itu kutu-kutu tikus berkembang-biak sangat cepat menyebabkan banyak tikus yang mati. Tetapi belum ada yang menyadari bahwa ini disebabkan oleh bakteri pes. Penyakit pes tersebut pada gilirannya juga menjangkiti manusia dan menjadi wabah mematikan di kota Malang. Beras-beras yang disimpan di gudang-gudang stasiun tercemari oleh bakteri pes tersebut.

Kecurigaan baru muncul setelah tewasnya 17 orang korban di desa Turen yang didahului gejala demam beberapa hari. Penyakit pes pun mulai melanda wilayah Malang. Maret 1911 hampir semua tempat di wilayah Malang terjangkiti pes. Wabah ini kemudian menjalar ke Kediri, Blitar, Tulungagung, Madiun dan Surabaya. April 1911 Pemerintah Hindia Belanda menetapkan status epidemi pes di seluruh wilayah Jawa Timur.

Segala keterbatasan fasilitas pada waktu itu menyebabkan korban tewas sebanyak 2.000 orang di akhir tahun 1911. Sedemikian parah penyebaran epidemi pes pada waktu itu sehingga Dinas Kesehatan Hindia Belanda sampai mengeluarkan aturan, bila salah satu anggota keluarga terbukti terkena pes, maka seluruh keluarga harus dievakuasi dan tinggal di barak isolasi selama 15 hari. Namun dalam praktiknya, bukan hanya keluarga yang dievakuasi melainkan seluruh desa. Mereka baru boleh meninggalkan barak isolasi setelah 30 hari. Tentu saja banyak warga yang menolak praktik itu karena kuatir jika barang-barang di rumah akan hilang selama menjalani evakuasi di barak-barak.

Atau lebih parah lagi mereka takut kalau rumah mereka dibakar massa karena dianggap sebagai sarang tikus, sebab ada peraturan bahwa penduduk dipaksa untuk membakar rumah yang terindikasi menjadi sarang tikus. Mereka juga harus membongkar rumah jika didapati material bambu untuk membangunnya. Rumah berbahan bambu itu harus dibangun ulang dengan kayu atau bata, tanpa kompensasi yang sesuai dari pemerintah kolonial. Berjangkitnya wabah dan penerapan peraturan yang keras itu membuat penduduk semakin sengsara jiwa dan raga. Jumlah korban tewas di Malang saja akibat penyakit pes ini diperkirakan mencapai 15.000 jiwa dalam rentang tahun 1911 – 1916.

B. Wabah Covid-19 di Jawa Timur sejak Maret 2020
Sekarang kita juga mengalami malapetaka seperti yang pernah dialami oleh nenek-moyang kita itu. Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi adanya dua orang WNI yang positif mengidap Covid-19, pada hari Senin 2 Maret 2020, maka seluruh wilayah Indonesia langsung bersiaga secara penuh. Pandemi ini mulai diketahui publik pada pertengahan Desember 2019 di kota Wuhan – China dan segera menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Jawa Timur. Sampai dengan 1 Juni 2020, di Jawa Timur sini sudah didapati 4920 orang yang terkonfirmasi positif Covid- 19, dengan angka kematian 418 orang (Antara-News). Pemerintah langsung merespon secara cepat dengan mengupayakan berbagai langkah antisipasi, mulai dari membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tingkat nasional sampai kabupaten, menyisihkan anggaran negara 405,1 triliun rupiah, memberlakukan physical distancing, memberlakukan Work from Home (WFH), memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dll.

Masyarakat juga tak kalah besar peranannya. Mereka bahu-membahu membentuk posko-posko tanggap darurat untuk membantu pemerintah menyalurkan paket-paket sembako kepada keluarga-keluarga pra-sejahtera terdampak Covid-19, dan paket Alat Pelindung Diri (APD) ke rumah-sakit rumah-sakit atau lembaga-lembaga pelayanan publik. Juga tak kurang komunitas-komunitas yang secara mandiri telah menggalang gerakan kepedulian sosial dengan mengumpulkan bantuan dan menyalurkannya kepada anggota masyarakat yang membutuhkan. Namun demikian kita juga mendapati warga masyarakat yang tak mengindahkan tatanan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, itulah sebabnya korban-korban tetap berjatuhan. Ada berbagai alasan mereka melakukannya. Pendapat masyarakat juga terbelah, menjadi kelompok pro-kesehatan di satu sisi dan kelompok pro-ekonomi di sisi yang lain. Pandemi ini bukan hanya membawa penderitaan secara fisik, melainkan juga dampak psikis.

II. ANALISA

A. Kesehatan
Baik wabah pes diawal abad XX maupun wabah Covid-19 sama-sama mengancam kehidupan manusia. Bukan hanya orang yang terjangkiti saja yang menderita, yang tidak terjangkit secara langsung pun akhirnya ikut-ikutan menderita. Bukan hanya kesehatan fisik yang digerogoti, melainkan juga kesehatan batin atau jiwa. Ketakutan menghantui masyarakat, baik takut tertular maupun menulari orang lain, takut kehilangan nyawanya, takut kehilangan orang yang dicintai, maupun takut kehilangan fasilitas pendukung kehidupan. Terlebih kalau wabah itu berlangsung cukup lama seperti yang terjadi pada wabah pes dulu yang berlangsung selama 6 tahun. Sedangkan sekarang ini belum ada yang menemukan vaksin aktif anti Covid-19. Banyak orang yang kemudian menjadi apatis lalu tidak peduli dengan himbauan dan anjuran pemerintah, bertindak seolah-olah tak ada pandemi sehingga korban yang terinfeksi terus bertambah. Sebagian petugas medis juga menjadi putus asa sampai mempopulerkan tagar #indonesiaterserah.

Pada jaman sekarang fasilitas kesehatan memang sudah jauh lebih baik dan modern ketimbang tahun 1900an, tetapi kalau jumlah pasien melebihi kapasitas rumah sakit, maka tetap saja petugas medis akan kewalahan sehingga pasien tidak bisa tertangani dengan baik. Rasa takut juga tidak serta merta dapat diatasi dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang lebih baik. Itu terbukti pada beberapa kasus di mana terdapat kelompok masyarakat yang mengalami ketakutan berlebihan (paranoid) secara massal, sehingga menolak pemakaman jenazah yang dicurigai mati karena infeksi Covid-19. Kasus lain membuktikan bahwa paranoid juga diidap oleh kelompok masyarakat yang menolak para petugas medis pulang ke rumah atau kost-nya sendiri. Paranoid massal semacam ini mudah menyebar oleh adanya HOAX di media sosial.

B. Sosial
Ketika jaman wabah pes melanda, maka keluarga yang dianggap terkena wabah tersebut harus di karantina dengan cara harus meninggalkan rumah, berkumpul di barak-barak khusus. Sebaliknya pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini, untuk memutus rantai penularan, maka orang dikarantina dengan cara harus tetap berada di rumah. Namun demikian, baik pada jaman wabah pes maupun pandemi Covid-19 orang sama-sama dipaksa untuk menghentikan cara berrelasi seperti yang biasa mereka jalani sebelumnya. Lingkungan fisiknya dipersempit menjadi individual saja atau paling jauh hanya dengan keluarganya saja. Orang tidak lagi bebas melakukan perjalanan antar kota terlebih antar negara seperti sedia kala. Harus ada syarat tambahan yang dipenuhi, misalnya harus menunjukkan surat kesehatan kepada petugas yang selalu sigap menjaga setiap sudut ruang publik.

Orang tidak bisa lagi melihat ekspresi lawan bicaranya karena wajahnya tertutup oleh masker. Orang-orang yang berniat jahat juga dimudahkan dengan pemakaian masker ini, karena menjadi sulit dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Cukup masuk akal kalau orang kemudian menjadi mudah curiga terhadap orang lain, rasa percaya antar anggota masyarakat menjadi rendah. Terlebih kalau orang tertentu ditengarai sudah pernah terkena infeksi Covid-19, maka mudah sekali lingkungan memberinya stigma buruk bahkan jahat. Dengan demikian maka ikatan-ikatan sosial di tengah masyarakat menjadi semakin lemah. Masyarakat menjadi sangat rentan terhadap perpecahan. Ini cukup berbahaya, karena di satu sisi orang sudah jenuh akibat diasingkan satu-sama lain. Di sisi lain mereka terlanjur kehilangan kanal untuk berkumpul seperti sedia kala. Kondisi ini bisa melahirkan generasi a-sosial atau malah antisosial yang egois dan tidak peduli satu terhadap yang lain. Hubungan sosial secara manual segera digantikan dengan hubungan digital. Orang merasa lebih aman apabila berhubungan dengan orang lain melalui media komunikasi elektronik atau gadget.

C. Ekonomi
Semakin lama masa karantina diberlakukan, maka akan semakin menderitalah orang yang berpenghasilan harian dan pekerja yang dirumahkan (PHK) akibat kebijakan social/physical distancing. Dalam keadaan normal orang biasa memenuhi kebutuhannya dengan bekerja dan berhubungan dengan orang lain. Tetapi kalau di karantina orang akan kesulitan bekerja untuk memperoleh pendapatan, maka bisa dimaklumi kalau banyak orang menolak pemberlakuan karantina dalam jangka waktu yang lama. Ini seperti makan buah simalakama. Kalau tidak dikarantina maka orang akan mati akibat Covid-19, tetapi kalau terlalu lama dikarantina maka orang akan mati karena kehabisan makanan.

Perekonomian dalam skala yang lebih luas juga terganggu, laju perputaran keuangan publik menjadi lambat. Kalau dulu perkebunan-perkebunan terpaksa tutup karena para pekerjanya harus menjalani karantina, sekarang juga banyak perusahaan terpaksa tutup atau mengurangi produksinya karena pegawai-pegawainya harus tetap berada di rumah. Pengerahan tenaga manusia dalam jumlah banyak tidak dimungkinkan karena keterbatasan tempat, maka potensi pelanggaran aturan physical distancing semakin besar karena kebutuhan ekonomi tidak otomatis ikut berhenti seiring dengan meluasnya pandemi Covid-19.

III. TINJAUAN TEOLOGIS

A. Kehadiran Allah di Tengah Pandemi Covid-19

1. Allah yang Berkuasa Atas Alam.
Dalam kisah tentang Yesus yang meredakan angin ribut (Mat. 8:23-27; Mrk. 4:35-41; Luk. 8:22-25), diceritakan bahwa murid-murid Yesus menjadi panik lalu membangunkan-Nya untuk minta tolong, tetapi Ia menegur mereka : “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” (Mat. 8:25-26, Mrk 4:38b-39, Luk 8:24). Melalui kisah ini ditunjukkan bahwa dalam kepanikan, para murid itu menjadi lupa akan banyak hal. Mereka lupa akan kuasa Yesus. Mereka lupa bahwa Yesus sedang bersama-sama dengan mereka, mengalami badai yang sama dengan mereka dan siap setiap saat untuk menolong mereka. Mereka lupa bahwa ada banyak orang yang juga tertimpa badai yang sama. Ketika para murid kembali menyadari bahwa Yesus bersama mereka, lalu mereka berseru kepada-Nya.

Begitu pula di tengah badai pandemi Covid-19 ini banyak orang sibuk dengan ketakutannya sendiri, sehingga melupakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa tetap bersama-sama dengan kita dan siap menolong kita dengan cara-Nya yang unik bagi setiap kita masing-masing. Kita tidak boleh lupa bahwa bukan hanya kita yang mengalami kesulitan, semua orang, semua negara, semua bangsa di mana Covid-19 ini menjalar juga mengalami kesulitan yang sama. Tetapi Tuhan sedang bersama-sama dengan kita. Ia sedang bersama dengan setiap sesama kita yang menderita. Ia siap mengulurkan tangan-Nya untuk menolong setiap orang. Alangkah indahnya kalau kita mau menjadi “tangan-Nya” untuk menolong sesama yang menderita seperti kita.

Tidak penting bagi kita untuk mengetahui dari manakah atau bagaimanakah pandemi ini bisa muncul, biarlah para ahli saja yang mencari tahu akan hal itu. Tugas kita di tengah pandemi ini adalah turut meringankan penderitaan sesama kita, meskipun kita sendiri mengalami penderitaan yang sama. Kita tidak boleh ditenggelamkan oleh keegoisan kita yang akan membawa kepada kepanikan dan hanya memperparah penderitaan, melainkan tetap menggunakan peluang yang ada untuk menolong orang lain. Kita bangga dengan para tenaga medis yang menjalankan tugas dengan bertaruh nyawa.

Kita para pengikut Kristus tidak boleh panik, kuatir, takut dan putus-asa oleh pandemi ini. Inilah kesempatan kita untuk mempertanggung-jawabkan iman percaya kita kepada-Nya dengan cara menolong orang lain melalui cara-cara yang sesuai protokol kesehatan selama wabah Covid-19 berlangsung. Pada kalimat pertama Pengakuan Iman Rasuli sangat jelas disebutkan “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa Khalik Langit dan Bumi”. Inilah saatnya kita membuktikan keyakinan itu ketika sedang berada di tengah pandemi. Pengakuan itu memberikan harapan besar kepada kita bahwa apapun yang sedang kita lakukan untuk orang lain di tengah pandemi ini, kita melakukannya itu di bawah perlindungan Tuhan Allah yang Mahakuasa, Sang Penolong kita. Untuk itu tentu kita tidak melakukannya dengan sembarangan, karena Dia menganugerahi kita dengan akal pikiran untuk digunakan dengan sebaik-baiknya dilandasi rasa penuh kasih kepada sesama.

2. Allah yang Berkarya di Balik Penderitaan.
Dalam kisah tentang Yesus yang menyembuhkan orang buta sejak lahir (Yohanes 9:1-41), diceritakan bahwa Yesus memberikan jawaban yang tak disangka-sangka kepada para murid-Nya : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam Dia.” (Ay. 3). Ini jawaban yang sangat menarik, karena Yesus tidak mau mencari kambing hitam di tengah malapetaka yang menimpa seseorang melainkan menemukan secara positif karya Allah di tengah penderitaan. Bahwa di balik segala kemalangan, selalu ada harapan yang tersimpan karena Allah tidak diam. “Gusti mboten sare” melainkan turut bekerja di tengah penderitaan yang sedang terjadi. Dia sedang mengerjakan sesuatu yang baik, di balik peristiwa yang tampaknya menyengsarakan (Yoh 3:16).

Tuhan yang bertindak nyata itu dibuktikan dengan perbuatan Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta. Ia meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya dengan tanah, lalu mengoleskannya pada orang buta itu. Tuhan Yesus tidak hanya diam, melainkan melakukan tindakan nyata yang perlu direspon dengan baik pula oleh kita, karena selanjutnya Tuhan Yesus memerintahkan orang buta itu pergi dan membasuh diri di kolam Siloam. Orang buta itu taat melakukan perintah Tuhan Yesus, membasuh diri di kolam Siloam, lalu ia sembuh, ia dapat melihat. Disini kita melihat ada proses saling menyambut antara Tuhan Yesus dan orang buta itu yang menghasilkan solusi untuk keluar dari penderitaan.

Di dalam pandemi Covid-19 saat ini Tuhan Allah berkarya bagi umat-Nya, menyatakan kasih-Nya, kuasa-Nya dan pertolongan-Nya. Untuk itu ada proses dan media yang dipakai oleh Allah dalam menyatakan karya-Nya. Jadi pemerintah, tenaga medis, sesama dan kita adalah cara Allah menolong semua orang di masa pandemi Covid-19 ini. Bukankah di masa Pandemi ini, semangat kepedulian, cinta kasih, berbagi, gotong royong tumbuh ditengah-tengah masyarakat? Ini menjadi tanda Allah yang menyapa dan melawat umat-Nya melalui kita yang terpanggil untuk menolong sesama. Karya Allah dinyatakan melalui pribadi-pribadi yang tulus menolong, menguatkan, dan mengasihi saudaranya yang menderita. “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40).

B. Eklesiologi GKJW

GKJW adalah gereja yang bersikap tenang, waspada dan terbuka.

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7).

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

GKJW sebagai Gereja yang terus bertumbuh dan berkarya ditengah-tengah masyarakat Jawa Timur tidak lepas dari pergumulan Covid-19 ini. Oleh karena itu GKJW dalam menghadapi situasi dan kondisi saat ini haruslah bersikap tenang, waspada dan terbuka. Tenang berarti mampu berpikir secara mendalam, fokus dan tidak panik dalam mengambil keputusan. Waspada berarti bijaksana, berhati-hati, mampu menyikapi berbagai situasi yang terjadi secara cermat dan akurat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Terbuka berarti bisa menerima dan menyikapi perubahan ke arah yang lebih baik.

GKJW melihat bahwa masa Pandemi Covid-19 adalah peluang dan kesempatan bagi gereja untuk melakukan pelayanan tidak hanya untuk warga GKJW yang ada di Jawa Timur saja, tetapi juga pelayanan kepada warga GKJW yang ada diluar Jawa Timur, bahkan pelayanan kepada semua umat manusia. Media sosial seperti Youtube, Facebook, Instragram, WhatsApp dll. dapat dipergunakan sebagai sarana pelayanan gereja kepada warga jemaat dimana pun mereka berada dan dipergunakan secara positif dan responsif dalam mengembangkan pelayanan GKJW secara lebih luas.

C. Kesaksian dan Pelayanan GKJW di Tengah Pandemi Covid-19

GKJW adalah gereja yang berbela-rasa dan berbagi kasih dengan sesama.

GKJW sebagai bagian dari masyarakat Jawa Timur, tentu tidak bisa menutup mata terhadap realitas yang ada pada situasi pandemi Covid-19 saat ini. Justru pada saat inilah peran dan kiprah GKJW menjadi penting. Bentuk kesaksian dan pelayanan GKJW harus nyata dan berbuah, menjadi berkat bagi lingkungan di sekitarnya dimanapun GKJW berada. Untuk itulah sikap belarasa dan berbagi kasih kepada sesama perlu diwujud-nyatakan.

Cara yang dapat dilakukan oleh GKJW saat ini dalam menyatakan kesaksian dan pelayanannya, antara lain :

  1. Pelayanan Kasih kepada Warga Terdampak Covid-19
    MJ, MD, MA sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya masing-masing memberikan perhatian dan pelayanan cinta kasih secara optimal di masa Pandemi Covid-19 ini. MJ, MD dan MA saling bersinergi dan berkoordinasi guna menentukan kebijakan yang tepat dalam membantu meringankan beban warga jemaat yang terdampak Covid-19 ini. Perlu ada data yang akurat tentang warga jemaat terdampak. Covid-19. Data tersebut untuk mendukung pengambilan keputusan, agar distribusi bantuan tepat pada sasaran. Oleh karena itu perlu adanya sinergi dan koordinasi diantara MJ, MD dan MA.
    Wujud pelayanan kasih ini, selain tertuju kepada warga yang terdampak Covid-19, juga selayaknya tertuju kepada warga secara keseluruhan. Oleh sebab itu peran pemangku jabatan gerejawi (Pendeta, Guru Injil, Penatua, dan Diaken) seharusnya juga semakin menjangkau segenap kebutuhan warga, terutama kebutuhan pendampingan pastoral, maupun kebutuhan berkenaan dengan peningkatan pertumbuhan iman. Pembinaan, ibadah, pelayanan Perjamuan Kudus, dan pastoralia seharusnya tetap mampu dilakukan dengan berbagai cara, serta menggunakan berbagai media yang ada, sehingga seluruh warga GKJW tetap mampu merasakan bahwa dalam kondisi yang berat ini, Tuhan Yesus tidak pernah tinggal diam. Dia tetap menyertai umatNya dalam rangka memikul salib bersamaNya.
  2. Membangun Kerjasama Lintas Iman
    GKJW bersama dengan komunitas iman yang lain (seperti Gus Durian, dll) berperan serta aktif, tanggap dan siap menghadapi Covid-19 ini. GKJW akan mengalami kesulitan jika hanya berjalan sendiri. Untuk itu, GKJW sebagai gereja yang bersaksi dan melayani, tidak cukup hanya melayani ke dalam (internal GKJW) saja tetapi juga perlu mewujudnyatakan karya dan kasih Allah itu ditengah-tengah masyarakat bersama komunitas yang lain. Upaya tersebut akan terwujud jika GKJW terbuka dan mau bekerjasama, bergerak melakukan kegiatan kemanusiaan.
  3. Membangun Kerjasama Lintas Instansi
    GKJW sebagai lembaga keagamaan harus bekerjasama dengan berbagai instansi (pemerintah dan organisasi-organisasi lain) mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 ini. GKJW mendukung apa yang menjadi kebijaksanaan dan peraturan pemerintah dalam mengupayakan pencegahan Covid-19. GKJW bersikap tanggap, aktif, dan senantiasa bekerjasama dengan banyak instansi dalam upaya mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 maupun penyaluran bantuan sosial terhadap warga yang terdampak Covid-19. Peran serta GKJW yang diwakili oleh MJ, MD dan MA bersama aparat pemerintahan baik desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, kota dan instansi-instansi lainnya hendaknya selalu dilakukan dan diupayakan secara berkesinambungan agar upaya tersebut dapat dilakukan secara sinergis.

Balewiyata & DPT
Majelis Agung GKJW

 

Bagikan Entri Ini:

  • 45
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •