Pamong Sekolah Minggu; Bukan Pelayan Biasa!

Setiap pamong diPILIH oleh Tuhan sendiri. Tugas pelayanan ini bukan kebetulan apalagi kecelakaan.

Aku dan Pamongku

Semasa kecil, saya adalah anak yang rajin datang ke Ibadah Anak. Bukan karena saya benar-benar rajin sih, tapi karena orangtua mendisiplinkan saya untuk selalu datang ke Ibadah Anak setiap minggu pagi. Jikalau boleh jujur, film Candy-candy atau Doraemon yang saat itu diputar di televisi, lebih menarik daripada Ibadah Anak yang begitu-begitu saja. Namun, ada hal yang masih saya ingat sampai sekarang tentang salah satu “mbak” pamong yang melayani kami saat itu. Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di ruang Ibadah Anak adalah mencari tahu siapa yang akan mengajar hari itu. Kalau ternyata giliran si “mbak” pamong itu yang mengajar, suasana berubah jadi mencekam. Kami pasti akan kalang kabut, lalu duduk serapi dan semanis mungkin jelang ibadah dimulai. Itu semua karena “mbak” pamong itu akan menunjuk salah satu di antara kami secara acak untuk memimpin doa syafaat plus doa Bapa Kami, melafalkan Pengakuan Iman Rasuli atau menghafalkan ayat hafalan di depan kelas. Aduuuuhhhh…sebuah tugas maha berat bagi anak seusia kami saat itu.

Namun, “mbak” pamong yang menakutkan itu sebenarnya mengajarkan banyak hal pada saya. Darinya saya belajar untuk berbicara di depan umum, berani memimpin doa dan akhirnya bisa hapal Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami di luar kepala. Dan jika boleh jujur, pelayanan “mbak” pamong itu juga mengajar saya bagaimana untuk berharap pada Tuhan. Ya…berharap agar saya tak kena tunjuk! Beberapa waktu lalu, saat saya sudah menjadi Pendeta dan mendapat kesempatan untuk berkhotbah di Jemaat asal, saya bertemu “mbak” pamong istimewa itu lagi. Ternyata, ia masih tetap menjadi seorang pamong. Saat bersalaman seusai ibadah ia menggenggam tangan saya erat, memandang saya dengan mata berkaca lalu berbisik lirih: “aku bangga padamu dek.” Ahhh…jelas, pamong itu bukan pelayan biasa. Para pamong adalah orang-orang yang menyediakan diri dan waktunya untuk turut memberi warna dalam perkembangan iman seorang anak.

 

Pamong sebagai Pendidik Kristiani

Perkembangan iman anak adalah tanggung jawab keluarga dan gereja yang harus dipikul bersama. Namun seringkali, pembinaan iman anak masih menjadi prioritas nomor kesekian bagi banyak Jemaat di GKJW. Lihat saja bagaimana fasilitas ruang ibadah anak di Jemaat kita masing-masing, sudahkah representatif? Atau bagaimana program dan kegiatan pembinaan di KPAR, apakah sudah mendapat porsi yang cukup? Paradigma yang menempel dalam kebanyakan kepala kita adalah: anak adalah masa depan gereja. Paradigma macam ini justru membuat kita abai pada kebutuhan anak-anak di masa kini. Karena mereka yang masih anak-anak sekarang, baru akan tetap tinggal di gereja, hanya jika kebutuhannya dipenuhi. Kapan butuh dipenuhi? Sekarang, bukan nanti. Anak-anak memiliki hak yang sama untuk mengenal Tuhan Yesus, karena mereka juga termasuk kawanan domba milik-Nya. Oleh sebab itu, tiap anak jemaat yang belum diantar ke Ibadah Anak patut dicari (lih. Luk 15:1-7). Perlu diingat, bahwa seorang anak bukanlah cangkir yang perlu diisi. Namun ia adalah lilin yang perlu dinyalakan, agar mampu memberi terang secara mandiri.

Telah jelas pula, bahwa peran pamong dalam pelayanan bagi anak sangat penting dan mendasar. Anak akan bahagia dalam gereja, jika pamongnya pun bahagia. Sebelum meneruskan pelayanan  bagi anak-anak GKJW, alangkah baiknya jika para pamong memahami betul tugas dan panggilannya, agar makin bahagia dalam menjalankan pelayanannya. Para pelayan anak hendaknya mengingat, bahwa tugas pelayanan ini bukan kebetulan apalagi kecelakaan. Yohanes 15:16 menyatakan bahwa setiap pamong diPILIH  oleh Tuhan sendiri. Setiap kita, dimanapun dan bagaimanapun ladang  pelayanan yang harus digarap, kita orang-orang terpilih. Namun ingat, keterpilihan pastilah memiliki konsekuensi. Konsekuensinya adalah kita harus merespon keterpilihan ini dengan menjadikan pelayanan sebagai prioritas dan melaksanakan pelayanan dengan penuh komitmen. Menjadikan pelayanan sebagai prioritas, tentu tak berarti bahwa kita menjadi abai pada segi hidup yang lain seperti pekerjaan, studi atau keluarga. Namun, memberi prioritas berarti memberi perhatian dan tanggung jawab dengan selayaknya terhadap pelayanan kita. Jadi, tak ada lagi alasan tak sempat persiapan atau tak ada waktu mengajar. Bukankah untuk hal yang prioritas, kita akan selalu punya waktu dan punya energi lebih.

Para pamong memiliki tugas penting untuk mendidik dan mengenalkan mereka pada iman Kristiani. Karena itu, ada beberapa tugas yang perlu dipahami setiap pamong:

  1. Mengkomunikasikan dan meneladankan kebenaran
    Menurut 2 Timotius 3:14-16, sampainya seseorang pada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus adalah karena hikmat yang dikenal dan diterima sejak kecil. Jadi, tak ada usia yang terlalu muda untuk menerima pengajaran tentang Kristus. Anak-anak tidak bisa belajar dari apa yang mereka dengar saja, melainkan terutama dari apa yang mereka lihat. Karena itu, orang dewasa di sekitar anak-anak tidak bisa hanya menceritakan tentang kebenaran, namun terutama harus pula melakukan kebenaran.
  2. Menjadi saluran berkat
    Menjadi pamong berarti menyediakan keseluruhan dirinya untuk dipakai Tuhan memberkati anak-anak yang dilayani. Berkat yang tercurah melalui saluran pilihanNya, baru akan mengalir dengan lancar bila “talang”nya bersih dari berbagai sumbatan. Oleh sebab itu, seorang pelayan anak mestilah memastikan bahwa dirinya memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.
  3. Melayani sesuai kemampuan masing-masing
    Tidak semua pamong memiliki kemampuan yang sama. Ada yang pandai bercerita dengan menarik, tapi tidak bisa menyanyi. Ada yang mampu memimpin pujian dengan ekspresif, tapi tidak bisa menggambar. Mungkin ada orang yang bisa menggambar dengan sangat baik, tapi tidak bisa bermain musik. Menjadi pamong tidak berarti harus bisa melakukan semua pelayanan sendirian, tapi menyadari diri bahwa setiap orang terpanggil untuk saling melengkapi. Oleh sebab itu, para pamong hendaknya menyediakan waktunya untuk saling bersekutu dan berdiskusi, sehingga pelayanan anak dapat dilakukan dalam kesehatian. KPAR seharusnya bukan hanya Komisi untuk pembinaan anak-anak, melainkan juga untuk pembinaan dan pengembangan para pamong.

Sekali lagi jelas, bahwa pamong berperan amat penting dalam perkembangan iman kristiani seorang anak. Tugas yang berat memang, namun percayalah bahwa saat Tuhan memilih, Tuhan pula yang memampukan kita. Selamat melayani anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada kita. (Rhe)

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •