Mengapa Aku Belum Bisa Memaafkan Dengan Tulus? Sebuah Refleksi di masa Pra Paskah 2021

Saya mengawali tulisan ini dengan mengutip bagian paling akhir dari khotbah pak pdt Suko Tiyarno dalam ibadah rabu abu 17 Februari 2021 di Majelis Agung yang dilakukan secara online dengan menggunakan media Youtube.

Demikian kutipannya, “Saudara-saudara semua yang sangat dikasihi disayangi oleh Tuhan. Agar pertobatan kita diterima oleh Tuhan, agar Tuhan berkenan mengampuni kita. Sekarang juga, marilah kita saling meminta dan memberi maaf satu sama lain. Mulai dari keluarga kita, kemudian kepada orang lain. Tuhan mengasihi dan mengampuni kita semua, Amin”

Sebuah ajakan bagi kita semua, warga jemaat GKJW dalam memasuki masa pra paskah dengan saling meminta dan memberi maaf satu sama lain.

Tema pra paskah pada tahun ini adalah “Ketergantungan mutlak kepada Kasih Karunia Kristus” tidak lain adalah upaya untuk meyakinkan setiap warga jemaat GKJW bahwa penebusan dan pengampunan dosa yang telah diterima, tidak lain adalah sebuah kasih karunia dari Allah melalui Kristus yang telah rela mengalami penderitaan, kesengsaraan dan kematian.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas semuanya ini, kita diajak untuk saling meminta dan memberi maaf orang lain dalam memasuki masa pra paskah. Tentunya di dalam upaya ini kita harus selalu menggantungkan sepenuhnya kepada kuasa dan pertolongan dari Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Juru Selamat kita. Kita meyakini bahwa upaya apapun yang dilakukan merupakan perwujudan dari pertolongan dari Tuhan saja. Oleh karena Tuhan lebih sering memberikan pertolonganNya di dalam kesesakan hidup (perasaan bersalah dan dendam amarah) kita melalui cara-cara yang “alamiah” dengan menggunakan orang lain dan segala hasil budi daya berupa ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Semuanya itu sering digunakan Tuhan untuk bisa memberikan kelegaan hidup bagi setiap orang yang peka akan pertolongan Tuhan.

Meminta dan memberi maaf (mengampuni) adalah dua tindakan yang berbeda. Meminta maaf sebagai wujud sikap mengakui adanya perasaan bersalah terhadap orang lain. Sedangkan memberi maaf adalah wujud sikap melepaskan perasaan marah, dendam, kecewa, sakit hati dan terluka atas sikap dan perbuatan orang lain. Meskipun terlihat berbeda, tetapi sebenarnya tujuan akhir dari kedua tindakan tersebut adalah sama yaitu kesembuhan diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Ketika kita meminta maaf oleh karena adanya perasaan bersalah, maka dengan maaf yang diberikan oleh orang yang kita sakiti akan membuat kita terlepas dari rasa bersalah, terbebas dari emosi negatif rasa bersalah, yang artinya kita sembuh. Sedangkan saat orang lain yang telah menyakiti hati kita dan meminta maaf atas perbuatannya itu, dan kita memberikan maaf kepadanya maka orang tersebut telah melepaskan rasa bersalahnya dan menjadikan dirinya sembuh. Bagaimana dengan kita? Apakah dengan memberi maaf sudah “pasti” menjadikan kita juga sembuh? Jawabannya belum tentu!

Mengapa demikian?

Banyak orang yang masih memegang keyakinan yang keliru bahwa “waktu akan menyembuhkan rasa sakit hati (luka batin) ini” dengan mengikis sedikit demi sedikit rasa sakit hati seiring dengan perjalanan waktu; atau merasa sudah memaafkan dan melupakan peristiwanya tetapi mengapa masih terasa sakit hati setiap kali mengingat orang tersebut atau peristiwanya? “Katanya sudah memaafkan, tapi koq masih merasa sakit hati?”, demikian ujar pak Drembo.

Kesalahan yang sering dilakukan oleh kebanyakan dari kita adalah kita hanya memaafkan orang yang bersalah hanya pada “level kognisi” saja. Kita menyadari bahwa kita memang perlu memaafkan. Lalu kita memutuskan untuk memaafkan. Namun apabila memaafkan hanya dilakukan pada level kognisi, atau yang dikenal dengan level pikiran sadar, maka hal ini tidak akan bisa efektif. Memaafkan harus dilakukan pada “level afeksi” atau level pikiran bawah sadar.

Mengapa memaafkan harus dilakukan pada level afeksi atau level pikiran bawah sadar?

Karena emosi dan memori letaknya di pikiran bawah sadar sehingga kita perlu masuk ke lokasi yang tepat yaitu ke pikiran bawah sadar untuk bisa melakukan “forgiveness”. Dengan cara inilah memaafkan baru bisa efektif, efisien, dan permanen hasilnya.
Setelah kita telah memaafkan orang lain secara tulus di level afeksi, perlu sekali upaya ini dilanjutkan dengan memaafkan diri sendiri. Saat kita mampu memaafkan diri sendiri, bersedia menerima diri sendiri apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka pada saat itu diri kita telah sembuh

Sedikit perlu saya jelaskan tentang apa itu memori. Memori adalah data yang disimpan di pikiran bawah sadar kita. Data ini berisi beberapa komponen yang berhubungan dengan suatu kejadian atau peristiwa, antara lain:

  1. Waktu terjadinya
  2. Lokasi kejadian
  3. Siapa saja yang terlibat
  4. Gambar/image
  5. Suara
  6. Bau
  7. Rasa
  8. Sensasi perabaan
  9. EMOSI.

Yang membuat masalah sebenarnya bukanlah komponen 1 sampai 8, tetapi yang no 9 yaitu emosi. Komponen emosi ini muncul sebagai hasil dari suatu pemaknaan. Setiap kejadian pada dasarnya bersifat netral. Tidak ada kejadian yang baik atau buruk. Semua bergantung pada diri kita sendiri. Kita memberikan makna pada kejadian itu berdasarkan persepsi kita. Persepsi dipengaruhi oleh belief system kita. Jadi, ujung-ujungnya sebenarnya bicara soal belief system atau sistem kepercayaan.

Untuk memaafkan maka kita harus bisa menetralisir emosi ini. Selama emosi tidak berhasil dinetralisir maka kekuatan penolakan untuk tidak memaafkan akan sangat kuat. Re-edukasi pikiran bawah sadar dengan cara memberikan pemaknaan baru terhadap kejadian yang tadinya dirasa menyakitkan, baru bisa berjalan efektif, mudah, dan permanen saat emosi ini telah dinetralisir.

Setelah emosi dibereskan maka kita tetap bisa mengingat semua kejadian atau peristiwanya, namun sudah tidak lagi terpengaruh. Kita mengingat peristiwa itu hanya sebagai suatu kenangan dengan intensitas emosi yang netral.

Saat emosi berhasil dibereskan, saat itulah kita dinyatakan sembuh. Jadi yang menjadi sumber masalah selama ini adalah emosi (negatif).

Memaafkan dengan tulus ikhlas tidak lain adalah melepaskan emosi negatif berupa sakit hati, terluka, marah, kecewa, dendam, dll. Kita akan sulit memberi maaf kepada orang lain, jika belum bisa melepaskan semua emosi negatif tersebut. Analoginya seperti kita hendak menggulung selang air setelah kita gunakan untuk menyiram tanaman di taman depan rumah kita. Akan sulit sekali apabila kita langsung menggulung selang tanpa terlebih dahulu mengeluarkan semua isi air di dalam selang tersebut. Jauh lebih mudah, kita menggulung selang setelah kita keluarkan semua isi airnya. Air di dalam selang tidak lain adalah emosi-emosi negatif yang terkait dengan peristiwa yang menyakitkan hati kita. Sedangkan upaya menggulung selang dengan rapi tidak lain adalah upaya untuk memaafkan.

Marilah ajakan dari pak pdt Suko Tiyarno, dalam memasuki masa pra paskah dengan saling meminta dan memberi maaf satu sama lain, hendaknya kita lakukan dengan ketulusan dan keikhlasan hati. Dengan sungguh-sungguh kita lakukan dan memastikan bahwa kita benar-benar telah melepaskan dan menetralisir semua emosi negatif yang selama ini kita rasakan. Dengan memaafkan orang lain secara tulus ikhlas, menjadikan diri kita sembuh. Sembuh dari luka batin artinya kita berdamai dengan diri sendiri.

Kiranya hanya pengasihan dari Tuhan Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang akan memampukan kita di masa pra paskah untuk melakukan semuanya ini – Amien!


Purnomo
Warga GKJW Jemaat Lawang

 

Bagikan Entri Ini:

  • 18
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •