Bulan Budaya, Hari Pahlawan, dan Krisis Literasi Sejarah

15 November 2025

November, oleh Greja Kristen Jawi Wetan ditahbiskan menjadi Bulan Budaya sebagai bagian dari tema-tema tahunan setiap bulannya dalam kalender gerejawi yang disusunnya.

Sayang, sepertinya sejarah sebagai bagian dari budaya, terluput dari perhatian. Kita abai terhadap warisan besar yang bisa menjadi inspirasi dan keteladanan.

Kemarin, 14 November 2025, adakah yang mengingat dan/atau mengingatkan, pernah ada dalam linimasa sejarah kekristenan yang ada di Jawa Timur, yang menjadikan GKJW sebagai komunitas Jawa Kristen terbesar di sana? Secara organisasi ia kini makin membesar dan menjelma hingga 181 Jemaat dengan lebih dari 200 pepanthan.

Terkait tanggal-tanggal bersejarah, narasi  kita hanya mandeg pada 11 Desember 1931 sebagai Adegipoen Pasamoewan-pasamoewan Kristen Djawi ing Tanah Djawi Wetan.

Kita masih terbatas  mendapatkan narasi 12 Desember 1843 sebagai cikal bakal GKJW dengan peristiwa baptisan pertama orang-orang Jawa, yang diprakarsai oleh Kjai Dasimah dkk. sebanyak 35 orang di Gereja Protestan Surabaya.

BULAN BUDAYA dan SEMANGAT HARI PAHLAWAN

Kalau mau jujur, kita ini sebenarnya sedang melupakan  bagian peristiwa sejarah penting yang pernah terjadi 210 tahun lalu.

Dari kota Pahlawan, literatur sejarah mencatat sebagai titik awal misi kekristenan terjadi. Dari Surabaya, semua bermula.

Di Surabaya kota, ada dua gereja tertua yang menjadi induk sejarah pertumbuhan gereja di sana. Jemaat GKJW Wiyung dan Surabaya (Gubeng). Hanya selisih 3 tahun berselang jika mengambil peristiwa Baptisan Pertama sebagai HUT Gereja.

Ya, baptisan pertama memang dianggap momen penting. Dari situ diambil sebagai patokan tanggal menentukan HUT Gereja. Wiyung 1843, Desember. Surabaya 1847, November.

Dari dua itu, kini di wilayah administratif yang sama (hanya lingkup Surabaya) terdapat 15 jemaat mandiri dan dewasa. Ini karya Tuhan yang luar biasa.

Tetapi peristiwa baptisan itu sendiri sebenarnya bisa dikatakan sebagai titik akhirnya. Pasti ada proses besar yang telah dilewatinya. Bukan instan hasil jadi, tetiba ada baptisan masal. Dan… “narasi proses” ini amat minim diberitakan, diceritakan tutur-tinular secara apik dan epic. Padahal itu sangat amat menarik, apalagi jika mampu dikemas secara baik seperti video Dragers: The Beares of Light (Pembawa Cahaya) dibawah ini.

Kita sering terjebak pada titik akhir sebagai euforia, tapi kurang menyelami titik awal kisahnya yang juga penting disimak. Padahal dari “proses” itu, kita bisa menemukan inspirasi dan keteladanan yang luar biasa.

Beruntunglah sebenarnya warga yang bergereja di Surabaya. Ada keuntungan dan keunggulan dalam narasi sejarah. Sayang, potensi kekuatan ini tidak/belum mampu dikelola dengan baik dan terintegrasi dalam lingkup besar Institusi gerejawi.

Kita, GKJW secara umum; tentu bukan hanya terbatas berbicara pada konteks tempat  Surabaya dalam batasan lingkup lokal semata.  Tapi juga bisa mengaitkannya dalam  konteks waktu bersejarah antara HUT gereja, peristiwa bersejarah 10 November, Bulan Budaya, atau juga peristiwa hari Reformasi secara global (dalam cakupan yang lebih luas lagi).

Dari peristiwa bersejarah di kota Pahlawan itu, kita juga bisa menemukan semangat kepahlawanan iman luar biasa yang bisa kita teladani. Ada kisah kontekstualisasi budaya yang juga hidup di sana. Bagaimana Injil, Kabar Baik itu akhirnya bisa masuk dan diterima orang-orang Jawa, di tengah peraturan larangan Pekabaran Injil.

Jika hanya melihat segi geografis kewilayahan, GKJW Wiyung dan Surabaya (Gubeng) sebagai induk jemaat tua yang ada di Surabaya, yang kini sudah beranak cucu menjadi 15 jemaat itu, tentu tidak sebanding juga dengan total jemaat GKJW. Tetapi utang budi sejarah pada karya misi Johannes Emde dan Kelompok OSS (Orang Saleh Surabaya), maka konteksnya adalah global secara organisasi juga. Sebab, bukankah baptisan pertama tadi juga ditabalkan (dijadikan) sebagai peringatan Hari Cikal Bakal GKJW?

Komunitas OSS terbentuk awal mulanya  juga terjadi di bulan November ini. Beberapa literatur mencatatnya sebagai “titik awal misi kekristenan” (yang berawal dari Surabaya). Awalnya memang untuk golongan orang Eropa, tapi nantinya juga menyasar kepada komunitas orang-orang Jawa.

Merangkai beberapa peristiwa penting yang terjadi ini, maka momentum ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Mensyukuri atas peristiwa penting yang terjadi tepat 210 tahun lalu, yang berdekatan dengan momen HUT Gereja, kegiatan ini bisa menjadi aksi nyata atas perayaan iman yang patut menjadi perhatian pula.

Kira-kira nih, seberapa besar sih keminatan kita pada hal ini, terutama bagi para  pemangku kepentingan, orang-orang yang berada di tampuk kepemimpinan, garda terdepan yang punya gawe. Mereka yang bersentuhan langsung dengan para generasi yang perlu terus diajarkan dan dipahamkan tentang sejarah gereja sebagai identitas diri kebanggaannya.

SEKILAS CATATAN TENTANG EMDE DAN KARYANYA

Hari ini, 210 tahun lalu, literatur sejarah mencatat. “Sepuluh pria Kristen bersatu dalam sebuah perkumpulan bernama “de vromen van Soerabaija” alias kelompok “orang-orang saleh dari Surabaya” (OSS).” Pertemuan pertama mereka pada malam, tanggal 14 November 1815, menjadi momentum teramat penting dalam misi kekristenan dari Surabaya.

Kelompok OSS dipimpin oleh Johannes Emde. Pria asal Jerman ini lahir 18 Desember 1774 dan meninggal 28 April 1859; pada usia terhormat 84 tahun, 4 bulan, dan 3 hari. Dia dikenal sebagai tukang jam (horlogemaker) di Surabaya.

Kelompok ini lahir dari kebutuhan pembinaan bersama dan persekutuan Kristen. Mereka berkeinginan menjadi saksi bagi iman dan kehidupan Kristen, baik bagi orang Eropa maupun pribumi. Buah ketekunan mereka, pada 1825 (sepuluh tahun sejak pertemuan awal), jemaatnya sudah beranggotakan 117 pria, wanita, dan anak-anak.

Pekerjaan misinya dan jasanya yang luar biasa adalah penerjemahan Alkitab; disebut “Perjanjian Baru Surabaya”, yang selesai pada tahun 1840. Banyak tentangan yang ia hadapi selama 13 tahun itu. Namun mereka begitu gigih, dalam semangat yang tak pernah padam.

Emde sadar, tidak hanya misi luar yang diperhatikan, tapi juga kebutuhan membawa Kabar Baik bagi orang-orang di sekitar Surabaya. Ia membuktikan bahwa misi internal dan eksternal dapat dijalankan bersamaan dengan hasil yang baik.

Melalui pernikahannya dengan wanita Jawa, Emde merasa perlu menyampaikan Kabar Baik itu kepada komunitas Jawa. Dengan bantuan istri dan putri tunggalnya, ia menerjemahkan risalah dari bahasa Belanda ke bahasa Jawa, dan mendistribusikannya secara luas. (Catatan: di tengah budaya patrilineal, peran wanita dalam misi kekristenan ini juga patut jadi perhatian sebagai bagian dari budaya).

Komunitas Jawa sangat menghormati Emde sebagai bapak rohani mereka. Ketika jalan di depan rumahnya rusak, orang-orang Jawa segera membantu memperbaikinya tanpa diminta. Banyak warga Surabaya yang sebelumnya mengejeknya akhirnya bungkam, bahkan menunjukkan rasa hormat terhadapnya.

Karya Emde begitu luar biasa dalam pekerjaan misi. Bahkan ia juga disebut “Bapak para Misionaris”. Sedemikian hebatnya karya Emde, sehingga kawasan tempat tinggalnya dinamakan Jalan Emde alias Emdestraat oleh pemerintah kolonial Belanda. Sayang, Pemkot Surabaya belum jua memajang nama lama ini sebagai penyanding nama baru dalam revitalisasi kawasan kota lama Surabaya. Secara institusi yang paling dekat dalam kaitan sejarah, ini menarik. Tentu saja GKJW punya kans besar untuk mengangkat kembali pamornya.

Peta keluaran tahun 1866 ini secara jelas menulis nama jalan Emdestraat (Jalan Emde).

Tentu banyak cerita lain yang tak mungkin disadur dalam artikel ini. Karya luar biasa itu patut diangkat ke permukaan sebagai bagian dari sejarah gereja, yang tak bisa terpisahkan  begitu saja. Mari mengenang dan merayakan peristiwa besar bersejarah itu bersama-sama atas dedikasi dan perjuangannya yang tiada tara dalam mewartakan Kabar Baik. Hingga kita sebagai generasi penerusnya besama melangkah dalam iman dan harapan yang sama dalam Kristus…

Surabaya, 14 November 2025 : Refleksi 210 Tahun Misi Kekristenan dari Surabaya
oleh
Hendra Setiawan

Catatan : Referensi buku https://tamanpustakakristen.com/surabaya-jejak-sejarah-munculnya-kekristenan-jawa-mula-mula/

Dibawah ini video Mengenang 210 Tahun Karya Misi Kekristenan Mula-Mula dari Surabaya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak