Melihat Tuhan dalam Wajah Pasangan Integrasi Pendekatan Phototherapy & Narrative Therapy dalam Konseling Pastoral Pranikah melalui kartu Point of You® Indonesia

22 September 2025

Tradisi pastoral memahami bahwa pernikahan bukan sekadar kontrak sosial, melainkan panggilan spiritual yang mencerminkan hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya (Efesus 5:25-33). Panggilan ini dapat menjadi medan pertumbuhan rohani bersama. Namun, banyak pasangan hanya fokus pada aspek praktis atau emosional tanpa membangun fondasi spiritual yang kuat. Dengan demikian, diperlukan sebuah pendekatan kreatif yang dapat menggugah kesadaran rohani secara lebih mendalam; mempersiapkan pasangan membangun relasi yang mencerminkan kehadiran Allah. Sebuah tantangan besar dalam pelayanan pranikah adalah membantu pasangan melihat satu sama lain bukan hanya sebagai obyek cinta, melainkan sebagai pribadi yang dikasihi Allah. Ide spiritual ini sejalan dengan pemikiran Henry J.M. Nouwen, yang menekankan pentingnya memandang sesama—termasuk pasangan hidup—sebagai refleksi kasih dan kehadiran Tuhan. Menurutnya, ketika seseorang belajar mengenali Allah dalam kerapuhan, luka, dan keberadaan orang lain, ia sebenarnya sedang menghidupi spiritualitas relasi yang mendalam. Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor pastoral, kerap saya menjumpai pasangan pranikah yang banyak disibukkan oleh persiapan administratif, emosional dan logistik menjelang peristiwa pernikahan. Mereka kurang terbiasa memaknai relasi mereka secara rohani dengan lebih mendalam. Mereka membutuhkan pertolongan untuk masuk dalam refleksi spiritual yang lebih mendalam.

Dalam dunia konseling dan terapi reflektif, phototherapy merupakan salah satu metode yang mulai mendapat tempat. Metode ini menggunakan gambar visual sebagai pemantik untuk eksplorasi makna, emosi, dan pengalaman personal. Salah satu tool yang bisa dipakai dalam membantu mereka adalah menggunakan kartu-kartu  Indonesia dalam sesi konseling pastoral pranikah. Ada dua jenis pernyataan reflektif yang digunakan. Satu pertanyaan bersifat linier, yakni “Bagaimana Anda menemukan Tuhan dalam diri Anda?”, atau “Bagaimana Anda

Konseling Keluarga-Membangun Relasi untuk Saling Memandirikan Antaranggota Keluarga, Kathryn Geldard & David Geldard, Pustaka Pelajar, 2011, Yogyakarta (hal. 58). Pengajuan pertanyaan bersifat linier menguntungkan model intrapsikis untuk menemukan hal yang lebih banyak tentang seorang individu melihat Tuhan dalam diri pasangan Anda?” Pertanyaan reflektif lain bersifat sirkuler, “Bagaimana Anda melihat bahwa pasangan Anda menemukan Tuhan dalam dirinya?”, atau “Bagaimana Anda melihat bahwa pasangan Anda melihat Tuhan dalam diri Anda?” Melalui sesi konseling ini, kita menemukan bahwa gambar-gambar simbolik dalam kartu  Indonesia membuka ruang perenungan yang jujur dan menyentuh. Ketika peserta memilih kartu secara acak (face down), dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi dan iman mereka, tercipta dialog naratif yang memperlihatkan dinamika kasih, harapan, luka, dan penemuan rohani dalam relasi. Proses ini bukan hanya menumbuhkan kedekatan emosional, tetapi juga memperdalam pemahaman pasangan tentang pernikahan sebagai medan spiritual.

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan penerapan pendekatan phototherapy dalam konseling pastoral pranikah dengan memadukan simbol visual, narasi spiritual, dan refleksi iman berdasarkan spiritualitas Henry J.M. Nouwen.  Penekanan utama tulisan ini untuk menjelaskan bagaimana metode tersebut dapat membantu pasangan melihat relasi mereka sebagai ruang sakramental, di mana kasih Tuhan hadir, dihayati, dan diwartakan. Media kartu Point of You dimanfaatkan sebagai sarana visual yang memantik asosiasi personal sekaligus membuka ruang dialog batin, di mana pasangan dapat merefleksikan pengalaman, pengharapan, maupun kekhawatiran yang tersimpan. Integrasi dengan pendekatan narrative therapy bertujuan membantu pasangan menyadari bahwa mereka tidak hanya hidup dalam pengalaman-pengalaman terpisah, melainkan dalam sebuah kisah bersama yang terus dituliskan. Melalui proses bercerita, mendengar, dan membingkai ulang narasi, pasangan diajak menyingkap makna baru dari pengalaman masa lalu, mengidentifikasi narasi yang membatasi pertumbuhan relasi, serta membangun “cerita alternatif” yang meneguhkan iman dan kasih. Dengan demikian, integrasi ini tidak hanya memperkaya refleksi personal, tetapi juga menolong pasangan merumuskan identitas relasional yang lebih sehat, penuh pengharapan, dan berorientasi pada panggilan Allah.

 

Artikel Melihat Tuhan dalam Wajah Pasangan dapat dibaca di bawah ini dan diunduh di sini.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak