Menjaga 4 Pilar Kebangsaan sebagai Panggilan Iman

18 October 2021

Dari kiri ke kanan: Pdt. Retnosari (Wakil Ketua Majelis Agung GKJW), Dr. Ahmad Basarah (Wakil Ketua MPR RI), Pdt. Tjondro Gardjito (Ketua Majelis Agung GKJW), dan Bpk. I Made Rian Diana Kartika (Ketua DPRD Kota Malang).

Greja Kristen Jawi Wetan pada tanggal 13 Oktober 2021 menerima kunjungan Dr. Ahmad Basarah (Wakil Ketua MPR RI; Anggota DPR RI) dan Bpk. I Made Rian Diana Kartika (Ketua DPRD Kota Malang). Kedatangan mereka ialah untuk menyosialisasikan “Empat Pilar Kebangsaan”

“Empat Pilar Kebangsaan” tersebut ialah: Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NKRI (setelah perubahan), NKRI sebagai bentuk negara yang final, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam hidup berbangsa.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh para pendeta dan vikar se-GKJW itu, Dr. H. Ahmad Basarah menceritakan bahwa diawal masa reformasi muncul diagnosa politik yang kurang tepat. Saat itu, Pancasila /P4 dianggap sebagai milik pemerintahan Orde Baru sehingga pada tahun 2003 diadakan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mencabut mata pelajaran Pancasila dari mata pelajaran wajib. Sejak saat itu, Pancasila menghilang dari memori kolektif bangsa.

Ditengah situasi demikian, pada tahun 2009, muncul inisiatif dan prakarasa untuk menyosialisasikan kembali nilai luhur hidup berbangsa dan bernegara bagi warga negara. Sosialisasi ini menjadi penting di tengah munculnya idelogi-ideologi transnasional yang berlawanan dengan nilai-nilai persatuan dan memecah belah persatuan hidup berbangsa ditengah kemajemukan.

Bertema “Jas Merah (jangan sekali kali melupakan sejarah) Kristen, Pancasila dan Indonesia Raya”, Dr. H. Ahmad Basarah menceritakan kembali bagaimana bangsa Indonesia didirikan. Tidak sedikit tokoh-tokoh Kristen yang memperjuangkan kemerdekaan dan turut terlibat membangun bangsa Indonesia menjadi negara nasionalis religius. Maka, “Empat Pilar Kebangsaan” adalah sebuah pengakuan dan upaya menghadirkan “yang berbeda” bersama kita, sebab semua agama diakui dan dilindungi dalam bingkai Pancasila.

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Tjondro F. Garjito menyampaikan bahwa Bulan Oktober sebagai Bulan Ekumene dihayati bukan saja sekadar urusan relasi dengan sesama gereja berbagai denominasi tetapi juga urusan relasi dengan seluruh ciptaan. Juga bukan sebuah kebetulan jika pada Bulan Oktober kita merayakan sumpah pemuda sebuah peringatan kesatuan untuk memperjuangkan karya bersama bagi terwujudnya NKRI. Maka, memahami religiositas dan kebangsaan adalah dua hal yang tidak bertentangan. Sebab menjaga bangsa adalah panggilan beriman umat percaya.

Selain itu, Pdt. Tjondro juga menyampaikan permohonan kepada Bpk. Ahmad Basarah berkenan memberikan dukungan dalam pewujudan Lembaga IPTh. Balewiyata milik GKJW ini untuk menjadi Institut Pendidikan Teologi formal yang nantinya menjadi salah satu tempat belajar teologi kontekstual yang berakar dan bertumbuh di tengah konteks Indonesia. Permohonan bantuan juga ditujukan kepada Ketua DPRD Kota Malang, Bpk. I Made Rian Diana Kartika untuk membantu proses Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GKJW Jemaat Kedungkandang, sehingga warga jemaat semakin bersemangat untuk mewujudkan panggilannya sebagai bagian dari bangsa ini.

 Sebagai wujud syukur atas perjuangan para pendiri bangsa dan kemerdekaan yang diberikan Allah segala bangsa, rangkaian acara ditutup dengan menyanyikan lagu “Bagimu Negeri”. Lagu ini mengundang setiap kita untuk mengikrarkan komitmen menjaga persatuan NKRI dengan mengabdi, berjanji dan berbakti pada negeri.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak