Kultur Sebagai Perekat Hubungan Antar Umat Beragama Perjumpaan Muslim-Kristen Jerman & Indonesia

Tanggal 16-28 Pebruari 2015 Greja Kristen Jawi Wetan melalui IPTh Balewiyata menjadi tuan rumah Pertemuan Muslim-Kristen Jerman dan Indonesia. Sebanyak 15 orang (12 Kristen & 3 Muslim) dari Jerman dan 9 orang Indonesia (5 Kristen & 4 Muslim) mencoba menggumuli tema „Kultur – Graben oder Klammer zwischen den Religionen? (Kultur – Pemisah atau perekat hubungan umat beragama?)“.

Kunjungan/pertemuan sebenarnya ini adalah bagian program pembinaan Pastoralkolleg yang ditawarkan gereja-gereja Jerman (EKiR, EKvW, ERK & LL) untuk pendeta-pendetanya. Khusus untuk pertemuan di Balewiyata ini, Gereja Jerman merasa perlu juga melibatkan pula beberapa orang muslim dari Jerman sebagai bagian dari usaha perjumpaan antar umat beragama. Seperti juga di Indonesia, Kristen dan Islam juga hidup berdampingan di Jerman. Usaha-usaha membangun dialog antar umat beragama juga dilakukan di negara ini.

Dalam pertemuan selama 12 hari itu, peserta diajak untuk mengalami langsung perjumpaan antar umat beragama khususnya Muslim dan Kristen di Jawa Timur. Mereka di bagi dalam empat kelompok yang masing-masing mengadakan kunjungan bermalam (live-in) di empat Pondok Pesantren yang dilanjutkan dengan live in di empat jemaat GKJW. Empat Pondok pesantren yang dikunjungi adalah: Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Pondok Pesantren Ngalah di Pasuruan, Pondok Pesantren Al Fitrah di Surabaya, dan Pondok Pesantren Singosari di Malang. Sementara empat jemaat GKJW yang dikunjungi adalah: Mojowarno, Sitodopo, Tunjung Sekar dan Lawang.

Selama live in peserta mengamati betapa besar peran kultur sebagai pengikat hubungan antar umat berbeda agama di Jawa Timur. Meskipun berbeda agama, masyarakat Jawa Timur kebanyakan disatukan oleh kultur yang sama. Kesamaan kultur itu menciptakan rasa tenggang rasa yang kemudian berujung pada dialog/ kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga:  Rekaman Langsung Festival Karawitan Bulan Pembangunan GKJW

Meski demikian, harus diakui bahwa tidak selamanya hubungan antar umat beragama di Jawa Timur berjalan mulus. Masih ada prasangka atau stereotyping yang timbul diantara umat berbeda agama. Untuk itulah, kegiatan saling mengenal perlu dilakukan agar masing-masing saling belajar.

Kehidupan bersama antar umat berbeda agama di Indonesia adalah kekayaan yang patut disyukuri dan dirawat.

Foto: Friedrich Tometten

 

 

Bagikan Entri Ini:

Entri Serupa:

Belajar dari Pondok Pesantren Al Ghozali Komisi Antar Umat (KAUM) GKJW berkunjung ke Pondok Pesantren Al Ghozali, Wates Kediri. Kunjungan itu dilakukan disela-sela rapat kerjanya pada tan...
Kaderisasi Pemuda Pelayan Gereja 2018 Sebanyak 86 pemuda-pemudi utusan dari berbagai jemaat GKJW mengikuti kegiatan “Kaderisasi Pemuda Pelayan Gereja” di IPTh. Balewiyata tanggal 20 hi...
Studi Kristen – Islam Tentang Budaya dan Aga...   Institut Pendidikan Theologia Bale Wiyata Greja Kristen Jawi Wetan  bekerja sama dengan United Evangelical Mission (Persekutuan Misi Pro...
Festival Karawitan Bulan Pembangunan GKJW IPTh. Balewiyata pada tanggal 12 Agustus 2017 lalu telah mengadakan festival karawitan dalam rangka bulan pembangunan Greja Kristen Jawi Wetan. Sebany...