Greja Kristen Jawi Wetan mengutus Pdt.Yosua Anggi Hermanto, S.Si. Theol. untuk mengikuti kegiatan pelatihan bersertifikat pemulihan trauma yang diselenggarakan oleh United Evangelical Mission (UEM). Program pelatihan ini, diikuti gereja-gereja anggota UEM dari Indonesia, Filipina, dan Sri Lanka, dengan total 17 peserta dari 17 gereja yang berbeda.
Kegiatan yang bertajuk: “Trauma Healing Training For Community Facilitators” ini rencananya akan diselenggarakan selama 1 tahun lamanya, yang mana pelaksanaannya akan dipadukan antara study intensif – onsite yang bertempat di Asrama UKDW, Seturan, Yogyakarta dan internship/magang di lembaga terdekat dengan tempat pelayanan masing-masing peserta.
Study intensifnya sendiri akan dilakukan selama 3 bulan pembelajaran, yang dibagi dalam 3 periode kegiatan. Periode pertama dilakukan pada tangal 18 Oktober – 17 November 2025. Periode kedua dilakukan pada tanggal 13 April – 8 Mei 2026. Sedangkan Periode ketiga pada tanggal 28 September – 16 Oktober 2026.
Menurut Rev. Godwin Ampony, Kepala Diakonia Internasional UEM, Gereja sering berada di garis depan dalam memberikan perawatan kepada mereka yang mengalami trauma; Entah itu karena bencana, kekerasan fisik, verbal, seksual, dll. Namun tanpa pelatihan yang memadai, upaya gereja mungkin hanya akan terbatas pada bantuan fisik semata, tanpa bisa menyentuh ranah emosional, mental, sosial dan spiritual para penyintas secara lebih mendalam.
Oleh karena itu, pelatihan bersertifikat ini berupaya mengatasi kurangnya fasilitator terlatih dan memberi keterampilan penyembuhan trauma. Dengan membangun tim fasilitator yang terampil, program ini akan memperkuat kapasitas gereja untuk menawarkan perawatan yang holistik, mendukung pemulihan psikologis, spiritual, dan sosial bagi para penyintas peristiwa traumatik.
Selain dibombardir dengan berbagai materi tentang trauma dan dampaknya, para peserta juga diajak untuk berkunjung ke Yayasan Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta) – yayasan yang menjadi rumah bagi orang dengan HIV/AIDS dan komunitas transgender. Selain itu, para peserta diajak pula untuk berkunjung ke Yayasan Imaji (Inti Mata Jiwa) – yayasan yang menangani masalah kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri.
Melalui materi dan perkunjungan yang dilakukan ini, para peserta berusaha disadarkan bahwa kasih yang memujud melalui tindakan nyata kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, haruslah lebih besar daripada stigma negatif dan diskriminasi itu sendiri. Sebagai gereja, tugas kita adalah untuk dapat senantiasa memanusiakan manusia dan memancarkan kasih Allah yang tanpa batas, yang membawa pada pemulihan dan pro-kehidupan.
Berita dan foto : Pdt. Pdt.Yosua Anggi Hermanto