SILI (Studi Intensif Lintas Iman) – Perempuan Agen Perdamaian terus berlanjut. Setelah mengikuti rangkaian pelatihan pada 2025, para peserta kini membawa pengalaman, wawasan, dan relasi lintas iman yang telah mereka bangun ke dalam komunitas masing-masing. Dari sana, lahirlah berbagai inisiatif yang berangkat dari kebutuhan di sekitar mereka dan komitmen bersama untuk merawat perdamaian. Sepanjang Juni hingga Juli 2026, Balewiyata menjadi ruang belajar dan berkumpul bagi tiga proyek yang diinisiasi dan diorganisasi oleh para peserta SILI.
Proyek pertama dilaksanakan pada 13–14 Juni 2026 mengusung semangat ‘Women Support Women’. Hari pertama menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan diri. Melalui diskusi kelompok kecil, meditasi bersama Antasilani, pemetaan karakter, dan refleksi pribadi, peserta diajak mengenali kekuatan diri sekaligus menghargai perjalanan hidup masing-masing. Sesi berbagi tentang perjuangan dan harapan menjadi momen penting bagi banyak peserta untuk menyadari bahwa, meskipun datang dari latar belakang dan keyakinan yang berbeda, mereka ternyata menghadapi banyak tantangan yang serupa dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran akan pengalaman bersama ini kemudian menjadi pintu masuk untuk berdiskusi lebih jauh tentang diskriminasi gender dan berbagai bentuk kepemimpinan perempuan, baik dalam keluarga, organisasi, maupun masyarakat. Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana aksi pribadi, di mana setiap peserta merumuskan langkah konkret yang dapat dilakukan di masyarakat masing-masing.
Proyek kedua, yang berfokus pada kepedulian terhadap lingkungan, dilaksanakan pada 12 Juli 2026 dengan mempertemukan sekitar 30 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang kepercayaan di Balewiyata dalam Workshop Ekologi: Merawat Rumah Bersama Melalui Eco-Enzyme. Peserta dari GKJW Kraksaan, GKJW Mojokerto, dan Daerah Malang mengikuti kegiatan ini sebagai Training of Trainers (ToT), dengan harapan dapat meneruskan pembelajaran dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut merawat lingkungan di wilayah mereka pada bulan berikutnya. Dipandu oleh Risma Yanti, Sekretaris Forum Kader Lingkungan (FKL) Kabupaten Malang, peserta belajar mengolah sampah organik dari sisa dapur dan kulit buah menjadi eco-enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami maupun pupuk.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa merawat bumi merupakan tanggung jawab bersama yang melampaui perbedaan agama dan latar belakang. Di sela-sela praktik, peserta tidak hanya belajar bersama, tetapi juga membangun relasi dan menikmati proses berproses sebagai satu kelompok. “Seru sekali, karena ini pertama kali ikut kegiatan ekologi. Apalagi bersama – sama dengan lintas iman,” ujar Tasya, peserta muda dari KPPM GKJW Talun.
Proyek ketiga pada 18–19 Juli 2026, dengan mempertemukan remaja putri berusia 14–20 tahun dari berbagai latar belakang kepercayaan. Melalui diskusi, permainan, dan role play, para peserta diajak mendalami kesadaran diri, pencegahan perundungan (anti-bullying), toleransi, dan kepemimpinan muda. Salah satu bagian berkesan adalah kunjungan ke STI Padepokan Dhammadīpa Ārāma. Bagi seluruh peserta, ini merupakan pengalaman pertama melangkah ke sebuah Vihara. Pertemuan dan dialog langsung bersama para Antasilani membuka ruang untuk mengenal pengalaman keagamaan yang sebelumnya mungkin terasa asing. Dari perjumpaan itu, pemahaman baru tumbuh dan prasangka mulai terkikis. Kegiatan ditutup dengan latihan kepemimpinan dan doa lintas iman yang dipimpin sendiri oleh para peserta. Bersama-sama, mereka meneguhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih empatik, menghargai perbedaan, berani menolak bullying, dan mampu menciptakan ruang yang aman bagi orang lain.
Tiga proyek ini memperlihatkan salah satu inti dari perjalanan SILI – Perempuan Agen Perdamaian: pembelajaran tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh justru menjadi awal untuk bergerak.Para peserta SILI kini mulai mengambil peran sebagai fasilitator dan penggerak di komunitas mereka. Melalui langkah-langkah sederhana namun nyata, saling mendukung, merawat lingkungan, dan membangun perjumpaan lintas iman, mereka menunjukkan bahwa perdamaian tumbuh dari cara kita saling mendengarkan, merawat, dan berjalan bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Berita :
Ardini Trisnawati (GKJW Jemaat Rungkut),
Dian Christiana (GKJW Jemaat Dampit),
Siska Tyas Chrisnari (GKJW Jemaat Singosari)