Greja Kristen Jawi Wetan dan Gus Dur memiliki banyak sejarah bersama di dalam proses pertumbuhan GKJW itu sendiri. Bahkan, hingga saat ini, kerja sama jemaat-jemaat dengan Gusdurian di berbagai daerah di Jawa Timur terus terjalin erat dan rukun. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi alasan bagi rekan-rekan Komisi Antar Umat (KAUM) Majelis Agung bersama dengan Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Natael. Wakil Sekretaris Umum, Pdt. Kristanto, dan Sekretaris Bidang Lintas Bidang, Pdt. Agus Budi K. melakukan kunjungan ke Seknas Gusdurian yang ada di Yogyakarta pada Senin, 20 Juli 2026. Pertemuan bersama ini dimulai pukul 10.00 WIB di Yogyakarta dengan disambut dari teman-teman yang ada di Seknas. Acara pertemuan ini dipandu oleh Bp. Aulia Abdurrahman Soleh dari seknas Gusdurian yang kemudian mempersilahkan kedua pemimpin “rombongan”, yaitu Pdt. Natael dan Bp. Jay Akhmad untuk duduk di depan dan memperkenalkan anggota masing-masing.
Rekan-rekan dari Seknas Gusdurian memperkenalkan diri masing-masing juga ruang-ruang dan kegunaannya di Seknas termasuk Gerakan mereka dalam menampung dan mengolah air hujan. Teologi Air Hujan yang mereka ilhami dalam Gerakan ini adalah bahwa air hujan adalah air yang diberikan oleh Tuhan. Maka, sebagai ciptaan Tuhan juga maka hendaknya air itu dapat ditampung dan dimanfaatkan dengan baik. Mereka memili 3 tandon dengan masing-masing kapasitas sebanyak 3000 L yang digunakan untuk menampung air hujan yang kemudian dikelola menjadi air minum.
Setelah rekan-rekan dari Seknas selesai memperkenalkan diri, maka bergantian dengan rombongan GKJW yang memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan secara lebih mendetail. Bagi Pdt. Ayub, pertemuan ini sangat penting diadakan mengingat dulu sewaktu Gus Dur pernah menjadi salah satu pengajar di IPTh Balewiyata pada tahun 1974-1981 pada ilmu Islamologi yang kemudian ajaran itu menjadi embrio pergerakan yang positif secara nasional dan karena di 2012 menjadi titik awal pertemuan GKJW dengan Gusdurian setempat ketika Pdt. Natael melayani di GKJW Jemaat Sidoarjo. Disambung dengan pernyataan Bp. Niko bahwa Gusdurian di daerah-daerah kini memang terasa sangat dekat, terlebih ketika jemaat-jemaat di beberapa tempat sudah mulai bekerja sama dengan Gusdurian sampai ketika Balewiyata pernah menjadi tempat Haul bersama Ibu Sinta. Melihat sejarah, relasi, dan kepentingan yang ada maka bagi Pdt. Agus Budi dirasa perlu sekali memasukkan materi mengenai Gerakan Gusdurian bagi para calon vikar GKJW.
Bagaikan gayung yang bersambut, Bp. Jay Akhmad menyabut baik maksud kedatangan perwakilan dari GKJW ini. Bagi beliau yang mengutip pernyataan mbak Alissa (Wahid) Gusdurian itu tidak hanya nahdliyyin (para pengikut, anggota, simpatisan, dan warga yang mengidentifikasikan dirinya dengan Nahdlatul Ulama (NU) tetapi juga diisi dengan teman-teman lintas agama. Harapannya, ini menjadi semacam prototipe baru bahwa Gusdurian sendiri tidak hanya berisi orang-orang Muslim atau NU saja, melainkan jug teman-teman lintas agama. Bahkan muncul candaan bahwa GKJW bisa juga menjadi akronim dari Gusdurian Kristen Jawi Wetan. Rekan-rekan Seknas berharap kiranya Gerakan Gusdurian yang sudah berjalan baik di Jawa Timur yang banyak bekerja sama dengan jemaat-jemaat GKJW dapat juga diikuti oleh Gerakan gusdurian Jawa Timur bersama dengan jemaat-jemaat lain yang mungkin belum terjalin dan harapannya juga dapat diikuti oleh Gerakan Gusdurian di luar Jawa Timur juga.
Pertemuan ini ditutup dengan kisah-kisah Gus Dur yang masing-masing diceritakan oleh Bp. Jay Akhmad dan Pdt. Natael. Bagi Bp. Jay Akhmad, pertemuan awal ini menandai hal baik untuk banyaknya kunjungan, kawan, dan relasi bersama GKJW di masa yang akan datang. Bagi Pdt. Natael, Majelis Agung GKJW menyambut baik segala maksud baik dari rekan-rekan Gusdurian termasuk ketika mereka akan berkunjung ke kantor sinode GKJW yang menjadi kesempatan bagi para pendeta di kantor untuk membuat kopi bersama, guyonnya. Pertemuan ini diakhir dengan semboyan Gusdurian: “Gus Dur sudah meneladankan, saatknya kita melanjutkan.”