Bacaan: Roma 13 : 1 – 7 | Pujian: KJ. 336
Nats: “Tiap-tiap orang harus tunduk kepada para penguasa yang di atasnya, sebab tidak ada penguasa yang tidak berasal dari Allah.” (Ayat 1)
Pernahkah saudara mengeluh tentang rusaknya jalanan, kacaunya aturan, atau kebijakan pemerintah yang menurut saudara tidak masuk akal? Mengkritik memang mudah, bahkan seringkali menjadi hobi baru di kolom komentar media sosial. Namun, ada satu pertanyaan tajam bagi kita: “Mau dibawa ke mana negeri ini jika rakyatnya sendiri tidak mau percaya, tidak mau mendukung, apalagi mendoakan?” Jika terus-menerus mengutuki “atap” rumah kita sendiri, maka jangan heran jika suatu saat nanti kita yang tinggal di dalamnya akan kehujanan.
Dalam Roma 13:1-7, Rasul Paulus memberikan navigasi bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Secara spesifik Paulus menguraikan alasan mengapa umat Tuhan harus takluk kepada pemerintah. Pertama, otoritas pemerintah berasal dari Allah, sehingga melawan otoritas berarti melawan ketetapan Allah (Ay. 1-2). Kedua, pemerintah disebut sebagai “hamba Allah” yang tugasnya adalah menekan kejahatan dan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat (Ay. 3-4). Oleh karena itu, ketaatan kita bukan hanya karena takut akan hukuman, tetapi demi suara hati yang bersih (Ay. 5). Paulus menutup bagian ini dengan perintah praktis: membayar pajak, cukai, serta memberikan rasa hormat dan segan kepada mereka yang berhak menerimanya (Ay. 6-7). Bagi Paulus, ini bukan berarti pemerintah selalu sempurna, namun mengajarkan bahwa ketaatan dan dukungan kita kepada pemerintah adalah bentuk pengakuan kita atas kedaulatan Allah. Kita sering lupa bahwa kesejahteraan negeri adalah kesejahteraan kita juga. Jika kita bersikap apatis, melanggar aturan dengan bangga, atau menolak membayar kewajiban, kita sebenarnya sedang “menikam” kesejahteraan rumah kita sendiri.
Di bulan Kitab Suci ini, mari kita periksa kembali isi hati kita. Apakah Alkitab yang kita baca sudah mengubah cara kita memandang Indonesia? Mengaku cinta Firman Tuhan tetapi terus-menerus menyebar pesimisme dan kebencian terhadap otoritas pemerintah adalah sebuah kontradiksi iman. Ingatlah, kesejahteraan negeri adalah kesejahteraan kita juga. Saat kita mendoakan dan mendukung pemerintah, kita sedang mengusahakan kebaikan untuk hidup kita sendiri. Mari berhenti menjadi beban bagi negeri, mulailah menjadi berkat melalui integritas diri. Jadilah warga negara yang taat bukan karena dipaksa, tetapi karena kita sadar bahwa itulah cara kita memuliakan Allah di bumi Nusantara ini. Amin. [tma].
“Jangan mengutuki kegelapan di rumahmu tapi nyalakanlah lilin ketaatan.”