Menjadi Sahabat Jiwa Sekolah Pamong IPTH. Balewiyata GKJW 2026

8 June 2026

Institut Pendidikan Theologi Balewiyata (IPTh. Balewiyata) Greja Kristen Jawi Wetan menggelar Camp Sekolah Pamong GKJW yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 5 hingga 7 Juni 2026, di kantor Majelis Agung GKJW-Malang. Dengan mengangkat tema besar “Menjadi Sahabat Jiwa”, kegiatan ini ditujukan untuk membekali para pamong anak dan remaja dalam meningkatkan kualitas pelayanan pastoral bagi generasi muda.

Diawali kebaktian pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Yulius Setyo Nugroho dan dilanjutkan sesi pembuka yang dibawakan oleh Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, Direktur IPTh Balewiyata, menyoroti urgensi Spiritual Companionship bagi para pamong. Pdt. Hardiyan menekankan bahwa sebagai bagian dari keluarga Allah, pamong memiliki tanggung jawab fundamental untuk meneladani kasih Allah Trinitas.

Di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan, trauma, dan luka batin, para pamong didorong untuk mampu menciptakan circle of love (lingkaran kasih) dan circle of trust (lingkaran kepercayaan) di dalam jemaat. Melalui sesi ini, peserta dibekali dengan kerangka konseptual spiritualitas yang praktis, sehingga mereka tidak hanya sekadar mengajar, tetapi mampu menjadi sahabat jiwa yang mampu mendampingi, menyembuhkan, dan menguatkan sesama yang sedang berada dalam kerapuhan.

Pada hari kedua, Pdt. Jennifer Fresy Porielly Wowor, Ph.D., akademisi dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, membedah dinamika Pamong sebagai Sahabat Anak. Beliau menegaskan bahwa relasi antara pamong dan anak bukanlah hubungan satu arah, melainkan kemitraan yang saling menghidupkan.

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah urgensi untuk mendengarkan suara anak secara autentik, termasuk perhatian khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas yang sering kali belum terakomodasi dengan baik dalam pelayanan gereja. Dengan memadukan kajian psikologi perkembangan, para pamong diajak untuk merumuskan metode pengajaran yang inovatif, efektif, dan relevan dengan kebutuhan anak di masa kini.

Selanjutnya, Pdt. Musa Wahyu Bimantoro, S.Si., dari Sekbid Koinonia, menyampaikan materi kritis mengenai Gereja Ramah Anak. Beliau melakukan refleksi mendalam mengenai realitas di banyak gereja yang sering kali secara tidak sadar memosisikan gereja sebagai ruang eksklusif bagi orang dewasa. Dampaknya, kehadiran anak sering kali terpinggirkan dan dianggap sekadar pelengkap.

Pdt. Musa mengajak para pamong untuk mendekonstruksi pemahaman tersebut dan mewujudkan gereja yang sejati—gereja yang memerhatikan seluruh warga jemaat, termasuk anak, dengan segenap hati menciptakan persekutuan yang saling peduli, menopang, dan membangun satu sama lain.

Rangkaian materi ditutup oleh Pdt. Dikky Agung Triatmodjo, M.Th., dari Puslitmuger IPTh Balewiyata, yang membahas topik Liturgi dan Anak. Pdt. Dikky menggarisbawahi bahwa liturgi pada hakikatnya bersifat pastoral. Artinya, setiap elemen dalam liturgi tidak boleh hanya menjadi rutinitas seremonial, melainkan harus memiliki daya topang, kekuatan, dan penyembuhan bagi mereka yang hadir. Para pamong diajak untuk merancang liturgi yang ramah anak, termasuk mempertimbangkan kebutuhan spesifik anak berkebutuhan khusus, agar setiap anak dapat mengalami perjumpaan yang bermakna dengan Tuhan di dalam ibadah.

Pada hari terakhir, Minggu, 7 Juni 2026, para peserta melakukan field trip ke jemaat-jemaat setempat. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi pamong untuk melakukan pengamatan langsung terhadap penatalayanan kebaktian anak dan remaja yang telah berjalan.

Seluruh rangkaian Camp Sekolah Pamong GKJW diakhiri dengan Kebaktian Penguatan dan Altar Call yang dipimpin oleh Pdt. Dikky Agung Triatmodjo. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pamong yang hadir dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk mewujudkan pelayanan yang lebih inklusif dan solutif di masing-masing jemaat

Renungan Harian

Renungan Harian Anak