Segenap warga Jemaat GKJW Tulangbawang bersekutu bersama dalam Ibadah yang penuh khidmat guna mengiringi langkah Pdt. Tjondro Firmanto Gardjito, S.Th. memasuki masa purna tugas sebagai pendeta aktif di ruang lingkup pelayanan Greja Kristen Jawi Wetan pada hari Minggu, 07 Juni 2026, di GKJW Jemaat Tulangbawang.
Ibadah dan prosesi yang menjadi penanda hadirnya babak baru dalam perjalanan pelayanan Pdt. Tjondro tersebut tidak hanya warga Jemaat Tulangbawang, segenap kolega pendeta GKJW dan tamu undangan khusus juga turut menjadi saksi atas momen istimewa yang terjadi pada hari ini.
Dilahirkan di Ponorogo pada 4 Juni 1966, Pdt. Tjondro mengawali perjalanan panggilannya dengan memulai studi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana pada tahun 1988. Ia kemudian ditahbiskan di GKJW Jemaat Pare pada 9 Juli 1995. Sejak saat itulah Pdt. Tjondro mendapatkan berbagai macam tugas dan panggilan di berbagai bidang pelayanan.
Selama lebih dari tiga dekade, Pdt. Tjondro telah menunaikan tanggung jawab pelayanan di berbagai tempat dan ruang lingkup pelayanan GKJW, dimulai dari pelayanan di jemaat, Pdt. Tjondro ditugaskan untuk melayani GKJW Jemaat Tempursari, terhitung mulai tahun 1995–sampai dengan tahun 2003. Mengingat masa pelayanan yang mencukupi, melalui keputusan sidang Majelis Agung, Pdt. Tjondro kemudian ditugaskan untuk melayani GKJW Jemaat Madiun.
Masa pelayanan di GKJW Jemaat Madiun (2003-2004), dan setelahnya beliau terpilih menjadi Sekretaris Umum Majelis Agung (2004–2010), Wakil Sekretaris Umum (2010-2013). Mengingat persidangan Majelis Agung kembali memandati beliau untuk menjalankan panggilan khusus untuk memimpin roda organisasi di Majelis Agung, Pdt. Tjondro pun terpilih menjadi Ketua Majelis Agung selama tiga periode berturut-turut (2013–2022). Perjalanan pelayanan tersebut kemudian ditutup dengan masa pelayanan di GKJW Jemaat Tulangbawang (2022–2026).
Dalam khotbah bungsu yang didasarkan pada Yohanes 21:15-19, Pdt. Tjondro merefleksikan sebuah istilah yang lahir lewat permenungan Petrus dengan Tuhan Yesus. Menurut tradisi, pada masa penganiayaan umat Kristen di Roma di bawah Kaisar Nero, para pengikut Petrus mendesak agar Petrus melarikan diri dari kota demi keselamatannya.
Petrus akhirnya memutuskan untuk menuruti saran tersebut dan berjalan keluar dari Roma. Dalam perjalanan keluar dari Roma, Petrus dikisahkan bertemu dengan Yesus yang sedang berjalan masuk ke dalam kota. Petrus sangat terkejut dan bertanya kepada-Nya: “Quo Vadis, Domine?” (Ke mana Engkau pergi, Tuhan?). Yesus menjawab Petrus dengan berkata: “Venio Romam iterum crucifigi.” (Aku datang ke Roma untuk disalibkan kembali.)
Mendengar jawaban tersebut, Petrus segera menyadari bahwa ia telah mencoba lari dari panggilannya untuk menggembalakan domba-domba Tuhan, bahkan hingga harus menderita bagi-Nya. Merasa malu karena Tuhan justru kembali ke Roma untuk menghadapi penderitaan demi umat-Nya, Petrus akhirnya berbalik arah, kembali masuk ke Roma, dan bersedia menerima kemartirannya dengan disalibkan (menurut tradisi, ia disalibkan terbalik).
Momen berhenti dan bertanya “Quo Vadis” di tengah dinamika pelayanan adalah langkah pemurnian untuk melepaskan ego dan beban yang bukan menjadi porsi kita. Dengan menyadari bahwa Kristuslah pemilik sejati kawanan domba-Nya, seorang pelayan dimampukan untuk tetap setia menggembalakan umat sekalipun di tengah tantangan yang tidak nyaman.
Pada akhirnya, pelayanan bukanlah tentang seberapa jauh seorang pelayan bisa memimpin, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan di belakang Kristus, mengikuti ke mana pun dia memanggil kita untuk melayani dengan ketulusan hati. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga jemaat yang hadir bahwa perjalanan pelayanan, dengan segala dinamika dan tantangannya, merupakan wujud nyata dari kasih karunia Allah yang senantiasa menuntun dan menyertai umat-Nya dari awal hingga garis akhir.
Sungguh menjadi kesan tersendiri, ketika di akhir kotbahnya, Pdt. Tjondro turun dari mimbar, dan bersama dengan beberapa anggota Majelis Jemaat dan singer menyanyikan lagu “Satu” yang dipopulerkan oleh Dewa sebagai sebuah ajakan supaya setiap orang mau menyadari bahwa keberadaan dirinya dengan Tuhan sejatinya adalah satu, sehingga orang pun senantiasa mampu menjalani hidup sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.
Perjalanan panjang ini tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga. Pdt. Tjondro yang menikah dengan Ibu Wahyu Susilaningtyas di Yogyakarta pada 31 Oktober 1997, dikaruniai tiga orang buah hati: Aditya Virgiawan Firmanto, Ian Ardhiya Firmanto, dan Annindira Zerlinda Putri. Kesetiaan dan kehadiran anggota keluarga menjadi pilar kekuatan yang tak tergoyahkan dalam setiap babak pelayanan yang beliau jalani.
Momen puncak dari Ibadah emeritasi tersebut adalah dibacakannya Surat Keputusan Emeritasi oleh Sekretaris Umum Majelis Agung GKJW, diikuti dengan prosesi doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Majelis Agung, Pdt. Natael Hermawan Prianto, MBA. Setelah seluruh rangkaian ibadah berakhir, Pdt. Tjondro dengan didampingi segenap anggota keluarga menyampaikan kesan dan pesannya, diikuti dengan respon dari perwakilan PHMJ Tulangbawang, PHMD Malang III Barat dan juga anggota PHMA.
Ibadah Minggu sekaligus prosesi emeritasi di GKJW Jemaat Tulangbawang tersebut menjadi momen refleksi bersama mengenai kesetiaan dalam panggilan. Prosesi pelepasan struktural dilakukan dengan khidmat sebagai bentuk syukur atas perjalanan yang telah ditempuh. Setelah ibadah ini, Pdt. Tjondro Firmanto Gardjito kini secara resmi menyandang status sebagai Pdt. Em. (Pendeta Emeritus). Meski secara struktural telah purna tugas, status kependetaannya tetap melekat. Sebagai pendeta fungsional, beliau tetap menjadi bagian dari keluarga besar GKJW dan akan terus berpartisipasi dalam pelayanan gerejawi dengan ruang lingkup yang berbeda.
Video Kebaktian Emeritasi Pendeta Tjondro F. Gardjito dapat diikuti melalui link dibawah ini