Direngkuh dan Dibangkitkan dari Titik Terendah Khotbah Minggu 22 Maret 2026

9 March 2026

Minggu Pra Paskah 5
Stola Ungu

Bacaan 1: Yehezkiel 37 : 1 – 14
Mazmur: Mazmur 130
Bacaan 2: Roma 8 : 6 – 11
Bacaan 3: Yohanes 11 : 1 – 45

Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Direngkuh dan Dibangkitkan dari Titik Terendah

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yehezkiel 37 : 1 – 14
Yehezkiel hidup di Yerusalem di masa penyerangan pertama Babel atas Yerusalem. Ia merupakan salah satu tawanan yang dibawa ke pembuangan pada gelombang pertama. Lima tahun sesudahnya, menjelang ditahbiskan sebagai imam, Yehezkiel mendapat penglihatan di tepi kanal air (sungai Kebar) kemah orang-orang Israel. Yehezkiel melihat awan badai mendekat dan empat makhluk bersayap yang masing-masing memiliki empat wajah. Sayap itu menopang tahta, tempat sesosok makhluk yang hampir menyerupai manusia duduk di atasnya, berkilauan dan dikelilingi api. Yehezkiel menyebutnya “gambar kemuliaan Tuhan” (Ibrani: kavod yang biasanya identik dengan wujud tanda kehadiran Allah ketika Ia datang secara pribadi).

Yehezkiel harus memperingatkan Israel bahwa mereka telah melanggar perjanjian dengan Allah, dengan berpaling pada illah lain dan menyembah berhala. Imbasnya, ketidakadilan sosial dan kekerasan merajalela. Akibatnya, serangan pertama akan berlanjut dengan serangan kedua di mana Yerusalem dan Bait Sucinya akan hancur. Pesan itu tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga aksi teatrikal Yehezkiel di depan umum yang menggambarkan kejahatan atau dosa-dosa Israel (lih. pasal 4-5). Sayangnya, umat Israel akan mengeraskan hati, enggan mendengarkan peringatan-peringatannya. Dalam penglihatan-penglihatan berikutnya, ketidaksetiaan Umat Israel kepada Allah dan hati yang berpaling pada dewa-dewa kesia-siaan, temasuk Tamus (dewa Babel) telah mendukakan hati Allah sehingga Ia meninggalkan Bait Suci.

Pemberontakan Umat Israel mendatangkan malapetaka, yaitu kehancuran mereka oleh karena pembuangan dan serangan Babel. Namun, meski kehancuran tidak bisa dihindari, Allah yang ‘marah’ itu tetap tidak mengabaikan umat-Nya. Ia membersamai mereka dalam pembuangan. Berjanji akan mengembalikan sisa-sisa Israel ke tanah perjanjian dan akan memperbarui hati mereka, sehingga mereka benar-benar bisa mengasihi-Nya.

Apakah Allah menyerah terhadap bangsa bebal itu sampai Ia membiarkan Yerusalem beserta Bait Suci-Nya hancur? Nyatanya tidak. Masa depan masih ada. Janji pemulihan itu tampak dalam pasal 34 – 48. Pasal 34 – 37 adalah penglihatan tentang pengharapan bagi Umat Israel, ketika hadirnya Raja Mesianik (Daud yang baru). Ini tergambar dalam penglihatan Yehezkiel tentang lembah besar yang dipenuhi tulang manusia yang telah kering. Metafor atau gambaran kondisi spiritualitas Israel yang telah kering oleh karena dosa-dosa mereka. Pemberontakan mereka berakibat kematian dan kehancuran, baik fisik maupun perjanjiannya dengan Allah. Kematian itu menandakan ketiadaan harapan akan pulihnya kehidupan mereka.

Namun dalam ketiadaan harapan itu, Roh Allah akan menghidupkan umat-Nya kembali. Allah akan membuat tulang belulang itu kembali berdiri, mengisinya dengan nafas hidup dan menumbuhkan daging-dagingnya. Ini mengingatkan kita akan kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian 2. Pemberontakan Umat Tuhan mendatangkan kematian, tetapi harapan akan pemulihan terjadi dalam tindakan penciptaan kembali yang diprakarsai Tuhan Allah sendiri, yang membentuk manusia menjadi ciptaan baru, sehingga manusia benar-benar hidup dalam relasi penuh kasih dengan Allah dan sesama ciptaan.

Roma 8 : 6 – 11
Di wilayah Kekaisaran Romawi (Asia Kecil, Yunani, dan Roma), misi Paulus terjadi dalam konteks Greco-Romawi, yaitu perjumpaan aspek-aspek peradaban Yunani dan Romawi kuno, yang memadukan seni, arsitektur, filsafat dan sejarah dari kedua kebudayaan tersebut. Paulus berada dalam daya tarik-menarik antara identitas Yahudinya yang eksklusif, budaya Helenistik, dan misi Kristennya yang universal. Maka menjadi tantangan besar baginya untuk menjembatani keragaman budaya dan doktrin Kekristenan sehingga pesan Injil dapat tersampaikan dengan baik dan relevan dalam konteks tersebut. Sebagai seorang yang lahir di Tarsus dan dibesarkan dalam konteks Greco-Romawi yang plural, pengaruh filsafat Yunani cukup besar dalam bangunan teologia Paulus. Elemen-elemen filsafat tersebut terintegrasikan ke dalam ajaran-ajaran Paulus yang dikemukakan dalam surat-surat penggembalaannya, menampakkan pendekatan sosio-kultural menarik bagi orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

Jemaat Roma terdiri dari orang-orang Kristen Yahudi dan non Yahudi yang ketika di zaman Paulus tengah berselisih atau terpecah. Pada masa Kaisar Klaudius, orang-orang Yahudi, termasuk yang mengikut Yesus diusir dari Roma. Lima tahun sesudahnya, mereka diizinkan kembali dan keadaan gereja menjadi sangat non-Yahudi. Hal ini menimbulkan ketegangan hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Ketegangan itu dalam rangka mempertanyakan soal aturan-aturan dalam agama Yahudi, seperti sunat, makan makanan halal dan haram, merayakan sabat dan lain-lain. Paulus berharap gereja yang terpecah ini bisa bersatu kembali.

Gagasan Paulus dalam Surat Roma adalah bahwa manusia telah terkungkung dalam dosa tanpa harapan dan perlu diselamatkan. Namun, mengingat akan kerentanan dan kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam dosa, penyelamatan tidak mungkin terjadi dengan usaha manusia untuk menaati Hukum Taurat. Manusia dibenarkan atas prakarsa dan karunia Allah melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Dibenarkan oleh iman artinya memiliki status baru dalam kesatuan dengan Allah, menjadi komunitas Perjanjian Baru dan memiliki masa depan baru, yakni harapan akan hidup yang diubahkan atau sebagai ciptaan baru. Hidup sebagai manusia baru artinya kesediaan menanggalkan manusia lama yang dikuasai nafsu kedagingan untuk dipimpin oleh Roh dalam kebenaran.

Gagasan filsafat Plato bahwa manusia terbagi menjadi tiga unsur: badan, jiwa dan roh, agaknya mempengaruhi gagasan Paulus yang membedakan antara manusia daging dan roh. Hidup dalam daging adalah hidup dalam ketundukan pada keinginan-keinginan daging yang dipenuhi nafsu dan pemberontakan terhadap kehendak Allah. Muaranya adalah kejatuhan dalam dosa yang berakibat maut. Jiwa yang terbelenggu dalam keinginan-keinginan daging dengan kecenderungan mengejar kesenangan atau hasrat, seolah-olah sedang mengalami kematian karena keterpisahannya dengan Allah. Paulus mengembangkan doktrin tentang hidup baru dalam Roh yang berlawanan dengan hidup lama dalam daging. Roh inilah yang membuka jalan bagi manusia untuk mengenal Allah sebagai Bapa dan mengubah hidup yang lama dalam daging kepada hidup baru dalam pimpinan Roh (Roh Kudus / Roh Kristus).

Hidup menurut Roh artinya berjuang mengatasi keinginan daging yang cenderung mendominasi. Paulus tidak meniadakan realitas bahwa kesulitan dan godaan keinginan daging akan tetap ada, tetapi kesatuan dengan Roh memberikan daya atau kekuatan untuk mengalahkan keinginan-keinginan daging dan apa yang jahat. Jika Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati berdiam dalam diri umat-Nya, Roh itu juga berkuasa menghidupkan tubuh yang fana itu. Tubuh yang ada dalam bayang-bayang kematian dan tidak berarti karena dosa itu, menjadi hidup oleh karena Roh yang tinggal di dalamnya.

Allah selalu memprakarsai tindakan penyelamatan umat-Nya yang hidup dalam belenggu dosa. Namun demikian, keputusan untuk mau dipimpin oleh Roh datang dari kesadaran untuk merespons karunia Allah sehingga Roh Kudus terus tinggal dalam diri dan menjadi sumber kekuatan dan pertolongan untuk mengarahkan segenap hidup kita pada kehendak Allah. Melampaui segala kerapuhan kita, Paulus menyadari bahwa menerima Roh Kudus di dalam hidup kita adalah titik balik yang sangat penting dalam proses perubahan hidup atau pertobatan. Bagaimana Roh Kudus diberikan, diterima, dan dialami akan membentuk karakter yang berbeda dalam hidup kita sebagai manusia-manusia baru. Di situlah kita semakin diteguhkan dalam identitas baru sebagai anak-anak Allah.

Yohanes 11 : 1 – 45
Adalah hal menarik melihat kedekatan antara Yesus dan keluarga Maria. Seakan-akan relasi mereka melibatkan dimensi afektif (perasaan, emosi, dan sikap) yang tergambar jelas dalam reaksi Yesus ketika menerima berita kematian Lazarus.

  • Tangisan Yesus sebagai tanda cinta persahabatan-Nya dengan keluarga Lazarus
    Injil Yohanes menggunakan kata Yunani phileō (Ay. 3, 36) untuk melukiskan kasih seorang sahabat dan kata agapaō (Ay. 5) untuk melukiskan bentuk cinta-Nya yang paling murni dan tanpa syarat, cinta yang disertai tindakan, seperti cinta Tuhan kepada manusia berdosa atau bapa kepada anaknya. Cinta inilah yang membuat Yesus rela menempuh perjalanan berbahaya. Karena meninggalkan zona nyaman-Nya demi pergi ke Betania dari Yerusalem merupakan tindakan berisiko yang dapat membahayakan nyawa-Nya. Maka tindakan dan tangisan emosional Yesus adalah bentuk empati atau kesedihan terdalam-Nya kala melihat sahabat yang begitu dikasihi-Nya mati, menyisakan kesedihan dan kehilangan yang pedih dalam diri Maria dan Marta yang ditinggalkan-Nya.
  • Tangisan Yesus menandai kepedulian-Nya pada dukacita manusia
    Yesus ada dalam ‘kemarahan’ atas realita kematian (Ay. 33) dan kesedihan yang diungkapkan dalam tangisan (Ay. 35). Kata Yunani klaiō (Ay. 31, 33) digunakan untuk menggambarkan tangisan Maria dan para pelayat sebagai suatu ratapan atau tangisan yang keras dan nampak jelas/mencolok. Seakan-akan kematian Lazarus adalah akhir dari segalanya, sebuah keterpisahan yang sangat menyedihkan. Sementara kata dakryō (Ay. 35) digunakan untuk menyebutkan tangisan Yesus sebagai tangisan yang tenang atau suatu ratapan lirih meskipun hati-Nya diliputi kesedihan. Seolah tangisan ini melukiskan kepedihan hati Yesus melihat realitas kematian yang membuat mereka yang ditinggalkan kehilangan harapan.
    Tangisan Yesus menandai bahwa Ia tidak mengabaikan keterpurukan manusia dan harapan-harapannya yang menguap. Ia memberi ruang penuh pada hancurnya hati manusia dengan menunjukkan kepedulian-Nya yang merupakan ekspresi pedih dari sisi kemanusiaan-Nya yang utuh. Ia membersamai mereka yang berdukacita, menangis bersama mereka yang menangis. Mengapa tangisan Yesus lebih tenang? Sebab Yesus tahu bahwa kematian Lazarus bukanlah akhir dari segalanya. Ia akan membangkitkannya dan menerbitkan harapan baru yang padam itu.
  • Peristiwa kebangkitan Lazarus memproklamirkan ke-Mesias-an Yesus
    Setelah mendengar berita kematian Lazarus, Yesus menunda dua hari lagi untuk datang ke Betania. Betapapun Ia bersedih atas kematian sahabat yang dikasihi-Nya, tetapi Ia selalu bertindak atas kehendak Bapa-Nya, bukan berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Kematian dan kebangkitan Lazarus adalah bagian dari garis waktu yang ditetapkan dalam skenario besar Allah dalam misi penyelamatan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Maka kematian Lazarus ini mendatangkan dukacita sekaligus sukacita dalam diri Yesus. Karena kebangkitan Lazarus sekaligus menjadi tanda Mesianik yang memproklamirkan perutusan Bapa atas diri-Nya. Ketidakhadiran Yesus yang segera saat pemakaman Lazarus adalah kesempatan untuk meneguhkan iman para murid kepada Yesus sebagai Sang Mesias, Anak Allah.
    Kebangkitan Lazarus mendatangkan sukacita bagi mereka yang menyaksikannya (Ay. 45), tetapi bagi sebagian orang Yahudi lainnya, peristiwa ini harus segera dilaporkan kepada para pemimpin mereka. Mereka sepakat Yesus harus dihukum mati seperti saran Imam Besar, Kayafas. Tak lama kemudian, Yesus dihukum mati dengan tuduhan penghujatan. Tak terelakkan bahwa orang bebal yang menolak percaya kepada Yesus juga tidak akan pernah mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati (bdk. Luk. 16:31).
  • Kebangkitan Lazarus meneguhkan identitas Yesus sebagai kebangkitan dan hidup
    Kematian adalah konsekuensi dari pemberontakan atau dosa manusia yang tidak bisa dihindari. Dosa telah menjadi penyebab keterpisahan manusia dengan Allah yang Maha Kudus dan membuat manusia senantiasa hidup di bawah bayang-bayang maut. Dalam teologi Kristen, kita mengenal istilah atonement (pendamaian atau penebusan), yaitu membawa kembali orang berdosa ke dalam persekutuan dengan Allah. Di situlah rekonsiliasi hubungan yang telah rusak karena dosa terjadi karena adanya rahmat pengampunan. Hal itu terjadi melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus.Kisah dibangkitkannya Lazarus semacam tindakan simbolis yang menantang para pendengar atau pembaca Injil Yohanes pada pengakuan akan identitas Yesus sebagai ‘kebangkitan dan hidup’ (Ay. 25-26). Orang-orang berdosa diajak untuk melihat dirinya sebagai orang-orang mati yang tidak lagi memiliki harapan akan kehidupan, yang kemudian mendengarkan suara Anak Allah yang hidup. Karena penerimaan (percaya/beriman) pada suara itu, mereka kemudian mengalami kebangkitan dan mendapatkan kehidupan sebagai ciptaan baru (Ay. 44). Mereka mengalami kelahiran baru sebagai anak-anak Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dosa atau pemberontakan terhadap Allah membawa kematian sebagai konsekuensinya. Allah yang tiada pernah menyerah atas kehidupan umat-Nya, melalui berbagai cara, memperingatkan supaya umat-Nya bertobat dan kembali kepada jalan-Nya. Namun ketika umat tidak jua peka atau mengabaikan akan peringatan-peringatan-Nya, kadang Tuhan harus membiarkan mereka mengalami akibat terburuk atau membawa mereka pada titik tergelap, ketiadaan harapan untuk dimurnikan dan belajar dari dosa-dosa mereka. Hal ini digambarkan seperti orang yang telah mati dan tidak kuasa hidup kembali dengan kekuatannya sendiri. Dosa menjadi penyebab kehancuran yang berujung kematian, baik tubuh maupun spiritual. Namun, dalam ketidakberdayaan, Allah berprakarsa membangkitkan menurut kuasa-Nya. Kebangkitan atau penciptaan kehidupan baru adalah penanda kasih sejati Allah yang tidak pernah menyerah dengan kehidupan umat-Nya untuk diselamatkan. Sebagai ciptaan baru, pertobatan dibutuhkan sebagai kelanjutan dari proses pemulihan. Pertobatan itu ditandai oleh kehidupan yang tidak lagi dikuasai oleh daging, tetapi dipimpin oleh Roh dalam pengharapan yang baru pula.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Kita berharap hidup ini akan berjalan baik, tenang teduh. Namun, pernahkah saudara merasa ada dalam titik terendah hidup saudara? Seakan-akan kita sedang berada dalam derita tanpa akhir. Terpuruk dan hancur sendiri. Mungkin kita menderita karena berbuat benar. Atau sebaliknya, menderita karena kesalahan sendiri? Tentu diperlukan kerendahan hati, kepekaan, dan kesediaan mawas diri melihat sumber penderitaan kita sejatinya karena apa. Barangkali kita sedang dimurnikan, dilepaskan dari kelekatan kita pada apa yang tidak semestinya. Apapun itu, ada kalanya hidup kita seperti ada dalam ruang gelap. Tanpa harapan, tanpa pedoman. Namun, ruang gelap itu adalah masa kita merenung lebih dalam.

Bagaimana melihat Sang Terang dengan lebih benderang, tanpa mau dibawa ke titik paling gelap dalam kelamnya pergumulan? Bagaimana berserah utuh kepada Bapa, jika tak pernah ada di batas kerapuhan hingga tak tahu harus melangkah seperti apa? Bagaimana kita merasakan cinta Tuhan yang utuh, merengkuh dan mengangkat kita jika kita tak pernah terkapar di titik terendah kehidupan kita?

Henri J.M. Nouwen, seorang penulis rohani yang cukup besar pernah mengalami saat-saat sulit dan gelap, enam bulan lamanya. Di masa itulah hidupnya diwarnai oleh apa yang ia sebut extreme anguish (kegelisahan yang tak terperikan). Ia menggambarkan hidupnya yang hancur berantakan: rasa penghargaan diri, tenaga untuk hidup dan bekerja, rasa bahwa ia dicintai, harapannya akan penyembuhan, rasa percayanya kepada Allah, segalanya hancur. Ia yang dikenal sebagai penulis rohani yang begitu mencintai Allah dan memberi harapan bagi banyak orang, justru sedang terkapar di tanah dan dalam kegelapan total. Bagaimana ia melewati masa-masa tergelap ini? Dengan merasakan jejak cinta Tuhan dan menuangkan refleksinya dalam bentuk tulisan-tulisan pendek yang akhirnya meneguhkan banyak orang.

Isi
Masa pembuangan dan penyerangan Babel yang menghancurkan Yerusalem dan Bait Sucinya adalah salah satu titik terendah yang dialami Umat Israel. Penderitaan itu terjadi sebagai konsekuensi dosa mereka. Umat Israel telah melanggar perjanjian dengan Allah dengan menyembah berhala, membiarkan ketidakadilan sosial dan kekerasan merajalela. Mereka mengabaikan peringatan-peringatan nabi Yehezkiel dan enggan bertobat. Pemberontakan mereka mendatangkan malapetaka. Namun meski kehancuran tidak bisa dihindari, Allah tetap tidak mengabaikan umat-Nya. Ia membersamai mereka dalam pembuangan. Berjanji akan mengembalikan sisa-sisa Israel ke tanah perjanjian dan akan memperbarui hati mereka agar benar-benar bisa mengasihi-Nya.

Allah tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya yang bebal itu. Masa depan masih ada. Seperti penglihatan Yehezkiel tentang lembah besar yang dipenuhi tulang manusia yang telah kering. Metafor atau gambaran kondisi spiritualitas Israel yang menjadi kering oleh karena dosa-dosa mereka. Pemberontakan mereka berakibat kematian dan kehancuran, menandakan ketiadaan harapan akan pulihnya kehidupan mereka. Namun dalam ketiadaan harapan itu, Roh Allah akan menghidupkan umat-Nya kembali. Ia akan membuat tulang belulang itu berdiri, mengisinya dengan nafas hidup dan menumbuhkan daging-dagingnya. Ini mengingatkan kita akan kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian 2. Pemberontakan umat Tuhan mendatangkan kematian, tetapi harapan akan pemulihan terjadi dalam tindakan penciptaan kembali yang diprakarsai Allah sendiri, yang membentuk manusia menjadi ciptaan baru.

Bagi Paulus, hidup sebagai manusia baru artinya bersedia menanggalkan manusia lama yang dikuasai nafsu kedagingan untuk dipimpin oleh Roh dalam kebenaran. Hidup dipimpin oleh Roh adalah konsekuensi identitas baru mereka yang harus berjuang hidup tanpa dikuasai kehendak tubuh atau daging yang membuat seseorang terbelenggu dalam dosa. Jika memilih hidup menurut Roh, kita harus berjuang mengatasi keinginan daging. Paulus tidak meniadakan realitas bahwa kesulitan dan godaan keinginan daging akan tetap ada, tetapi kesatuan dengan Roh memberikan daya atau kekuatan untuk mengalahkan keinginan-keinginan daging atau apa yang jahat. Jika Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati berdiam dalam diri umat-Nya, Roh itu juga berkuasa menghidupkan tubuh yang fana itu. Tubuh yang ada dalam bayang-bayang kematian dan tidak berarti karena dosa itu menjadi hidup oleh karena Roh yang tinggal di dalamnya. Melampaui segala kerapuhan kita, menerima Roh Kudus di dalam hidup kita, dan mau dipimpin oleh-Nya adalah titik balik yang sangat penting dalam proses perubahan hidup atau pertobatan.

Tuhan selalu memahami kerentanan dan kerapuhan yang kerap membawa kita pada titik-titik terendah hidup kita. Namun demikian, Ia tidak meninggalkan kita berjuang seorang diri. Mari kita hayati betapa besar kasih Yesus kepada Lazarus, sahabat-Nya. Kasih yang membuat Ia melakukan tindakan berbahaya untuk menunjukkan empatinya dengan datang ke Betania, ketika nyawa-Nya sendiri sedang terancam.

Maria dan Marta, dua bersaudara yang tengah berada di puncak kesedihan karena Lazarus, saudara mereka mati. Kepedihan atau dukacita itu tampak dalam ekspresi tangisan yang menyayat hati. Kata Yunani klaiō (Ay. 31, 33) menggambarkan tangisan Maria dan para pelayat lainnya sebagai suatu ratapan atau tangisan yang keras dan nampak jelas atau mencolok. Seakan-akan kematian Lazarus adalah akhir dari segalanya, sebuah keterpisahan yang sangat menyedihkan. Sementara tangisan Yesus (Yunani: dakryō – Ay. 35) digambarkan sebagai tangisan yang tenang atau suatu ratapan lirih meskipun hati-Nya diliputi kesedihan. Seolah tangisan ini melukiskan kepedihan hati Yesus melihat realitas kematian yang membuat mereka yang ditinggalkan kehilangan harapan.

Tangisan Yesus menandai bahwa Ia tidak mengabaikan keterpurukan manusia dan harapan-harapannya yang menguap. Ia memberi ruang penuh pada hancurnya hati manusia dengan menunjukkan kepedulian-Nya yang merupakan ekspresi pedih dari sisi kemanusiaan-Nya yang utuh. Ia membersamai mereka yang berdukacita, menangis bersama mereka yang menangis. Dan itulah yang meneguhkan kita, bahwa di titik nadir (titik terendah atau terburuk) dalam fase kehidupan kita, Ia senantiasa ada bersama kita.

Yesus tahu bahwa kematian Lazarus bukanlah akhir dari segalanya. Ia akan membangkitkannya dan menerbitkan harapan baru yang padam itu. Memang setelah mendengar berita kematian Lazarus, Yesus menunda dua hari lagi untuk datang ke Betania. Betapapun Ia bersedih atas kematian sahabat yang dikasihi-Nya, Ia selalu bertindak atas kehendak Bapa-Nya. Kematian dan kebangkitan Lazarus adalah bagian dari garis waktu yang ditetapkan dalam skenario besar Allah dalam misi penyelamatan-Nya melalui sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus.

Kematian adalah konsekuensi dari pemberontakan atau dosa manusia yang tidak bisa dihindari. Dosa telah menjadi penyebab keterpisahan manusia dengan Allah yang Mahakudus dan membuat manusia senantiasa hidup di bawah bayang-bayang maut. Namun, kisah dibangkitkannya Lazarus adalah tindakan simbolis yang meneguhkan pengakuan akan identitas Yesus sebagai ‘kebangkitan dan hidup’ (Ay. 25-26). Orang-orang berdosa diajak untuk melihat dirinya sebagai orang-orang mati yang tidak lagi memiliki harapan akan kehidupan. Tetapi oleh karena iman kepada Yesus Kristus yang berkuasa membangkitkan dan memberi hidup, mereka kemudian mengalami kebangkitan dan mendapatkan kehidupan sebagai ciptaan baru (Ay. 44).

Penutup
Masa Pra Paskah adalah ajakan untuk kita merenungkan laku hidup kita dan mawas diri. Mungkin, ketika Tuhan izinkan kita ada di titik nadir (titik tergelap, terendah) hidup kita saat ini adalah proses di mana kita dimurnikan dari segala dosa, dibentuk dan diteguhkan dalam iman. Namun adakah Tuhan menyerah atas hidup kita? Barangkali kita tidak asing dengan nyanyian pop rohani berjudul “Tak Terbatas” (Cipt. Pdt Samuel Anton Kurniawan) yang liriknya berikut ini:

Kukagumi cara-Mu mencintaiku, Kau ada di cerita proses hidupku
Di titik terendahku Kau hadir ‘tuk mengangkatku.
Ku tahu Kau tak menyerah akan hidupku
Tak terbatas kuasa-Mu, tak terduga cara-Mu
Kau yang kuandalkan di setiap langkah hidupku
Tak terbatas Kasih-Mu, tak terduga jalan-Mu.
Kau yang kupercaya di s’gala musim hidupku

Dicintai dalam kekuatan dan kelebihan kita adalah hal biasa. Namun dicintai, diterima, bahkan terus ditemani dalam titik-titik terendah kehidupan kita adalah sesuatu yang amat bernilai. Kagumi cara Tuhan mencintai kita dalam setiap cerita proses hidup kita, bahkan di episode terburuk sekalipun. Dia hadir, membersamai, menopang, dan mengangkat kita dengan cara-Nya, di saat kita terpuruk dalam derita kita. Kala merasa sangat hina dan tidak berarti karena dosa-dosa kita sendiri. Ia merengkuh kita dengan kasih sayang-Nya. Bahkan memberi diri-Nya untuk menyelamatkan kita. Maka tiada yang lebih baik untuk menyambut cinta-Nya selain memberi diri kita untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus, dalam pertobatan sejati.

Dengan kuasa-Nya yang melampaui kerapuhan kita. Dengan jalan-Nya yang tidak terduga, Ia membuat diri kita yang telah hancur menjadi hidup kembali. Hal yang tiada mungkin terjadi seandainya cinta Tuhan terbatas. Nyatanya, segelap apapun fase hidup kita, bahkan ketika kita sendiri telah menyerah, Tuhan tidak pernah menyerah atas hidup kita. Bukankah itu cinta yang luar biasa? Selamat menghayati cinta-Nya yang utuh kepada kita yang rapuh. Amin. [wdp].

 

Pujian: KJ. 379  Yang Mau Dibimbing oleh Tuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kula lan panjenengan sadaya tamtu nggadahi pepenginan bilih gesang punika badhe lumampah kanthi prayogi, wonten raos ayem tentrem, sampun ngantos manggihaken rubeda mawarni-warni. Ananging kanyataning gesang, tamtunipun mboten kados ingkang kita gambaraken. Kanyatanipun kita asring ngalami awrating panandhang utawi kasangsaran ingkang mboten enggal sirna. Wonten kala mangsanipun, kita rumaos dhawah salebeting jurang ingkang lebet, ajur-muwur, kados-kados mboten wonten malih pangajeng ajeng badhe saged nglajengaken lampah.

Mbok bilih kita nandhang sangsara ing saklebeting kayektosan. Nanging saged ugi kasangsaran punika minangka pawohing piawon kita piyambak. Kanthi andhap asor, tanggap ing sasmita lan mawas dhiri, kita prelu niti priksa sumbering kasangsaran punika awit saking punapa. Saged kemawon lumantar kasangsaran punika kita saweg kadadar saprelu dados umat ingkang sayektos.

Henri J.M. Nouwen, panyerat seratan-seratan tata karohanen ingkang misuwur kemawon nate ngalami mangsa awrat saha ngadhepi kawontenan gesang ingkang peteng lelimengan, watawis enem sasi dangunipun. Ing mangsa punika gesangipun kalimputan panandhang sedhih, ingkang kawastanan extreme anguish (= raos sedhih sanget, ingkang mboten kanten-kantenan). Piyambakipun rumaos dhirinipun mboten wonten ajinipun malih, semplah, kecalan raos dipun tresnani, pangajeng-ajeng murih kasarasaken, kalebet kapitadosanipun dhumateng Gusti Allah, sadaya ajur-muwur. Tiyang ingkang kasuwur minangka panyerat ingkang nresnani Gusti Allah saha maringi pangajeng-ajeng dhateng tiyang kathah, samangke saweg ngalami kawontenan ingkang mrihatosaken. Kados pundi piyambakipun saged ngupadi amrih saged uwal saking kawontenan ingkang kados mekaten punika? Inggih kanthi hangraos-raosaken katresnanipun Gusti saha mujudaken seserepanipun ing seratan-seratan ingkang lajeng saged dados pikekah tumrap tiyang kathah.

Isi
Umat Israel nate ngraosaken dhawah salebeting jurang ingkang lebet, kecalan pangajeng-ajeng, nalika mangsa pangawulan saha katempuh salebeting paprangan lumawan Babel ingkang ndadosaken Yerusalem saha padaleman sucinipun ajur-muwur. Kasangsaran punika kalampahan awit saking dosa-durakanipun Israel ingkang sampun nerak prasetyanipun kaliyan Gusti Allah kanthi nyembah brahala lan mboten nate migatosaken tumindak ingkang adil saha mboten mreduli dhateng panindak durjana ingkang tuwuh ngrembaka. Umat Israel mboten purun migatosaken pepenget-pepengetipun Gusti Allah lumantar nabi Yehezkiel tuwin mboten purun mratobat. Pambalelanipun nuwuhaken bebendu. Ananging sinaosa bebendu kalawau mboten saged dipun endhani, Gusti Allah mboten negagaken umat-Ipun. Panjeneganipun tansah nyarengi umat ing nagari pangawulan. Gusti Allah ugi prajanji badhe mangsulaken umat dhateng negari ingkang kaprasetyakaken lan manahipun bangsa Israel kadadosaken enggal, satemah saged wanuh saha gesang kanthi ajrih asih dhumateng Gusti.

Katresnanipun Gusti punika tan winates, pramila Panjenenganipun tetep tresna sinaosa umat kagunganiPun gesang salebeting panerak saha pamblasar. Taksih wonten pangajeng-ajeng sauger bangsa punika purun sami mratobat. Kadosdene paningalipun Yehezkiel nalika kapapanaken wonten ing satengahing lembah ingkang kebak balung ingkang sami garing mekingking. Gegambaran kawontenaning kapitadosanipun Israel ingkang garing awit saking piawonipun. Pambalelanipun njalari pati lan gesang ingkang ajur-muwur, pratandha sirnanipun pangajeng-ajeng bab pulihing gesangipun.

Nanging ing salebeting sirnanipun pangajeng-ajeng punika, Rohing Allah badhe nggesangaken umatiPun malih. Balung ingkang aking mekingking, sami badhe kaparingan rohing gesang. Gusti Allah badhe maringi otot lan nukulaken daging, supados gesang malih. Prastawa punika ngemutaken nalika Gusti nitahaken manungsa ing kitab Purwaning Dumadi bab kalih. Pambalelanipun umat ndhatengaken pati, nanging pangajeng-ajeng bab pulihing gesang katindakaken nalika Gusti nitahaken umatiPun malih kalawan karsaniPun piyambak, ingkang nitahaken manungsa dados titah enggal.

Miturut rasul Paulus, gesang ngrasuk kamanungsan enggal tegesipun sumadya nilar kamanungsan lami ingkang kawengku dening pepenginganing daging supados kapimpin dening Sang Roh ing kayekten. Gesang kapimpin dening Sang Roh minangka jati dhiri ingkang enggal, ingkang kedah mbudidaya gesang tanpa dipun kwaosi dening karemaning daging ingkang ndadosaken manungsa kareridhu salebeting piawon. Menawi miji gesang miturut Sang Roh, kita kedah ngupados sageda mrantasi pepenginan daging. Sinaosa mekaten, Paulus mboten nampik kasunyatan bilih panggodhaning pepenginan daging punika mesthi wonten, nanging nalika kita nunggil kaliyan Sang Roh, Gusti badhe maringi daya kagem ngawonaken pepenginan-pepenginan daging utawi samukawis ingkang awon punika.

Bilih Sang Roh ingkang sampun mungokaken Gusti Yesus saking antawisipun tiyang pejah punika dumunung ing dhirinipun para umat kagunganiPun, Sang Roh punika ugi kagungan panguwaos nggesangaken badan ingkang asipat sawetawis. Badan ingkang kalimputan ing pepejah lan mboten aji karana piawon punika saged gesang malih awit Roh Suci ingkang gesang ing salebetipun. Sinaosa kita punika ringkih, nalika kita nampi lan purun kapimpin dening Sang Roh Suci ing salebeting gesang kita, punika minangka prekawis utami ingkang wigatos sanget ing salebeting gesang ingkang sumadya mratobat.

Awit saking katresnan-Ipun, Gusti tansah ngayomi sadhengah karingkihan kamanungsan kita ingkang asring ndawahaken kita ing jurang ingkang lebet. Nanging sinaosa mekaten, Panjenenganipun mboten nilar kita piyambakan. Kadosdene agenging katresnanipun Gusti Yesus dhateng Lazarus ingkang sanget dipun tresnani. Katresnan ingkang ndadosaken Gusti Yesus tindak dhateng Betania sinaosa mbebayani tumrap nyawan-Ipun piyambak.

Maria lan Marta saweg nandhang kasisahan amargi sadherekipun, Lazarus, seda. Panandhang kasisahan punika katingal saking anggenipun muwun kanthi sanget. Tembung Yunani klaiō (Ay. 31, 33) nggambaraken panangisipun Maria lan saben tiyang ingkang rumaos kecalan minangka pangadhuh ingkang katingal kanthi cetha. Kados-kados sedanipun Lazarus minangka pungkasaning samukawis, pepisahan ingkang nuwuhaken raos sedhih lan semplah manah. Sawetawis panangisipun Gusti Yesus (Yunani: dakryō – Ay. 35) dipun gambaraken minangka panangis awit panandhang kaprihatosan, nggrantes salebeting manah awit para tiyang kathah ingkang kecalan pangajeng-ajeng.

Panangisipun Gusti Yesus mratandhani bilih Panjenenganipun preduli kaliyan kasangsaranipun manungsa lan sirnaning pangajeng-ajengipun. Panjenenganipun ngayomi manahipun manungsa ingkang ajur-muwur. Punika minangka pratandha kamanungsan-Ipun ingkang sayektos. Panjenenganipun nyarengi saben tiyang ingkang nandhang kasisahan, muwun sesarengan kaliyan tetiyang ingkang muwun. Punika ingkang ngekahaken kita bilih ing titik nadir (kawontenan ingkang ringkih piyambak, kados ing jurang ingkang lebet sanget) ing gesang kita, Gusti Yesus mboten nate nilar kita.

Gusti Yesus pirsa menawi sedanipun Lazarus sanes pungkasaning samukawis. Panjenenganipun badhe nangekaken Lazarus lan nuwuhaken pangajeng-ajeng ingkang enggal. Saksampunipun Gusti Yesus mireng pawartos bab sedanipun Lazarus, Panjenenganipun mboten enggal rawuh ing Betania ngantos kalih dinten. Sinaosa sanget anggenipun angraosaken sedhih awit katresnanipun dhateng Lazarus, ananging Panjenenganipun nindakaken pakaryan-Ipun miturut karsanipun Allah Rama. Seda lan wungunipun Lazarus minangka perangan saking rancangan kawilujenganipun manungsa ingkang katetepaken miturut pranathanipun Gusti Allah lumantar sangsara, seda, lan wungunipun Gusti Yesus.

Kita mboten saged ngendhani pati, ingkang mujudaken bilih manungsa titahipun Gusti. Lajeng menawi titahipun Gusti nindakaken piawon, piawon punika ingkang nebihaken manungsa saking Gusti Allah ingkang Mahasuci lan njalari manungsa tansah gesang kalimputan kuwaosing pati. Nanging, nalika Lazarus katangekaken, punika minangka simbol ingkang dados pikekah pangaken bab jati dhirinipun Gusti Yesus minangka “patangen lan kauripan” (Ay. 25-26). Saben tiyang dosa kaajak ningali dhirinipun minangka tiyang pejah ingkang sampun mboten nggadahi pangajeng-ajeng bab gesangipun. Nanging awit saking kapitadosanipun dhateng Sang Kristus ingkang kuwaos nangekaken lan paring gesang, tiyang-tiyang dosa punika ngalami patangen lan pikantuk gesang minangka titah enggal (Ay. 44).

Panutup
Mangsa Pra-Paskah ngajak kita sami niti priksa lampah gesang kita lan sami mawas dhiri. Nalika Gusti ngeparengaken kita wonten ing titik nadir (=kawontenan ingkang peteng lelimengan, kados ing jurang ingkang lebet sanget) gesang kita, punika minangka proses ing pundi gesang kita kamurnekaken saking piawon, kabentuk, lan dipun teguhaken ing raos pitados kita dhateng Gusti. Nanging pitakenipun, punapa Gusti Yesus mboten badhe mredulekaken gesang kita? Mbok menawi kita sampun sumerep pepujian Pop Rohani ingkang irah-irahanipun “Tak Terbatas” (anggitanipun Pdt. Samuel Anton Kurniawan) ingkang ungelipun mekaten:

Kukagumi cara-Mu mencintaiku, Kau ada di cerita proses hidupku
Di titik terendahku Kau hadir ‘tuk mengangkatku
Ku tahu Kau tak menyerah akan hidupku
Tak terbatas kuasa-Mu, tak terduga cara-Mu
Kau yang kuandalkan di setiap langkah hidupku
Tak terbatas Kasih-Mu, tak terduga jalan-Mu
Kau yang kupercaya di s’gala musim hidupku

Menawi wonten tiyang ingkang nandukaken katresnan salebeting kawontenan sadherekipun gesang mukti, punika tamtunipun prekawis ingkang limrah kemawon. Kosokwangsulipun, menawi wonten tetiyang ingkang nresnani sadherekipun karana sadherekipun nandhang kesrakat, punika tamtunipun karaosaken inggil sanget aosipun. Lah mekaten ugi menggah katresnan-Ipun Gusti tumrap kita. Kados ta punapa anggen kita ngalami panandhang, kaprihatosan mawarni warni, Gusti tansah paring pambela ugi karsa paring margining luwar. Panjenenganipun tansah rawuh, nyarengi, paring kiyat, ngrengkuh, lan ngangkat kita kanthi caran-Ipun, nalika kita dhawah. Nalika kita rumaos mboten aji babar pisan lan mboten wonten artosipun awit saking dosa-duraka kita piyambak. Panjenenganipun ngrengkuh kita kanthi katresnanipun. Kanthi kasetyanipun ngurbanaken dhiri saprelu nylametaken kita. Mila mboten wonten ingkang langkung sae kagem nampi katresnan-Ipun kejawi purun gesang tinuntun Sang Roh suci salebeting pitobat ingkang sayektos.

Kanthi kuwaos-Ipun ingkang mrantasi karingkihan kita, kanthi margin-Ipun ingkang tan jinajagan, Gusti ndadosaken gesang kita ingkang sampun ajur-muwur pinaringan gesang malih. Prekawis ingkang mokal pranyata saged kalampahan awit katresnanipun Gusti ingkang tanpa wates.  Pranyata, sinaosa gesang kita peteng lelimengan, malah-malah nalika kita piyambak sampun rumaos kawon, Gusti tansah mitulungi gesang kita sadaya. Sanyatanipun, panganthinipun Gusti punika nyata, saged dados piyandel tumrap kita para abdinipun. Punika saestu minangka wujuding katresnanipun Gusti. Pramila, sumangga kita ngraos-raosaken katresnanipun Gusti ingkang sampurna dhateng kita ingkang kebak karingkihan. Gusti nenuntun kita. Amin. [wdp].

 

Pamuji: KPJ. 446  Nalika Ngambah Margi Kang Sepi

Renungan Harian

Renungan Harian Anak