Bersemangat Membawa Damai Khotbah Minggu 29 Maret 2026

16 March 2026

Minggu Palmarum | Pekan Suci
Stola Merah

Bacaan 1:
Mazmur: Mazmur 118 : 1 – 2, 19 – 29
Bacaan 2:
Bacaan 3: Matius 21 : 1 – 11

Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
Tema Khotbah: Bersemangat Membawa Damai

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Matius 21 : 1 – 11
Minggu Palmarum atau palem arum adalah peristiwa penting dalam ziarah rohani Umat Kristen. Kisah dalam Matius 21 ini memerlihatkan Tuhan Yesus memasuki Kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai dan disambut dengan Daun Palem serta sorak sorai umat di kala itu. Tidak heran, karena Tuhan Yesus dianggap sebagai Ratu Adil yang membawa kesejahteraan baru dan pembebasan Umat Israel dari penjajahan Romawi kala itu. Tak heran euforia luar biasa Umat Israel membahana dan membuat peristiwa ini menjadi momen tak terlupakan bahkan sampai zaman sekarang.

Sayangnya hampir semua penduduk Israel salah memahami tentang siapa Yesus, yang ternyata bukan seorang pemimpin atau bahkan raja yang akan mengalahkan Pemerintahan Romawi, namun seorang hamba yang menderita, bahkan disalibkan hina, diadili seperti seorang pesakitan meski tak ditemukan salah pada akhirnya (bdk. Luk. 23:4, 15, di mana Pilatus dan Herodes sepakat tidak menemukan kesalahan apapun pada Yesus). Palmarum adalah peristiwa yang menjadi saksi kemuliaan Yesus secara duniawi, namun dengan cepat berubah menjadi penolakan bahkan semangat untuk menyalibkan-Nya dalam waktu singkat, tidak sampai seminggu. Kesadaran ini membawa kita yang mengenang Palmarum tidak sekedar bersukacita atas kedatangan Tuhan Yesus dalam hidup kita, namun juga kekonsistenan setia ini kepada-Nya apapun peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan kita.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Hari ini kita bersama menghayati Minggu Palmarum, yaitu masa di mana Tuhan Yesus dielu-elukan sebagai Raja, seperti yang tertulis di dalam Mazmur 118:25-26. Pengakuan Yesus sebagai raja yang datang dalam nama Tuhan, dengan melambaikan Daun Palem di jalan yang dilalui-Nya. Semuanya bersukacita dan berpengharapan bahwa Sang Mesias ini akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan hidup dalam pemerintahan yang damai dan penuh kebebasan. Sang Ratu Adil telah datang dan itu membahagiakan semua orang Yahudi saat itu.

Isi
Kita semua pasti memiliki pengharapan yang sama saat mengalami masa kesusahan dan masa-masa yang berat seperti Israel. Perjalanan Tuhan Yesus menuju ke Yerusalem tak ubahnya sebuah penahbisan Raja, di mana hal ini pernah terjadi pada saat Salomo dinobatkan menjadi raja baru di Israel yang juga menunggang keledai / bagal betina (1 Raj. 1:33-34). Tuhan Yesus juga mengendarai seekor keledai betina (Mat. 21:2) yang tertambat di tali seorang warga di kampung dekat Betfage bukit Zaitun, sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari Kota Yerusalem.

Kita melihat ada beberapa hal menarik dalam perjalanan Tuhan Yesus menuju Yerusalem ini. Pertama, kedua murid yang bingung ketika mendengar perintah Tuhan Yesus di ayat 2, untuk pergi dan mendapatkan seekor keledai. Namun dengan segera Tuhan Yesus menegaskan jika ada yang bertanya haruslah mereka menjawab, “Tuhan memerlukannya, dan akan segera mengembalikannya.” Murid-murid itu memenuhi perintah Tuhan Yesus dan benar menemukan keledai itu serta membawanya kepada Tuhan Yesus.

Kedua, Keledai tersebut memenuhi nubuatan sebagaimana di dalam ayat 4 yang menyebutkan Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai. Raja yang lemah lembut. Ini telah dinubuatkan dalam Zefanya 9:9. Tuhan Yesus dilantik menjadi Raja tak hanya di Israel namun di alam semesta ini. Inilah pelantikan Tuhan Yesus yang paling nyata dan disaksikan di Injil setelah jauh sebelumnya dinyatakan juga oleh Bapa di Surga di Matius 3:17, sebagai anak-Ku yang Kukasihi. Ada dua dimensi pengakuan, yaitu pengakuan oleh Bapa, dan pengakuan oleh manusia. Lengkaplah sudah dalam diri Tuhan Yesus saat Minggu Palmarum ini.

Peristiwa Palmarum membawa kita pada peristiwa pemuliaan Tuhan Yesus saat menuju Yerusalem. Orang yang sangat banyak jumlahnya mengelu-elukan-Nya dengan menebarkan pakaian mereka di jalan, juga ranting pohon sebagai penghormatan tertinggi, sebagaimana seorang raja (Ay. 8). Sementara

orang yang di depan dan di belakang Tuhan Yesus menyerukan seruan, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.” (Ay. 9). Tak hanya itu, mereka juga membuat gempar seluruh Kota Yerusalem dengan menyatakan inilah nabi Yesus dari Nazaret di tanah Galilea (Ay. 11). Mereka gempar karena tidak ada sesuatu yang baik datang dari Galilea karena dianggap tempat para pemberontak Romawi. (bdk. Kesaksian Natanael di Yoh. 1:46)

Kota Yerusalem ini terhubung langsung dengan Bukit Zaitun di mana kisah perjalanan Tuhan Yesus dengan naik keledai bermula. Tentu saja banyak orang akan melihat langsung bahkan saat menuju Bait Suci di mana jalannya agak sempit dan dilalui banyak orang, seperti karnaval saja rasanya. Dalam bahasa sekarang langsung menjadi viral kejadian ini. Sebab tak banyak tokoh yang bukan pemimpin atau bahkan raja bisa mendapat perlakuan istimewa seperti ini.

Kedatangan Tuhan Yesus dengan keledai betina yang masih muda menunjukkan kesederhanaan dan kedamaian. Tuhan Yesus datang membawa kedamaian, mengendarai keledai, dan bukan kuda yang adalah lambang kendaraan perang. Kristus membawa damai dan bukan peperangan. Bahkan keledai itu dipinjam dan akan dikembalikan kepada pemiliknya. (Ay. 3) Nyatanya Tuhan Yesus tidak perlu memiliki kendaraan khusus karena keledai itu akhirnya dikembalikan. Tuhan hanya meminjam, bukan ingin memilikinya. (bandingkan dengan tokoh besar yang kendaraan disediakan khusus bahkan dirawat khusus, dibeli khusus untuk keperluan ini).

Siapapun yang merayakan Palmarum perlu meneladani Tuhan Yesus dengan kesederhanaan dan berhati damai, serta memiliki semangat tidak menguasai dan mengambil keuntungan. Kerendahan hati Tuhan Yesus yang datang, bukan untuk menaklukkan dengan kekuatan dan perang, melainkan membawa damai. Keledai adalah lambang kesederhanaan juga kedamaian, seperti saat Salomo dilantik menjadi Raja baru Israel, dia menggunakan keledai pula sebagai tanda kebijaksananaan dan kemakmuran. (lih. 1 Raj. 1:33-44).

Berbeda dengan keledai yang lemah, binatang kuda itu kuat dan digunakan dalam perang dan kekuatan militer. Tuhan Yesus tidak menggunakan kuda, namun mengendarai keledai dan itu menjadi simbol kerendahan hati dan kedamaian serta menggenapi nubuatan di dalam kitab Zakharia 9:9 tentang kedatangan Mesias, Sang Ratu Adil bagi semesta. Disebutkan dalam kitab itu, Mesias datang dengan mengendarai keledai, bukan kuda ataupun yang lainnya.

Pemuliaan Tuhan Yesus bukan sebagai raja yang membawa genderang perang, namun membawa teladan kesederhanaan, kerendahan hati, kedamaian, dan sukacita bagi orang lain. Mari kita menyambut Tuhan Yesus yang hadir membawa harapan dan kedamaian. Kita lambaikan Daun Palem yang adalah kesediaan hati membawa semangat Palmarum itu dalam hidup kita. Rendah hati, sederhana, membawa damai dan sukacita bagi dunia di manapun kita berada.

Penutup
Perayaan Palmarum membawa semangat hidup sederhana, tidak menguasai dan memanfaatkan sesama untuk kepentingan diri sendiri, dan memuliakan Tuhan di atas segalanya. Tak berhenti di Palmarum, kita semua yang adalah tebusan Tuhan Yesus harus setia dalam pengakuan bahwa Yesuslah Tuhan dan Juruselamat sampai akhir kehidupan ini. Susah maupun gembira di sanalah pengakuan ini tetap, selalu, dan untuk selamanya. Yesuslah Tuhan yang meraja dan dimuliakan dalam hati ini, sampai kapanpun. Amin. [LUV].

 

Pujian: KJ.  19  Tuhanku Yesus

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Dinten punika kita sesarengan lumebet wonten ing Minggu pengetan Palem arum, inggih punika pangeling-eling Gusti Yesus dipun subya-subya dados Ratu, kados ingkang sampun kaserat ing Jabur 118:25-26. Pangaken Gusti Yesus minangka Ratu adil ingkang rawuh awit saking asmaning Pangeran Yehuwah, dipun tengeri kanthi tiyang-tiyang ngawe-awe ron Palem ing margi satindakipun Gusti Yesus. Sadaya sami bingah lan nggadhahi pengajeng-ajeng bilih Ratu Adil punika badhe ngluwaraken bangsa Israel saking panguwaosing Bangsa Romawi ingkang saweg njajah Israel. Sarta ngraosaken katentreman ingkang estu mbingahaken sadaya warga Yahudi ing wekdal punika.

Isi
Kula lan panjenengan estu gadhah pengajeng-ajeng gesang ingkang sami kaliyan bangsa Israel menawi ngalami kawontenan sisah lan awrat. Lelampahanipun Gusti Yesus tumuju dhateng Yerusalem minangka tahbisanipun Ratu, lelampahan punika nate kedadosan nalika Prabu Suleman dipun nobataken dados raja enggal wonten Israel ingkang ugi nitih kuldi wadon. (1 Para raja 1:33-34). Lah ugi mekaten Gusti Yesus ingkang nitih kuldi wadon (Mat. 21:2) wonten tangsul setunggaling tiyang ing kampung celak kaliyan Betfage ing gumuk Zaitun, satunggaling papan ingkang mboten tebih saking kitha Yerusalem.

Menawi kita pirsani wonten prekawis ingkang menarik ing lelampahan Palem arum punika, nalika Gusti Yesus tindak tumuju Yerusalem saking Gumuk Zaitun. Sepisan inggih punika para sakabat ingkang bingung nalika dipun dhawuhi Gusti Yesus (Ay. 2) supados ngupaya kuldi kagem tindakipun Gusti Yesus, nanging Gusti Yesus enggal-enggal nelakaken bilih mangke wonten ingkang taken, para sakabat kedah mangsuli Gusti merlokaken, lan mangke badhe dipun wangsulaken. Punika dipun estokaken para sakabat kalih ingkang kautus lan estu manggihaken kuldi sarta dipun beta dhateng Panjenenganipun.

Kaping kalih, kewan kuldi punika minangka penggenap nubuat, kados kaserat ing ayat 4 ingkang nyebat bilih Panjenenganipun punika lembah manah lan nitih kuldi, kados ingkang kaserat ing Zefanya 9:9. Gusti Yesus dipun kepyakaken dados raja mboten namung wonten ing Israel nanging wonten semesta punika. Kepyakan Gusti Yesus ingkang paling nyata lan dipun sekseni wonten kitab Injil, tebih saderengipun ugi kanyatakaken dening Sang Rama wonten suwarga (Mat. 3:17) dados Putran-Ipun Allah ingkang dipun tresnani.  Ing ngriki wonten kalih dimensi pengaken, inggih punika pangaken dening Sang Rama lan pengaken saking manungsa. Lan punika dados pangaken ingkang sampurna tumrap Gusti Yesus kalampahan ing Minggu Palmarum punika.

Palem arum punika ngatag kita sadaya lumebet ing lelampahan bab kaluhuranipun Gusti Yesus nalika tumuju ing Yerusalem. Tiyang ingkang gunggunge kathah sanget sami nyubya-nyubya lan njereng sandhanganipun wonten ing margi, dalasan pang-pange wit-witan kagem pakurmatan paling inggil dhumateng Gusti Yesus kados dene dhateng Ratu kemawon (Ay. 8). Sawetawis tiyang wonten ngajeng lan wonten ing wingkingipun Gusti Yesus nguwuh sora, “Hosana kagem putranipun sang Prabu Daud, binerkahana panjenenganipun ingkang rawuh ing asmaning Pangeran.” (Ay. 9). Mboten cekap mekaten, punika ndadosaken horeg sadaya warganing kitha Yerusalem ingkang ugi paseksi: Iki nabi Yesus saking Nazaret ing tanah Galilea (Ay. 11). Dados horeg krana mboten wonten satunggiling tiyang ingkang sae saking Galilea, krana dipun anggep minangka papanipun tiyang ingkang mbalela dhateng Romawi. (bdk. Yok. 1:46).

Kitha Yerusalem punika gandheng kaliyan gumuk Zaitun, ing pundi Gusti miwiti lampahipun klayan nitih Kuldi kawiwitan. Tamtu kemawon kathah tiyang badhe ningali sacara langsung, punapa malih margi tumuju Padaleman Suci radi ripak (sempit) lan dipun wiyosi kathah tiyang, kados dene menawi karnaval raosipun. Ing basanipun samangke: lelampahan punika dados viral, amargi mboten kathah tokoh kejawi pangageng imam utawi malah kepara sang Prabu ingkang pinaringan perlakuan istimewa kados punika.

Rawuhipun Gusti Yesus kaliyan nitih kuldi punika nelakaken bilih Gusti rawuh kanthi prasaja lan ngasta tentrem rahayu. Sanes turangga utawi jaran nanging kuldi, awit turangga punika lambang kendaraan perang, kamangka Gusti Yesus rawuh punika kanthi ngasta semangat damai, sanes memengsahan utawi perang. Kalangkung kuldi punika namung dipun ampil lan badhe dipun wangsulaken malih dhateng ingkang kagungan (Ay. 3) Estunipun Gusti Yesus mboten prelu kendaraan mligi ingkang wah lan dados hak milik, amargi kuldi punika pungkasanipun dipun wangsulaken, Gusti Yesus namung ngampil mboten rumaos kemilikan. (Saged kabandingaken kaliyan tokoh ageng ing pundi kendaraan dipun wontenaken mligi malah dipun reksa mligi, dipun pundhut mligi kangge kabetahan punika).

Sok sintena ingkang ngriyadinaken palem arum kaatag ugi nuladha Gusti Yesus ingkang prasaja lan dados pembawa damai, mboten nguwaosi lan mendhet untung sacara pribadi. Gusti Yesus rawuh mboten kanthi semangat naklukaken linandhesan kakiyatan lan perang, ananging ngasta tentrem rahayu. Kewan kuldi punika lambang gesang ingkang prasaja ugi katentreman. Nalika Suleman dipun kepyakaken dados raja enggal Israel, panjenenganipun ugi ngagem kuldi ingkang dados pratanda kawicaksanan lan kabingahan. (1 Para Raja 1:33-44).

Benten kaliyan kuldi ingkang ringkih, kewan turangga/jaran punika kiyat lan dipun agem wonten ing perang. Gusti Yesus mboten ngagem turangga, nanging nitih kuldi minangka lambang kedamaian saha njangkepi nubuatan kados ingkang sampun kaserat ing kitab Zakharia 9:9. Inggih punika bab rawuhipun Sang Mesih, Ratu Adil kagem semesta. Sang Mesih rawuh kaliyan nitih kuldi, sanes turangga. Gusti Yesus kamulyakaken sanes supados dados raja ingkang ngasta genderang perang, nanging Sang Mesih ingkang prasaja lan paring katentreman saha bingahing tiyang kathah.

Sumangga kula lan panjenengan nampeni Gusti Yesus Kristus ingkang rawuh paring tentrem rahayu. Kita sami nyepeng lan ngawe-awe ron Palem ingkang ugi dados pratanda gesang mbeta semangat Palem arum punika ing salebeting manah kita sadaya. Tetepa andhap asor, prasaja, lan ngasta katentreman tumraping jagad ing pundi kemawon kita kapapanaken Gusti.

Panutup
Pahargyan Palem arum punika ngatag kita gesang prasaja, mboten nguwaosi sesami, langkung-langkung namung ngugemi dhiri pribadi, ananging ngluhuraken Gusti Yesus kalangkung punapa kemawon ing jagad punika. Mboten kandheg wonten ing Palem Arum kemawon, kula lan panjenengan sami kaatag tetepa setya tuhu dhumateng Gusti Yesus Kristus ingkang dados Juru Wilujeng ngantos dumugi ing janji. Sisah utawi bingah tetepa wonten ing pangaken punika, samangke ngantos ing saranduning gesang kita. Pinuji-pujia Gusti Yesus Kristus ing gesang kita sadaya. Amin. [LUV].

 

Pamuji: KPJ. 404  Gusti Yesus Ratu Adil

Renungan Harian

Renungan Harian Anak