Minggu Pra Paskah 4
Stola Ungu
Bacaan 1: 1 Samuel 16 : 1 – 13
Mazmur: Mazmur 23
Bacaan 2: Efesus 5 : 8 – 14
Bacaan 3: Yohanes 9 : 1 – 41
Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Menjadi Terang bagi Kemuliaan Tuhan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
1 Samuel 16 : 1 – 13
Di bagian pertama bacaan ini, kita melihat perintah Tuhan Allah kepada Samuel untuk mengurapi seseorang menjadi Raja Israel menggantikan Saul. Samuel yang pada saat itu takut dan ragu menghadapi Saul diyakinkan oleh Tuhan Allah untuk tetap melaksanakan perintah-Nya. Jelas perasaan hati Samuel bercampur aduk, rasa jengkel, takut, dan sedih sedang ia rasakan. Ia merasa sedih karena Tuhan Allah sendiri yang memilih Saul menjadi Raja Israel (1 Sam. 9:17), untuk mengabulkan keinginan bangsa Israel. Namun, Tuhan Allah telah menolak Saul. Jikalau Allah sudah menolak, akankah manusia bisa membatalkan? “Berapa lama lagi engkau berduka karena Saul, padahal Aku sendiri telah menolaknya sebagai raja atas Israel? (Ay. 1).
Setelah Tuhan Allah menjelaskan kepada Samuel, maka Samuel menerima dan bersedia melakukan tugas barunya. “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.” (Ay. 1). Minyak yang kelihatannya sama untuk lampu Bait Allah dari Minyak Zaitun sekarang digunakan untuk mengurapi raja yang baru. “Aku mengutusmu kepada Isai orang Betlehem, sebab Aku telah memilih dari antara anak-anaknya seorang raja bagi-Ku.” (Ay. 1). Saat Tuhan Allah memerintahkan Samuel pergi, maka Samuel merespons panggilan itu dengan ketakutan karena akan menghadapi Saul (Ay. 2). Betlehem yang terletak 8 km dari sebelah Selatan Yerusalem merupakan kelahiran Yesus. Samuel berasal dari Roma dan untuk pergi ke Betlehem, maka ia harus melewati Gibea tempat Saul berada. Saul sendiri mengetahui kalau jabatannya sebagai raja telah diambil Tuhan (1 Sam. 15:28). Di sinilah Tuhan Allah membantu Samuel yang dalam kesulitan besar. Ia memberikan jalan keluar dengan cara memerintahkan Samuel untuk membawa seekor lembu muda sebagai persembahan kurban kepada-Nya.
Samuel segera melakukan semua perintah Tuhan dan pada saat bertemu dengan tua-tua di Betlehem, para tua-tua itu menjadi begitu gemetar dan berkata, “Apakah kedatanganmu membawa damai?” (Ay. 4). Seperti yang sudah-sudah, Samuel yang adalah hakim, sering bepergian dan menyatakan perkara penghukuman kepada para pelanggar hukum. Dan dijawab oleh Samuel, benar, mereka diperintahkan untuk menguduskan diri mereka dan datang ke upacara pengurbanan. Kemudian Samuel menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengurbanan (Ay. 5).
Di ayat 6-7, setelah Samuel bertemu dengan Isai, diberikanlah anaknya yang sulung bernama Eliab. Begitu Samuel melihatnya, ia langsung berkata: “Sungguh, di hadapan TUHAN berdiri orang yang diurapi-Nya.” (Ay. 7). Eliab memiliki perawakan yang begitu gagah dan tinggi badannya seperti Saul. Karena itu seketika itu juga Samuel berkata: Inilah orangnya, padahal bukan! Tuhan Allah langsung menegur Samuel, “Jangan pandang rupanya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan seperti yang dilihat manusia, sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (Ay. 7). Meskipun Samuel dan Isai fokus pada penampilan fisik para putra Isai yang gagah, tetapi Tuhan memilih Daud, putra bungsu yang dianggap paling tidak mungkin. TUHAN memilih Daud karena hatinya berkenan kepada-Nya. Kemudian Samuel mengurapi Daud. Peristiwa ini menandakan Roh Tuhan yang turun atas Daud melalui pengurapan minyak, bukan karena kemampuannya, melainkan karena anugerah dan rencana TUHAN yang memperlengkapi Daud untuk menjalankan tugas yang akan Ia berikan.
Efesus 5 : 8 – 14
Dalam Efesus 5:8, Paulus memberi nasihat dan mengingatkan orang percaya bahwa mereka “dahulu adalah kegelapan” tetapi sekarang mereka adalah terang di dalam Tuhan. Paulus, dengan berbagai cara, membandingkan kehidupan orang-orang Kristen di Efesus sebelum mereka menjadi orang Kristen dengan kehidupan mereka setelah mereka menerima Yesus Kristus. Kata terang dan gelap sering kali digunakan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai metafora untuk menggambarkan kebaikan dan kejahatan, ketertiban dan kekacauan, keamanan dan bahaya, sukacita dan dukacita, kebenaran dan kejahatan, hidup dan mati, keselamatan dan penghukuman.
Di dalam Kristus, Jemaat Efesus yang dahulu hidup dalam kegelapan diubahkan menjadi terang. Menjadi terang berarti hidup mereka bertumbuh menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Hidup mereka tidak lagi sia-sia namun bermanfaat bagi kemuliaan nama Tuhan. Menurut Rasul Paulus, begitulah seharusnya hidup mereka yang telah menerima kasih karunia Kristus dan menanggapinya dengan hati yang terbuka.
Ayat 13-14 Paulus menjelaskan bahwa, “segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi tampak, sebab semua yang tampak adalah terang.” Paulus menginginkan Jemaat Efesus senantiasa hidup dalam terang, sebab perbuatan kegelapan tidak membuahkan apa-apa selain penghukuman. Karena perbuatan-perbuatan yang tidak berbuah itu harus disingkirkan. Orang-oranf Kristen harus menghindari perbuatan-perbuatan gelap yang tidak berbuah tersebut. Pada akhirnya Paulus mengatakan, “Bangunlah hai Engkau yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas engkau.” (Ay. 14). Nasihat ini dimaksudkan agar Jemaat Efesus sungguh-sungguh menjalani hidup mereka dalam terang Kristus yang menuntun dan menerangi perjalanan hidup mereka. Hanya dengan bersama Yesus Kristus sajalah, mereka dapat memancarkan terang Kristus yang juga menerangi kehidupan di sekitar mereka.
Yohanes 9 : 1 – 41
Ada anggapan bahwa cacat badaniah erat kaitannya dengan dosa. Ini digambarkan dalam Keluaran 9:1-7 (penyakit sampar sebagai hukuman bagi orang Mesir); Mazmur 38:2-6 (sakit akibat keburukan pendosa); Yehezkiel 18:20 (kutipan anggapan umum bahwa anak menderita akibat dosa orang tuanya). Bahkan murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orang yang mengandungnya (Yoh. 9:2). Tetapi Yesus dengan tegas menolak anggapan itu. Ia mengatakan bukan orang itu atau orang berdosa (Ay. 3). Dalam bagian kedua ayat 3, Ia mengalihkan pemikiran murid-murid-Nya dari sikap melacak asal mula cacat sejak lahir itu menjadi kesadaran bahwa karya ilahi yang terjadi pada diri orang itu. Selanjutnya ditambahkan dalam ayat 5, “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”
Injil Yohanes kerap memakai gagasan “terang” dengan maksud mengingatkan orang akan terang yang diciptakan pada awal karya penciptaan (Kej. 1:3-5). Terang ini menjadi dasar bagi hari-hari penciptaan selanjutnya. Pada hari keenam manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Sang Pencipta sendiri (Kej. 1:27-31), artinya sempurna. Penciptaan dan pemberkatan manusia ditampilkan sebagai karya penciptaan yang paling besar dan paling akhir. Oleh karena itu, pada hari ketujuh Sang Pencipta beristirahat. Dengan menyebutkan kata-kata Yesus tentang diri-Nya sebagai “terang”, Yohanes bermaksud menampilkan Yesus sebagai awal karya penciptaan yang mencakup kejadian selanjutnya sampai penciptaan manusia yang utuh. Latar belakang ini memperjelas makna ayat 3, “supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.” Maksudnya agar karya penciptaan juga menjadi nyata dalam diri orang buta sejak lahir itu. Orang itu memperoleh penglihatannya dan menjadi manusia yang layak, bukan lagi si buta peminta-minta. Dalam diri orang itu terjadi karya penciptaan juga: kegelapan, kebutaan sejak awal, digantikan dengan penglihatan terang dalam perjumpaan dengan sabda ilahi sendiri.
Ketika ditanyai bagaimana ia bisa melihat, orang tadi menyebut “Orang yang bernama Yesus itu” mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam Siloam (Ay. 11). Ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, definisinya semakin tegas, “Ia itu nabi!” (Ay. 17), Tetapi orang-orang Farisi itu berusaha mengintimidasi dengan mempersoalkan mukjizat ini terjadi pada hari Sabat! Orang itu kemudian bertemu Yesus lagi, tetapi kali ini dia dapat melihat Yesus. Ketika Yesus menyampaikan, “Apakah ia percaya kepada “Anak Manusia?”, orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya. Yesus mengatakan bukan saja ia melihat tetapi sedang berbicara dengan-Nya. Ini penjelasan dari Yesus sendiri bahwa yang dimaksud dengan “Anak Manusia” adalah diri-Nya sendiri. Saat itu juga orang tadi bersujud dan berseru, “Aku percaya, Tuhan!” (Ay. 38)
Mula-mula orang tadi hanya mendengar bahwa yang menyembuh-kannya adalah orang yang bernama Yesus. Tetapi setelah ditanyai mengapa itu bisa terjadi, ia menyimpulkan, orang itu pastilah seorang nabi. Dan ketika ia melihat sendiri siapa yang telah menolongnya serta mendapatkan penjelasan dari Yesus, orang buta sejak lahir itu akhirnya bersujud dan percaya. Sebaliknya, orang Farisi bisa melihat tetapi mereka tidak percaya. Mengapa? Karena mereka tidak membuka diri mereka untuk terang yang sesungguhnya. Gagasan-gagasan saleh sepihak yang mereka pertahankan mati-matian itu memenuhi diri mereka dan akhirnya menggelapkan mata batin mereka sendiri.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Sungguh unik karya Allah dalam hidup manusia. Keunikan tersebut memiliki maksud yang mulia, yaitu ada tujuan yang besar bagi keselamatan dunia ini. Tuhan memilih seseorang bukan kemudian meninggalkannya. Namun Ia memilih dan menyertainya sehingga orang itu mampu menjadi saksi dan terang bagi dunia. Kesadaran dipilih oleh Allah untuk menerima anugerah-Nya memampukan kita berbuat baik bagi sesama, memurnikan dan memulihkan kehidupan, dengan terang yang Tuhan percayakan. Anugerah Allah bukan kita terima dan berhenti pada diri kita saja, namun kita terima untuk kita bagikan kepada setiap orang yang kita jumpai.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Pastinya kita semua pernah menyanyikan lagu yang populer di ibadah anak dan remaja ini, yang berjudul: “Hati-hati Gunakan Tanganmu”. Kali ini, langsung dinyanyikan di syair hati-hati gunakan matamu. Mari kita nyanyikan bersama-sama:
Hati-hati gunakan matamu (sambil mengedipkan mata)
Hati-hati gunakan matamu (sambil mengedipkan mata)
Karena Bapa di sorga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan matamu (mengedipkan mata)
Seperti syair lagu tersebut, ada sebuah kalimat yang demikian, “orang buta, melihat, tetapi orang melihat, buta”. Kalimat seperti ini sungguh ironis. Mengapa? Kalimat ini adalah sebuah sindiran kepada orang-orang yang memiliki penglihatan tetapi sayangnya mereka sering kali “buta rohani.” Mereka melihat ada banyak penderitaan di sekitar mereka, ada banyak orang-orang yang harus ditolong di sekitar mereka namun mereka tidak peduli. Mereka bisa melihat dunia ini, tetapi sayangnya mereka tidak bisa melihat pekerjaan dan kuasa Allah. Sebaliknya, orang-orang buta, yang selama ini dianggap sebagai musibah, memiliki keterbatasan secara fisik, justru mereka bisa melihat dengan hati mereka. Mereka mempunyai iman akan kebesaran kuasa Tuhan Yesus di dalam diri mereka. Maka, persoalan di dunia sekarang ini bukanlah banyaknya orang buta secara jasmani namun banyaknya orang buta secara rohani, yang tidak bisa melihat pekerjaan dan karya Allah yang begitu besar dalam hidup mereka sehingga cenderung menjadi sombong rohani dan begitu sulit untuk percaya kepada Tuhan Allah.
Isi
Kalau kita perhatikan bacaan Injil hari ini dalam Yohanes 9:1-41, maka kita akan menemukan kekerasan hati yang luar biasa dan kebutaan yang tetap dialami orang-orang Farisi. Semula ‘masalah’ dikemukakan oleh murid-murid Yesus yang bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Ay. 2). Kalau ada orang buta, berarti harus ada yang ‘bersalah’. Yesus berkali-kali tidak mempedulikan soal moral ini, tetapi masalah itu makin serius karena Yesus menyembuhkan orang buta itu pada hari Sabat. Sejak itu semua orang (tetangga si buta, orang Farisi, orang Yahudi) berkali-kali menanyai orang buta yang disembuhkan itu. Merekalah yang dimaksud Yesus ‘melihat’ padahal buta secara spiritual. Mereka buta karena bertahan mengadili yang lain sebagai ‘orang berdosa’. Kekerasan hati adalah kebutaan. Beberapa Orang Farisi yang bertanya, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” (Ay. 40) Yesus menjawab, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena sekarang kamu berkata: ‘Kami melihat’, maka tetaplah dosamu.” (Ay. 41). Yesus mengembalikan penilaian moral mereka terhadap orang lain kepada diri mereka sendiri. Kata-kata-Nya penuh makna, yang menerangkan bahwa kebutaan itu bukanlah dosa. Mereka yang bisa melihat secara jasmani namun seakan-akan paling tahu dalam hal iman adalah kesombongan rohani yang berakibat fatal.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, mudah ditemukan pengalaman dan penghayatan iman yang konkret berkaitan dengan perenungan ini. Kita berdoa bersama, berbagi pengalaman iman, dan berdiskusi bersama, tetapi kebersamaan ini tidak perlu dinodai dengan pemahaman akan kelemahan orang lain. Kita tidak boleh memanfaatkan kesalahan orang lain untuk membuat diri kita sendiri seakan-akan lebih beriman dan lebih pantas untuk menilai siapapun. Kecenderungan untuk menyimpulkan sepihak berdasarkan apa yang kita lihat dan menyebarkannya sebagai isu, hanya membuat doa-doa kita menjadi palsu. Bukankah iman dan doa seharusnya menyelamatkan diri kita dan orang-orang yang hidup bersama kita?
Dalam Kitab 1 Samuel 16 (Bacaan 1), dikisahkan bagaimana Samuel berusaha menemukan sosok yang pantas diurapi Tuhan untuk menjadi Raja Israel menggantikan Saul yang telah ditolak Tuhan. Ketika ia menghadapi anak-anak Isai, Samuel mengira bahwa Tuhan akan memandang paras dan berkenan pada perawakan yang tinggi. Namun Tuhan berfirman, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Manusia memang terlalu cepat yakin dan terkesima dengan penampilan yang ideal, namun tidak kritis dan hati-hati dengan apa yang menguasai hati seseorang. Bagi Tuhan, yang jauh lebih menentukan kesetiaan iman ialah sikap hati seseorang di hadapan-Nya. Daud kelak tidak luput dari kelemahan manusiawinya, namun ia tetap dipakai Tuhan karena hatinya yang mau bertobat dan memperbaiki kesalahan yang dilakukannya.
Secara konkrit, Rasul Paulus mengajak jemaat Efesus untuk berbuat baik, adil, dan benar sebagai wujud nyata perilaku anak-anak terang. Berbuat baik, berarti melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Berbuat adil, berarti menegakkan martabat manusia yang diremehkan atau rusak oleh ketamakan. Berbuat benar berarti berani mengatakan ‘tidak’ jika itu salah dan berani berkata ‘ya’ jika itu benar. Bagi mereka yang merasakan anugerah Allah, tentu tugas panggilan seperti itu mampu ia lakukan. Sekalipun banyak yang mencemoohnya, hatinya tidak dapat berbohong. Hatinya adalah terang dan terang tidak akan dikalahkan oleh kegelapan.
Penutup
Dosa telah membutakan mata rohani manusia hingga menghancurkan kehidupan sekitarnya. Perselisihan, kejahatan, percabulan, dan perang merupakan buah dari kegelapan hidup. Menyadari adanya dosa, kesalahan, keburukan, dan kegagalan bukan berarti tidak ada kehidupan. Justru saat kita sadar ada yang rusak, timbullah kesadaran untuk kembali kepada Tuhan dan memperbaiki perilaku kita menuju hidup baru yang lebih baik. Tuhan Yesus membukakan mata hati kita supaya cara pandang kita terarah pada-Nya, bukan kepada dunia. Terbuka pada kuasa Allah akan memampukan kita menata hidup baru, hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.
Di Minggu Pra Paskah ke-4 ini, marilah kita menjalani pertobatan. Kita mau diubahkan dalam Kristus. Bukan hanya dengan menyesali setiap dosa kita tetapi kita juga berupaya mengalahkan kesombongan dan keegoisan rohani pada diri kita. Minggu pertobatan ini mengajak kita untuk selalu berusaha mencari dan memberi kesempatan kepada orang lain mengalami kebaikan Tuhan. Setiap kita yang lemah ini disadarkan bahwa Tuhan punya maksud baik atas apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Dia menjadikan diri kita sebagai pribadi yang membawa terang-Nya bagi orang lain di sekitar kita. Pemulihan ini merupakan kesempatan dari Tuhan agar terang-Nya dinyatakan melalui kita bagi dunia. Terang itu kiranya terus memancar melalui kesempatan diri kita yang dipakai oleh Tuhan Yesus. Biarlah nama Tuhan Yesus saja yang semakin dipermuliakan dalam setiap perjalanan kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin. [FNS].
Pujian: KJ. 239 Turun, Roh Allah dalam Hatiku
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Tamtu kita nate mirengaken lagu pepujian ingkang kasuwur ing satengah-tengahing pangabekti anak lan remaja ingkang jejeripun, “Hati-hati Gunakan Tanganmu.” Wekdal punika kita badhe nyanyikaken lagu punika, ing pundi tembung tangan dipun gantos mata. Mangga kita nyanyi sesarengan.
Hati-hati gunakan matamu (sambil mengedipkan mata)
Hati-hati gunakan matamu (sambil mengedipkan mata)
Karena Bapa di sorga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan matamu (mengedipkan mata)
Kados syair lagu punika, wonten ukara ingkang kados mekaten, “tiyang wuta, ningali, nanging tiyang ingkang ningali, wuta.” Ukara punika kadosipun mboten limrah. Kenging punapa? Awit ukara punika dados ukara sindiran dhateng tiyang-tiyang ingkang saged ningali nanging emanipun “wuta rohaninipun.” Tiyang punika ningali katah kasangsaran ing antawisipun, mangertos bilih katah tiyang mbetahaken pitulungan nanging piyambakipun mboten peduli. Tiyang punika ningali donya punika, nanging emanipun piyambakipun mboten saged ningali pakaryan saha panguwaosipun Gusti Allah. Kosok wangsulipun, para tiyang wuta, ingkang dipun pandeng minangka musibah, nggadhah kawinatesan sacara fisik, nanging para tiyang wuta punika saged ningali mawi manahipun, kagungan iman bab agunging panguwaosipun Gusti Yesus salebeting gesangipun. Ingkang dados masalah ing wekdal punika, sanes katahipun tiyang wuta jasmani nanging katahipun tiyang wuta rohani, ingkang mboten saged ningali pakaryanipun Gusti Allah ingkang ageng salebeting gesangipun. Piyambakipun langkung gumunggung rohani lan ewet anggenipun pitados dhumateng Gusti Allah.
Isi
Bilih kita gatosaken waosan dinten punika, Yokanan 9:1-41, kita saged manggihi wangkoting manah tiyang-tiyang Farisi ingkang wuta rohani. Para sakabat ing wiwitan atur pitaken dhumateng Gusti Yesus, “Rabbi, sinten ingkang damel dosa, tiyang punika piyambak punapa tiyang sepuhipun, dene ngantos lairipun wuta makaten? (Ay.2). Saking ayat punika kita mangertos bilih wonten tiyang wuta, tegesipun kedah wonten ingkang ‘dipun salahaken.’ Gusti Yesus mboten gagas tumrap bab punika, nanging masalahipun dados kawigatosan awit Gusti Yesus nyarasaken tiyang wuta punika ing dinten Sabat. Wiwit kedadosan punika, katah tiyang (tetangginipun tiyang wuta, tiyang Farisi, tiyang Yahudi) ingkang taken dhateng tiyang wuta ingkang dipun sarasaken punika. Para tiyang punika ingkang dipun maksudaken Gusti Yesus, saged ‘ningali’ nanging wuta rohani. Para tiyang punika wuta rohani awit tetep ngadili tiyang sanes minangka ‘tiyang dosa’. Wangkoting manah punika wuta rohani. Ing ngriki perangan tiyang Farisi atur pitaken, “Kula punika punapa inggih sami wuta?” (Ay. 40). Gusti Yesus mangsuli, “Manawa kowe wutaa, mesthi padha ora duwe dosa. Nanging sarehne saiki kowe padha kandha: Aku padha ndeleng, dadi tetep dosamu.” (Ay. 41). Ing ngriki Gusti Yesus mangsulaken malih bab penilaian moral tiyang Farisi dhateng tiyang sanes tumrap dhirinipun piyambak. Tembung-tembungipun Gusti Yesus kebak makna ingkang njelasaken bilih wuta punika sanes dosa. Tiyang-tiyang Farisi punika saged ningali sacara jasmani nanging gumunggung ing bab iman punika saged nuwuhaken karisakan.
Salebeting gesang kita sadinten-dinten, gampil kita panggihaken pengalaman iman ingkang nyata, ingkang sami kaliyan reraosan kita dinten punika. Contonipun: kita dedonga sesarengan, kita mbagi pengalaman iman, kita pirembagan sesarengan. Ingkang kedah kita enget pengalaman sesarengan punika, sampun ngantos kita risak srana pemanggih ngasoraken tiyang sanes. Kita mboten pareng ginakaken kalepatan tiyang sanes supados dhiri kita ketingal langkung beriman lan ngadili tiyang sanes mawi cara kita. Menawi kita mendhet kesimpulan sacara sepihak adhedhasar punapa ingkang kita tingali lajeng nyebaraken gosip, punika namung ndadosaken donga-donga kita punika palsu. Kedahipun iman lan pandonga punika nylametaken kita lan para tiyang ingkang gesang sareng kita.
Ing kitab 1 Samuel 16 (waosan 1), kacariyosaken kados pundi nabi Samuel ngupaya madosi sinten ingkang pantes dipun jebadi dening Gusti dados Ratu Israel gantosipun Saul ingkang sampun dipun tolak Gusti Allah. Nalika Samuel ngadepi para anakipun Isai, piyambakipun nggadah pemanggih bilih Gusti Allah badhe mandeng rupa lan remen tumrap tiyang ingkang badanipun inggil. Nanging Gusti Allah ngendika, “Manungsa punika namung ningali punapa ingkang ketingal ing sakngajenging mripat, nanging Gusti Allah ningali salebeting manah.” Manungsa asring langkung cepet ningali lan remen kaliyan penampilan ingkang ideal, nanging mboten kritis lan waspada tumrap punapa ingkang wonten manahipun manungsa. Kagem Gusti, ingkang langkung nentukaken kasetyan iman, inggih punika sikep manahipun manungsa wonten ngarsan-Ipun. Dawud ing tembe dinten ugi mboten lepat saking karingkihanipun minangka manungsa, nanging piyambakipun tetep dipun agem Gusti awit manahipun purun mratobat lan ndandosi kalepatan ingkang nate dipun tindakaken.
Sacara konkrit, Rasul Paulus ngajak Pasamuwan Efesus kangge tumindak sae, adil, lan bener minangka wujuding laku nyata anak-anaking pepadhang. Tumindak sae tegesipun nindakaken samukawis prekawis ingkang migunani kangge tiyang sanes. Tumindak adil tegesipun negakaken martabating manungsa ingkang dipun tindes kasrakahan. Tumindak bener tegesipun wantun wicanten ‘mboten’ bilih punika lepat, lan wantun wicanten ‘inggih’ bilih punika bener. Kanggenipun tiyang ingkang ngraosaken Sih Rahmatipun Gusti, tamtu tugas timbalan punika saged dipun tindakaken sanadyan kathah tiyang ingkang maido, manahipun mboten saged goroh. Manahipun tansah tenang lan padhang, mboten kawon kaliyan pepetheng.
Panutup
Dosa punika sampun ndadosaken mripat karohanening manungsa punika wuta ngantos ngrisak gesang. Pasulayan, tumindak jahat, hawa nepsu, lan perang punika wohing saking petenging gesang. Sadar tumrap kawontenanipun dosa, kalepatan, tumindak awon, lan gagal, punika mboten ateges mboten wonten malih pigesangan. Justru nalika kita sadar wonten ingkang risak salebeting gesang kita, lajeng tuwuh kasadaran wangsul dhumateng Gusti lan ndandosi laku gesang kita tumuju dhateng gesang enggal ingkang langkung sae. Gusti Yesus mbikakaken manah kita supados cara pandeng kita tansah tumuju dhumateng Panjenenganipun, sanes dhateng donya. Kabuka dhateng panguwaosipun Gusti Allah badhe nyagedaken kita kangge mranata gesang enggal, gesang ingkang laras kaliyan karsanipun Gusti Allah.
Ing Minggu Pra Paskah 4 punika, mangga kita mratobat. Kita sedya dipun ewahi dening Gusti Yesus Kristus. Kita mboten namung nelangsani saben dosa kita, nanging kita ugi ngupaya ngawonaken raos gumunggung lan ego rohani salebeting dhiri kita. Minggu pamratobat punika ngajak kita maringi kesempatan kangge tiyang sanes ngalami kasaenanipun Gusti. Saben kita ingkang ringkih punika sadar bilih Gusti Allah kagungan rancangan ingkang endah tumrap punapa kemawon ingkang kedadosan ing gesang kita. Gusti Allah karsa ndadosaken kita minangka pribadi ingkang mbekta pepadhangipun Gusti kagem sadaya tiyang ing antawis kita. Pamulihan punika minangka kesempatan saking Gusti supados Pepadhang-Ipun kanyatakaken lumantar kita dhateng donya. Mugi pepadhangipun Gusti punika tansah sumunar lumantar gesang kita ingkang dipun agem Gusti Yesus. Mugi namung Asmanipun Gusti Yesus kemawon ingkang kamulyakaken ing salebeting lampah gesang kita. Gusti Yesus tansah mberkahi kita. Amin. [Terj. AR].
Pamuji: KPJ. 275 Srana Mandeng Ing Salib