Bacaan: Mazmur 72 : 1 – 7, 18 – 19 | Pujian: KJ. 454
Nats: “Dan terpujilah nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi.” (Ayat 19)
Pada buku ‘Doa Sang Katak 1’ karya Anthony de Mello, ada sebuah tulisan menarik tentang doa. Ada seseorang bijak dari India yang bernama Narada. Ia begitu mencintai Tuhan dan berpikir bahwa dialah satu-satunya orang yang mencintai Tuhan. Tuhan mengetahui hatinya, lalu ia diutus untuk menemui seseorang di dekat sungai Gangga. Maka berangkatlah ia dan menemui seorang petani. Sebelum petani itu bekerja, ia menyebut nama Tuhan satu kali, lalu sebelum tidur petani itu menyebut nama Tuhan satu kali lagi. Mengetahui hal itu Narada bergumam dalam hatinya, mengapa Tuhan mengutusnya kepada petani itu. Sedangkan petani itu dipenuhi hal-hal duniawi. Mendengar gerutuan Narada, Tuhan menyuruhnya untuk membawa sebuah mangkuk yang dipenuhi dengan susu lalu berjalan mengelilingi kota. Setelah Narada melakukan hal itu, Tuhan bertanya kepadanya, “Berapa kali engkau mengingat Tuhan selama mengelilingi kota?” Narada menjawab bahwa tidak sekalipun mengingatnya. Tuhan berkata kepada Narada bahwa mangkuk itu telah menguasai pikirannya, sedangkan petani itu meskipun melaksanakan tugas menghidupi keluarga, tetap mengingat Tuhan setidaknya dua kali.
Seperti cerita tentang Narada dan petani di atas, bacaan kita menunjukkan bagaimana Salomo meletakkan doa sebagai prioritas hidupnya. Dalam mengatur pemerintahan, Salomo ingin dirinya diberkati dengan keadilan Tuhan. Hubungannya dengan Tuhan membuatnya sadar bahwa meskipun ia raja, tetapi ia tunduk pada kekuasaan Tuhan. Ia ingin membuat posisinya sebagai raja menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menghadirkan damai sejahtera. Dari hubungan yang menghadirkan keadilan dari Allah, ia juga ingin mempunyai hubungan yang serupa dengan rakyatnya. Ia peduli pada orang-orang miskin dan melakukan pembelaan pada rakyatnya di hadapan para pemeras-pemeras.
Belajar pada dua cerita di atas, sebagai apapun kita, sudah semestinya kita memprioritaskan doa yang bersumber pada Tuhan, bukan sekadar rutinitas saja. Dalam hal sehari-hari seperti yang petani itu lakukan maupun hal besar seperti Salomo, kita harus tetap mengingat Tuhan dengan berdoa. Lebih jauh daripada itu, segala yang kita doakan, seperti Salomo, juga kita lakukan dalam keseharian kita. Amin. [27].
“Doa bukanlah kekuatan terakhir, doa adalah jalan pertama.”