Tahun Liturgi: Bulan Ekumene
Tema: Menolong dengan Kasih, Bukan dengan Pilih-pilih
Judul: Mengasihi Tanpa Syarat
Bacaan: 2 Raja-raja 5 : 1-3, 7-15
Ayat Hafalan: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 39)
Lagu Tema: Kidung Siwi 97 Yesus Cinta Semua
Tujuan:
- Remaja dapat menceritakan kembali kisah Naaman dan gadis kecil.
- Remaja dapat menjelaskan makna menolong tanpa diskriminasi berdasarkan kisah ini.
- Remaja dapat mengidentifikasi hambatan sosial atau budaya dalam menolong sesama dan mencari solusinya.
- Remaja dapat mengevaluasi sikap dirinya dan lingkungannya dalam hal kepedulian terhadap orang lain.
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Bacaan ini menceritakan tentang Naaman, seorang panglima perang dari Bangsa Aram. Ia seorang yang hebat, gagah, disegani dan banyak berjasa bagi negaranya. Tetapi ada satu hal yang membuat hidupnya tidak sempurna. Ia menderita sakit kusta. Penyakit ini adalah penyakit yang sangat menakutkan pada saat itu. Tidak hanya dirasakan pada tubuh yang sakit, tetapi juga membuat penderitanya dikucilkan secara sosial. Sakit kusta dianggap sebagai penyakit kutukan. Naaman meskipun seorang panglima yang hebat, tetap saja ia tidak kebal terhadap penyakit ini.
Di dalam rumah Naaman, ada seorang gadis kecil tawanan dari bangsa Israel yang dibawa jauh untuk menjadi pelayan istri Naaman. Gadis kecil ini ternyata tidak menyimpan dendam. Gadis ini melihat penderitaan Naaman yang sakit kusta, dan ia memilih untuk berusaha menolong Naaman. Dia memberitahukan kepada majikannya bahwa ada seorang nabi di Israel yang dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Naaman. Gadis ini berusaha menolong Naaman bukan karena ia adalah seorang yang pantas atau baik tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan kasih Tuhan tidak membeda-bedakan.
Pada akhirnya Naaman berangkat ke Israel menuju rumah Elisa untuk minta disembuhkan. Apa yang terjadi ternyata tidak seperti yang diharapkan oleh Naaman. Naaman berharap Elisa datang kepadanya, menyentuhnya dan menyembuhkan Naaman. Tetapi yang terjadi adalah, Elisa hanya menyuruh Naaman mandi di Sungai Yordan sebanyak tujuh kali.
Awalnya Naaman marah karena merasa diperlakukan tidak sopan. Ia juga menganggap sungai di negaranya jauh lebih baik. Tetapi setelah dibujuk oleh pelayannya akhirnya Naaman menuruti perintah Elisa. Naaman akhirnya sembuh total setelah menuruti perintah Nabi Elisa. Tidak hanya sembuh tubuhnya dari sakit kusta, hati Naaman juga berubah. Ia jadi mengenal Tuhan yang benar.
Dari bacaan ini kita dapat belajar bahwa pertolongan yang penuh kasih dan ketulusan dari seorang gadis kecil, dapat membawa seseorang mengalami kesembuhan dan pertobatan. Inilah kuasa dari kasih yang tidak pilih-pilih. Kita melihat Tuhan dapat memakai siapa saja menjadi berkat, bahkan seorang gadis kecil yang mungkin dianggap hanya sebagai pelayan yang tidak pantas.
Gadis kecil dan Nabi Elisa juga tidak melihat siapa yang ditolong. Mereka melakukan itu dengan tulus. Bukan masalah siapa yang ditolong tetapi tentang menyampaikan kasih Tuhan kepada orang lain. Melalui tindakan kecil yang mungkin dianggap tidak berarti, namun dapat membawa dampak yang besar ketika dilakukan dengan kasih dan iman.
Pendahuluan:
Teman-teman, tentu kita pernah ditolong oleh orang lain. Kita juga mestinya pernah menolong orang lain. Kira-kira apa ya yang membuat teman-teman mau menolong orang lain? Apakah karena yang ditong itu saudara atau teman dekat? Atau karena dia adalah orang yang ngetop atau populer? Atau mungkin karena dia berada dalam satu geng di sekolah atau sekelompok pelayanan di gereja? (Ajak teman-teman remaja untuk menjawab atau berbagi cerita tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut.)
Cerita:
Teman-teman, Bacaan hari ini menceritakan sebuah kisah yang luar biasa tentang seorang gadis kecil yang merupakan tawanan dari Israel yang tinggal di rumah Naaman. Naaman adalah seorang panglima perang dari musuh bangsa gadis kecil itu. Kita bisa bayangkan betapa tidak nyaman keadaan gadis kecil itu. Ia berada jauh dari rumah dan hidup sebagai budak di rumah oran yang membuat bangsanya sendiri menderita. Namun perbuatan yang dilakukan oleh gadis kecil itu tetap dipenuhi kasih. Ketika Naaman sakit kusta, yang pada saat itu merupakan penyakit yang mengerikan dan dianggap sebagai penyakit kutukan, gadis ini tidak menahan kasihnya. Ia tidak memilih untuk membiarkan saja atau membalas dendam. Ia justru menunjukkan kasihnya dengan menyampaikan kepada majikannya bahwa ada seseorang yang dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Naaman.
Kita dapat melihat bahwa gadis kecil ini melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia tidak memandang Naaman sebagai musuhnya. Gadis kecil ini memiliki kasih yang tulus. Ia mengesampingkan luka batin, perbedaan budaya, status sosial bahkan sejarah permusuhan bangsanya. Ia percaya bahwa kasih dan kuasa Tuhan tidak terbatas hanya untuk dirinya sendiri.
Teman-teman, mungkin terkadang kita mau menolong tetapi dengan syarat. Syaratnya, harus teman dekat, teman satu kelompok pelayanan, atau satu circle, dan sebagainya. Atau, maukah kita menolong orang yang pernah menyakiti kita, orang yang kita anggap tidak pantas kita tolong, biarkan saja dia susah?
Melalui kisah ini kita memperoleh pelajaran bahwa menolong sesama harus berlandaskan kasih, bukan karena berdasarkan siapa atau latar belakang orang yang akan kita tolong. Mari kita belajar dari gadis kecil yang mau menolong Naaman dengan kasih yang tulus. Mari kita juga belajar dari Nabi Elisa yang mau menolong Naaman, meskipun dari bangsa lain. Sehingga apa yang dilakukan oleh gadis kecil dan Nabi Elisa ini dapat menampakkan kasih Tuhan kepada orang lain.
Tuhan Yesus sendiri juga menyatakan kasihNya yang menembus tembok sosial, budaya, status, bahkan luka hati. Di dalam hidupNya Tuhan Yesus mau makan bersama dengan pemungut cukai, menyentuh orang yang sakit kusta, dan berbicara dengan perempuan Samaria. Semua itu menyalahi norma sosial pada waktu itu. Tetapi bagi Tuhan Yesus, kasih selalu lebih besar daripada aturan dan penilaian manusia.
Teman-teman, dunia ini memang penuh dengan batas, karena geng, status sosial, circle, perbedaan pendapat, bahkan perbedaan gereja. Namun kita diingatkan bahwa kita mengasihi tidak boleh pilih-pilih. Kasih menembus semua batas yang ada. Bagaimana dengan kita? Apakah kita bersedia menjadi seperti gadis kecil yang menolong dengan kasih dan bukan dengan pilih-pilih? Apakah kita berani melawan hambatan sosial dan budaya demi menunjukkan kasih Tuhan kepada semua orang?
Aktivitas:
Bagi remaja dalam kelompok kecil. Minta mereka untuk menceritakan kembali kisah Naaman dan gadis kecil dengan kreatifitas masing-masing kelompok, misalnya dengan drama pendek, pantomim, atau cerita berantai.