Tahun Liturgi: Bulan Tanpa Kekerasan Internasional
Tema: Jangan Cepat Menghakami, Kasihilah temanmu
Judul: Lihat dengan Kasih, Bukan Penghakiman
Bacaan: Yohanes 8:2-11
Ayat Hafalan: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7: 1)
Lagu Tema: Kidung Siwi 76 Berbeda Tetaplah Bersaudara
Tujuan :
- Remaja dapat menjelaskan mengapa Yesus tidak ikut menghakimi perempuan tersebut.
- Remaja dapat mengidentifikasi cara untuk menghindari tindakan kekerasan verbal dan fisik dalam kehidupan sehari-hari.
- Remaja dapat membedakan antara kritik yang membangun dan tindakan menghakimi yang merendahkan.
- Remaja dapat menilai sikap Yesus sebagai teladan dalam menghadapi orang yang bersalah.
- Remaja dapat merancang sebuah kampanye kecil (misalnya poster atau video pendek) tentang pentingnya kasih tanpa kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Orang-orang Farisi dan ahli Taurat pada waktu itu sangat ketat menjalankan hukum agama. Mereka tidak suka kepada Yesus karena ajaran-ajaran Tuhan Yesus seringkali mengritik kemunafikan mereka dalam menjalankan aturan-aturan agama. Karena itu mereka ingin menjebak Yesus supaya Ia mengatakan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menangkapNya. Mereka membawa ke depan Yesus, seorang perempuan yang tertangkap basah berzina. Harapan mereka adalah Yesus terjebak untuk menghakimi perempuan itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Yesus sangat berbeda dengan apa yang mereka harapkan.
Yesus tidak segera melakukan penghakiman. Ia hanya membungkuk dan menulis dengan jariNya di tanah. Dengan tidak sabar orang-orang ertanya kepadaNya apa yang akan dilakukan. Lalu Yesus bangkit dan menjawab seperti pada ayat 7, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. ” Sampai pada akhirnya semua orang pergi meninggalkan tempat itu karena tidak ada yang merasa tidak berdosa.
Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak tergesa-gesa dalam melakukan penghakiman. Ia dipenuhi dengan rasa kasihan kepada orang yang melakukan kesalahan dan dosa. Bukan berarti Yesus tidak menghiraukan dosa yang dilakukan perempuan itu. Bagi Yesus, orang yang berhak melakukan penghakiman adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Karena itu banyak orang tidak berani melakukan penghakiman kepada perempuan itu dan pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak berhenti begitu saja, Yesus memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk bertobat, tidak melakukan dosa itu lagi. Makna dari ini adalah bahwa Yesus tidak ingin menghukum manusia yang bersalah dan berdosa karena Yesus sangat mengasihi manusia. Tetapi Yesus juga tidak ingin manusia terus hidup di dalam dosa. Karena itu manusia diberi kesempatan untuk bertobat dan tidak melakukan dosa lagi. Hidup semakin baik dan tidak bercacat serta mengulangi lagi kesalahan dan dosa.
Pendahuluan
Teman-teman, pernahkah kita menemui suatu kejadian yang menarik dan membuat kita untuk ikut-ikutan campur tangan tanpa kita sadari sebenarnya kita sedang memberikan penilaian kepada orang lain. Misalnya, Ketika ada orang sedang membicarakan keburukan orang lain, kita ikut-ikutan menilai negatif orang yang sedang dibicarakan. Teman yang datang terlambat kita cap ceroboh atau malas. Teman yang pendiam kita bilang sombong. Atau ketika kita sedang melihat media sosial, kita ikut-ikutan menghujat tanpa mengerti cerita yang sebenarnya.
Cerita
Bacaan Alkitab yang sudah kita baca tadi menceritakan bahwa suatu pagi-pagi, Yesus sedang mengajar di Bait Allah ketika sekelompok orang datang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat dosa. Orang-orang itu tidak hanya menyeret tubuh perempuan itu, tetapi juga menyeret harga dirinya di depan banyak orang. Kemudian mereka menanyakan bagaimana pendapat Yesus tentang hukum Musa yang memerintahkan untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.
Yesus tidak langsung menjawab. Ia tidak terprovokasi oleh kejadian itu. Ia tidak terburu-buru menghakimi seperti yang dilakukan oleh orang banyak di sana. Sebaliknya, Ia membungkuk dan menulis di tanah dengan jariNya. Ketika terus didesak, Yesus kemudian memberikan jawaban yang sangat bijak seperti yang tertulis pada ayat 7, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Setelah itu Yesus kembali membungkuk dan menulis di tanah.
Satu persatu orang-orang yang berada di tempat itu, yang tadinya menuntut penghakiman dari Yesus, pergi meninggalkan tempat itu. Mereka sadar bahwa merekapun sebenarnya adalah oran yang berdosa. Tidak ada satupun di antara mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Sampai akhirnya tinggallah Yesus dan perempuan itu di tempat itu. Yesus tidak menghakimi atau menghukumnya. Yesus berkata, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Bagaimana dengan kita saat ini, apakah kita masih seringkali ikut-ikutan menghujat dan menghakimi, bahkan menghukum orang yang melakukan kesalahan? Atau bahkan kita tidak tauhu cerita yang sesungguhnya, kita sudah memberikan penilaian yang tidak baik kepada orang lain? Seringkali tanpa kita menyadari, kita terlalu cepat meilai orang lain. Yang terjadi adalah kita menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari.
Melalui bacaan yang kita baca, kita melihat Yesus memberikan teladan yang luar biasa. Ia melihat suatu kejadian tidak hanya dari kesalahan seseorang. Ia melihat dengan hati yang penuh maaf. Ia memilih kasih yang memaafkan dan bukan penghakiman yang menyakitkan.Yesus tidak menghakimi Ia datang ke dunia ini bukan untuk menghukum. Ia inging menyelamatkan umta manusia. Yesus tahu bahwa setiap orang membutuhkan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, karena itu ia memberi kesempatan untuk bertobat.
Melalui cerita ini kita juga belajar bahwa kekerasan bukan hanya secara fisik. Pada saat itu yang dilakukan oleh banyak orang adalah tuntutan agar perempuan yang melakukan dosa itu dihukum dengan dilempari batu. Namun pada saat ini, yang bisa dilakukan untuk menghakimi tidak hanya secara fisik tetapi juga dapat melalui kata-kata. Menyebar gosip, mengejak, atau mempermalukan orang lain termasuk juga bentuk kekerasan.
Jika kita mengasihi orang yang sedang melakukan dosa atau kesalahan kita dapat menyampaikan kritik yang membangun, yang disampaikan dengan penuh kasih dan bertujuan untuk menolong. Berbeda dengan penghakiman yang merendahkan dan membuat orang lein merasa tidak berharga.
Teman-teman, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan karena kita bukanlah manusia yang sempurna. Karena itu janganlah kita cepat menghakimi orang lain. Mari meneladan kepada Yesus yang dengan sabar, penuh kasih, tidak reaktif, bahkan dapat memulihkan orang yang bersalah. Mari menjadi agen kasih yang mengajak orang lain untuk mengasihi orang lain tanpa kekerasan.
Aktivitas
Bentuk kelompok-kelompok kecil dengan anggota cukup 2 sampai 4 orang saja. Ajak teman-teman remaja untuk berdiskusi dan berbagi cerita dalam kelompok kecil dengan bahan diskusi sebagai berikut:
- Pernahkah kamu dikritik? Bagaimana perasaanmu? Apakah itu membangun atau menjatuhkan?
- Apa bedanya kritik membangun dengan menghakimi?
- Bagaimana cara mengingatkan teman dengan tanpa merendahkan?
Contoh kasus untuk dibahas bersama:
“Seseorang di kelompokmu jarang hadir dan saat datang, sering bermain HP. Apa yang akan kamu lakukan?”