Minggu Biasa | Pekan Adi Yuswa
Stola Hijau
Bacaan 1: Kejadian 18 : 1 – 10a
Mazmur: Mazmur 15
Bacaan 2: Kolose 1 : 15 – 28
Bacaan 3: Lukas 10 : 38 – 42
Tema Liturgis: Adi Yuswa GKJW : Bernas!
Tema Khotbah: Adi Yuswa GKJW : Bernas!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 18 : 1 – 10a
Kejadian 18:1-10 diawali dengan TUHAN menampakkan diri-Nya kepada Abraham di dekat pohon terbantin di Mamre (Ay. 1). Setelah menyampaikan perjanjian-Nya dengan Abraham, tidak begitu lama kemudian datanglah tiga orang tamu di depan kemah Abraham. Abraham menerima dan menyambut ketiga tamunya itu dengan ramah bahkan ia sampai bersujud ke tanah sebagai ungkapan hormatnya kepada ketiga tamu tersebut (Ay. 2). Kemudian Abraham mempersilakan mereka untuk beristirahat sejenak, setelah mereka membasuh kaki mereka. (Ay. 4). Lalu ia menjamu mereka dengan mengolah makanan yang terbaik bagi mereka (Ay. 5). Abraham meminta kepada Sara untuk membuatkan roti bagi mereka, sementara ia mengambil seekor sapi lalu mengolahnya untuk dihidangkan kepada ketiga tamunya itu (Ay. 6-8). Abraham ingin sekali menunjukkan keramahannya kepada tiga orang tamunya. Pada zaman Abraham, reputasi seseorang pada umumnya dihubungkan dengan keramahannya, yakni dengan berbagi tempat singgah dan berbagi makanan. Para orang asing diperlakukan sebagai tamu dengan penghormatan tinggi. Hal semacam itu juga merupakan sebuah kesempatan untuk membangun relasi.
Di saat Abraham berbincang dengan mereka, ketiga orang itu menanyakan, ”Dimanakah Sara, istrimu?” Abraham menjawab, ”Di sana, di dalam kemah.” Artinya percakapan antara Abraham dengan ketiga orang itu didengar juga oleh Sara yang ada dalam kemah, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Selanjutnya ketiga orang tadi menyampaikan firman TUHAN, ”Sesungguhnya Aku akan kembali menemui engkau tahun depan. Pada waktu itulah Sara, istrimu akan mempunyai seorang anak laki-laki.” (Ay. 10 TB2). Mareka menyampaikan berita sukacita bahwa Abraham dan Sara akan dikaruniai seorang anak yang telah lama mereka nanti-nantikan. Yang menarik adalah sikap Sara yang mendengarkan berita itu, ia tertawa (Ay. 12). Hal ini sangat wajar mengingat saat itu usia Sara sudah tua dan ia sudah mati haid, maka sangatlah tidak mungkin baginya mengandung dan melahirkan seorang anak (Ay. 11). Ketiga orang itu kemudian menyatakan kuasa Allah bagi keluarga Abraham, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi TUHAN (Ay. 14). Ketika TUHAN telah menyatakan kehendak dan kuasa-Nya, maka apa yang mustahil bagi manusia, dapat terjadi. Dan hal ini kemudian digenapi melalui peristiwa lahirnya Ishak, yang dikisahkan dalam Kejadian 21.
Kolose 1 : 15 – 28
Di jemaat Kolose ada kesalahpahaman tentang Kristus, yang oleh Paulus kemudian diupayakan untuk diluruskan, yaitu:
- Banyak orang percaya bahwa benda/materi adalah jahat, untuk itu para guru palsu memiliki pendapat bahwa Tuhan Allah tidak akan datang ke bumi berwujud manusia, Allah tidak menciptakan dunia jasmani, dan kekuasaannya hanya di dunia spiritual. Mereka percaya bahwa Allah tidak menciptakan dunia, sebab Allah tidak mungkin menciptakan kejahatan, karena mereka percaya bahwa dunia fisik adalah jahat. Rasul Paulus menjelaskan bahwa Kristus adalah gambar Allah, dan Dia sendiri adalah Allah. Semua aturan, kekuasaan, tahta, dan otoritas ada di wilayah dunia spiritual dan jasmani, diciptakan oleh dan ada dalam otoritas Kristus sendiri. Dia menciptakan dunia dan sorga.
- Ada yang mengatakan bahwa Kristus bukan Putra Allah, melainkan sebagai salah satu perantara di antara Tuhan Allah dan manusia. Rasul Paulus menjelaskan bahwa Kristus ada sebelum semua diciptakan dan Dia menjadi Putra Sulung dari antara orang yang dibangkitkan dari kematian.
- Ada yang menolak mengakui Kristus adalah sumber keselamatan, mereka yakin bahwa manusia mampu menemukan Tuhan Allah melalui ilmu khusus. Rasul Paulus membuka kenyataan bahwa keselamatan hanya melalui Kristus saja. Rasul Paulus terus berargumen agar mereka kembali di hadapan Kristus. Di sinilah Paulus ingin meluruskan pemahaman yang keliru tersebut. Paulus menegaskan bahwa Kristus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Jangan mengurangi salah satu aspek pada diri Kristus, baik kemanusiaan-Nya maupun keilahian-Nya. Ia adalah gambar Allah (Ay. 15-16). Oleh karena itu, Kristus adalah yang tertinggi di atas semua ciptaan, termasuk kuasa dunia.
Selanjutnya Paulus berbicara tentang penderitaan, ia berkata, “aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus”, (Ay. 24). Disini Paulus bermaksud menjelaskan bahwa Kristus menderita untuk menyelamatkan umat-Nya, jika ada penderitaan yang harus ia alami dan tidak dapat dihindari, itu berkaitan dengan tugasnya membawa Kabar Baik kepada dunia. Hal tersebut disebut sebagai penderitaan Kristus, sebab itu orang Kristen juga mengalami penderitaan dikaitkan dengan Kristus.
Sebagian umat Kolose percaya kesempurnaan spiritual adalah sebuah rahasia dan rencana tersembunyi yang dialami oleh sedikit umat percaya (Ay.25) Paulus menyatakan rencana Allah merupakan sebuah ‘misteri yang tersembunyi sejak berabad-abad dan dari generasi lampau’, bukan dalam pengertian bahwa hanya sedikit yang akan mengerti, tetapi karena itu tersembunyi sampai Kristus datang. Melalui Kristus, hal itu dibuka bagi semua. Rencana rahasia Allah itu adalah ‘Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!’ Allah berkehendak Anak-Nya, Yesus Kristus, hidup dalam hati semua orang percaya, termasuk bangsa asing, seperti orang Kolose. Kristus tidak tersembunyi jika kita mau datang kepada-Nya (Ay. 26-27).
Kata kesempurnaan berarti dewasa, bukan sempurna tanpa cacat. Paulus ingin melihat setiap orang percaya dewasa secara rohani. Warta Kristus untuk semua orang di segala tempat harus diwartakan. Karena itulah, Paulus pergi membawa ‘Kabar Baik’ untuk semua orang yang mau mendengarkannya. Sebuah presentasi efektif tentang Injil, termasuk peringatan dan pengajaran. Peringatan: tanpa Kristus, umat menemui ajalnya dan terpisah kekal dari Allah. Pengajaran: keselamatan tersedia melalui iman di dalam Kristus.
Lukas 10 : 38 – 42
Maria dan Marta keduanya mengasihi Tuhan Yesus. Dalam peristiwa ini, Tuhan Yesus mengunjungi rumah mereka, dan melayani-Nya. Marta merasa, cara pelayanan yang dilakukan oleh Maria nilainya lebih rendah dibandingkan dengan pelayanan yang ia lakukan. Tetapi Marta tidak sadar, di dalam keinginannya melayani Tuhan Yesus, sebenarnya dia mengabaikan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak menyalahkan Marta yang lebih memilih kesibukan rumah tangga. Tuhan Yesus hanya menghendaki agar Marta dapat memilih prioritas yang terbaik.
Pelayanan bagi Tuhan Yesus bisa turun derajatnya hanya karena kesibukan yang lebih menyita perhatian kita daripada kepatuhan dan kasih kita kepada-Nya. Prioritas tidak harus selalu sama bagi setiap orang. Sebuah prioritas yang terbaik membawa dampak positif. Tuhan Yesus tidak menyalahkan prioritas yang berbeda yang dipilih oleh Marta dan Maria. Dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang cukup secara pribadi untuk mampu menentukan prioritas yang terbaik. Motivasi mengasihi Tuhan dan sesama merupakan bagian penting untuk menentukan prioritas terbaik.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dinamika kehidupan mengharuskan kita untuk menghadapi situasi yang ada dengan menentukan prioritas yang tepat. Ketiga bacaan kita ini mengemukakan pentingnya menentukan prioritas yang terbaik, yang berdampak positif bagi kesejahteraan jiwa dan raga, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘bernas’ berarti: berisi penuh (butir padi), banyak isinya (pidato, petuah, ceramah), dapat dipercaya. Tema khotbah kita Minggu ini: Adi Yuswa GKJW: Bernas! Tema ini berisi dorongan agar setiap warga adi yuswa GKJW dapat berdaya guna bagi jemaat. Sebagai warga yang matang dalam pengalaman hidup beriman, warga adi yuswa diharapkan menjadi teladan iman dalam tumbuh kembang sebuah jemaat. Ada sebuah mutiara kata yang berbunyi, “Pekerjaan tersulit dan termahal dalam hidup adalah memperbaiki diri sendiri.” (Moeflich H. Hart). Pesan dari kata mutiara ini: agar warga adi yuswa dapat semakin berisi, dapat dipercaya, dan berdaya guna bagi jemaat, maka dibutuhkan kemampuan untuk mengoreksi diri dan memperbaikinya. Warga adi yuswa sungguh-sungguh menjaga laku hidupnya, bernas sehingga keberadaannya menjadi berkat bagi jemaat.
Isi
Dinamika kehidupan kita saat ini mengharuskan kita untuk menghadapi situasi yang ada dengan menentukan prioritas yang baik dan tepat. Melalui ketiga bacaan kita pada minggu ini, kita dapat menemukan prioritas yang terbaik, yang berdampak positif bagi kesejahteraan jiwa dan raga, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama.
- Prioritas Setiap Orang Tidak Selalu Sama
Rasa hormat dan keramahtamahan masyarakat Jawa saat menerima tamu, diungkapkan melalui mutiara kata: ‘Gupuh, lungguh, suguh’. Artinya: dengan tergesa-gesa menyambut dan menemui tamunya, kemudian mempersilakan duduk, serta menjamunya dengan makanan/minuman. Hal ini dilakukan sebagai rasa hormat dan keramahtamahan bagi tamu.
Marta dan Maria, masing-masing mengekspresikan rasa hormat dan keramahtamahan mereka kepada Tuhan Yesus dengan cara yang tidak sama. Ketika Tuhan Yesus mengunjungi Maria dan Marta di tempat tinggal mereka, Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Sementara itu, Marta sibuk sekali melayani Tuhan. Ketika Marta merasa kewalahan, ia memohon Tuhan Yesus berkenan menyuruh Maria untuk membantunya. Dan Tuhan Yesus menjawabnya, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk. 10:41-42). Jawaban Tuhan Yesus tersebut memberi pemahaman bahwa Maria telah menentukan prioritas yang terbaik dan yang tidak akan pernah hilang dari padanya, yakni dekat dengan Tuhan Yesus dan mendengar pengajaran-Nya! Tuhan Yesus tidak menyalahkan prioritas yang berbeda yang dipilih oleh Marta dan Maria, namun Dia menunjukkan dampak positif berkaitan dengan prioritas yang terbaik. - Untuk Menentukan Prioritas Terbaik Dibutuhkan Pengetahuan dan Pengalaman Pribadi
Salah satu nasihat orang Jawa berbunyi: “Wong Jawa kudu sinau maca kahanan amrih tanggap ing sasmita” (sasmita = polatane praen/ekspresi, pratandha/tanda). Terjemahan bebas ke Bahasa Indonesia: orang Jawa harus belajar membaca/mengamati keadaan agar dapat paham dan mengerti meski sesuatu itu semu (gelagat, lambang).Maria dan Marta tentu memiliki pengetahuan dan pengalaman secara pribadi, yang khas berkaitan hubungan mereka dengan Tuhan Yesus, yang membuahkan rasa hormat dan keramahtamahan yang berbeda.
Abraham menunjukkan keramahtamahannya kepada tiga orang tamunya. Pada zaman Abraham, reputasi seseorang pada umumnya dihubungkan dengan keramahtamahannya, yakni dengan berbagi tempat singgah dan berbagi makanan. Para orang asing diperlakukan sebagai tamu dengan penghormatan tinggi. Memahami kebutuhan orang lain akan makanan atau tempat untuk singgah merupakan salah satu cara praktis dan spontan, sebagai wujud kepatuhan kepada Allah. Hal semacam itu juga merupakan sebuah kesempatan untuk membangun relasi.
Pola berpikir seperti ini harus kita miliki, di saat kita memiliki kesempatan berjumpa dan memahami kebutuhan sesama. Motivasi mengasihi Tuhan dan sesama merupakan bagian penting untuk menentukan prioritas/pilihan yang terbaik. - Iman dan Pengakuan yang Kokoh
Salah satu ajaran Jawa berbunyi: “Sapa tekun golek teken, bakal tekan.” Ajaran ini mengandung makna: barangsiapa yang bertekun mencari tongkat akan sampai pada tujuan! Tongkat adalah alat bantu atau pertolongan. Orang Jawa mengakui dan sadar tentang keterbatasannya sebagai manusia. Banyak hal yang tidak dapat dilakukannya sendiri dan harus mendapatkan bantuan dari pihak lain. Tongkat juga memiliki makna ilmu pengetahuan, Kitab Suci agama-agama, dst. Memiliki tongkat, meskipun berjalannya sangat lamban akan dapat berjalan terus sampai pada tujuan.Tuhan Yesus berkata, “tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk. 10:42). Bingung? Benar, kita sering bingung. Banyak hal yang menyebabkkan kita bingung. Bingung berhubungan erat dengan hal memilih dan setiap saat kita harus memilih. Setelah kita bangun pagi, kita harus memilih: langsung bangun atau bermalas-malasan dahulu, cepat-cepat melakukan aktifitas, membuka HP atau nonton TV, dst. Demikian, banyak hal yang perlu kita pilih. Kita bisa bingung memilih jika kita tidak bisa menentukan prioritas. Prioritas adalah sesuatu yang kita anggap penting dan perlu kita jadikan nomer satu.
Maria dan Marta keduanya mengasihi Tuhan Yesus. Mereka menyambut dan melayani-Nya. Menurut Marta, cara menyambut dan melayani seperti yang dilakukan oleh Maria itu dianggapnya bernilai rendah dibandingkan dengan penyambutan dan pelayanan yang dilakukannya. Marta tidak sadar bahwa di dalam keinginan menyambut dan melayani Tuhan Yesus, sebenarnya dia mengabaikan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak menyalahkan Marta yang lebih memilih kesibukan rumah tangga. Tuhan Yesus hanya menghendaki agar Marta membuat prioritas terbaik. Pelayanan untuk Tuhan Yesus dapat turun derajatnya hanya karena kesibukan kita, yang lebih menyita perhatian kita daripada kesetiaan kita mengikuti-Nya dan kasih kita untuk-Nya.
Apakah bapak/ibu/saudara juga sangat sibuk melakukan pelayanan untuk jemaat sampai-sampai tidak dapat menyediakan waktu khusus untuk Tuhan Yesus? Jangan sampai pelayanan kita kepada Tuhan Yesus malah menjadi pelayanan bagi diri kita sendiri.
Menurut Paulus, alat bantu (tongkat) yang tepat adalah memiliki iman dan pengakuan yang kokoh. Sebab iman dan pengakuan akan Tuhan Yesus merupakan sumber kekuatan dan pengharapan kita. ‘Siapakah Tuhan Yesus?’ Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Kolose mengemukakan kesaksiannya bahwa ‘Tuhan Yesus adalah gambar Allah.’ Hal ini merupakan pengakuan yang penting tentang keilahian Yesus (Ay. 15-16):- Tuhan Yesus tidak hanya sejajar dengan Allah (Filipi 2:6), tetapi Dia benar-benar Allah (Yoh. 10:30, 38; 12:45; 14:1-11).
- Sebagai gambar Allah, Tuhan Yesus benar-benar representasi Allah. Dia tidak hanya menyinarkan/merefleksikan Allah, tetapi Dia wujud nyata keberadaan Allah (Yoh. 1:18; 14:9).
- Sebagai yang sulung, Tuhan Yesus memiliki semua prioritas dan wewenang di tengah keluarga Sang Raja. Dia datang dari surga, bukan dari debu tanah (1 Kor. 15:47) dan Dia adalah Tuhan atas semua titah (Rom. 9:5; 10:11-13; Wahyu 1:5; 17:14).
- Tuhan Yesus suci sempurna (Ibr. 7:26-28; 1 Pet. 1:19; 2:22; 1 Yoh.3:5) dan memiliki otoritas untuk mengadili dunia (Rom 2:16; 2 Kor. 5:10; 2 Tim. 4:1).
Seperti halnya orang percaya di kota Kolose, kita harus percaya kepada ke-Tuhanan Yesus Kristus (Yesus adalah Allah). Jika kita tidak percaya kepada-Nya, maka iman Kristen kita keliru, salah arah dan tujuan, dan tidak memiliki makna. Sebab Tuhan Yesuslah pusat kebenaran dan hidup dalam iman kekristenan.
Penutup
Minggu ini, kita menghayati Pekan Adi Yuswa. Warga adi yuswa adalah bagian yang tak terpisahkan dari warga GKJW. Keberadaan mereka dapat menjadi berkat bagi jemaat, sebab mereka memiliki banyak pengalaman hidup dan pengalaman iman bersama Tuhan, yang berguna bagi generasi penerus gereja. Belajar dari pengalaman hidup dan pengalaman iman para adi yuswa, kita dapat meneladani mereka dalam hal:
- Tekun Berdoa
Warga adi yuswa memiliki banyak waktu untuk berdoa, berkomunikasi dengan Tuhan, mendengarkan firman Tuhan. Prioritas hidup mereka bukan lagi untuk mengejar materi, jabatan, kehormatan namun menjadi teladan iman dalam kesetiaan dan kasih kepada Tuhan dan sesama. Inilah yang menginspirasi jemaat untuk tekun berdoa, membangun relasi yang intim dengan Tuhan, serta memprioritaskan Tuhan dalam hidup. - Setia Bersekutu
Menjalani masa adi yuswa dengan setia bersektu dengan Tuhan dan sesama menjadi harapan semua orang. Dengan bersekutu bersama Tuhan dan komunitasnya, para adi yuswa dapat saling berbagi, menguatkan dan mendoakan satu dengan yang lain. Hidup mereka tetap bermakna sebab mereka hidup dengan saling mengisi dan melengkapi. Inilah yang menguatkan kita untuk meneladani mereka, hidup jemaat adalah setia bersekutu di dalam Tuhan dan bersama komunitas umat percaya.
Semoga pengajaran Tuhan ini sungguh menuntun kita, supaya kita dapat mengisi hidup penuh dengan ungkapan syukur, berkarya secara benar, dan membawa manfaat positif bagi semua ciptaan. Amin. [esha].
Pujian: KJ. 400 Kudaki Jalan Mulia
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tembung ‘bernas’ artosipun: berisi penuh (butir padi), banyak isinya (pidato, petuah, ceramah), dapat dipercaya. Jejering khotbah Minggu punika: Adi Yuswa GKJW: Bernas! Jejer punika saged dados tuntunan supados warga adi yuswa saged tetep berdaya guna kangge pasamuwan. Minangka warga ingkang kaanggep sampun mateng ing pengalaman gesang, warga adi yuswa dipun ajeng-ajeng saged dados tuladha iman salebeting gesangipun psamuwan. Wonten satunggaling pitutur ingkang ungelipun mekaten: “Pekerjaan tersulit dan termahal dalam hidup adalah memperbaiki diri sendiri” (Moeflich H. Hart). Pesen saking pitutur punika supados gesangipun warga adi yuswa saged langkung manteb, saged dipun pitados, lan berdaya guna kangge pasamuwan. Pramila dipun betahaken kasagedan kangge ngoreksi dhiri. Para warga adi yuswa dipun ajeng-ajeng saged njagi lampah gesangipun, bernas saengga kawontenan gesangipun saged dados berkah kangge pasamuwan.
Isi
Kangge ngadhepi dinamika pigesangan, kita perlu namtokaken prioritas. Tiga waosan kita punika paring piwulang wontenipun prioritas ingkang becik, ingkang berdampak positif kangge karaharjaning jiwa lan raga, sae kangge dhiri kita piyambak, mekaten ugi kangge karaharjaning sesami, inggih punika:
- Prioritas Saben Tiyang Mboten Kedah Sami
Raos urmat lan grapyak semanak masyarakat Jawi ing wekdal nampi tamu, dipun gambaraken lumantar pitutur: ‘Gupuh, lungguh, suguh’. Artosipun: sarta kesusu badhe methukaken/nemoni dhayoh/tamu, ngajak lenggah, lan ngaturi pasugatan/suguhan. Bab punika dipun tindakaken minangka raos urmat lan grapyak semanak kangge methukaken dhayoh/tamu.Maryam lan Marta, kekalihipun nglairaken raos urmat lan grapyak sumanakipun kagem Gusti Yesus kanthi cara ingkang mboten sami. Rikala Gusti Yesus nuweni Maryam lan Marta ing griyanipun, Maryam lenggah celak Gusti Yesus lan mirengaken dhawuh pangandikanipun Gusti. Marta ribet sanget ngladosi. Ing wekdal Marta rumaos kewalahan, piyambakipun nyuwun supados Gusti Yesus kersa ngutus Maryam mbiyantu piyambakipun. Gusti Yesus paring wangsulan: “Marta, Marta, kowe iku nyumelangake lan nggrantesake prakara akeh, mangka kang perlu iku mung siji: Maryam wis milih panduman kang becik dhewe, kang ora bakal kajupuk saka ing dheweke.” (Lukas 10:41-42). Jawabanipun Gusti Yesus punika maringi piwulang bilih Maryam sampun milih prioritas ingkang becik lan ingkang mboten badhe nate ical saking dhirinipun, inggih punika tansah celak kaliyan Gusti Yesus sarta piwulang-Ipun! Gusti Yesus mboten nglepataken prioritas ingkang benten ingkang dipun pilih dening Marta lan Maryam. Panjenenganipun nedahaken dampak-ipun prioritas ingkang becik. - Kita Mbetahaken Pangertosan lan Pengalaman ingkang Cekap sacara Pribadi kangge Milih Prioritas ingkang Becik
Pitutur Jawi ungelipun mekaten: “Wong Jawa kudu sinau maca kahanan amrih tanggap ing sasmita” (sasmita= polatane praen/ekspresi, pratandha/tanda). Bahasa Indonesia: orang Jawa harus belajar membaca/mengamati keadaan agar dapat paham/mengerti meski sesuatu itu semu (gelagat, lambang).
Maryam lan Marta tamtu gadhah pangertosan lan pengalaman pribadi ingkang khas bab sesambetanipun kaliyan Gusti Yesus, ingkang lajeng kawujudaken anggenipun sami saos urmat lan grapyak semanak ingkang benten.
Abraham kepengin sanget nedahaken grapyak sumanakipun kangge priya tiga tamunipun. Ing jamanipun Abraham, reputasi seseorang umumipun dipun gandhengaken kaliyan grapyak sumanakipun, inggih punika kanthi nyawisaken papan ngaso lan ngaturi pasugatan. Para tiyang manca dipun ajeni minangka tamu kanthi pakurmatan ingkang sae. Mangertosi kabetahanipun tiyang sanes bab tedhan lan papan kangge ngaso dados salah satunggaling cara praktis lan spontan, minangka wujud sikep patuh dhumateng Gusti Allah. Bab punika ugi dados kesempatan kangge mangun sesambetan lan pasedherekan.
Pola berpikir ingkang kados mekaten punika prayoginipun ugi tansah dados gadhahan kita, ing wekdal kita gadhah kesempatan pepanggihan/mrangguli lan mangertosi kabetahanipun sesami. Motivasi nresnani Gusti lan sesami dados bageyan penting kangge milih/namtokaken prioritas/pilihan ingkang becik. - Iman lan Pengaken ingkang Kukuh
Salah satunggiling pitutur Jawi ungelipun mekaten: “Sapa tekun golek teken, bakal tekan.” Pitutur punika ngemu teges, sinten ingkang tekun pados teken badhe dumugi tujuwan. Teken inggih punika alat bantu utawi pitulungan. Tiyang Jawi ngrumaosi lan sadar bab winatesipun manungsa. Kathah prekawis ingkang mboten saged dipun tindakaken piyambak lan kedah pikantuk pitulunganipun tiyang sanes. Teken ugi nggadhahi teges ilmu pengetahuan, Kitab Suci agami-agami, lsp. Gadhah teken, senadyan mlampahipun alon thimik-thimik, ananging badhe saged mlampah terus ngantos dumugi cita-citanipun.Gusti Yesus dhawuh: ‘mangka kang perlu iku mung siji: Maryam wis milih panduman kang becik dhewe, kang ora bakal kajupuk saka ing dheweke’ (Lukas 10:42). Bingung? Leres, kita asring bingung. Kathah bab ingkang ndadosaken kita bingung. Bingung punika gandheng rapet kaliyan tumindak milih lan saben wekdal kita ngadhepi lan kedah milih utawi ndamel pilihan. Kita tangi enjing kedah milih, langsung tangi punapa leyeh-leyeh rumiyin ing amben. Kita milih enggal-enggal tandang damel punapa nonton TV. Kita milih tumut pangibadah punapa nyambut damel. Mekaten, kathah bab ingkang perlu kita pilih. Kita saged bingung milih yen kita mboten saged namtokaken prioritas. Prioritas punika rak bab ingkang kita anggep penting, lan perlu kita dadosaken nomer satunggal? Supados kita mboten bingung malih, mangga kita migatosaken piwulangipun Gusti Yesus lumantar cariyos bab Maryam lan Marta.
Maryam lan Marta kekalihipun nresnani Gusti Yesus. Wonten ing prastawa punika, Gusti Yesus ngrawuhi griyanipun, lan Maryam sarta Marta ngladosi Penjenenganipun. Rumaosipun Marta, cara lelados ingkang katindakaken dening Maryam punika nilainipun langkung andhap lan asor katimbang peladosan ingkang katindakaken dening Marta. Ananging Marta mboten sadar bilih ing salebeting karep ngladosi Gusti Yesus, sejatosipun piyambakipun nglirwakaken Gusti Yesus. Gusti Yesus mboten nglepataken Marta ingkang langkung milih dhateng pedamelan lan kesibukan (karepotan) brayat/rumah tangga. Gusti Yesus namung ngersakaken supados Marta saged ndamel prioritas ingkang becik. Peladosan kagem Gusti Yesus saged mandhap derajatipun namung karana kesibukan ingkang langkung menyita kawigatosan kita katimbang pambangun turut lan katresnan kagem Panjenenganipun.
Punapa panjenengan ugi asring sanget sibuk nindakaken peladosan kangge pasamuwan/greja ngantos mboten saged nyawisaken wekdal kangge Panjenenganipun? Sampun ngantos peladosan kagem Gusti Yesus malah dados peladosan kangge dhiri kita piyambak.
Miturut Paulus, alat bantu ingkang tepat inggih punika gadhah iman lan pengaken ingkang kukuh, sabab iman lan pengaken ingkang mekaten punika dados sumbering kekiyatan lan pangajeng-ajeng kita. ‘Sinten ta Gusti Yesus punika?’ Ing Serat Kolose 1:15-20 Rasul Paulus nglairaken paseksinipun bilih ‘Gusti Yesus punika citranipun Gusti Allah’. Bab punika minangka satunggiling pengaken ingkang penting bab pinunjul/keilahian-ipun Sang Kristus :- Gusti Yesus mboten namung sajajar kaliyan Gusti Allah (Fil. 2:6), ananging Panjenenganipun punika saestu Allah (Yok. 10:30, 38; 12:45; 14:1-11).
- Minangka citranipun Gusti Allah, Panjenenganipun estu-estu wujudipun/ representasi-nipun Gusti Allah. Panjenenganipun mboten namung nyunaraken/ merefleksikan Gusti Allah, ananging Panjenenganipun wujud nyata kawontenanipun Gusti Allah (Yok. 1:18; 14:9).
- Minangka ingkang sulung, Panjenenganipun kagungan sedaya prioritas lan wewenang ing brayatipun Sang Raja. Panjenenganipun rawuh saking swarga, mboten saking lemah (1 Kor. 15:47) lan Panjenenganipun dados Gusti tumraping sedaya titah (Rum 9:5; 10:11-13; Why. 1:5; 17:14).
- Panjenenganipun suci sampurna (Ibr. 7:26-28; 1 Pet. 1:19; 2:22; I1Yok. 3:5) lan Panjenenganipun kagungan panguwaos/otoritas kangge ngadili jagad (Rum 2:16; II Kor.5:10; II Tim.4:1).
Kados para tiyang pitados ing kitha Kolose, kita kedah pitados dhumateng sifat ke-Tuhanan Yesus Kristus (bilih Yesus punika Allah); menawi mboten pitados, iman Kristen kita klentu, eneripun/jurusanipun salah, lan mboten nggadhahi arti/makna. Sebab, bab punika minangka punjering kaleresan kekristenan.
Panutup
Minggu punika, kita ngegeti Pekan Adi Yuswa. Warga adi yuswa punika perangan ingkang utuh saking warga GKJW. Kawontenenipun para adi yuswa punika dados berkah kagem pasamuwan, awit para adi yuswa punika kagungan pengalaman gesang lan pengalaman iman sinarengan kaliyan Gusti, ingkang migunani tumrap generasi penerus greja. Kita saged sinau saking pengalaman gesang lan pengalaman imanipun para adi yuswa. Kita saged nuladha saking para adi yuswa ing bab:
- Tegen Dedonga
Warga adi yuswa punika nggadah katah wekdal kangge ndedonga, komunikasi kaliyan Gusti, ugi mirengaken sabdanipun Gusti. Ingkang dados prioritas gesangipun sanes materi, jabatan, pangurmatan, nanging sageda dados tuladha iman ing kasetyan lan katresnan dhumateng Gusti Allah lan sesami. Punika ingkang dados kakiyatan kangge warga pasamuwan tansah tegen dedonga, mangun hubungan ingkang intim kaliyan Gusti, sarta tansah dadosaken Gusti Allah punika prioritas ingkang utami salebeting gesang. - Setya Nyatunggil
Nglampahi mangsa adi yuswa kanthi setya nyatunggil kaliyan Gusti Allah lan sesami punika dados pangajeng-ajengipun saben tiyang. Kanthi nyatunggil kaliyan Gusti lan sesami ing komunitasipun, para adi yuswa saged sami andum berkah, tansah ngiyataken lan dongakaken setunggal kaliyan sanesipun. Gesangipun para adi yuswa tansah migunani awit para adi yuswa tansah jangkepi setunggal lan sanesipun. Punika ingkang saged ngiyataken kita, ing pundi kita saged nuladhani para adi yuswa punika. Salebeting gesang kita ing pasamuwan kita ugi tansah nyatunggil kaliyan Gusti sarta warga pasamuwan sanesipun.
Mugi sabda piwulangipun Gusti punika estu nuntun kita, supados saged ngisi gesang kebak ing saos sokur, makarya kanthi leres, bener, pener, sae, lan maedahi kangge sedaya titah. Amin. [esha].
Pamuji: KPJ. 431 Gusti Adhawuh