Minggu Biasa | Penutupan Bulan Keluarga
Stola Hijau
Bacaan 1: Kejadian 18 : 20 – 33
Mazmur: Mazmur 138
Bacaan 2: Kolose 2 : 6 – 15
Bacaan 3: Lukas 11 : 1 – 13
Tema Liturgis: Berakar dalam Altar, Berbuah dalam Latar
Tema Khotbah: Dekat dengan Tuhan dan Bersinarlah!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 18 : 20 – 33
Kisah ini merupakan percakapan Abraham dan Tuhan mengenai nasib kota Sodom dan Gomora. Kejahatan orang-orang di kedua kota ini telah didengar oleh Tuhan dan Tuhan akan menghukum mereka bahkan menghancurkan mereka. Namun Abraham yang adalah keluarga Lot yang tinggal di Sodom meminta kepada Tuhan untuk tidak menghancurkannya jika ada orang benar yang tinggal di sana. Abraham sangat mengenal Tuhan yang adalah hakim yang adil, namun sekaligus Bapa yang sangat mengasihi umat-Nya yang hidup benar di hadapan-Nya.
Kolose 2 : 6 – 15
Pesan Paulus kepada jemaat di Kolose ini ditulis untuk mengingatkan mereka. Paulus mendengar ada ajaran sesat yang sedang menyebar di sana. Ajaran itu disebut Gnostisisme, sebuah gerakan keagamaan yang muncul pada abad pertama sampai kedua Masehi. Ajaran ini memiliki dua prinsip yang berlawanan, yaitu Baik dan Jahat. Baik itu Roh dan jahat itu materi. Ajaran ini mengajarkan pentingnya pengetahunan rahasia (gnosis) yang didapatkan melalui ritual tertentu untuk mendapatkan keselamatan. Kristus itu pembawa pengetahuan rahasia, bukan sebagai juru selamat yang mati dan menebus dosa manusia. Bagi Gnostisisme keselamatan didapat melalui pengetahuan rahasia serta ritual tertentu. Disinilah Paulus mengingatkan para pengikut Kristus bahwa hanya iman kepada Tuhan Yesuslah yang menyelamatkan manusia, dan Tuhan Yesus bukan hanya sebagai pembawa pengetahuan rahasia, Dialah Juruselamat manusia. Sedangkan materi yang menurut ajaran Gnostisisme jahat dan tidak berguna, justru dalam kekristenan materi adalah ciptaan Tuhan yang baik dan berguna untuk disyukuri dan membawa manusia lebih dekat dengan Tuhan.
Lukas 11 : 1 – 13
Perikop ini adalah pengajaran Tuhan Yesus mengenai doa. Agak jarang kita berdoa dengan Doa Bapa Kami menurut versi Lukas 11:2-4 ini. Lebih sering kita menggunakan Doa Bapa Kami versi Matius 6:5-13 yang lebih lengkap, di mana doa ini dinyanyikan dalam liturgi kita. Tak heran karena doa di Matius 6 adalah bagian lengkap dari ajaran Tuhan Yesus, yaitu khotbah di bukit (Matius 5-7), sedangkan di Lukas 11 terlihat ini ajaran Tuhan Yesus karena respons para murid-Nya yang ingin diajarkan doa sebagaimana Yohanes mengajarkan para muridnya. Doa Yohanes tidak eksplisit dalam Alkitab, namun prinsipnya doa ini dipenuhi dengan pengakuan pertobatan dan tanda baptis. Baik doa Yohanes maupun doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus memiliki kesamaan prinsip, yaitu: kerendahan hati, kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup ini, dan memuliakan-Nya. Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus lebih lengkap dari doa Yohanes, yaitu dengan pengakuan akan Bapa yang berkuasa, yang mengampuni dosa dan melindungi manusia, dan memberikan rejeki setiap hari, juga permohonan agar terhindar dari segala kuasa jahat yang dihadapi manusia.
Di Lukas 11 ini diajarkan betapa baiknya Bapa, Dia memberi pemberian yang baik untuk anak-anak-Nya, seperti halnya manusia fana dimana digambarkan pemberian ikan dan bukan ular, juga telur bukan kalajengking. Tuhan Yesus mengajarkan dalam berdoa, hal yang penting adalah berkomunikasi dengan Tuhan, yang pertama adalah bersungguh-sungguh, meminta kepada Tuhan apa yang diperlukan dan memiliki hubungan yang baik seperti gambaran sahabat yang tak jemu-jemu (di ayat 8 digambarkan sebagai sikap tidak tahu malu) dan penuh keyakinan bahwa sahabatnya akan bangun serta memberikan pertolongan. Di ayat 13 disebutkan bahwa Bapa memberikan Roh Kudus bagi mereka yang sungguh-sungguh meminta. Ini adalah pemberian luar biasa, bahkan di luar dugaan, dengan demikian siapapun yang berdoa dengan sungguh-sungguh pasti diberkati, dan pada akhirnya menjadi berkat karena penyertaan-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Iman yang kuat kepada Tuhan akan menumbuhkan kesadaran untuk berbuah dalam kebaikan untuk kehidupan. Tuhan itu baik dan jika kita mengenal-Nya dengan sungguh dan setia, maka berkat Tuhan tidak akan jauh dari orang yang dekat dengan-Nya. Penting bagi orang percaya untuk memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan serta menunjukkan buah iman itu dalam hidup keseharian.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Berapa kali saudara berdoa dalam sehari? Tentu kita bisa menjawab namun dengan angka yang tidak pasti bukan? Ada yang 3 kali, seturut dengan doa makan, bisa juga 5 kali , karena ditambah waktu saat teduh pagi dan malam hari. Bisa juga lebih dari itu, saat ada tambahan acara seperti ketika kita beribadah, rapat, ataupun doa lainnya saat kita bersama keluarga. (Pertanyaan bisa diajukan kepada warga dan berikan tanggapan seperlunya seperti mengapa 3 kali, atau 5 kali atau bahkan lebih?)
Isi
Kita bersyukur bisa berdoa kepada Tuhan Yesus, bahkan langsung tidak perlu perantara. Tentang berapa kalinya itu tergantung seberapa kita bersyukur dan rindu kepada Tuhan yang memelihara hidup ini. Bahkan setiap helaan nafas sebenarnya adalah doa, saat kita menyadari bahwa hidup ini tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya dari diri kita sendiri. Kedekatan kita dengan Tuhan melalui doa sungguh merupakan salah satu mukjizat besar bagi kita.
Tuhan Yesus pun memberikan pengajaran saat ditanya oleh para murid-Nya tentang bagaimana mereka harus berdoa. Dan doa ini kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Kita juga sering bahkan hafal doa itu sejak kecil, bahkan kini banyak dilagukan di akhir doa syafaat. Tuhan Yesus mengajar betapa pentingnya kedekatan dengan Bapa di dalam doa. Ia mengajarkan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa, artinya kita tidak jauh dari Sang Pemilik Hidup. Kedekatan kita dengan Tuhan membuat kita jujur kepada Tuhan dan mengalami suasana intim dengan-Nya bahkan di saat tersulit sekalipun.
Saat kita meminta berkat, selalu kita mohon secukupnya ya Tuhan di hari ini. Dalam Matius 6:5-13 yang paralel dengan Lukas 11:2-4 ini disebutkan, “Berilah kami makanan pada hari ini secukupnya.” Dalam doa umat Katolik biasanya diungkapkan saat berdoa dengan dengan ungkapan berilah kami rezeki, (lihat : Terjemahan bahasa Jawa 1981). Makanan bisa bermakna berkat yang diperlukan dan itu rezeki. Mengapa kita minta rezeki secukupnya? Ya karena itu sesuai dengan kebutuhan kita. Bandingkanlah telepon pintar yang fiturnya sangat banyak itu, kita hanya menggunakannya paling banyak 30 persen. Semahal apapun, secara umum, orang menggunakan fitur menelepon, video call, dan nonton Youtube, serta mungkin sesekali bermain game dan aplikasi keuangan seperti Gojek atau Shoppe. Di mana semua itu bisa dilakukan dengan HP yang di bawah 1 jutaan, tidak perlu yang sampai puluhan juta. Demikian pula rumah mewah, seperti villa, lebih dari 60 persen dibiarkan menjadi lahan kosong. Kita juga bisa merasakan bagi yang kuliah, berapa persen materi kuliah yang diterapkan dalam kehidupan nyata, tidak lebih dari 30 persen. Bandingkan dengan peralatan yang kita punya apakah semua digunakan? Alat-alat rumah tangga yang kita beli, juga sepatu atau bahkan kendaraan tak semuanya digunakan meskipun kita senang karena memiliki koleksi barang itu. Merasa cukup itulah inti kehidupan. Bahkan di dalam doa pun rasa cukup itulah yang membuat kita dekat dengan Tuhan dan bersyukur.
Saat kita bersyukur itu membawa kita dekat dengan Tuhan dalam kesederhanaan, bukan kemewahan. Kita memang memerlukan rezeki dan kebutuhan lainnya di dunia ini, namun bukan itu yang membawa kita dekat dengan Tuhan dan merasakan berkat-Nya. Karena untuk apa semua kita dapatkan kalau tidak bisa menikmatinya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk merasakan semua itu.
Pengajaran Tuhan melalui Doa Bapa Kami adalah memberikan waktu kepada kita untuk dekat dengan Tuhan, bersyukur, dan berserah serta mengandalkan Tuhan yang berkuasa memberkati semua kebutuhan kita. Disebutkan dengan kegigihan seorang sahabat yang percaya bahwa sahabatnya menolong , meski di waktu malam buta, tetap yakin, dan tidak putus asa bahwa sahabatnya akan membukakan pintu dan memberikannya makanan. (Luk. 11:8). Hubungan yang dekat itulah yang membawa berkat Tuhan tercurah. Tanpa kedekatan dengan-Nya sulit membuktikan bahwa kita ini beriman dan percaya penuh akan penyertaan-Nya. Itulah pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya termasuk kita. Berdoa, meminta berkat, dan penuh percaya akan pernyertaan-Nya membawa kita melihat karya Tuhan dan bersyukur karena-Nya serta membagikan berkat itu kepada sesama.
Kedekatan dengan Tuhan ini juga yang disuarakan oleh Paulus dalam Kolose 2:6-15, di mana penting untuk memiliki iman yang teguh di dalam Kristus. Banyak kesesatan di Jemaat Kolose yang meragukan kuasa Tuhan Yesus, namun mereka yang tetap mengandalkan Tuhan Yesus Kristus akan mendapatkan berkat. Mari kita rasakan dengan syukur ketika Tuhan memberikan pemeliharaan, juga perlindungan sampai saat ini. Kesembuhan, pemulihan, kesempatan berbagi, dan hidup yang menyemangati sesama adalah berkat-Nya. Di mana itu semua didapat saat kita setia dan berakar di dalam Kristus yang menjadi segalanya bagi kita, penebus juga pembawa kita kepada tujuan hidup menjadi keluarga Allah bersama Bapa dalam bahagia kekal. Tak ada yang lebih indah dari pada itu semua di dunia ini.
Kedekatan Abraham dengan Tuhan dalam bacaan pertama (Kej. 18:20-33) membawa keselamatan bagi orang yang percaya di Sodom dan Gomora. Tuhan menunjukkan berkat dan rahmat-Nya kepada Abraham dengan keluarganya juga kota Sodom dan Gomora yang akhirnya memiliki pengharapan bahkan turut merasakan berkat Tuhan. Relasi yang dekat dengan Bapa membawa seluruh keluarga bahkan kota di mana kita berada turut mendapatkan rahmat Tuhan. Nyata-nyata bahwa kita hidup itu untuk menjadi berkat dan kebahagiaan sesama, sebagaimana selalu digaungkan GKJW dalam tema besarnya setiap waktu. Keluarga yang erat dengan Tuhan sungguh diberkati untuk menjadi rahmat bagi orang lain, bahkan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Penutup
Kedekatan dengan Tuhan dalam doa, juga ibadah bahkan karya nyata sungguh menjadi berkat. Kita semua diajak untuk menjadi keluarga yang berbagi rahmat Tuhan. Jadikanlah saat bersama dalam doa setiap hari, di awal dan di akhir hari pada waktu pagi atau malam datang sebagai sarana mempererat kesatuan hati di tengah keluarga. Kebersamaan dalam doa sekeluarga sekalipun tidak bersama secara nyata, melalui teknologi video call yang semakin mudah ini akan menguatkan kita bersama. Sehari sekali namun dilakukan dengan setia, akan membawa syukur kita semakin nyata. Mari kita jadikan kedekatan dengan Tuhan membawa kebahagiaan dalam keluarga kita masing-masing dan pada saatnya kita menyinarkan rahmat Tuhan kepada dunia. Amin. [LUV].
Pujian: KJ. 460 Jika Jiwaku Berdoa
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Kaping pinten panjenengan dedonga? (kasuwun palados pitaken dhateng warganing pasamuwan). Wonten ingkang wangsulan kaping 3 kados pandonga kangge nedha, saged ugi paring wangsulan kaping gangsal, krana ditambah pandonga enjing lan dalu. Nanging saged ugi langkung kathah krana wonten acara rapat, ibadah brayat, syukur lan sanesipun nalika kita sesarengan ing brayat ageng.
Isi
Estu kita saos sokur dene saged asung pandonga dhateng Gusti Yesus, mboten ngangge lantaran punapa kemawon kejawi kita piyambak. Magepokan kaliyan kaping pinten punika manut raos kita lan saos sokur kita dhumateng Panjenenganipun ingkang mengku gesang kita. Nyatanipun estu saben kita ambekan sejatosipun kita nyadhari bilih punika mboten saged kita kendhaleni, krana gesang punika peparingipun Gusti. Mila celak dhumateng Gusti lumantar pandonga punika minangka satunggaling mukjizat ageng tumrap kita para pitados.
Gusti Yesus paring piwucal pandonga ing Lukas 11 punika nalika dipun takeni para sakabatipun. Pandonga punika dipun sebut Donga Rama Kawula. Kita tamtu pirsa lan apal pandonga punika wiwit kita alit mila. Lan ing samangke malah dipun pujekaken ing tata panembah saksampunipun pandonga syafaat. Gusti dhawuh lan nelakaken bilih pandonga punika nyelakaken kita dhumateng Gusti. Kanthi nyebut Sang Rama, tegesipun estu kita mboten tebih kaliyan ingkang kagungan gesang. Wonten ing pandonga punika kita saged jujur kaliyan Gusti lan ngalami swasana endah sesarengan manunggil Panjenenganipun.
Nalika kita dedonga lan nyuwun berkah, kita nyuwun sakcekapipun ing dinten punika. Lukas 11:2-4 punika paralel kaliyan Matius 6:5-13. Dipun sebataken: “Kawula mugi kaparingana rejeki kawula ing saben dintenipun ing sakcekapipun.” Kenging punapa? Krana pancen punika pas kaliyan kabetahan kita. Kados dene handphone utawi smart phone kita ginakaken paling namung 30 persen kemawon saking sedaya fungsinipun. Inggih punika nelpun, mirsani Youtube lan main game pisan-pisan, lan aplikasi kados gojek lan shoppe. Ingkang pundi HP regi sak yuta sampun saged mboten perlu ingkang regi puluhan yuta. Ginanipun sami. Ugi alat-alat rumah tangga ingkang kita tumbas, mboten sedaya kangge, malah kadang namung ngebak-ngebaki panggenan krana kita nggadah kathah koleksi. Semanten ugi rasukan lan mbok menawi sepeda kesayangan utawi malah kendaraan. Sakcekapipun kemawon malah mboten damel sisah krana kedah ngrawat, mbayar pajek, lan sanes-sanesipun. Raos cekap punika mbingahaken lan njalari kita saos sokur lan kita saged estu tresna lan celak kaliyan Gusti ingkang paring sedaya punika kanthi kacekapan.
Raos sokur punika ingkang njalari kita cinelakaken kaliyan katresnanipun Gusti. Prasaja punika endah lan dados bingahing manah, krana kita saged ngraosaken berkahipun Gusti awit wewengan ingkang kaparingaken estu luar biasa. Krana kangge punapa sedaya punika menawi kita mboten saged ngraosaken lan mboten nggadhah kesempatan. Mila saos sokur kita dhumateng Gusti kawujudaken klayan ngaturi wekdal kagem Panjenenganipun ing gesang kita. Dipun sebataken ing Lukas 11:8, krana estu anggenipun tatag nyenyuwun dhateng sedherek raketipun mila senaosa ing wanci dalu, tetep yakin lan pitados bilih sedherekipun punika maringi pitulungan lan angsal ingkang kabetahaken. Relasi ingkang sae punika njalari berkahipun Gusti sumrambah wonten ing kita, tanpa celak kaliyan Gusti ewed anggenipun kita mbuktekaken katresnan lan pitados saestu dhateng Panjenenganipun temah Gusti rena lan maringi berkah.
Dedonga, nyuwun pitulunganipun Gusti lan pitados dhateng Panjenenganipun estu njalari kita saged ningali pakaryanipun Gusti ingkang endah lan kita kasagedaken saos sokur lumantar gesang kita dados berkah dhateng sesami.
Relasi ingkang celak dhateng Gusti ugi kawartakaken dening rasul Paulus ing Kolose 2:6-15. Ing pundi bilih estu wigatos gadhah iman ingkang kiyat, krana kathah prekawis ing donya punika ndadoskaken kita mboten pitados kaliyan kwaosipun Gusti Yesus. Nanging ingkang tetap lan setya tuhu dhateng Panjenenganipun minangka Sang Juru Wilujeng lan Panebus, badhe pinaringan sih rahmat. Mangga kita raosaken bilih Gusti Yesus sampun paring kakiyatan lan pangayoman lantaran gesang, kasarasan, wewengan anggen kita saged asung pisungsung lan ndadosaken kabingahanipun sesami. Sedaya punika dipun alami nalika kita setya lan namung ngoyot ing iman dhumateng Sang Kristus. Gusti Yesus kemawon ingkang dados panebus kita, ingkang paring margi rahayu ing brayat ageng, ingkang pinaringan sih rahmat langgeng gesang sesarengan Panjenenganipun. Mboten wonten kabingahan ingkang langkung endah katimbang punapa kemawon ing alam donya ngriki.
Ing waosan sepisan nelakaken bilih Abraham estu celak klayan Gusti (PD. 18:20-33), lan punika ingkang ndadosaken kawilujengan tumraping tiyang pitados ing Sodom lan Gomora. Celak dhateng Gusti nuwuhaken berkah kangge brayat dalasan umat sedaya kitha ing pundi Abraham dumunung. Estu gesang punika minangka timbalan dados berkah lan kabingahanipun sesami, kados dene tema GKJW ingkang kita raosaken saben wekdal. Lumantar brayat ingkang celak lan tresna dhateng Gusti ndadosaken kita sami binerkahan lan dados berkah kangge sedaya umat lan ugi sedaya makhluk ing alam donya kagunganipun Gusti.
Panutup
Sesambetan kita kaliyan Gusti ingkang estu celak lumantar pandonga, ugi ibadah sarta lelampahan nyata punika ndhawahaken berkah. Kita sedaya katimbalan dados brayat ingkang binerkahan temahan ugi dados berkah ing saben dinten. Mila sumangga ing wekdal gesang patunggilan punika, wonten ing pandonga kita saben dinten, sae ing enjang lan dalu tetepa kalampahan ing brayat kita piyambak-piyambak. Mangga kita nggayuh katresnan dhumateng Gusti kanthi saos sokur ingkang nyata. Senaosa tebih, sesambetan pandonga sesarengan kita lampahi kanthi video call uger saben dinten ndadosaken kita kiyat lan saos sokur punika estu nyata ing gesang. Temahan ing gesang ingkang ngoyot dhateng Panjenenganipun, kita sedaya nyunaraken katresnanipun Gusti ingkang sampun kita tampi punika dhateng sesami wonten ing jagad punika. Amin. [LUV].
Pamuji: KPJ. 445 Mugi Gusti Karsa Angutus