Anak GKJW Istimewa! Khotbah Minggu 6 Juli 2025

23 June 2025

Minggu Biasa | Pekan Anak
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 66 : 10 – 14
Mazmur: Mazmur 66 : 1 – 9
Bacaan 2: Galatia 6 : 7 – 16
Bacaan 3: Lukas 10 : 1 – 11, 16 – 20

Tema Liturgis: Anak GKJW Istimewa!
Tema Khotbah: Anak GKJW Istimewa!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 66 : 10 – 14
Bagian bacaan ini merupakan bagian ketiga dalam susunan kitab Yesaya. Bagian ini secara khusus berisi tentang peringatan dan janji untuk umat Allah yang baru sesudah pembuangan. Kehidupan umat sesudah pembuangan ternyata tidak mudah, sebab mereka perlu mengupayakan kembali pembangunan Yerusalem. Namun, di tengah beratnya upaya pembangunan itu, Allah turut hadir dan memberkati umat-Nya. Penyertaan dan kehadiran Allah itu digambarkan seperti seorang anak dalam pangkuan orang tuanya (ibu dan ayah). Hal ini tampak dalam frasa: “… kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.” (Ay. 12c), juga dalam frasa: “Seperti seorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” (Ay. 13a). Sungguh sebuah gambaran kedekatan antara Allah dan umat-Nya yang begitu dekat, akrab, dan hangat. Demikianlah janji Allah bagi umat Israel dalam masa pemulihan sesudah pembuangan. Allah menempatkan diri-Nya seperti seorang ibu yang memberikan susu bagi anaknya, menggendong, dan membelai si anak dalam pangkuannya. Betapa istimewanya umat Israel bagi Tuhan.

Galatia 6 : 7 – 16
Surat kepada jemaat di Galatia merupakan surat penguatan bagi jemaat dalam menghadapi adanya kontroversi pemahaman tentang bagaimana menjadi bagian dari anak-anak Allah. Di tengah jemaat ada orang-orang yang memberikan pemahaman bahwa untuk menjadi anak-anak Allah, seseorang harus patuh dan mengikuti hukum Taurat. Tentu bagi Paulus ini bukanlah hal yang bisa dibenarkan, sebab Kristus yang telah mati dan bangkit adalah untuk membebaskan anak-anak Allah dari hukum Taurat. Salah satu hukum Taurat yang ditekankan melalui bacaan Galatia 6:11-16 adalah tentang sunat. Bagi orang-orang tertentu, sunat adalah syarat mutlak yang harus diikuti oleh setiap orang untuk menjadi bagian dari anak-anak Allah. Bagi Paulus untuk menjadi bagian dari anak-anak Allah bukan hanya terkait hal-hal yang bersifat jasmani melainkan juga bersifat rohani. Tentang  bagaimana setiap orang diarahkan untuk beriman dan percaya kepada Yesus Kristus. Artinya Paulus menegaskan bahwa Allah menghendaki jemaat menjadi anak-anak-Nya melalui iman akan Yesus Kristus (Ay. 14-15).

Tentu ini bukan hal yang mudah bagi jemaat di Galatia. Mereka mengalami kebimbangan di antara dua pemahaman yang berbeda. Gagasan yang pertama menyangkut hal-hal yang bersifat jasmani, sementara gagasan kedua, Paulus menekankan hal-hal yang bersifat rohani, dan keduanya saling bertolak belakang. Jemaat Galatia tentu perlu memahami secara mendalam tentang  gagasan mana yang berasal dari Tuhan dan yang berasal dari manusia. Oleh sebab itu, untuk meyakinkan jemaat, Paulus menegaskan tentang siapa dirinya dan tentang kerasulannya. Paulus menegaskan bahwa ia adalah rasul Tuhan dan utusan Tuhan, tentang Injil yang diberitakannya adalah Injil Yesus Kristus (bdk. Gal. 1:11-12). Berbeda dengan pemberitaan oleh orang-orang lain yang masih menekankan tentang hukum Taurat.

Paulus mengharapkan gagasannya dapat diterima serta dipahami oleh semua jemaat. Oleh sebab itu, ia menuliskan juga tentang pentingnya berbuat baik. Berbuat baik yang dimaksud adalah upaya jemaat untuk saling mengingatkan dan menguatkan, tentang bagaimana menjadi bagian dari anak-anak Allah. Berbuat baik berarti sekiranya ada sebagian umat yang telah yakin betul dengan gagasan Paulus, mereka dapat menolong umat yang lain yang masih ragu-ragu. Sehingga mereka bersama-sama menerima satu dasar yang kuat untuk menjadi bagian dari anak-anak Allah. Itu sebabnya perbuatan baik itu pertama-tama dibatasi pada saudara seiman saja, atau “kawan-kawan kita seiman” (Ay. 10) dengan harapan sebagai komunitas Kristen perdana mereka menjadi komunitas yang kuat dan solid. Selain itu mereka tidak lagi bimbang, karena mereka mempunyai pemahaman yang benar tentang bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menjadi anak-anak Allah. Selanjutnya mereka dapat mewartakan gagasan itu kepada banyak orang yang belum mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus.

Lukas 10 : 1 – 11, 16 – 20
Tujuh puluh orang murid yang dipilih menandakan bahwa panggilan untuk melayani dan mewartakan Kerajaan Allah adalah panggilan khusus dari Tuhan. Khusus karena hanya merekalah, 70 orang yang dipilih, dipanggil, diperlengkapi dan diutus oleh Tuhan Yesus. Mereka diutus untuk mewujudkan visi, memberitakan Kerajaan Allah sudah dekat. Mereka diutus dalam situasi atau konteks yang penuh dengan tantangan. Bahkan Tuhan Yesus menyebutnya, “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”, ini berarti medan pelayanan yang mereka hadapi merupakan medan pelayanan yang beresiko dan berbahaya. Jika mengacu pada bagian sebelumnya, yakni pasal 9:7-9, akan ditemukan bahwa di masa itu Herodes sedang berada dalam krisis kepemimpinan. Ia merasa cemas akan pergerakan Yesus dan murid-murid-Nya. Ia juga berupaya untuk mencari tahu tentang Yesus dan berusaha untuk bertemu dengan-Nya. Tantangan inilah yang menjadi konteks diutusnya ke-70 orang murid.

Dalam konteks yang menegangkan ini, para murid diutus untuk mewujudkan visi pemberitaan damai sejahtera Allah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Visi pemberitaan ini dicapai melalui beberapa misi yang harus dikerjakan oleh ke-70 murid tersebut. Pertama, mereka diutus untuk pergi secara berpasang-pasangan (Ay. 1). Hal ini menandakan adanya kebutuhan untuk saling mendukung dan menopang di antara para murid. Kedua, mereka diingatkan untuk mengandalkan Tuhan, bukan bersandar pada kekuatan diri mereka sendiri (Ay. 4). Hal ini ditunjukkan melalui para murid yang dilarang membawa perbekalan, pundi-pundi, dan kasut. Ketiga, Mereka diutus bukan ke sinagoge atau rumah-rumah ibadah melainkan dari satu rumah tempat tinggal ke rumah yang lainnya (Ay. 5). Rumah tinggal mengandaikan suatu kondisi kehidupan sehari-hari seseorang. Artinya para murid diutus agar benar-benar bersentuhan dengan kondisi dan kebutuhan hidup sehari-hari. Keempat, para murid diingatkan untuk tetap memberitakan damai sejahtera sekalipun ada kemungkinan ditolak. Jika mereka mengalami penolakan, maka mereka harus bertindak tegas, yakni dengan meninggalkan kota yang mereka singgahi itu, sebagaimana yang disampaikan oleh Sang Pengutus (Ay. 10-11). Kelima dan terakhir, mereka diingatkan untuk tidak besar kepala jika tugas perutusan itu berhasil mereka lakukan, karena segala kuasa itu datang dari Tuhan. Di samping itu mereka juga perlu bersukacita sebab mereka adalah sungguh-sungguh orang pilihan yang ditentukan oleh Tuhan Yesus sendiri (bdk. frasa: “karena namamu ada terdaftar di sorga”).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih Tuhan kepada umat-Nya diandaikan seperti kasih ibu kepada anaknya. Seorang ibu yang merawat, menggendong, memberikan susu dan membelai dalam pangkuannya. Upaya mengasihi dan merawat umat milik-Nya itu terus dilakukan oleh Tuhan Allah dari masa ke masa. Maka dipilihlah orang-orang tertentu untuk menjadi perpanjangan kasih-Nya sebagaimana digambarkan melalui terpilihnya tujuh puluh orang murid. Mereka yang dipilih, diutus untuk melakukan tugas yang tidak mudah, yakni mewartakan Kerajaan Allah. Belajar dari Paulus, pewartaan ini diwujudkan dengan hadir dan memberikan kepastian akan iman percaya di dalam Yesus Kristus, supaya umat-Nya tidak mengalami kebimbangan. Sebaliknya umat semakin yakin dan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
(Pelayan mengawali kotbah dengan menyanyikan lagu: “Aku Anak GKJW”. Pelayan juga bisa mengajak umat untuk menyanyikannya bersama-sama)

Aku Anak GKJW

Aku anak GKJW, gereja dalam kasih-Nya.
Berjuang bersama, belajar bekarya bagi nama gereja.
Aku anak GKJW, teladan bagi semua.
Taat pada guru, pada orangtua, itulah k’wajibanku.
Rajin berdoa, memuji Tuhan, tak lupa baca Alkitab.
Ku rajin dalam persekutuan.
G-K-J-W grejaku.

Lagu ini tentu tidak asing bagi kita. Lagu yang dinyanyikan bukan hanya pada saat anak-anak berada dalam jenjang usia balita sampai remaja atau TK sampai SMP saja. Tapi sering juga dinyanyikan dalam ibadah-ibadah pemuda. Ini menunjukkan bahwa lagu tersebut begitu melekat dalam ingatan mereka. Lagu yang membuat anak-anak kita di GKJW menjadi anak-anak yang istimewa. Lagu ini mengandaikan kehidupan anak-anak GKJW dalam imannya kepada Tuhan Yesus Kristus yang begitu kuat. Iman yang dibangun melalui disiplin rohani seperti: “rajin berdoa, memuji Tuhan, tak lupa baca Alkitab, dan rajin dalam persekutuan.” Sungguh sebuah disiplin rohani yang luar biasa baik bagi pertumbuhan iman anak-anak kita.

Namun, di tengah perkembangan zaman masa kini, apakah disiplin rohani tersebut masih dilakukan? Apakah anak-anak masih rajin berdoa, memuji Tuhan, membaca Alkitab, dan rajin dalam persekutuan? Bukankah anak-anak masa kini begitu melekat dengan dunia digital dan hampir meninggalkan disiplin rohani tersebut? Padahal tantangan yang mereka hadapi bukan semakin ringan tetapi semakin berat. Misalnya perkembangan digital yang berdampak pada pembentukan pribadi yang individualis, emosi yang sulit dikendalikan, keinginan yang serba instant dan segera, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, mereka butuh sosok untuk menolong dan mendampingi mereka untuk tetap mewujudkan disiplin rohani mereka. Jika begitu, maka ini tugas siapa? Gereja? Pamong? Pendeta? Majelis? Orang tua?

Isi
Pertumbuhan iman anak adalah tanggungjawab kita bersama, baik gereja maupun orang tua. Di sini yang dimaksud orang tua bukan hanya terbatas pada orang tua secara biologis saja, melainkan setiap orang dewasa yang sudah masuk dalam kategori usia tua. Bahkan yang belum menikah sekalipun jika sudah merasa dirinya dewasa, maka dia termasuk orang tua bagi anak-anak yang ada di sekitarnya. Anak-anak istimewa butuh ditemani untuk terus bertumbuh dalam iman percayanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Anak-anak istimewa perlu terus dipandu mewujudkan disiplin rohaninya. Pendampingan terhadap anak-anak perlu terus dilakukan dengan penuh kasih dan damai sejahtera. Sama seperti cara pendampingan Tuhan Allah kepada umat-Nya. Tuhan Allah selalu berupaya untuk mendampingi, menemani, menata kehidupan umat-Nya dengan penuh kasih mesra.

Kasih Allah bahkan diandaikan seperti kasih seorang ibu terhadap anak yang dikasihinya. Hal ini diceritakan dalam bacaan yang pertama, khususnya dalam frasa: “…kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan,” juga dalam frasa: “Seperti seorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” Sungguh sebuah gambaran kedekatan antara Allah dan umat Israel yang begitu akrab dan hangat. Demikianlah janji Allah bagi umat Israel dalam masa pemulihan sesudah pembuangan. Allah menempatkan diri-Nya seperti seorang ibu yang memberikan susu bagi anaknya, menggendong, dan membelai dalam pangkuannya. Betapa istimewanya umat Israel bagi Tuhan.

Upaya Tuhan Allah untuk mengasihi umat-Nya tidak hanya berhenti dalam kehidupan bangsa Israel saja, melainkan terus dilakukan di sepanjang masa hidup manusia yang diciptakan-Nya. Diwujudkan-Nya juga melalui kehadiran-Nya secara langsung di tengah kehidupan manusia di dalam diri Tuhan Yesus Kristus (bdk. Yoh. 3:16). Selanjutnya Tuhan Yesus pun menentukan beberapa orang untuk menjadi perpanjangan kasih Allah itu. Tuhan Yesus menentukan, memilih, dan mengutus 70 orang murid-Nya. Mereka diutus untuk mewujudkan visi memberitakan Kerajaan Allah. Mereka diutus dalam situasi atau konteks yang penuh dengan tantangan. Bahkan Tuhan Yesus menyebutnya “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”, untuk menunjukkan medan pelayanan yang mereka hadapi merupakan medan pelayanan yang penuh resiko dan berbahaya. Terlebih saat itu sedang ada ketegangan di tengah kepemimpinan Romawi. Herodes sedang mengalami krisis kepemimpinan, oleh karena pergerakan Tuhan Yesus dan para murid-Nya yang masif.

Di tengah tantangan ini para murid diutus untuk pergi secara berpasang-pasangan, supaya mereka bisa saling menopang satu sama lain. Di samping itu, mereka juga diingatkan untuk terus mengandalkan Tuhan. Hal ini nampak dalam larangan bagi mereka untuk membawa perbekalan. Tanpa perbekalan itu mereka diajak untuk mengandalkan Tuhan. Selanjutnya mereka diperintahkan untuk hadir langsung dari rumah ke rumah, bukan Sinagoge. Dengan harapan mereka bisa berhubungan langsung secara pribadi dengan orang-orang yang mereka injili. Dalam melaksanakan tugas perutusan itu, mereka pun harus siap ditolak. Meski demikian mereka tidak boleh menyerah, mereka harus tetap mewartakan damai sejahtera. Selain itu, mereka juga tidak boleh sombong, karena semua keberhasilan yang mereka capai adalah berkat pertolongan dan campur tangan Tuhan. Sehingga ketika mereka dapat mengusir kuasa-kuasa gelap, itu bukan karena kehebatan mereka, tetapi oleh karena kasih karunia Tuhan. Demikian para murid yang dipilih itu harus mewujudkan kasih dan damai sejahtera Allah kepada banyak orang.

Dalam masa yang selanjutnya Allah menunjukkan kasih-Nya kepada umat melalui hadirnya para rasul. Para rasul yang dipakai dan diutus juga untuk mewujudkan visi memberitakan Kerajaan Allah. Salah seorang rasul yang dipakai oleh Allah adalah rasul Paulus. Ia mewartakan Kerajaan Allah kepada jemaat-jemaat di berbagai daerah, salah satunya kepada jemaat di Galatia. Di jemaat ini Paulus berhadapan dengan orang-orang yang mamberitakan keselamatan dengan tidak tepat. Paulus melawan orang-orang yang menyatakan bahwa keselamatan hanya mungkin didapatkan melalui kepatuhan seseorang terhadap Hukum Taurat, khususnya mereka harus disunat. Sebagaimana dipahami bahwa sunat merupakan tanda perjanjian Allah kepada umat yang dikasihi-Nya.

Pengajaran demikian ini menurut Paulus tidaklah tepat. Sebab Tuhan Yesus telah datang untuk menggenapi hukum Taurat. Maka bagi Paulus, keselamatan didapatkan dengan jalan beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Bagi Paulus, keselamatan bukan melalui hal-hal yang bersifat jasmani seperti sunat, melainkan hal-hal yang bersifat rohani, yakni iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus. Paulus berupaya hadir melalui suratnya kepada jemaat di Galatia ini untuk menguatkan komunitas Kristen perdana di sana. Sekalipun ada banyak pengajaran yang salah dan sesat, orang-orang Kristen dapat menentukan pilihan mereka. Melalui pengajaran Paulus, diharapkan mereka tidak bimbang lagi melainkan semakin yakin dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Penutup
Demikian kasih Allah itu terus dinyatakan kepada umat-Nya, dari masa ke masa. Pada masa kini, tugas kita untuk mewujudkan kasih Allah itu. Kita adalah orang-orang dewasa, orang tua yang dipanggil dan ditentukan oleh Tuhan untuk menjadi perpanjangan kasih-Nya bagi anak-anak GKJW yang istimewa. Ya, kita diutus hadir bagi anak-anak untuk memberikan kepastian iman dalam Tuhan Yesus. Harapannya dalam pertumbuhan iman anak-anak kita, mereka semakin sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus dan tidak mengalami kebimbangan dalam hidup mereka. Iman yang demikian hanya mungkin terbentuk bagi mereka yang mau melakukan disiplin rohani secara rutin, melalui “rajin berdoa, memuji Tuhan, membaca firman Tuhan dan rajin dalam persekutuan atau ibadah-ibadah.” Oleh sebab itu, di tengah penghayatan Pekan Anak saat ini, marilah kita hadir, menyediakan diri, dan menjadi teladan untuk terus melakukan disiplin rohani. Marilah kita hadir dan memberikan kepastian iman dalam Tuhan Yesus bagi anak-anak kita. Ya! Bagi anak-anak GKJW yang istimewa! Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita! Amin. [TpJ].

 

Pujian: KJ. 360  Biar Kanak-kanak Datang kepada-Ku

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
(Pelados Sabda miwiti khotbah klayan ngidungaken pepujian “Aku Anak GKJW”, pelados saged ngajak umat ngidungaken pepujian punika sesarengan.)

Aku Anak GKJW

Aku anak GKJW, gereja dalam kasih-Nya.
Berjuang bersama, belajar bekarya bagi nama gereja.
Aku anak GKJW, teladan bagi semua.
Taat pada guru, pada orangtua, itulah k’wajibanku.
Rajin berdoa, memuji Tuhan, tak lupa baca Alkitab.
Ku rajin dalam Persekutuan.
G-K-J-W grejaku.

Kita tamtu mboten pangling kaliyan pujian punika. Pujian ingkang mboten namung dipun kidungaken rikala anak taksih ing jenjang balita ngantos remaja kemawon utawi saking TK ngantos SMP kemawon, nanging ugi asring dipun pujekaken wonten ing pangabektinipun para nem-neman. Pratanda bilih para bocah saestu enget sanget kaliyan pujian punika. Pujian ingkang ndadosaken para bocah ing GKJW dados bocah ingkang istimewa. Pujian punika nggambaraken bab gesangipun para bocah GKJW klayan iman kapitadosan ingkang kiyat dhumateng Gusti Yesus. Kapitadosan punika kawangun kanthi sae lumantar disiplin karohanen kados dene: “sregep dedonga, memuji Gusti, sregep maos kitab suci ugi sregep ngabekti.” Saestu punika disiplin karohanen ingkang sae kangge mujudaken kapitadosanipun para bocah punika.

Ananging sapunika punapa disiplin karohanen punika taksih dipun tindakaken? Punapa para bocah sapunika taksih sregep dedonga, memuji Gusti, sregep maos Kitab Suci, sarta sregep ngabekti? Punapa para bocah ingkang celak kaliyan dunia digital badhe nilaraken disiplin karohanen punika? Prekawis ingkang dipun adepi sapunika mboten prekawis ingkang enteng nanging tansaya awrat. Tuwuhing dunia digital ndadosaken para bocah punika nggadahi sipat individualis, gampil nesu, lan sedaya nyuwun ingkang gampang lan enggal kawujudaken. Pramila para bocah kalawau mbetahaken tiyang sanes ingkang saged paring pitulungan lan ngancani piyambakipun mujudaken malih disiplin karohanenipun. Bilih mekaten, punika tanggel jawabipun sinten? Greja? Pamong? Majelis? Para tiyang sepuh?

Isi
Tuwuhing kapitadosanipun para bocah punika dados tanggel jawab kita sedaya, sae greja ugi para tiyang sepuh. Tiyang sepuh ing ngriki mboten namung tiyang sepuh sacara biologis kemawon, nanging saben tiyang ingkang sampun kalebet yuswa diwasa, wah malih ingkang dereng sesemahan nanging sampun diwasa ugi saged dados tiyang sepuh kangge para bocah ing sakiwo tengennipun. Para bocah ingkang istimewa, ingkang tansah nuwuhaken kapitadosanipun dhateng Gusti Yesus Kristus. Para bocah istimewa ingkang kedah dipun tuntun kangge nindakaken disiplin karohanenipun. Kita kedah nuntun para bocah punika kanthi kebak katresnan. Kados dene Gusti Allah ingkang nuntun umat kagungan-Ipun. Gusti Allah tansah ngupadi anggenipun nuntun, nyarengi, ugi mranata gesang umat-Ipun kanthi katresnan ingkang estu.

Katresnanipun Gusti Allah dhateng umat kagungan-Ipun punika kagambaraken kados dene katresnanipun ibu dhateng putra ingkang dipun tresnani. Punika ingkang dipun cariyosaken wonten ing waosan ingkang sepisan, mliginipun wonten ing ukara, “supaya kowe padha nusu lan ngrasakake nikmate susune kang kebak”, “sira bakal padha nusu, bakal digendhong, bakal diuthun-uthun ana ing pangkon.” Saestu punika gambaraken katresnanipun Gusti Allah ingkang sae tumrap umat kagungan-Ipun. Kados mekaten dawuhipun Gusti Allah dhateng tiyang Israel ing mangsa pamulihan sakwangsulipun saking tlatah pambucalan. Gusti Allah nganggep Panjenenganipun kados dene ibu ingkang nyusoni putranipun, nggendhong, sarta ngelus ing pangkuanipun. Umat Israel punika saestu umat ingkang istimewa wonten ngarsanipun Gusti Allah.

Gusti Allah mboten nate kendat anggenipun nresnani umat kagungan-Ipun. Katresnan-Ipun mboten mandeg kagem umat Israel kemawon, ananging tansah kawujudaken kangge sedaya umat ing sedaya mangsa. Kawujudaken kanthi rawuh ing satengah-tengahing manungsa, wonten ing Gusti Yesus Kristus (Yok. 3:16). Salajengipun Gusti Yesus namtokaken tiyang-tiyang ingkang kedah mujudaken katresnanipun Gusti Allah punika. Panjenenganipun miji lan ngutus 70 sakabat-Ipun. Para sakabat kautus martosaken bab Kratoning Allah. Sedayanipun kautus wonten ing kahanan ingkang awrat. Wah malih Gusti Yesus paring dawuh bilih kahanan punika kadosdene “cempe menyang ing satengahing asu ajag.” Tegesipun peladosan ingkang badhe dipun lampahi para sakabat inggih punika peladosan ingkang kebak momotan lan mbebayani. Punapa malih rikala semanten Herodes ngalami krisis anggenipun mimpin. Piyambakipun rumaos ajrih awit peladosan ingkang dipun tindakaken dening Gusti Yesus lan para sakabat-Ipun.

Kahanan ingkang kados mekaten kalawau ingkang badhe dipun adepi dening 70 sakabat punika. Mila 70 sakabat punika dipun utus kanthi pasangan, supados saged tulung tinulungan. Para sakabat ugi kedah ngandelaken Gusti.  Para sakabat mboten pareng ngasta bekal punapa-punapa, para sakabat kedah ngandelaken Gusti. Para sakabat sedaya kedah manggihi para tiyang ing dalemipun piyambak-piyambak, sanes ing sinagoge. Kanthi pangajeng-ajeng para sakabat saged pepanggihan sacara pribadi kaliyan para tiyang ingkang dipun injili punika. Ing satengahing peladosan, para sakabat ugi kedah siap dipun tolak, mboten dipun tampi dening tiyang kathah. Nanging pawartos rahayu punika kedah tetep kawartosaken. Para sakabat ugi mboten pareng gumunggung, awit sedaya kesagedan punika namung krana sih rahmatipun Gusti, mboten krana kakiyatanipun piyambak. Satemah para sakabat saged nundhung kuwaos pepeteng. Kanthi mekaten para sakabat dipun utus mujudaken katresnan lan ketentreman saking Gusti Allah dhateng sedaya tiyang.

Ing wekdal salajengipun Gusti Allah nedahaken sih katresnan-Ipun lumantar para rasul. Para rasul ugi kautus mujudaken visi martosaken bab Kratoning Allah. Salah satunggalipun rasul inggih punika lumantar rasul Paulus. Rasul Paulus martosaken bab Kratoning Allah dhateng pasamuwan-pasamuwan ing kathah papan panggenan. Salah satunggaling panggenan inggih punika pasamuwan Galati. Ing pasamuwan Galati punika, Paulus sawetawis ngadepi para tiyang ingkang paring pengertosan ingkang klentu bab kawilujengan. Paulus ngadepi para tiyang ingkang paring piwucal bilih kawilujengan punika dipun paringaken tumrap sinten kemawon ingkang nindakaken angger-angger Toret mliginipun bab sunat. Kita mengertos bilih sunat punika dados pratanda bab prajanjianipun Gusti Allah kaliyan umat ingkang dipun tresnani.

Miturut Paulus piwucal punika lepat, awit rawuhipun Gusti Yesus wonten ing alam donya punika saperlu jangkepi Torah punika. Dados miturut Paulus kawilujengan punika saged kawujudaken tumrap para tiyang ingkang nggadahi kapitadosan ingkang estu dhumateng Gusti Yesus. Miturut Paulus kawilujengan punika mboten lumantar prekawis ingkang asipat jasmani ananging lumantar prekawis-prekawis karohanen, inggih punika pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Paulus ingkang rawuh ing satengahing pasamuwan Galati lumatar seratipun punika, estu ngiyataken para tiyang Kristen wiwitan ing Galati. Senaosa kathah sanget piwucal ingkang lepat lan sesat, para tiyang Kristen ing Galati sageda namtokaken pilihanipun. Lumantar piwucalipun Paulus punika, pangajeng-ajengipun para tiyang kalawau mboten bingung malih, malah tansaya temen anggenipun pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus.

Panutup
Kanthi mekaten sih katresnanipun Gusti Allah dhateng umat kagungan-Ipun mboten nate kendat. Ing wekdal sapunika kita sedaya kautus mujudaken sih katresnanipun Gusti Allah punika. Kita minangka para tiyang diwasa, tiyang sepuh dipun timbali lan dipun piji dening Gusti kangge mujudaken sih katrenan-Ipun  dhateng para bocah GKJW ingkang istimewa. Kita sedaya dipun utus ing satengahing para bocah punika, saperlu paring pangertosan ingkang estu bab kapitadosan dhumateng Gusti Yesus. Satemah para bocah punika saged kanthi temen ndherek tut wingking Gusti Yesus lan mboten mangu-mangu gesangipun. Kapitadosan ingkang kados mekaten namung saged kagayuh bilih para bocah punika purun nindakaken disiplin karohanen kanthi temen lan ajeg. Lumantar: “sregep dedonga, memuji Gusti, maos kitab suci tuwin sregep mangun pangabekti.” Mila ing satengahing pengetan Pekan Anak punika, swawi kita nyawisaken dhiri lan wonten ing satengahing para bocah, kita dados tuladha anggenipun nindakaken disiplin karohanen kanthi temen. Sumangga kita paring pangertosan bab kapitadosan dhumateng Gusti Yesus Kristus tumrap para bocah. Para bocah GKJW ingkang istimewa! Mugi Gusti paring pitulungan lan kasagedan dhateng kita sedaya! Amin. [TpJ].

 

Pamuji: KPJ. 379  Lah Aku Bocah Rahayu

Renungan Harian

Renungan Harian Anak