Bacaan: Ayub 16 : 1 – 22 | Pujian: KJ. 400 : 1, 2
Nats: “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!” (Ayat 2)
Menurut KBBI, tepa salira artinya dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain. Tepa salira merupakan salah satu ajaran penting di dalam kehidupan masyarakat Jawa dalam menciptakan suasana rukun, harmonis, serasi, selaras, dan seimbang. Bagi orang Jawa tepa salira bukan hanya sekedar mengajarkan cara menghargai tetapi juga berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Di tengah pergumulan yang sedang dialami oleh Ayub, ia berharap agar teman-temannya dapat menghibur dan memberi kekuataan kepadanya. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, teman-teman Ayub malah semakin menambah penderitaannya. Kalau kita melihat kisah di pasal 15, perkataan Elifas semakin lama semakin kasar dan menyakitkan. Ia lupa akan tujuan awal dari kedatangannya, yakni untuk menghibur Ayub. Memang pada awal perjumpaan, Elifas memulai perkataannya dengan halus, namun dalam perkembangannya ia mencerca dan menghakimi Ayub. Elifas melihat Ayub dengan begitu negatif. Bukan saja Ayub dianggap tidak berhikmat, namun Ayub juga dituduh bahwa ia menentang Allah dan menjadi orang bejat yang pada akhirnya hidupnya penuh kegelapan dan kesia-siaan. Elifas memiliki keyakinan bahwa Ayub adalah orang fasik, sehingga ia berasumsi bahwa Ayub tidak akan bertobat dan pasti akan binasa. Sikap yang dilakukan oleh Elifas ini tidak menunjukkan sikap tepa salira, sebab ia tidak bisa menghargai dan merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Akibat hal tersebut membuat Ayub kesal dan mengeluarkan perkataan yang tidak baik. Ayub menganggap teman-temannya sebagai penghibur sialan dan perkataannya hanyalah omong kosong. Ayub sangat kecewa dengan para sahabatnya yang menyatakan bahwa penderitaannya pasti disebabkan oleh karena dosa yang telah dilakukannya. Pernyataan tersebut justru menambah penderitaan batin Ayub yang sedang dalam kesusahan.
Jika kita perhatikan, dalam kehidupan yang semakin sulit dan penuh tantangan ini, sikap tepa salira semakin berkurang dan luntur. Maka dari itu, kita sebagai orang percaya harus terus berupaya menumbuhkan sikap tepa salira dalam kehidupan kita. Dengan demikian keberadaan kita akan senantiasa memancarkan kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera bagi semua orang. Amin. [YHS].
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15)