Bacaan: Mazmur 90 : 1 – 12 | Pujian: KJ. 53 : 1, 2
Nats: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Ayat 12)
Ada sebuah istilah, time is money atau dalam bahasa Indonesianya waktu adalah uang. Sebenarnya istilah ini dipahami sebagai upaya untuk menunjukkan betapa berharganya waktu yang kita miliki, sehingga jangan disia-siakan. Jangan kita bermalas-malasan sehingga waktu yang panjang berlalu begitu saja, tanpa ada hal bermanfaat yang kita kerjakan. Tuhan sudah memberkati waktu, maka kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin untuk berkerja, melayani, dan melakukan aktivitas lain yang bermanfaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah setiap waktu atau kesempatan harus kita pergunakan untuk belajar.
Pemazmur sadar akan pentingnya memanfaatkan waktu yang telah Tuhan berikan kepadanya, sehingga ia memohon supaya ia diberi kemampuan setiap waktu bisa belajar apapun dari setiap peristiwa yang ia alami. Pemazmur yakin ketika ia rajin dan terus menerus belajar banyak hal dalam kehidupan, maka ia akan menjadi bijaksana. Ia memahami bahwa ia tidak memiliki waktu yang panjang di dunia ini, karena manusia terbatas umurnya. Masa hidup manusia disebutkan tujuh puluh tahun dan jika kuat,delapan puluh tahun, lalu mati. Tentu ini hanyalah hitung-hitungan manusia yang bisa saja tidak sesuai, karena pada kenyataanya ada manusia di dunia ini yang umurnya lebih dari delapan puluh tahun atau bahkan lebih pendek dari tujuh puluh tahun.
Pemazmur mengajak kita untuk menghitung hari-hari kita dan memperhatikan waktu yang diberikan Tuhan. Tujuannya agar kita dapat memanfaatkan waktu kita dengan sebaik mungkin. Kita dapat belajar tentang banyak hal dari pengalaman hidup kita, sehingga kita menjadi seorang yang bijaksana. Kita harus ingat bahwa tidak pernah seorangpun tahu sampai kapan Tuhan memberi kesempatan hidup pada kita dan tidak ada seorangpun yang tahu kapan kesudahannya. Jangan sampai kita menyesal karena tidak pernah memanfaatkan hari-hari atau waktu kita untuk mendapatkan kebijaksanan hidup. Karena pada kenyataannya ada saja orang yang semakin tua usianya tidak semakin bijaksana, namun justru kekanak-kanakan. Menjadi bijaksana itu perlu proses, perlu kesadaran, kemauan, dan pertolongan Tuhan. Mari kita menjadi bijaksana dalam menggunakan waktu dan kesempatan hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita. Amin. [GL].
“Mari kita gunakan hari-hari atau waktu kita untuk belajar supaya kita beroleh hati yang bijaksana”