Minggu Biasa | Bulan Ekumene
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 25 : 1 – 9
Bacaan 2: Filipi 4 : 1 – 9
Bacaan 3: Matius 22 : 1 – 14
Tema Liturgis: GKJW Bersama Umat Lain Terlibat Mewujudkan Tanda-tanda Kerajaan Allah
Tema Khotbah: Menyambut Undangan Tuhan: Mewartakan Kerajaan Allah
Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 25 : 1 – 9
Jika kita tidak memiliki pengharapan atas kedatangan tempat tujuan hari akhir, hidup akan kehilangan arah dan motivasi. Yesaya 25:1-9 menggambarkan tempat tujuan hari akhir yang diharapkan oleh orang Israel. Yesaya 25 menggambarkan rancangan ajaib yang terjadi di hari akhir. Yesaya 25:6-9 menunjukkan akan dipersiapkan perjamuan di Gunung Sion.
Pertama-tama Yesaya 25:1 dimulai dengan rancangan-Mu yang ajaib sebagai inti fokus dari nyanyian pujian ini. Nyanyian pujian ini seperti nyanyian pujian yang dinyanyikan di masa lalu oleh orang Israel setelah melewati Laut Merah keluar dari Mesir (Kel. 15). Nyanyian pujian ini menceritakan bahwa orang benar mendapatkan kemenangan dan orang fasik mendapatkan hukuman. TUHAN akan menggenapi hal yang indah ini dengan kesetiaan yang teguh. Kesetiaan yang teguh adalah dua kata dalam teks aslinya, akar dari kedua kata tersebut adalah “emunah omen”, yang sering kita sebut Amin, mewakili TUHAN benar-benar dan pasti melakukan rancangan-Nya yang indah ajaib.
Rancangan yang ajaib mencakup penghancuran kota, yang mungkin merujuk pada penghancuran Babel (Yes. 13–14; Yes. 21:1-10), serta melambangkan semua rezim jahat dan negeri yang melakukan penindasan (Ay. 3). Orang-orang yang kejam ini telah menindas orang Israel, tetapi TUHAN yang menjadi jaminan bagi yang miskin dan kekurangan. Ternyata hal yang luar biasa bukanlah mukjizat yang ajaib, juga bukan peningkatan umur kehidupan atau kemakmuran. Perkara yang indah itu adalah penghancuran kekuatan jahat, sehingga keadilan akhirnya dapat dinyatakan, orang miskin dan melarat yang tertindas bisa mendapatkan perlindungan TUHAN. Karena kekuatan kerajaan jahat yang besar ini, orang pada waktu itu berpikir bahwa tidak mungkin dihancurkan, tetapi justru TUHAN melakukan hal yang ajaib, melakukan apa yang tidak mungkin menjadi yang mungkin, jadi itu adalah hal yang luar biasa.
Kedua, ayat 6-9 menunjukkan bahwa akan ada perjamuan hari akhir di Gunung Sion. Isi dari perjamuan itu sangat melimpah (Ay. 6), melambangkan semua umat Allah bersukacita sama seperti menghadiri perjamuan melimpah hari akhir itu; di antaranya, kasus yang paling istimewa adalah maut ditiadakan (Ay. 8). Kematian bukan hanya menunjuk pada kematian fisik, tetapi mengacu pada kekuatan destruktif yang merusak kemanusiaan, kekuatan ini menelan hati nurani manusia, menimbulkan bias dan kemanusiaan yang cacat, sedangkan perjamuan hari akhir telah menelan kematian, tujuannya agar kemanusiaan yang sejati dibangun kembali, tidak ada lagi air mata dan penghinaan di sini. Sekelompok manusia baru dengan kemanusiaan yang sehat telah terbentuk.
Filipi 4 : 1 – 9
Paulus di Filipi 4:1 tampaknya sedang memikirkan kemuliaan di akhir zaman. Konteks ayat ini adalah kedatangan Kristus yang kedua kali di akhir zaman (Fil. 3:20-21 “…kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia …”). Di samping itu, dalam surat Paulus yang lain kata “sukacita” (chara) dan “mahkota” (stephanos) juga muncul bersama-sama dalam konteks akhir zaman (1 Tes. 2:19 “Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?”).
Di tengah situasinya di dalam penjara, Paulus selalu memiliki alasan untuk bersukacita. Salah satunya adalah dengan memandang jauh ke depan di momen perjumpaan dengan Kristus Tuhan. Paulus meyakini bahwa Allah yang sudah berkarya dalam diri Jemaat Filipi melalui dirinya juga akan meneruskan karya-Nya itu sampai kesudahannya (1:6). Iman dan pelayanan Jemaat Filipi merupakan bukti bahwa Allah telah berkenan bekerja melalui Paulus. Status sebagai tahanan yang dianggap sebagai aib oleh banyak orang juga tidak menghalangi Paulus untuk mensyukuri kehormatannya di depan Allah. Kehormatannya akan dinyatakan secara sempurna pada saat Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan-Nya. Dia akan menikmati hasil pekerjaannya di dalam Tuhan. Dia tidak akan malu menemui Kristus, Juruselamatnya.
Perasaan sukacita dan berharga dipengaruhi oleh cara pandang kita. Mereka yang meletakkan sukacita dan keberhargaan diri pada hal-hal duniawi pasti akan mengejar keinginan-keinginan duniawi. Ironisnya, pencarian ini akan berakhir dengan kesedihan dan kekecewaan. Segala sesuatu yang dapat diambil dari hidup kita berarti tidak berharga. Jangan letakkan harga diri kita di atasnya.
Sebaliknya, mereka yang berfokus pada kekekalan akan memaksimalkan kesementaraan untuk menyiapkan diri bagi kekekalan. Apa yang fana bukan berarti tidak berharga, tetapi hanya akan tetap berharga jika digunakan demi nilai-nilai yang baka. Semua yang berada di genggaman tangan kelak pasti akan terlepas, bahkan tanpa bekas. Untuk apa kita terus-menerus menggenggamnya dengan keras?
Matius 22 : 1 – 14
Yesus sering memakai perumpamaan dalam pengajaran-Nya untuk menggambarkan seperti apakah Kerajaan Sorga (Kerajaan Allah) itu. Lebih dari sepertiga pengajaran Yesus di dalam Injil dalam bentuk perumpamaan. Para ahli berbeda pendapat berapa persisnya jumlah perumpamaan Yesus, ada yang mengatakan 33, 46, atau 60. Perumpamaan adalah pengajaran dalam bentuk cerita –cerita yang bermaksud untuk menjelaskan hal-hal yang tersembunyi; khususnya cerita-cerita yang mengandung hal-hal yang nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari-hari yang dipakai Tuhan Yesus untuk menerangkan Kerajaan Surga (Allah) dan rahasianya (Mat. 13:11). Perumpamaan tentang perjamuan kawin ini disampaikan Yesus kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi lainnya yang hadir di Bait Allah (Mat 21: 23, 45). Diperkirakan waktunya adalah minggu terakhir pelayanan Tuhan Yesus (hari Rabu), hari Jumat Yesus disalibkan, mati, dikuburkan, bangkit pada hari Minggu. Perumpamaan ini adalah yang ketiga terakhir dari perumpamaan tentang dua orang anak dan penggarap-penggarap kebun angggur (Mat 21: 28, 33). Bisa diringkas dari ayat 1-10 menggambarkan undangan untuk menerima anugerah keselamatan dari Allah dalam Yesus Kristus, Mesias yang dinantikan-nantikan bangsa Israel. Dan ayat 11-13 menggambarkan tanggung jawab manusia setelah mengalami anugerah keselamatan dari Allah itu.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Allah mengundang semua orang untuk hadir dalam kerajaan-Nya yang penuh sukacita, namun seringkali hanya dianggap untuk kaum tertentu saja (bangsa pilihan – dalam hal ini Israel). Namun Allah menunjukkan bahwa semuanya turut diundang dalam kesukacitaan ilahi, yaitu anugerah keselamatan, yang digambarkan pada pesta perjamuan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Sebanyak 4.000 orang yang berasal dari masyarakat umum diundang oleh Presiden Joko Widodo menjadi tamu undangan negara untuk mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada tanggal 17 Agustus 2022 kemarin. Mereka mendaftar secara online supaya mendapatkan undangan mengikuti upacara HUT ke-77 tersebut. Kesukacitaan mereka diungkapkan dengan menunjukkan undangan dan juga souvenir mereka di media sosial mereka. Mereka bangga karena tidak semua orang mendapat kesempatan untuk hadir dalam upacara tersebut.
Isi
Berbeda dari kisah undangan Presiden Joko Widodo yang disambut secara antusias, kisah undangan perjamuan kawin anak raja dalam perumpamaan Yesus di Injil Matius 22 menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Banyak orang yang diundang, namun tidak datang ke perjamuan itu. Apa yang terjadi dalam kisah yang disampaikan Yesus tentang perumpamaan perjamuan kawin? Ternyata undangan sang raja tidak direspon dengan baik. Mereka yang mendapat prioritas undangan mengabaikan undangan itu. Raja pun mengulangi kembali undangan itu dengan menegaskan bahwa perjamuan istimewa telah disiapkan, namun lagi-lagi mereka memprioritaskan hal yang lain, ada yang mengurus ladangnya, dan ada juga yang pergi mengurus bisnisnya. Mereka tidak melihat undangan raja sebagai prioritas utama. Bahkan ada di antara orang yang diundang itu justru menangkap dan membunuh suruhan raja ini. Sungguh tragis!
Mengapa mereka tidak merespon dengan baik undangan raja itu? Tentu ada banyak alasan. Bisa saja mereka menganggap bekerja di ladang dan mengurusi perusahaan itu jauh lebih penting ketimbang duduk makan bersama dengan raja. Atau mereka sama sekali tidak menaruh hormat kepada raja. Bisa juga undangan itu mengganggu dan mengusik rasa nyaman mereka, sehingga mereka merasa perlu untuk menangkap dan membunuh utusan raja itu.
Kisah ini adalah perumpamaan. Perumpamaan adalah cerita contoh yang sering dipakai oleh Yesus untuk menyampaikan berita Injil-Nya. Tentu bukan untuk mempersulit pendengarnya, melainkan agar lebih mudah memahami. Makna perumpamaan itu: Raja yang mengadakan perjamuan kawin itu ialah Allah. Perjamuan kawin itu melambangkan kebahagiaan di zaman Mesias, sedangkan anak raja itu tidak lain adalah Mesias. Hamba-hamba yang disuruh raja ialah para nabi dan rasul, para undangan yang tidak mengindahkan undangan atau menganiaya hamba-hamba raja itu adalah orang Yahudi yang memusuhi Yesus, sedangkan mereka yang dikumpulkan dari jalan adalah orang berdosa dan kaum kafir. Kota yang terbakar ialah Yerusalem yang dimusnahkan.
Kembali Tuhan mengecam kebebalan orang Yahudi zaman-Nya. Semua orang Yahudi memiliki pengharapan kedatangan Kerajaan Allah. Apa yang mereka nantikan itu kini tiba, yaitu dalam bentuk undangan masuk dalam perjamuan Allah. Jelas yang Yesus inginkan ialah para pendengar-Nya meresponi diri-Nya sebagai penggenap Kerajaan Allah itu. Itulah hal terpenting dan paling berharga yang dapat manusia peroleh dalam hidup ini. Itulah prioritas utama. Alih-alih mereka menanggapi dengan penuh sukacita, mereka menolak undangan Yesus, bahkan mereka malah membunuh-Nya karena alasan-alasan yang tidak dapat diterima.
Undangan Tuhan Yesus bukan saja bagi mereka, tetapi juga bagi kita. Sikap bodoh dan jahat seperti yang dilukiskan dalam perumpamaan ini bisa juga merupakan sikap dan tindakan kita. Bisa saja kita menolak untuk lebih sungguh-sungguh mendekat kepada Kristus dengan terlibat melakukan berbagai bentuk pelayanan. Seringkali kita sudah merasa cukup dengan memberikan persembahan, mendukung melalui dana untuk setiap program kemanusiaan dan penginjilan, namun kita enggan memberi diri terlibat langsung dalam pelbagai pelayanan itu. Menjadi Kristen bukan sekadar mengaku atau menerima tradisi Kekristenan. Menjadi Kristen berarti menyambut undangan Allah dalam Tuhan Yesus secara pribadi. Kita meneladani apa yang Yesus lakukan. Selain kesibukan sehari-hari, merasa diri sudah cukup baik pun bisa menjadi alasan untuk mengabaikan tuntutan mutlak Tuhan Yesus atas hidup kita.
Berita bahwa Tuhan mengasihi semua orang dan kasih-Nya diperuntukkan kepada orang-orang tertentu bukanlah berita baru bagi umat percaya. Hampir semua orang mengerti bahwa dirinya adalah orang berdosa yang beroleh kasih karunia Tuhan. Namun, pada kenyataannya banyak orang bukannya hidup dalam rasa syukur karena telah dilayakkan Tuhan, melainkan mereka justru lebih senang menilai kelayakan orang lain.
Undangan Tuhan kepada orang-orang berdosa digambarkan dalam perumpamaan Yesus melalui perjamuan kawin. Ajakan dalam perjamuan sukacita itu diperuntukkan bagi orang-orang yang sebenarnya tidak termasuk dalam undangan. Namun, mereka dibuat layak untuk hadir dalam perjamuan kawin yang membawa kepuasan dan sukacita. Dalam rasa syukur dan sukacita oleh karena yang tidak pantas menjadi pantas, hendaknya membuat setiap orang yang hadir datang dengan kesiapan (pakaian pesta).
Penutup
Di hari Minggu ini, di Bulan Ekumene, kita diajak untuk kembali menghayati dan mengalami undangan Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Bersyukur dan memperjuangkan hidup yang pantas di hadapan Tuhan adalah hal yang harus dibangun dalam kehidupan. Hidup ini merupakan wujud iman yang akan nampak dalam kehidupan sehari-hari, juga dalam hal memandang sesama sebagai orang yang sama-sama berdosa dan sama-sama layak untuk menerima undangan Tuhan. Kita bersama diundang untuk mewujudkan iman kita dalam menyatakan kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan pekerjaan atau studi, dan di tengah masyarakat. Amin. [DB].
Pujian: KJ. 27 : 1, 2 Meski Tak Layak Diriku
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Kirang langkung 4.000 tiyang saking warga masyarakat dipun undang dening Presiden Joko Widodo dados tamu undangan negari kangge mahargya upacara ambal warsa kaping 77 Republik Indonesia wonten ing Istana Merdeka, Jakarta tanggal 17 Agustus 2022 kepengker. Para warga punika kedah daftar sacara online langkung rumiyin supados saged nampi undangan punika. Kabingahan warga ingkang nampi undangan punika dipun ketingalaken lumantar foto undangan lan souvenir ingkang dipun unggah wonten ing media sosialipun. Para warga undangan punika rumaos bingah awit boten sadaya tiyang saged angsal kesempatan ndherek ing upacara kamardikan punika.
Isi
Benten kaliyan cariyos warga ingkang bingah nalika nampi undangan upacara kamardikan RI saking Presiden Joko Widodo, cariyos bujana kawin anak raja ing pasemonipun Gusti Yesus wonte Injil Matius 22 nedahaken kosokwangsulipun. Kathah tiyang ingkang dipun undang wonten bujana punika, nanging sami boten rawuh ing bujana punika. Punapa ingkang kedadosan wonten cariyos pasemon bujana kawin punika? Ingkang kedadosan undangan saking raja punika boten dipun tampi kanthi sae. Para tiyang ingkang dados para undangan utami malah nglirwaaken undangan punika. Raja ngimbali malih undanganipun kanthi negesaken menawi bujana ingkang kacawisaken punika bujana ingkang wigati, nanging para tamu undangan punika langkung milih ngurusi prekawis sanesipun. Wonten ingkang ngurus tegilipun, wonten ingkang ngurus usahanipun. Para tamu undangan punika boten gatosaken undangan raja punika minangka undangan ingkang wigati. Punapa malih wonten saking antawisipun para tamu undangan punika ingkang nangkep lan mejahi para utusan raja punika. Saestu prihatos sanget!
Kenging punapa para tiyang punika boten nggatosaken undangan raja punika? Tamtu kemawon kathah alesanipun. Saged kemawon tiyang punika nganggep nyambut damel ing pategilan lan ngurus usaha langkung wigati tinimbang lenggah lan dhahar sesarengan kaliyan raja. Utawi pancen saking tiyang punika boten ngurmati lan ngajeni raja. Saged ugi undangan punika dipun raos ganggu kanyamananipun tiyang punika, lajeng piyambakpun rumaos perlu nangkep lan mejahi utusan raja punika.
Cariyos punika pasemon. Pasemon inggi punika cariyos conto ingkang asring dipun damel Gusti Yesus kangem ngaturaken pawartos Injilipun. Tamtunipun sarana pasemon punika, piwucalipun Gusti Yesus langkung gampil dipun mangertosi. Artosipun pasemon kalawau: Raja ingkang ngawontenaken bujana kawin punika Gusti Allah. Bujana kawin punika nglambangaken kabingahan ing jamanipun Sang Mesih. Anak Raja inggih punika Sang Mesih piyambak. Para abdi ingkang dipun utus dening raja inggih punika para nabi lan rasul. Para tamu undangan ingkang boten gatosaken undanganipun raja lan nganiaya para utusan raja inggih punika tiyang Yahudi ingkang dados mengsahipun Gusti Yesus. Lajeng para tiyang ingkang dipun kempalaken saking margi inggih punika para tiyang dosa lan tiyang kafir. Kutha ingkang kobong inggih punika Yerusalem ingkang dipun musnahaken.
Gusti Yesus ngecam wangkoting tiyang Yahudi nalika semanten. Para tiyang Yahudi kagungan pangajeng-ajeng rawuhing Kratoning Allah. Punapa ingkang dipun rantos punika sampun dumugi lumantar undangan ndherek bujananipun Gusti Allah. Gusti Yesus ngersaaken para tiyang Yahudi punika nampi Panjenenganipun minangka Sang Mesih. Bab punika penting lan aji kanggenipun manungsa salebeting gesangipun. Punika dados prekawis ingkang utami. Pangajeng-ajengipun tiyang Yahudi punika nanggepi undanganipun Gusti kanthi sukabingah, nanging tiyang Yahudi malah nolak lan mejahi Gusti Yesus kanthi alesan ingkang boten saged dipun tampi.
Undanganipun Gusti Yesus boten namung kangge tiyang Yahudi kemawon, nanging ugi kangge kita. Watak bodho lan jahat kados ing pasemonipun Gusti, saged ugi dados sikap lan tumindak kita. Kita saged kemawon ketingal tumemen anggenipun nindakaken maneka warni paladosan, nanging punika namung apus-apus. Kita rumaos sampun celak kaliyan Gusti Allah awit sampun ngaturaken pisungsung, dukung dana kangge program kamanungsan lan pawartos Injil, nanging nyatanipun kita boten purun ngayahi paladosan punika kanthi teman. Sejatinipun dados Kristen punika boten namung ngakeni lan nampi tradisi Kristen punika. Dados Kristen punika tegesipun kita nyambeti undanganipun Gusti Allah ing Gusti Yesus sacara pribadi. Kita nuladha lampahi gesangipun Gusti Yesus. Kita kedah waspada, sanesipun kasibukan gesang sadinten-dinten, rumaos dhiri langkung sae tinimbang tiyang sanes saged dados alesan nyelaki timbalanipun Gusti dhateng kita.
Pawartos Gusti Allah nresnani sadaya manungsa lan sih tresnanipun kagem tiyang-tiyang tartamtu punika sanes pawartos enggal kangge para pitados. Tiyang mangertos menawi piyambakipun tiyang dosa ingkang kaparingan sih rahmatipun Allah. Ananging kasunyatanipun langkung kathah tiyang ingkang ngadili tiyang sanes tinimbang gesang kanthi kebak saos sokur.
Undanganipun Gusti kangge para tiyang dosa dipun gambaraken ing pasemonipun Gusti Yesus ing pasemon bujana kawin. Undangan lumebet ing bujana sukabingah sejatosipun kangge para tiyang ingkang boten kalebet ing undangan punika. Gusti ngundang para tiyang punika karana Gusti ngersaaken para tiyang punika nampi kabingahanipun. Pramila kita kedah saos sukur lan sukabingah, karana kita ingkang waunipun boten pantes dados pantes. Karana punika kita ingkang nampi undanganipun Gusti, kedah siap lan nyawisaken ageman ingkang pantes, inggih punika gesang kita ingkang miturut dhumateng karsanipun Gusti.
Panutup
Ing dinten Minggu punika, ing wulan Ekumene, kita dipun ajak ngraosaken lan ngalami undanganipun Gusti kangge kita sadaya. Saos sokur lan nindakaken gesang ingkang pantes wonten ngarsanipun Gusti punika prekawis ingkang kedah kita tindakaken ing gesang kita sadinten-dinten. Iman kita dhumateng Gusti Allah kedah ketingal ing gesang padintenan. Kita ngakeni bilih kawontenan kita kaliyan sadherek kita punika sami, inggih punika tiyang ingkang kebak dosa lan sami pantes nampi undanganipun Gusti. Kita sadaya dipun undang kangge mujudaken Kratoning Allah ing brayat, pakaryan, sekolah, lan ing masyarakat. Amin. [Terj. AR].
Pamuji: KPJ. 406 : 1, 2 Kratoning Swarga Wus Prapta