Kuasa Tuhan Melampaui Perbedaan Khotbah Minggu 22 Oktober2023

9 October 2023

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Ekumene
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 45 : 1 – 8
Bacaan 2: 1 Tesalonika 1 : 1 – 10
Bacaan 3: Matius 22 : 15 – 22

Tema Liturgis: GKJW Bersama Umat Lain Terlibat Mewujudkan Tanda-tanda Kerajaan Allah
Tema Khotbah: Kuasa Tuhan Melampaui Perbedaan

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 45 : 1 – 8
Yesaya 45 ini adalah bagian dari Deutero Yesaya (pasal 40-55) yang disusun pada pertengahan abad ke-6 SM. Orang Yehuda yang tercerai-berai karena penaklukan Yerusalem oleh Babilonia dan tinggal dalam pembuangan sejak 587 SM itu, kini mendapatkan berita pembebasan, bahkan dijanjikan untuk membangun kembali kota dan Bait Allah mereka. Bangsa Yehuda mendapatkan janji bahwa akan ada seorang tokoh pembebas yang dipilih dan dituntun Allah sendiri untuk membebaskan mereka, yang digemakan mulai dari pasal 41 dan berpuncak di pasal 45. Namun yang menarik adalah nama tokoh yang disebut jelas di pasal 45 ini. Tokoh pembebas itu adalah Koresh. Koresh bukanlah bagian dari bangsa Israel. Koresh adalah Raja Persia. Sehingga dapat dikatakan bahwa Koresh adalah orang asing, bahkan jika dirunut dalam sejarah, Koresh adalah bagian dari “musuh” besar yang menyerang dan berperang melawan Bangsa Israel di masa yang lalu.

Sangatlah menarik bahwa Allah memanggil, memakai, dan menuntun Koresh untuk membebaskan bahkan mengembalikan hak Bangsa Israel untuk kembali beribadah kepada Allah. Setelah menaklukkan Babilonia, diceritakan bahwa Koresh mempersilakan Bangsa Israel untuk pulang kembali ke negara mereka serta membangun kembali ibadah serta menyembah Allah. Sehingga ini membuktikan bahwa janji Allah untuk menolong Bangsa Israel melalui Koresh, orang asing bahkan yang sebelumnya dikenal sebagai kelompok dari musuh di masa lalu itu adalah benar.

1 Tesalonika 1 : 1 – 10
Menurut Kisah Para Rasul 17, Paulus mengunjungi Tesalonika dalam perjalanan penginjilannya yang kedua. Tesalonika adalah sebuah kota yang penting sebab kota ini adalah ibu kota provinsi Makedonia yang terletak di sebuah teluk kecil dan jalur perdagangan penting yang dikenal dengan nama: Via Egnatia. Sebelum menjadi Kristen, umat di jemaat ini juga melakukan berbagai macam kultus pemujaan kaisar Romawi yang saat itu memang diwajibkan oleh kekaisaran Romawi. Sehingga, ketika orang-orang Tesalonika mendengar Injil yang dibawa Paulus dan menerima panggilan untuk menyembah Allah saja, tentu saja mereka menghadapi banyak pertanyaan, penolakan, bahkan penganiayaan dari masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, pertobatan warga Tesalonika ini sungguh-sungguh dipuji dan didorong secara positif oleh Paulus.

Ketekunan dan kesetiaan iman dari warga Tesalonika ini ternyata tidaklah sia-sia. Melalui apa yang mereka lakukan, terbukti bahwa Injil tersebar semakin luas dan dikenal semakin banyak orang. Kesabaran dan kerelaan untuk menanggung derita demi melakukan kehendak Tuhan ini ternyata membuahkan buah-buah pertobatan dalam wilayah yang semakin luas. Di atas semuanya itu, Paulus mengingatkan bahwa pemberitaan Injil ini bisa terjadi dan berbuah karena kuasa Roh Allah sendiri yang menyertai setiap prosesnya. Kekuatan yang dimiliki warga Tesalonika dalam menghadapi tantangan serta kemudian kesediaan orang-orang di tempat-tempat lain untuk menerima Injil itu adalah karya Roh Kudus.

Matius 22 : 15 – 22
Dalam perikop bacaan ini, orang-orang Farisi ingin menjebak Yesus dengan sengaja memberikan sebuah pertanyaan dan mengajak orang-orang Herodian bersama dengan mereka. Pertanyaan yang diajukan dalam ayat 17 adalah: “Apakah boleh membayar pajak kepada kaisar?” Pertanyaan ini sungguhlah menjebak, sebab jika Yesus menjawab boleh, berarti Yesus melegitimasi pemerasan dan penindasan Kekaisaran Romawi yang berarti Yesus akan menjadi musuh masyarakat khususnya orang-orang “kecil”, namun sebaliknya jika Yesus menjawab tidak boleh, berarti Yesus adalah bagian dari pemberontak Romawi dan bisa ditangkap. Yesus tahu maksud licik mereka dan menjawab dengan sangat cerdas, menggunakan sebuah koin. Koin yang dimaksud adalah dinar perak Romawi yang memiliki gambar kepala Kaisar, di sisi yang satu dengan bertuliskan “Kaisar Tiberius, Putera Dewa Agustus.” Sedangkan di sisi yang lain, dituliskan “Tiberius, Imam Besar”. Jadi, sejak awal koin tersebut adalah simbol penghujatan atas agama Yahudi. Koin, yang mereka gunakan sehari-hari untuk hidup itu mengingatkan kepada warga untuk menyembah dan memberikan kesetiaan utuh kepada Kaisar sekaligus menyangkal kesetiaan bangsa Yahudi kepada Allah.

Maka, jawaban Yesus yang nampak ambigu: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kau berikan kepada Allah”, sesungguhnya memberikan pernyataan yang kuat. Yesus mengkritik pemberhalaan kekaisaran Romawi sambil mengingatkan bahwa kepemilikan Allah jauh lebih luas dari kekuasaan kekaisaran Romawi. Yesus mengingatkan kembali secara khusus untuk orang Yahudi pada saat itu, untuk menyadari bahwa hidup dan seluruh dunia ini adalah milik Allah, maka mestinya mereka tidak kehilangan iman dan kesetiaan mereka kepada Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehendak Tuhan jauh lebih besar dari apa yang bisa kita pikirkan. Dalam mewujudkan kehendak-Nya, Tuhan bisa memakai siapapun tanpa terkecuali, termasuk yang kita pikir paling tidak mungkin. Itu semua karena kuasa-Nya melampaui segala sesuatu. Karena karya dan kuasa-Nya itulah, Injil (kabar sukacita) dapat diusahakan dan dirasakan bersama  di dalam dunia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Perbedaan sangat dekat dengan keseharian kita. Setiap hari kita bersinggungan dengan perbedaan. Namun sepertinya kita masih harus terus belajar untuk hidup dengan perbedaan. Sebab jika kita melihat realita, manusia cenderung tidak suka dengan perbedaan. Di dalam kehidupan ini, bukankah kita cenderung berkawan dengan mereka yang kita anggap sama? Kita membuat banyak kelompok, grup, atau perkumpulan berdasarkan sesuatu yang kita anggap sama. Tentu saja hal ini wajar sebab hidup bersinggungan bersama dengan mereka yang sama membuat kita merasa aman dan nyaman. Namun, hal ini menjadi masalah jika secara tidak sadar, kita menjadi menolak pihak-pihak yang kita anggap berbeda. Kita curiga kepada mereka, kita tidak mau bergaul dengan mereka, lalu bisa-bisa kita menjadi anti kepada yang berbeda itu.

Keadaan seperti ini direspon oleh seorang artis dengan lagunya yang dipopulerkan tahun 90an, yang liriknya begini: “Tiada yang salah dengan perbedaan dan segala yang kita punya, yang salah hanyalah sudut pandang kita yang membuat kita terpisah. Karna tak seharusnya perbedaan menjadi jurang …” (lebih baik jika dinyanyikan).

Isi
Bangsa Israel dalam bacaan kita yang pertama nampaknya mengalami hal yang demikian pula. Bangsa Israel yang saat itu hidup dalam kesesakan akibat pembuangan di Babel mendapat pengharapan untuk pembebasan mereka. Namun yang menjadi menarik adalah, pembebas yang Tuhan tunjuk sendiri adalah Koresh, raja Persia. Koresh bukan hanya orang asing yang berbeda dengan bangsa Israel, tetapi juga pemimpin bangsa Persia yang dahulu musuh yang mengancam bangsa Israel. Maka, dalam pikiran manusia, cara Tuhan menunjuk Koresh sebagai penyelamat ini tidaklah wajar.

Tidak wajar dalam pikiran manusia, sebab bagi kita berpikir bahwa hal-hal baik hanya akan lahir dari kesamaan-kesamaan saja. Penyelamatan dan kehendak Tuhan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam kelompok kita sendiri. Orang yang tidak mengenal Tuhan, seolah-olah dalam pikiran kita tidak terjangkau oleh kuasa Tuhan. Mereka yang kita anggap diluar kelompok kita, yang kita anggap tidak mengenal Tuhan itu, seolah-olah tidak mungkin ikut ambil bagian melakukan kehendak Tuhan.

Namun, bacaan kita yang kedua dan ketiga tadi mengingatkan tentang kebesaran kuasa Tuhan. Betapa kuasa Tuhan itu tidak terbatas pada apapun juga dan kuasa Tuhan melampaui apapun juga. Dengan demikian, sama seperti ketika Yesus mengingatkan bangsa Yahudi bahwa hidup kita dan seluruh dunia ini adalah milik Tuhan, kitapun semestinya juga menghayati yang demikian. Jika hidup kita dan dunia ini milik Tuhan, mestinya kita tidak mempersempit kehendak Tuhan dengan batasan-batasan perbedaan.

Penutup
Di dalam Ibadah Penutupan Bulan Ekumene ini, kita kembali diingatkan untuk mendahulukan kehendak Tuhan di atas segala perbedaan. Bumi, rumah kita tinggali bersama ini sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan. Maka, kehendak Tuhanlah yang harusnya menjadi utama, bukan keinginan kita, apalagi ego kita.

Seperti warga Tesalonika, Injil itu tidak untuk disimpan sendiri saja. Kabar sukacita itu mesti diwartakan luas ke seluruh dunia. Namun lebih dari itu, dengan kuasa Tuhan, kita perlu mengakui bahwa nyatanya, Injil itu, kabar sukacita dan kehendak Tuhan itu, juga diusahakan oleh seluruh ciptaan. Mereka yang kita anggap berbeda itu juga mengusahakan kehendak Tuhan. Maka, panggilan untuk bersama-sama mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia ini tidak pernah menjadi panggilan pribadi saja, atau satu kelompok saja. Panggilan yang mulia itu Tuhan berikan kepada semua ciptaan yang dikasihi-Nya.

Apakah mustahil berjalan bersama untuk melakukan kehendak Tuhan dengan mereka yang berbeda? Tentu saja, jika mengandalkan daya sendiri. Tetapi menjadi mungkin, jika kita percaya bahwa seluruh dunia ini disertai dengan kuasa Tuhan. Kuasa yang melampaui segala perbedaan itulah yang menggerakkan usaha kita bersama. Maka dengan penuh syukur kita perlu mengakui bahwa Kuasa Tuhan yang melampaui perbedaan itulah yang menyatukan. Amin. [DW].

 

Pujian: KJ. 249 Serikat Persaudaraa

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Rubeda punika celak kaliyan gesang kita. Saben dinten, kita saged manggihi rubeda punika. Sanajan sampun limrah, nanging kita kedah tetap sinau gesang ing kawontenan ingkang rubeda punika. Awit bilih kita tingali kasunyatanipun, manungsa punika boten remen kaliyan kawontenan ingkang rubeda. Ing salebeting gesang, asring kita punika kekancan kaliyan tiyang ingkang kita anggep sami kaliyan kita. Anggen kita damel kelompok utawi grup punika kalandesan kawontenan ingkang sami kaliyan kita. Tamtu prekawis punika limrah, awit anggenipun kita gesang sinarengan kaliyan tiyang sanes, kita kepengin aman lan nyaman. Nanging kita ugi kedah sadar bilih kita punika asring boten remen kaliyan tiyang ingkang benten kaliyan kita, lajeng kita boten purun srawung kaliyan tiyang punika. Kita dados tiyang ingkang anti kaliyan kawontenan ingkang rubeda punika.

Kawontenan ingkang kados mekaten punika, dipun tanggepi dening  salah satunggaling artis ingkang tembangipun kasuwur ing tahun 90an, ingkang isi tembangipun mekaten: “Tiada yang salah dengan perbedaan dan segala yang kita punya, yang salah hanyalah sudut pandang kita yang membuat kita terpisah. Karna tak seharusnya perbedaan menjadi jurang …” (sae bilih saged kapujekaken).

Isi
Kawontenanipun bangsa Isarel ing waosan sepisan nedahaken prekawis ingkang sami. Nalika semanten bangsa Israel gesang ing kasangsaran, karana bangsa Israel dipun bucal ing Babel. Ing kawontenan punika bangsa Israel nampi pawartos bilih bangsa Israel badhe nampi pangluwaran. Ananging ingkang dados kawigatosan, tiyang ingkang dipun agem Gusti Allah kangge ngluwari bangsa Israel saking Babel inggih punika Koresh, raja Persia. Koresh punika dipun wastani tiyang ingkang asing lan benten kaliyan bangsa Israel. Koresh ingkang dados raja Persia rikala rumiyin dipun anggep mengsahipun bangsa Israel. Pramila ing pemanggihipun bangsa Israel sacara kamanungsan, caranipun Gusti Allah kangge ngluwari bangsa Israel punika sarana nunjuk Koresh punika boten limrah.

Sacara kamanungsan pancen boten limrah, awit bilih dipun galih sejatosipun prekawis-prekawis ingkang sae punika badhe tuwuh saking prekawis ingkang sami kemawon. Kawilujengan lan karsanipun Gusti Allah namung saged dipun tindakaken sarana tiyang Israel piyambak. Tiyang ingkang boten tepang kaliyan Gusti Allah, kadosipun ing pemanggih kita, tiyang punika boten wonten ing panguwaosipun Gusti Allah. Tiyang punika, kita anggep tiyang sajawinipun kelompok kita ingkang boten tepang kaliyan Gusti Allah. Kadosipun mokal bilih tiyang ingkang boten tepang Gusti dipun agem Gusti Allah kangge nindakaken karsa-Nipun.

Waosan kita ingkang kaping kalih lan tiga ngengetaken kita bab panguwaosipun Gusti Allah. Panguwaosipun Gusti Allah punika tanpa winates, panguwaosipun Gusti Allah punika nglangkungi punapa kemawon. Kanthi mekaten, kados Gusti Yesus ingkang ngengetaken bangsa Yahudi bilih gesang kita lan alam donya punika kagunganipun Gusti, kita kedahipun ugi ngraosaken ingkang mekaten. Bilih gesang kita lan alam donya punika kagunganipun Gusti, tamtunipun kita boten badhe batesi karsanipun Gusti Allah kaliyan kawontenan ingkang benten punika.

Panutup
Ing Pangabekti Panutup Wulan Ekumene punika, kita dipun engetaken supados kita manut dhateng karsanipun Gusti Allah langkung rumiyin, langkungi sadaya prekawis ingkang benten. Donya, papan ingkang kita panggeni sesarengan punika wonten ing panguwaosipun Gusti Allah. Karana punika karsanipun Gusti Allah kemawon ingkang utami, sanes kepenginan kita punapa malih dhiri kita piyambak. Kados warga Tesalonika, Injil punika boten saged dipun simpen piyambak. Kabar kabingahan punika kedah dipun wartosaken ing saindenging donya. Langkung saking punika, kita perlu ngakeni bilih panguwaosipun Gusti Allah punika nyata salebeting gesang kita. Injil minangka kabar kabingahan lan karsanipun Gusti Allah punika kedah dipun upaya kaliyan sadaya titah. Tiyang sanes ingkang kita anggep benten kaliyan kita, tiyang punika ugi nindakaken karsanipun Gusti Allah. Karana punika, dados timbalan kita sami kangge mujudaken tandha-tandha Kratoning Allah ing donya punika. Timbalan punika boten namung timbalan pribadi utawi timbalan dhateng kelompok ingkang sami kaliyan kita kemawon. Timbalan ingkang mulya saking Gusti Allah punika dipun paringaken dhateng sadaya titahipun ingkang dipun tresnani.

Punapa kadosipun mokal bilih kita nindakaken karsanipun Gusti sesarengan kaliyan tiyang ingkang benten kaliyan kita? Tamtu kemawon inggih mokal bilih kita namung ngandelaken kakiyatan kita piyambak. Ananging punika saged kalampahan menawi kita pitados bilih donya punika wonten ing panguwaosipun Gusti Allah. Panguwaosipun nglangkungi sadaya rubeda, punika ingkang dadosaken kita saged nindakaken sesarengan. Pramila kanthi kebaking saos sokur, kita kedah ngakeni Panguwaosipun Gusti Allah ingkang nglangkungi sadaya rubeda punika ingkang nunggilaken kita. Amin. [Terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 357 Endahing Saduluran

Renungan Harian

Renungan Harian Anak