Bacaan: Kisah Para Rasul 6 : 8 – 15 | Pujian: KJ. 446
Nats: “… tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.” (Ayat 10)
Ketika saya masuk SD di tahun 1970-an, saya dan teman-teman yang minoritas sering dirundung oleh teman-teman sekolah. Mereka berkata, “Itu orang Kristen, pemakan Babi.” Walaupun perundungan itu sering kami alami, kami tidak merasa terhina, tidak minder, tidak marah, dan tidak membalas, karena realitanya memang demikian, kami Kristen dan suka makan daging Babi. Bahkan semakin kami dirundung, kami tetap semangat menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen. Jika diminta menyanyi di depan kelas, kami anak-anak Kristen pasti menyanyikan lagu rohani. Salah satu lagu favorit yang sering kami nyanyikan adalah lagu Hendaklah Kau Iring Yesus Pikul Salib. Melalui firman Tuhan saat kebaktian Minggu, kami tahu bahwa kebenaran dan keselamatan hanya ada melalui Yesus Kristus.
Bacaan kita hari ini memperkenalkan satu sosok yang luar biasa dipakai Allah untuk menyatakan tanda dan mukjizat-Nya, yaitu Stefanus. Dia adalah sosok yang penuh iman dan Roh Kudus, melaluinya Firman Allah semakin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem semakin bertambah banyak. Stefanus yang setia memberitakan Firman Allah, difitnah bahwa dia telah menghujat Allah dan Musa. Lalu orang-orang Yahudi menyergap Stefanus, menyeret, dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Sekalipun Stefanus mengalami aniaya hingga mati, Stefanus tidak mundur. Ia tetap berpegang pada kebenaran yang diyakininya. Bahkan sebelum kematiannya, dia mengalami penguatan. Dia menatap ke langit, melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dan saat Stefanus hendak menghembuskan nafas terakhirnya, dia berlutut dan berseru dengan suara nyaring, “Tuhan jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka.” (7:60).
Kisah ini menjadi inspirasi spiritual bagi kita bahwa di tengah ancaman bahkan kematian sekalipun janji Tuhan tidak pernah berubah. Balasan keselamatan dan hidup kekal dianugerahkan kepada setiap kita yang setia. Karena itu, kita perlu terus belajar mengenal Tuhan Yesus. Sekalipun kita memiliki sejumlah gelar intelektual dan jabatan tetapi jika kita tidak mengenal dan menerima Yesus Kristus maka sia-sialah hidup kita. Melalui YBPK, para siswa menerima pembelajaran tentang kebenaran dan pengenalan akan Yesus. Kita pun juga dapat mengenal Yesus Kristus dan merasakan kehadiran-Nya melalui firman-Nya. Mari kita terus teguh berpegang pada kebenaran dan hidup di dalam Tuhan. Amin. [PT].
“Kebenaran sering terdesak tetapi tidak pernah musnah.”