Tahun Gerejawi: Pentakosta
Tema: Pentakosta
Judul: Hidupku Dipenuhi Roh Kudus
Bacaan: Kisah Para Rasul 2: 1-13
Ayat Hafalan: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5: 22 -23)
Lagu Tema: Roh Kudus, Tercurah Di Tempat Ini/ Anggur Baru
Tujuan:
- Remaja dapat mencirikan orang yang dipenuhi Roh Kudus.
- Remaja dapat menjelaskan rintangan-rintangan yang dihadapi sebagai orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta dihayati sebagai perayaan umat Yahudi yang dirayakan pada hari kelima puluh sesudah Paskah (Pesah artinya: keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir). Saat itu umat Israel merayakan kebaikan Allah juga pemberian 10 hukum Tuhan kepada Musa. Dalam Perjanjian Baru, hari Pentakosta, dimaknai sebagai saat pencurahan Roh Kudus kepada para murid Tuhan Yesus. Mereka dikaruniai keberanian, keyakinan iman yang baru, juga karunia-karunia berupa kuasa ilahi berupa mujizat berbicara berbagai bahasa serta berkat yang itu semua merupakan penggenapan atas nubuatan nabi Yoel (ay. 16-17). Hari dan peristiwa Pentakosta itulah yang menentukan hidup dan berkembangnya Gereja bahkan hingga saat ini. Para rasul dipanggil untuk mengarahkan hidup umat Tuhan untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan Yesus Sang Juru selamat atau Sang Mesias yang dinantikan dunia. (ay. 21).
Refleksi untuk Pamong:
- Dipandu pembacaan ayat diatas, apakah hidup kita sudah mencerminkan hidup yang dipenuhi Roh Kudus ? Apa hal-hal yang merintangi kita untuk menjadi hidup dipenuhi Roh Kudus ?
- Buatlah komitmen berdasarkan bacaan Alkitab.
Pendahuluan
- Ajak remaja membaca Kisah Para Rasul 2: 1-13!
- Sampaikan Ilustrasi berikut:
Ada cerita tentang dua jemaat yang hanya berjarak beberapa blok antara satu dengan lainnya di sebuah komunitas kecil. Mereka mengira akan lebih baik jika mereka bergabung dan menjadi satu tubuh, lebih besar dan lebih efektif daripada dua gereja yang berjuang dengan susah payah. Gagasan yang bagus. Akan tetapi, mereka tidak dapat melaksanakannya.
Masalahnya? Mereka tidak bisa sepakat tentang bagaimana seharusnya mereka membaca “Doa Bapa Kami”. Satu kelompok menginginkan “Ampunilah kesalahan-kesalahan kami” sedangkan yang lain menuntut “Ampunilah dosa-dosa kami.” Menyikapi hal itu, sebuah surat kabar lokal melaporkan berita yang isinya mengatakan bahwa: “Gereja yang satu kembali kepada kesalahan-kesalahannya, sedangkan yang lain kembali kepada dosa-dosanya.”
Kurang lebih sama, di lingkungan, kita seringkali berdiskusi tentang gereja yang sibuk berdiskusi tentang gereja manakah yang paling benar dan dipenuhi Roh Kudus. Satu gereja menganggap bahwa salah satu ciri kepenuhan Roh Kudus adalah gereja yang bisa menyelenggarakan peribadahan dimana semua warga jemaatnya berbahasa roh. Dan gereja yang lain, mengatakan bahwa yang terpenting adalah gereja yang hadir dan melayani sesamanya dengan baik. Jadi sebenarnya apakah ciri-ciri gereja atau umat yang dipenuhi dengan Roh Kudus ?
Cerita (Bahasa Indonesia)
Dalam bacaan kita hari ini, para murid sedang berkumpul karena perayaan Pentakosta, perayaan umat Yahudi pada hari kelima puluh sesudah Paskah (Pesah artinya : keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir). Saat itu umat Israel merayakan kebaikan Tuhan juga pemberian 10 hukum Tuhan kepada Musa. Ketika mereka sedang berkumpul, tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah dan tampak kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada masing-masing orang dan penuhlah mereka dengan Roh Kudus dan mereka mulai berkata-kata dengan bahasa lain. Disana telah berkumpul orang-orang dari ragam tempat (Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah Libia) yang mendengar para murid berbicara tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.
Hari itu, menjadi penggenapan janji Tuhan. Kuasa yang dicurahkan kepada para murid akan menjadi bekal bagi para murid untuk dapat melakukan kegiatan sebagai saksi Kristus. Para murid yang dipenuhi dengan Roh Kudus, berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa asli/ibu mereka tentang perbuatan-perbuatan besar Allah. Hal itu menyebabkan kebingungan setiap orang yang hadir di tempat itu. Sebab orang asing dengan ragam latar belakang itu, mengerti dan memahami perkataan para murid. Dari apa yang terjadi pada hari itu, banyak orang kemudian percaya pada Kristus dan menyerahkan diri untuk menerima baptis.
Nah berbicara tentang hidup yang dipenuhi Roh Kudus, kita bisa belajar dari peristiwa Pentakosta yang dialami para murid bahwa kepenuhan Roh Kudus dicirikan dengan karya Tuhan yang memampukan para murid untuk menceritakan perbuatan-perbuatan besar Allah sehingga banyak orang mengenal Tuhan Yesus serta karya-karya-Nya dan memuliakan-Nya.
Apa yang dapat menjadi tanda-tanda dan ciri bahwa kehidupan kita sudah mencerminkan hidup yang dipenuhi Roh Kudus? Dari bacaan Alkitab hari ini, kita belajar bahwa hidup yang dipenuhi Roh Kudus adalah hidup (tutur kata dan sikap) yang mampu menceritakan perbuatan besar yang dilakukan Allah, seperti kesaksian orang-orang yang mendengar para murid “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan besar yang dilakukan Allah” (11).
Bagaimana para remaja menceritakan perbuatan Allah? Tentu saja tidak cukup hanya menceritakan saja, karena perbuatan dapat bercerita lebih kuat dibanding kata-kata. Maka, sejatinya Roh Kudus tidak hanya menuntun kita berkata-kata, tetapi juga menuntun kita bersikap supaya kehidupan kita dapat menceritakan tentang kebaikan, penyertaan dan damai sejahtera dari Allah bagi seluruh umat manusia. Kehidupan yang disukai Allah sebagai buah-buah pimpinan Roh, seperti hidup yang mencintai kasih, sukacita, kelemahlembutan, kebaikan, penguasaan diri, kesabaran, damai sejahtera, kemurahan hati (Galatia 5:22-23). Dengan demikian setiap orang yang melihat hidup kita, sedang melihat pekerjaan Allah yang terus berlangsung hingga hari ini.
Nah, sebagai pribadi dan gereja kita perlu mulai berefleksi apakah hidup kita sudah dipimpin Roh Kudus, jangan-jangan kita masih sibuk berdebat tentang siapakah diantara kita atau manakah gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan menjadi lupa untuk menjadikan hidup sebagai kesaksian tentang kasih Allah bagi dunia. Hidup kita gagal mencerminkan pimpinan Roh Kudus.
Kegagalan mencerminkan kehidupan yang dipimpin Roh Kudus, bisa jadi dikarenakan kita yang sulit menundukkan diri dengan rendah hati dipimpin oleh Roh Kudus. Hidup yang masih mempertahankan keegoisan dan kepentingan-kepentingan pribadi kita. Seperti cerita ilustrasi diawal renungan, itulah tanda kita mempertahankan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita dan menolak membiarkan Allah bekerja dalam kehidupan kita bagi kemuliaan-Nya dan kebaikan sesama.
Di hari Pentakosta ini, mari kita perjuangkan hidup yang terus menceritakan perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup bersama saudara, teman dan keluarga. Bukan hanya melalui kesaksian cerita tetapi juga keseluruhan hidup yang bersaksi dan melayani sesama dengan sungguh-sungguh, sehingga banyak orang mengenal kasih Kristus. Karena karya Roh Kudus tidak hanya terhenti pada hari para murid menyampaikan perbuatan besar Allah melalui bahasa Roh-Nya, tetapi juga sampai dengan hari ini dan selamanya. Selama Roh Kudus terus membara di hati dan hidup setiap umat Tuhan.
Carita (Basa Jawi)
Ana crita bab rong pasamuwan mung sawetara blok saka siji lan sijine ing salah sawijining dusun. Pasamuwan kuwi mikir bakal luwih apik yen gabung lan dadi siji, luwih gedhe lan luwih efektif tinimbang rong pasamuwan. Idene apik. Nanging, kasunyatan ora bisa gampang ditindakake.
Masalahe? Wong-wong kuwi ora setuju bab carané maca ”Donga Rama kawula”. Siji pasamuwan pengin “Ngapura dosa kita” nalika liyane nuntut “Ngapura lupute kita”. Kanggo nanggepi iki, koran lokal nglaporake crita: “Sawijining pasamuwan bali menyang lupute, dene sing liyane bali menyang dosane.”
Kurang luwih, ing lingkungan kita, kita kerep ngrembug babagan pasamuwan-pasamuwan sing sibuk ngrembug pasamuwan endi sing paling bener lan kebak Roh Suci. Sawijining pasamuwan nganggep menawa salah sawijining ciri kebak Roh Suci yaiku pasamuwan sing bisa nganakake kebaktian ing ngendi kabeh anggota pasamuwan ngomong nganggo basa-roh. Lan pasamuwan liyane, ujar manawa sing paling penting yaiku pasamuwan sing ana lan ngladeni wong liya kanthi apik. Dadi apa ciri-ciri pasamuan utawa wong sing kebak Roh Suci?
Ing waosan kita ing dinten punika, para sakabat sami nglumpuk kangge mahargyan riyaya Pentakosta, inggih punika pahargyan umat Yahudi ing dinten kaping seket sasampunipun Paskah (Paskah tegesipun: ngluwari bangsa Israel saking perbudakan ing Mesir). Ing wektu iku bangsa Israèl ngrayakaké kabecikané Gusti Allah uga peparingé 10 angger-anggeré Gusti Allah marang Musa. Nalika padha nglumpuk, dumadakan ana swara kaya angin gedhe kang mandap saka ing langit, nuli ngebaki omah kabeh, lan padha weruh ilat-ilat kaya geni murub lan wong-wong padha kapenuhan ing Roh Suci. lan padha wiwit ngomong –ngandika ing basa liyane. Ing kunu padha nglumpuk saka macem-macem panggonan (Partia, Media, Elam, wong Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia lan Pamfilia, Mesir lan Libia) padha krungu para sakabat padha ngomong bab panggawe gedhe sing wis katindakake dening Gusti Allah.
Dina iku katetepan janjine Gusti. Kekuwatan sing diwutahake marang para murid bakal dadi sangu kanggo para murid supaya bisa nindakake pakaryan minangka seksi Kristus. Para sakabat, sing kapenuhan ing Roh Suci, ngandika ing basa beda saka basa ibune bab pakaryan agung Gusti Allah. Iku nyebabake kabingungan kanggo kabeh sing ana ing papan iku. Merga wong manca sing maneka warna asal, ngerti omongane murid-murid. Saka kedadean dina iku, akeh wong banjur pracaya marang Kristus lan purun nampa baptis.
Saiki ngomong babagan urip sing kebak Roh Suci, kita bisa sinau saka kedadean Pentakosta sing dialami para murid, yen kebak Roh Suci diciriake dening pakaryane Gusti Allah sing ngerobi para sakabat bisa nyritakake pakaryan gedhene Gusti Allah supaya akeh wong sing ngerti Gusti Yesus lan karya-karyané lan ngluhuraké Panjenengané. Apa sing bisa dadi tandha lan ciri yen urip kita nggambarake urip sing kebak Roh Suci? Saka wacan Kitab Suci ing dina iki, kita sinau manawa urip sing kebak Roh Suci yaiku urip (pocapan lan tingkah laku) bisa nyritakake tumindak gedhe sing katindakake dening Gusti Allah, kayata paseksene wong-wong sing ngrungokake para sakabate “aku krungu. Wong wong kuwi ngucap nganggo basa kita dhéwé, ngenani panggawé gedhé sing ditindakké Gusti Allah.” (11).
Piyé remaja nyritakaké tumindaké Gusti Allah? Mesthi wae ora cukup mung crita, amarga tumindak bisa nyritakake crita sing luwih kuat tinimbang tembung. Dadi, sejatine Roh Suci ora mung nuntun kita ngucap, nanging uga nuntun kita tumindak supaya urip kita bisa nyritakake babagan kabecikan, keterlibatan lan katentreman saka Gusti Allah kanggo kabeh manungsa. Urip sing nresnani Gusti Allah minangka woh saka tuntunan Roh, kayata urip sing nresnani katresnan, kabungahan, kalembutan, kebecikan, kontrol diri, sabar, tentrem, loman (Galatia 5:22-23). Mangkana saben wong sing ndeleng urip kita, ndeleng pakaryane Gusti Allah sing terus nganti saiki.
Saiki, minangka individu lan pasamuwan kita kudu miwiti mikir apa urip kita wis dituntun dening Roh Suci, supaya kita ora sibuk bebantahan sapa ing antarane kita utawa pasamuwan endi sing kapenuhan Roh Suci lan lali nggawe urip minangka paseksi katresnane Gusti marang jagad. Yen isih ngunu urip kita gagal nggambarake pimpinan Roh Suci.
Gagal nggambarake urip sing dipimpin dening Roh Suci, bisa uga amarga kita ora duweni rasa andhap asor kapimpin dening Roh Suci. Urip sing isih njaga egois lan kepentingan pribadi.
Aktivitas
Buatlah komitmen sesuai bacaan kita untuk hidup dipenuhi Roh Kudus.
Nama : ……………………………
Di hari Pentakosta, menyerahkan hidup untuk dipimpin Roh Kudus dan mempersembahkan pikiran, tutur kata, sikap hidup sebagai pencerita kisah kebaikan Allah bagi teman dan keluarga.