Tahun Gerejawi: Paskah 7
Tema: Karakter Kristiani
Judul: Tidak Mencari Keuntungan
Bacaan: Nehemia 5: 14-19
Ayat Hafalan: “Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1 Korintus 10: 24)
Lagu Tema: KJ 338: 1-4 “Marilah, Marilah, Hai Saudara”
Tujuan:
- Remaja dapat menyebutkan tindakan-tindakan Nehemia sebagai bupati.
- Remaja dapat mengikuti sikap Nehemia sebagai pemimpin dalam pembangunan Bait Suci dalam kehidupan sehari -hari.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Nehemia menjadi bupati dan ia telah mendengar keluhan-keluhan rakyat yang menderita di Yehuda akibat para penguasa sebelumnya yang membebani rakyat untuk memperkaya diri mereka sendiri. Rakyat harus menggadaikan tanah, ladangnya dan dikenakan bunga yang tinggi oleh para penguasa yang adalah sesama bangsanya sendiri. Kesulitan sangat parah, kemiskinan ekstrim membuat anak-anak mereka pun menjadi budak untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Nehemia sangat marah dengan apa yang telah dilakukan oleh para penguasa sebelumnya dan mengadakan sidang jemaah (Nehemia 5:1-6). Ia pun mengecam tindakan mereka dan memerintahkan agar milik rakyat yang telah digadaikan untuk dikembalikan pada para pemiliknya. Atas keprihatinannya yang dalam, sejak Nehemia diangkat dan menjabat sebagai bupati di tanah Yehuda, ia tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati. Karena hidup takut akan Tuhan, Nehemia tidak mau melakukan hal seperti para penguasa sebelumnya, sebaliknya Nehemia mengusahakan kesejahteraan bagi rakyat yang dipimpinnya.
Refleksi untuk Pamong:
- Adakah hal-hal disekitar kita yang memberikan kita peluang untuk mendapatkan keuntungan “lebih”? Bagaimana kita meresponnya?
- Belajar dari sikap Nehemia dalam bacaan Alkitab, komitmen baru seperti apa yang kita pilih?
Pendahuluan
- Ajak remaja bermain games berikut:
- Ajak remaja untuk melakukan permainan secara berkelompok.
- Teman remaja membuat lingkaran dengan saling membelakangi.
- Masing-masing remaja membawa permen yang dipegang dibelakang.
- Tugas selanjutnya adalah remaja dipersilahkan makan permen dari teman yang ada didepannya.
- Ajak remaja sharing tentang bagaimana kesulitan mereka untuk bisa makan permen teman di depan mereka sementara mereka harus memegang permen untuk teman di belakang mereka.
- Ajak remaja membaca Nehemia 5: 14-19!
- Sampaikan Ilustrasi berikut:
Nasrudin sedang duduk di tepi danau. Tiba tiba ada orang yang tenggelam dan berteriak “TOLONG, TOLONG” Langsung orang-orang berteriak, “ Berikan tanganmu!” Tetapi orang itu tidak mau mengulurkan tangannya. Lalu, Nasrudin berteriak “Ambil tanganku!” Seketika itu juga orang tadi meraih dan memegang erat tangan Nasrudin. Semua orang heran dan bertanya, “Nasrudin, mengapa dia tidak mau menanggapi teriakan kami?” Nasrudin menjawab, “Orang ini terkenal kikir. Ia tidak mau memberi, ia hanya mau mengambil.” Rupanya orang ini terkenal kikir, sampai kikirnya, bahkan di saat genting, di tengah kesulitan dan membutuhkan pertolongan, ia lupa bahwa ia harus memberikan tangannya supaya selamat.
Cerita
Dalam perkembangan diri manusia, sejak kecil setiap orang memiliki ego, yaitu keingintahuan untuk memegang, melihat, memperhatikan sesuatu di luar dirinya untuk menjadi konsep/pengertian pada dirinya. Biasanya diumur 1-2 tahun, setiap anak mengalami proses ini. Ketika ada yang menarik dan membuat anak terkagum dan ingin tahu, ia menjadi tidak peduli, barang siapa yang sedang ia pegang. Kebutuhan ego ini harus terpenuhi, sebab jikalau tidak akan mengalami hambatan. Ketika dewasa, egonya akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Ego yang gagal mengalami penyesuaian, hanya akan berpusat pada dirinya. Maka dalam relasi sosial, ia hanya akan melihat dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Yang ‘ter’ dan ‘paling’. Dalam relasinya dengan orang lain, ia akan melihat apakah sesamanya menguntungkan atau tidak. Ia akan menggunakan semua daya, kedudukan dan jabatan untuk memenuhi keinginannya karena hidupnya hanya terpusat pada dirinya.
Situasi yang kurang lebih sama juga terjadi pada penguasa bangsa Yehuda yang membebani rakyat untuk memperkaya diri mereka sendiri. Rakyat harus menggadaikan tanah, ladangnya untuk hidup. Mereka harus membayar pajak bunga yang tinggi pada para penguasa. Mereka bahkan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari, dikarenakan pajak yang dikenakan atas ladang dan kebun dan untuk membayarnya mereka harus meminjam uang yang dikenakan riba ketika mengembalikannya. Kesulitan yang sangat parah, kemiskinan yang ekstrem membuat anak-anak mereka pun menjadi budak untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Parahnya, situasi itu terjadi karena saudara sebangsa yang menindas sesamanya sendiri.
Nehemia yang mendengar keluhan-keluhan rakyat yang menderita di Yehuda sangat marah dengan apa yang telah dilakukan oleh para penguasa sebelumnya dan mengadakan sidang jemaah (Nehemia 5:1-6). Ia mengecam tindakan mereka dan memerintahkan agar milik rakyat yang telah digadaikan dapat dikembalikan pada para pemiliknya. Atas keprihatinannya yang dalam, sejak Nehemia diangkat dan menjabat sebagai bupati di tanah Yehuda, ia tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati. Karena hidup takut akan Tuhan, Nehemia tidak mau melakukan hal seperti para penguasa sebelumnya, sebaliknya Nehemia mengusahakan kesejahteraan bagi rakyat yang dipimpinnya.
Bagi Nehemia, hidup bukan hanya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi memperjuangkan kesejahteraan bagi sesama. Nehemia yang takut akan Tuhan, menyadari betul tentang sifat Allah yang membenci penindasan, penuh kasih dan berbelarasa dengan orang miskin dan terpinggirkan. Maka demikian Nehemia menjalankan hidup, panggilannya dan jabatannya. Bahkan ia rela mengorbankan keuntungannya (upah dari jabatannya) untuk kepentingan masyarakatnya.
Kuasa adalah jalan berkat. Kekuasaan yang Tuhan percayakan bukanlah sarana bagi kita untuk menguasai orang lain bahkan untuk memaksa orang lain memenuhi harapan-harapan kita. Khususnya ketika Tuhan memberikan kedudukan, posisi dan jabatan untuk kita emban. Maka, jabatan seharusnya menjadi jalan bagi kita supaya banyak orang merasa semakin terberkati. Nehemia menjadi salah satu contoh pemimpin yang tangguh, takut akan Tuhan dan berkarakter kuat.
Maka, tanda bahwa kita bangga dan terhormat menjadi remaja takut akan Tuhan adalah berani memiliki sikap hidup yang berbeda dalam kualitas iman dan moral. Gaya hidup pengikut Tuhan yang tidak mengacu pada kepentingan diri sendiri, tetapi harus mengacu pada kebenaran firman. Menjadi pengikut Kristus, mari kita meneladani Kristus dengan sungguh-sungguh seperti Kristus yang rela mengorbankan dirinya bagi pembebasan sesama manusia. Karena kita pengikut Kristus, ikuti saja jejak-Nya dan ikuti saja apa yang dilakukan-Nya.
Teman Nasrudin mungkin menggambarkan kehidupan manusia yang hanya berorientasi pada dirinya sendiri, tetapi hal itu mungkin juga menggambarkan diri kita. Maka, mari kita biasakan hidup takut akan Tuhan dengan tidak mengejar kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, tetapi juga memperjuangkan kepentingan orang lain juga.