Bacaan: Kejadian 18 : 1 – 14 | Pujian: PKJ. 165
Nats: “Adakah sesuatu yang mustahil bagi TUHAN?” (Ayat 14a)
Ada suatu ungkapan: “Hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah.” Ungkapan ini berarti hidup itu tidak pernah pasti, ada waktu kita senang, namun ada juga waktu kita susah. Ketika kita senang, sangat mudah bagi kita untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Tetapi sebaliknya, ketika kita mengalami kesusahan, sulit bagi kita untuk bisa berpikir jernih dan menjalani kehidupan. Bahkan, kita akhirnya hanya menjalani hidup seadanya saja atau bahasa kerennya saat ini “hidup hanya untuk bertahan hidup.”
Ada banyak faktor yang memengaruhi suka dan duka kehidupan yang dialami. Salah satu faktor itu dialami oleh Abraham dan Sara. Sudah bertahun-tahun mereka berdua menanti kehadiran keturunan mereka. Namun, sampai di usia tua, hal itu belum terjadi di dalam hidup mereka. Hingga akhirnya, Allah dan malaikat-malaikat-Nya datang sendiri kepada Abraham. Abraham menyambut mereka dengan hangat. Namun, ketika Sara mendengar janji yang diucapkan TUHAN, Sara tertawa (Ay. 12). Kita melihat adanya perbedaan sikap antara Abraham dan Sara. Abraham menerima kehadiran TUHAN dan malaikat-malaikat-Nya dengan tangan terbuka dan tetap percaya akan janji-Nya, sedangkan Sara menertawakan dan lebih mengandalkan logika manusia. Bagi Sara, mustahil ia hamil dan mempunyai seorang anak, tetapi bagi TUHAN tidak ada yang mustahil (Ay. 14).
Dalam kehidupan ini, ketika kita sedang mengalami kesusahan, terkadang kita melupakan bahwa kita memiliki Tuhan yang sangat berkuasa dan tak terbatas atas hidup kita. Terkadang kita menjadi seperti “Sara” yang lebih mengandalkan logika kemanusiaan kita. Padahal, janji Tuhan yang telah diberikan kepada kita bukanlah janji yang menyakitkan, tetapi janji yang manis. Namun, “manis” itu baru bisa kita terima ketika kita mau bersikap seperti Abraham, yaitu bersikap menerima apa yang terjadi di dalam hidup ini dengan tangan terbuka dan tetap percaya penuh kepada Tuhan, sebab tak ada yang mustahil bagi Dia. Janji Tuhan yang diberikan pada kita itu adalah Tuhan akan selalu memimpin dan membimbing kita dalam segala dinamika kehidupan kita. Maka, ketika kita mengalami kesedihan atau kesusahan, mari kita bangkit dari keterpurukan kita dan percaya bahwa Tuhan akan menata kehidupan kita dan merancangkannya dengan baik. Amin. [HADS].
“Tak ada hal yang mustahil bagi Allah.”