Dari Dalam Pergumulan, Lahir Sebuah Pengharapan Khotbah Minggu 12 Maret 2023

27 February 2023

Minggu Pra Paskah 3
Stola Ungu

Bacaan 1: Keluaran 17 : 1 – 7
Bacaan 2: Roma 5 : 1 – 11
Bacaan 3: Yohanes 4 : 5 – 42

Tema Liturgis:  GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema Khotbah: Dari Dalam Pergumulan, Lahir Sebuah Pengharapan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 17 : 1 – 7
Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir, tanah perbudakaan merupakan salah satu bagian dari janji Tuhan yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang bangsa Israel, Abraham, yaitu janji tentang sebuah tempat yang berlimpah susu dan madu, yang akan didiami oleh keturunan Abraham (Kej. 12:1-2; Kel. 3:17). Sekalipun tidak instan, namun janji Tuhan adalah pasti. Melalui peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya pada janji yang diberikan-Nya.

Sekalipun demikian, bukanlah hal yang mudah bagi bangsa Israel untuk percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang sungguh-sungguh berkuasa dan memelihara kehidupan mereka. Hal tersebut nyata dalam kisah perjalanan bangsa Israel ketika keluar dari tanah Mesir. Ketakutan dan sungut-sungut selalu disampaikan kepada Musa saat mereka menghadapi perkara yang sulit (kelaparan dan kehausan). Peristiwa di Masa dan Meriba adalah salah satunya.

Air merupakan simbol dan syarat sebuah kehidupan. Tanpa air semuanya akan mati. Oleh sebab itu, ketika berada di Rafidim mereka bertengkar dengan Musa, sebab tidak ada air di sana (Ay. 1-2). Mereka takut mengalami kematian pada diri mereka, anak-anak mereka, dan ternak mereka (Ay. 3). Dalam keadaan demikian, Musa berseru kepada Tuhan agar memberikan air. Tujuannya supaya bangsa Israel tetap hidup dan juga dirinya selamat dari kemarahan bangsa Israel (Ay. 4).

Karya Allah dinyatakan, Ia menyuruh Musa dan beberapa tua-tua Israel menuju Gunung Horeb. Di atas gunung itulah, Allah memberikan air (pemeliharaan – kehidupan) bagi bangsa Israel (Ay. 5-6). Horeb berarti yang kering atau terasing.[1] Di tempat itulah Allah menyatakan kasih-Nya. Dari sebuah tempat yang kering, Allah memancarkan sumber mata air. Artinya, dari dan di dalam sebuah penderitaan/pergumulan, Allah memberikan kekuatan dan perlindungan.

Roma 5 : 1 – 11
Salah satu tema yang menonjol dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma ialah anugerah. Rasul Paulus menjelaskan bahwa “kodrat” manusia adalah berdosa. Tidak ada seorang pun manusia yang benar di hadapan Tuhan. Bahkan lebih dari itu, dijelaskan bahwa tidak seorang pun yang memiliki akal budi dan tidak ada seorang pun yang mencari Allah (Rom. 3:10-11).

Dalam keadaan yang demikian, seharusnya wajar jikalau Allah tidak memberikan pertolongan atau membiarkan umat-Nya, akan tetapi yang terjadi sebaliknya. Menurut Rasul Paulus, “kodrat” sebagai manusia yang berdosa, bahkan yang (sengaja) tidak mencari Allah, bukanlah alasan bagi Allah untuk tidak memberikan anugerah keselamatan. Rasul Paulus percaya dan mengalami secara pribadi – dalam peristiwa Damsyik –, bahwasannya karya penebusan dosa diberikan Allah secara cuma – cuma. Artinya, keselamatan bukanlah karena usaha dan kekuatan manusia, melainkan hanya karena kasih karunia berdasar iman percaya kepada Yesus Kristus (Ay. 1).

Lebih dari itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa dalam peristiwa yang menyakitkan sekalipun, sejatinya ada sebuah pengharapan dan kebaikan. Dalam kesengsaraan lahir sebuah ketekunan, dalam ketekunan timbul sebuah sikap tahan uji, dan dari tahan uji muncullah sebuah pengharapan (Ay. 3-4). Artinya, dalam keadaan seperti apapun manusia, asal masih memiliki iman percaya kepada Yesus Kristus, janji akan anugerah dan keselamatan pasti dinyatakan. Sebab, jangankan manusia yang telah diperdamaikan dengan Allah – melalui pengurbanan Yesus Kristus –, bahkan manusia yang masih seteru pun akan diselamatkan melalui imannya kepada Yesus Kristus (Ay. 9-10).

Yohanes 4 : 5 – 42
Bagi orang-orang Yahudi, orang-orang Samaria adalah orang-orang berdosa yang tidak boleh diterima keberadaannya, apapun alasannya. Ketidakmurnian yang diakibatkan perkawinan campur dengan bangsa asing, menjadikan orang-orang Samaria mendapat “lebel” sebagai orang-orang yang tidak setia kepada Allah. Oleh sebab itu, ketegangan antara kedua kelompok tersebut tidak pernah usai.

Dalam konteks demikian, maka menghindari wilayah orang-orang Samaria adalah sebuah keharusan bagi orang-orang Yahudi. Namun, yang dilakukan oleh Yesus dan para murid-Nya berbeda. Sekalipun Samaria dianggap sebagai wilayah “terkutuk”, Yesus tetap melewati wilayah tersebut sebagai rute perjalanan pelayanan-Nya (Ay. 4-5). Pertanyaannya, mengapa Yesus memilih melewati wilayah Samaria (Sikhar)? Ternyata, jalur tersebut merupakan rute terpendek untuk menuju Galilea.[2]

Tidak cukup sampai di situ, hal tidak wajar yang dilakukan oleh Yesus juga tampak ketika diri-Nya bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, bahkan meminta air minum darinya (Ay. 7). Lebih lanjut dijelaskan bahwa perempuan yang bersama dengan Yesus ternyata seorang perempuan yang secara moral tidak baik.  Kebiasaan para perempuan Samaria hanya mengambil air pada waktu pagi dan sore, sehingga ketika perempuan tersebut berjumpa dengan Yesus pada pukul dua belas siang (Ay. 6), dapat diduga perempuan tersebut secara sosial tidak diterima oleh masyarakat.

Hal tersebut agaknya benar, sebab dibagian yang selanjutnya dikatakan bahwa perempuan tersebut memiliki banyak suami (5 orang) dan yang saat itu tinggal bersamanya ternyata bukan suaminya (Ay. 17-18). Artinya, apa yang dilakukan oleh Yesus, sebagai seorang Yahudi, merupakan tindakan melanggar aturan. Yesus tidak hanya memasuki wilayah “terkutuk”, melainkan juga bercakap-cakap bahkan meminta air kepada perempuan Samaria yang secara moral tidak baik.

Sekalipun demikian, ada hal luar biasa yang terjadi. Melalui perkataan Yesus tentang air hidup, yang membuat seseorang tidak akan haus lagi bahkan akan terus-menerus memancar sampai kepada hidup kekal (Ay. 10, 13-14), perempuan Samaria tersebut menjadi percaya, dan melaluinya banyak orang-orang Samaria yang lain pun percaya kepada Yesus Kristus, Sang Mesias, Juru Selamat dunia (Ay. 39, 41-42). Artinya dari tempat dan pribadi yang “buruk”, muncullah orang-orang percaya yang menerima keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap manusia adalah pribadi yang berdosa di hadapan Allah, tidak ada yang sempurna (bacaan 2). Sekalipun demikian, Allah tetap menyatakan kasih-Nya. Ia bukanlah Allah yang melihat rupa, melainkan Allah yang selalu berbelas kasih dan memandang baik manusia yang hina. Ia adalah Allah yang selalu mengampuni, menolong, dan memelihara kehidupan umat-Nya (bacaan 1). Ia berkenan mengampuni orang yang memegang teguh iman percayanya kepada Yesus Kristus Sang Putra (bacaan 3). Sebab dalam kuasa Allah, dari dalam pergumulan (sesuatu yang tampak buruk/tidak baik) akan lahir sebuah kekuatan dan pengharapan yang baru.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Adakah manusia yang tidak pernah mengalami pergumulan/ penderitaan dalam hidupnya? Atau adakah di antara bapak, ibu, saudara/i yang selama ini bebas dari pergumulan hidup? (diberikan kesempatan kepada warga jemaat untuk memberikan respon dan tangapan). Agaknya, selama masih tinggal di dunia, semua orang pasti pernah mengalami pergumulan/ tantangan dalam hidupnya. Sekalipun mungkin dengan beban pergumulan yang tidak sama, berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Maka, sejatinya berusaha menghilangkan pergumulan/penderitaan merupakan hal yang tidak mungkin. Bahkan, upaya yang berlebihan untuk menghilangkan pergumulan akan melahirkan penderitaan yang lainnya. Oleh sebab itu, hal yang dapat dilakukan ialah menerima segala tantangan yang ada sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan pendewasaan kehidupan seseorang. Sebenarnya tidak selamanya pergumulan yang dihadapi seseorang melahirkan keburukan, bisa juga berbuahkan kebaikan.

Isi
Hal yang sama pun terjadi atas kehidupan bangsa Israel. Status sebagai bangsa pilihan dan bangsa yang dikasihi oleh Allah, tidak lantas membuat kehidupan mereka selalu baik-baik saja. Tidak jarang kehidupan bangsa Israel mengalami berbagai macam tantangan dan penderitaan. Sebagai bangsa pilihan mereka pernah mengalami masa sulit, yaitu kelaparan akibat kekurangan bahan makanan (Kej. 42:2). Mereka pernah mengalami masa perbudakan yang sangat lama di tanah Mesir (Kel. 1:11). Secara khusus dalam bacaan kali ini, bangsa Israel juga mengalami pergumulan ketika berada dalam perjalanan di padang gurun. Mereka kehausan dan tidak memiliki bekal air untuk minum (Kel. 17:1).

Sebagai bangsa yang dikenal tegar-tengkuk, seharusnya mereka malu meminta dan menuntut Allah agar memberikan air, dan sudah sepantasnya jikalau Allah membiarkan mereka kehausan sebagai bentuk hukuman atas ketidakpercayaan mereka kepada-Nya. Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya, sekalipun mereka bangsa yang tegar-tengkuk, Allah tetap memelihara hidup mereka. Melalui Musa, Allah memerintahkan agar diri Musa dan para tua-tua Israel menuju Gunung Horeb, dan di tempat itulah (Horeb – yang kering atau terasing), Allah memberikan mata air untuk kebutuhan bangsa Israel (Kel. 17:5 – 6).

Menurut Rasul Paulus, sebagai manusia yang berdosa, tidak ada satu pun alasan/dasar apapun yang dapat memaksa Allah untuk memberikan berkat-Nya kepada manusia. Sebaliknya, seharusnya yang melekat dalam kehidupan manusia ialah penderitaan dan pergumulan. Kedamaian dan sukacita jauh dari kehidupan manusia karena dosa-dosanya. Namun sekalipun demikian, Rasul Paulus sangat percaya bahwa di dalam pergumulan dan penderitaan akan hadir sebuah pengharapan dan kebaikan (Rom. 5:3-4).

Hal yang sama pun dihidupi oleh Yesus dalam setiap karya pelayanan-Nya. Kebencian orang Yahudi kepada orang Samaria, tidak membuat Yesus memandang hina orang Samaria. Ia tetap memandang dengan penuh kasih orang-orang Samaria. Bahkan, Ia tidak ragu untuk memasuki dan melewati wilayah yang dianggap “terkutuk” oleh orang-orang Yahudi tersebut (Yoh. 4:4 – 5). Lebih dari itu, Yesus pun mau untuk bercakap-cakap dan meminta air minum kepada seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:7), yang secara sosial ditolak, karena tidak baik secara moral (Yoh. 4:17-18).

Bagi Yesus, Allah mampu memakai siapa saja untuk menjadi saksi-Nya. Tidak terbatas hanya pada orang Yahudi saja, melainkan juga orang-orang non-Yahudi. Bahkan, orang yang secara moral buruk pun tetap dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi saksi-Nya. Artinya, anugerah Allah untuk memberikan pengampunan dan memakai seseorang sebagai rekan kerja-Nya adalah mutlak karena keputusan-Nya, bukan karena upaya dan usaha manusia.

Alhasil, melalui percakapan tentang air hidup (Yoh. 4:13-14), seorang perempuan Samaria percaya kepada Yesus, dan melalui kesaksiannya, banyak orang-orang Samaria yang lain pun menjadi percaya (Yoh. 4:41). Artinya, melalui cara pandang Kristus – yang penuh kasih –, dari sesuatu yang dianggap “tidak baik” dan “berdosa” lahir sebuah karya besar yang menjadikan banyak orang percaya kepada Allah, Sang Bapa dan Yesus Kristus, Sang Juruselamat (Yoh. 4:42).

Refleksi
Dalam kehidupan ini, seringkali kita memaknai pergumulan dan penderitaan manusia sebagai hukuman Allah, sehingga seseorang yang sedang berada dalam situasi tersebut merasa kecil dan seakan-akan tidak berguna. Bahkan, pada situasi tertentu kita merasa putus asa dan hilang pengharapan. Sebab, tidak ada lagi sesuatu hal yang baik yang akan kita terima dan dapatkan dari sebuah penderitaan hidup.

Akan tetapi berdasarkan kesaksian Alkitab di atas, kita diingatkan kembali bahwa Allah yang kita sembah ialah Bapa yang Mahabaik dan Mahakasih. Dalam setiap pergumulan dan penderitaan yang kita alami pasti ada rencana Allah yang indah. Melalui pergumulan yang kita hadapi, Allah sedang membentuk dan mendewasakan kehidupan kita. Bahkan, dari dalam pergumulan yang kita alami, akan lahir sebuah kekuatan dan pengharapan yang baru.

Oleh sebab itu, marilah di masa Pra Paskah yang ketiga ini, kita bersama-sama merenungkan kembali seluruh karya Allah yang besar, yang telah dinyatakan dalam kehidupan kita. Tidak hanya melalui hal-hal yang tampak menggembirakan, melainkan juga dalam hal-hal yang tampak menyakitkan. Jikalau selama ini kita belum tepat memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita – khususnya dalam setiap pergumulan dan penderitaan – marilah pada masa Pra Paskah ini kita memohon ampun kepada Allah, supaya karya penebusan dan penyelamatan Allah Bapa yang dinyatakan melalui penderitaan dan kesengsaraan Yesus Kristus di kayu salib mampu menghadirkan sukacita dan damai sejahtera dalam hidup kita.

Penutup
Sebuah mutiara yang indah dan mahal, tercipta dari sebuah luka yang diproses dan diterima dengan baik. Begitu pula dalam kehidupan kita, sebuah kekuatan dan pengharapan yang baru, seringkali muncul dari dalam pergumulan dan penderitaan yang mampu kita maknai dengan benar. Tidak dari luar melainkan dari dalam, yaitu dari setiap pergumulan dan penderitaan yang kita jalani dan kita terima dengan penuh syukur. Amin. [7us].

 

Pujian: KJ. 158 : 1, 4   Ku Ingin Menghayati

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa wonten manungsa ingkang boten nate nampi kasisahan/ prekawis ingkang awrat wonten gesangipun? Punapa saking antawisipun panjenengan wonten ingkang boten nate nampi kasisahan ing salebeting gesang? (kaparingan wegdal kagem warganing pasamuwan paring wangsulan). Kula kinten, nalika kita taksih gesang ing alam donya punika, tamtu sedaya manungsa nate nampi lan ngalami kasisahan wonten gesangipun. Senaosa setunggal lan setunggalipun boten sami ukuranipun. Kanthi mekaten, sejatosipun sedaya pangudi ingkang dipun tindakaken kagem ngicalaken kasisahaning gesang punika prekawis ingkang mokal. Pramila, sikap ingkang lumrahipun saged dipun tindakaken punika nampi sedaya kasisahan kanthi ikhlas minangka piwucal lan panggulawentahipun Gusti kagem kadewasaning gesangipun manungsa, awit boten tamtu kasisahan nuwuhaken prekawis ingkang awon. Kosokwangsulipun, kasisahan saged ugi nuwuhaken kasaenan.

Isi
Prekawis ingkang sami ugi kelampahan wonten gesangipun bangsa Israel. Minangka bangsa ingkang pinilih dening Gusti Allah, boten wonten jaminan bangsa Israel kalis saking kasisahan. Kosokwangsulipun, ing salebeting gesangipun, bangsa Israel kalebet tuwuk nampi pacoben. Bangsa Israel nate ngalami kasisahan bab pangan (PD. 42:2). Bangsa Israel ugi ngalami dados budak ing negeri Mesir (Pang. 1:11). Lan sacara khusus ing waosan punika, bangsa Israel ugi ngadepi kasisahan bab kekirangan toya nalika wonten ara-ara. Bangsa Israel rumaos nglaha ingkang sanget awit boten wonten toya ingkang saged kaunjuk (Pang. 17:1).

Kawentar lan kasebut bangsa ingkang wangkot (tegar-tengkuk), sejatosipun bangsa Israel lingsem nalika nyenyuwun lan nuntut Gusti Allah supados kaparingan toya lan pantes menawi Gusti Allah nglirwakaken bangsa Israel supados ngraosaken nglaha minangka tanda/wujuding paukuman tumrap gesangipun ingkang boten setya lan boten pitados dhumateng Gusti. Ananging, kosokwangsulipun ingkang kelampahan, senaosa bangsa Israel punika wangkot, Gusti Allah tetep ngrimati lan ngreksa. Lumantar nabi Musa, Gusti Allah paring dawuh supados nabi Musa lan para pinituwaning bangsa Israel tindak dhateng Horeb (kang garing). Lan ing papan ingkang garing punika Gusti Allah paring toya kagem kabetahipun bangsa Israel (Pang. 17:5-6).

Miturut Rasul Paulus, minangka manungsa ingkang kebak dosa, boten wonten dasaripun kangge nuntut Gusti Allah supados paring berkah. Kosok wangsulipun, ingkang dipun tampi kedhahipun kasisahaning gesang. Karana dosa, kabingahan, lan katentreman ical saking gesangipun manungsa. Senaosa mekaten, Rasul Paulus pitados bilih ing salebeting kasisahan, bakal mijil kekiyatan lan pangajeng-ajeng ingkang enggal (Rum. 5:3-4).

Prekawis ingkang sami ugi dipun tindakaken dening Gusti Yesus ing salebeting pakaryanipun. Sengitipun tiyang Yahudi dhateng tiyang Samaria, boten njalari Gusti Yesus ugi boten remen/sengit dhateng tiyang Samaria. Malah ingkang kelampahan, Gusti Yesus karsa nampi tiyang Samaria kanthi welas asih. Gusti Yesus karsa lumampah ing tlatah ingkang kaanggep “terkutuk” dening tiyang Yahudi (Yok. 4:4-5). Langkung saking punika, Gusti Yesus ugi karsa pirembagan kaliyan tiyang estri Samaria lan nyuwun toya dhateng tiyang estri punika (Yok. 4:7), ingkang sejatosipun sacara sosial dipun tampik dening masyarakat (Yok. 4:17-18).

Kagem Gusti Yesus, Gusti Allah punika kebak welas lan saged ngagem sinten kemawon dados seksinipun. Boten winates tiyang Yahudi, nanging ugi tiyang non-Yahudi. Kalebet tiyang ingkang sacara moral awon lan sacara sosial katampik. Tegesipun, hak kagem paring berkat lan miji tiyang dados rencang damelipun punika mutlak kagunganipun Gusti. Dados, sanes saking kiyat lan saenipun manungsa, ananging namung karana karsanipun Gusti.

Wusananipun, lumantar pirembagan bab toya gesang (Yok. 4:13-14), tiyang estri Samaria punika pitados dhumateng Gusti Yesus. Lan lumantar paseksinipun, kathah tiyang Samaria sanesipun ingkang pitados (Yok. 4:41). Tegesipun, lumantar cara pandheng Kristus – ingkang kebak katresnan –, saking perangan ingkang kaanggep awon lan dosa, kelampahan karya ingkang ageng, ingkang ndadosaken kathah tiyang pitados dhumateng Gusti Allah, Sang Rama lan Gusti Yesus Kristus, Sang Juruwilujeng (Yok. 4:42).

Refleksi
Nalika kita sami niti-priksa, sejatosipun kathah saking kita ingkang kagungan pemanggih bilih sedaya kasisahan ingkang dipun alami punika wujuding paukuman saking Gusti Allah. Satemah, kagem tiyang ingkang nampi kasisahan, langkung-langkung ingkang awrat sanget, gesangipun saged nglokro lan ngantos ical pangajeng-ajengipun. Awit rumaos menawi boten wonten ingkang badhe dipun tampi malih ing salebeting gesang, kejawi awrat lan awrat nalika saweg nampi kasisahan.

Ananging lumantar dawuh pangandikanipun Gusti punika, kita kaengetaken malih bilih Gusti Allah sesembahan kita punika Rama ingkang Mahawelas lan Mahaasih. Dados, ing salebeting kasisahan ingkang kita tampi, tamtu Gusti Allah boten negakaken. Langkung-langkung, kita kedah pitados bilih ing salebeting kasisahan wonten rancanganipun Gusti ingkang adi, ingkang saweg kacawisaken kangge kita. Kita kedah pitados bilih lumantar kasisahan ingkang kita alami, Gusti Allah saweg nuntun kita ing gesang ingkang sansaya dewasa. Ing salebeting kasisahan, mijil kekiyatan lan pangajeng-ajeng ingkang enggal.

Pramila, swawi ing mangsa Pra Paskah 3 punika, kita sesarengan ngraos-ngraosaken malih sedaya karyanipun Gusti Allah ingkang adi lan ageng, ingkang sampun kasunyatan ing gesang kita. Boten namung lumantar prekawis-prekawis ingkang bingahaken, ananging ugi lumantar prekawis-prekawis ingkang ketingal awrat. Lan menawi kita taksih dereng saged nampi kanthi leres sedaya prekawis ingkang kelampahan ing gesang kita – mligi ing salebeting kasisahan – swawi kita sami nyuwun agungipun pangaksami dhumateng Gusti Allah, supados karya pambirating dosa saking Gusti Allah – ingkang dipun tempuh lumantar sangsara lan seda sinalibing Gusti Yesus Kristus – saged nuwuhaken kabingahan lan tentrem rahayu ingkang sejati wonten gesang kita.

Panutup
Mutiara ingkang endah lan awis, kadadosaken saking “luka” ingkang dipun tampi lan proses kanthi sae. Mekaten ugi ing gesang kita, kakiyatan lan pangajeng-ajeng ingkang enggal, asring mijil saking salebeting sedaya kasisahan ingkang saged kita galih lan raosakan kanthi bener. Dados, boten saking jawi, ananging saking lebet, nggih punika saking sedaya kasisahan ingkang kita tampi lan kita lampahi kanthi kebak saos sokur. Amin. [7us].

 

Pamuji: KPJ. 35   Aja Kuwatir Lan Wedi


 

[1] https://www.sarapanpagi.org/horeb-vt6999.html, diakses 3 Agustus 2022.

[2] https://perikopalkitab.blogspot.com/2020/05/percakapan-dengan-perempuan-samaria.html diakses 6 Agustus 2022.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak