Beriman Berarti Berani Berjalan Bersama Tuhan Dalam Ketidakpastian Khotbah Minggu 5 Maret 2023

20 February 2023

Minggu Pra Paskah 2
Stola Ungu

Bacaan 1: Kejadian 12 : 1 – 4a
Bacaan 2: Roma 4 : 1 – 5, 13 – 17
Bacaan 3: Yohanes 3 : 1 – 17

Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema Khotbah: Beriman Berarti Berani Berjalan Bersama Tuhan Dalam Ketidakpastian

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 12 : 1 – 4a
Berbeda dengan bagian kitab Kejadian yang pertama (pasal 1-11) yang menceritakan sejarah zaman permulaan, kitab Kejadian pasal 12 – 50 menceritakan sejarah leluhur Israel. Bagian kedua ini dimulai dengan cerita Allah memanggil Abram. Abram diutus untuk pergi dari negeri, sanak saudara dan rumah bapanya, menuju ke negeri yang akan ditunjukkan Allah sendiri kepadanya (Ay. 1). Tidak dengan jelas disebutkan kemana Abram harus pergi. Hal ini memperlihatkan bahwa Allah mengutus Abram untuk keluar dari situasi aman dan nyaman yang selama ini ia tinggali, ke suatu tempat yang penuh misteri. Abram diutus untuk masuk ke dalam ketidakpastian.

Namun demikian, Allah menjanjikan perjalanan dalam ketidakpastian itu akan ditempuh Abram dengan berkat. Allah akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat (Ay. 2). Hal yang menarik dalam janji Allah kepada Abram ada pada ayat 3, yang menunjukkan bahwa sifat berkat Allah tidaklah eksklusif hanya kepada Abram dan bangsa Israel saja, tetapi diperluas kepada orang-orang atau bangsa-bangsa lain. Jadi, meskipun yang menjadi pusat cerita masih bangsa Israel (yang sering disebut sebagai bangsa pilihan), bukan berarti berkat Allah hanya ditujukan kepada bangsa Israel saja.

Bagian ini ditutup dengan respon Abram. Abram merespon panggilan Allah dengan ketaatan. Ia pergi sesuai dengan perintah Allah. Abram berani melepaskan kenyamanannya dan berjalan di dalam misteri yang penuh ketidakpastian. Satu-satunya kepastian yang dipegang Abram adalah janji Tuhan yang selalu menyertainya.

Roma 4 : 1 – 5, 13 – 17
Orang Kristen di kota Roma saat itu adalah orang-orang dengan latar belakang yang beragam. Jadi, Kekristenan tumbuh dari orang-orang yang telah menghidupi kepercayaan dan budaya tertentu sebelumnya. Ada orang-orang yang tumbuh dengan ajaran untuk berkorban kepada dewa-dewa. Ada juga orang Yahudi yang tumbuh dengan ajaran untuk mengikuti hukum-hukum Taurat dengan amat ketat. Dengan demikian, penekanan pada perbuatan manusia menjadi sangat besar. Manusia melakukan sesuatu untuk dibenarkan di hadapan Tuhan.

Dalam konteks yang demikian, Paulus ingin mengubah cara berpikir orang-orang Kristen di Roma pada saat itu. Secara alamiah, sesuai dengan latar mereka, jemaat Roma berpikir bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatannya (Ay. 2). Namun, Rasul Paulus menekankan bahwa Abraham dibenarkan oleh karena imannya kepada Tuhan (Ay. 3). Pembenaran Abraham bukan karena kemampuan Abraham melakukan hal tertentu, tetapi kepercayaan dan iman Abraham kepada Tuhan. Ketaatan Abraham kepada tuntunan dan janji Tuhan adalah poin utama yang penting dan harus diingat, yang menjadikan Abraham ditetapkan sebagai bapa banyak bangsa (Ay. 17).

Yohanes 3 : 1 – 17
Ayat ini dibuka dengan penjelasan latar belakang Nikodemus. Pada ayat 1 dijelaskan bahwa Nikodemus adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi. Orang Yahudi dikenal sebagai orang-orang yang menjadikan hukum sebagai jalan dan pegangan untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Dengan demikian, pengenalan dalam ayat pertama ini cukup menunjukkan bahwa Nikodemus adalah seorang Yahudi yang dihormati, karena diakui kesetiaannya menjalankan hukum-hukum Yahudi.

Maka, ketika Yesus membicarakan sesuatu hal yang tidak dia mengerti mengenai Kerajaan Allah, respon pertama Nikodemus adalah dengan bertanya: “Apa yang bisa dilakukan manusia?” δύναμαι (dunamai) adalah kata yang dipakai Nikodemus dalam ayat 4. Kata ini memiliki makna untuk menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Dengan kata lain, fokus Nikodemus ketika berbicara tentang Kerajaan Sorga adalah kekuatan manusia. Apakah yang bisa dilakukan manusia? Namun, Yesus merubah perspektif berpikir Nikodemus dengan menjelaskan bahwa bukan kemampuan dan kekuatan manusia yang menjadi kunci, tetapi kasih Allah kepada dunia (Ay. 16). Kasih Allahlah yang menyelamatkan, yang melampaui segala daya upaya manusia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Penyelamatan terjadi karena kasih dan kuasa Allah, bukan karena daya dan upaya manusia. Manusia perlu merespon kasih Allah itu dengan iman. Iman berarti berani berjalan di dalam misteri dengan tetap percaya bahwa Allah selalu menyertai. Maka, beriman memiliki konsekuensi untuk meninggalkan kenyamanan dan pergi ke ‘tempat-tempat’ yang ditunjukkan oleh Tuhan, meski penuh dengan ketidakpastian.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada satu iklan yang sudah cukup lama dan terkenal. Bunyi jargonnya begini: “Buat anak kok coba-coba!” Apakah ada dari saudara yang pernah melihat iklan tersebut? Adakah yang ingat iklan apakah itu? Iya benar, iklan salah satu minyak kayu putih yang cukup terkenal. Iklan tersebut ingin menunjukkan bahwa minyak kayu putih itu adalah minyak yang sudah pasti bagus, sudah pasti terjamin khasiatnya dan juga aman. Iklan itu sebetulnya menggambarkan keadaan manusia yang secara alamiah menginginkan keamanan dan kepastian. Orang-orang berlomba-lomba untuk mengamankan hidupnya dari hal-hal buruk yang mungkin menimpanya. Dengan demikian orang-orang bekerja keras supaya memiliki banyak tabungan demi masa depan. Atau ada juga yang membeli bermacam-macam asuransi agar kehidupan ke depannya terjamin dengan aman. Bekerja, memiliki tabungan, membeli asuransi adalah hal yang penting, jadi tentu saja itu bukan hal yang salah. Hanya, kita harus hati-hati dan meneliti cara hidup kita di hadapan Tuhan. Apa jangan-jangan kita juga menginginkan perjalanan iman yang nyaman dan penuh kepastian?

Isi
Ketika berbicara tentang iman, kita mungkin masih sering jatuh dalam cara pandang yang kurang tepat. Seperti Nikodemus misalnya, dalam bacaan kita yang ketiga hari ini. Ketika Yesus menjelaskan konsep tentang lahir kembali (Yoh. 3:3), respon pertama Nikodemus (Yoh. 3:4) adalah mencoba mencari tahu apakah kemampuan yang harus dimiliki sebagai manusia untuk bisa melakukan hal tersebut. Hal ini tersirat dengan penggunaan kata δύναμαι (dunamai) yang memiliki makna untuk menunjukkan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Dengan kata lain, Nikodemus bertanya, “Bagaimana seorang manusia memiliki kemampuan (kekuatan) untuk dilahirkan kembali ketika ia sudah tua?” Jadi, yang menjadi pusat adalah kemampuan manusia. Yang menjadi penekanannya adalah kekuatan atau power dan usaha yang harus dilakukan manusia.

Namun dalam kekristenan, iman itu bukan diawali dari kemampuan manusia, tetapi dari kasih dan kehendak Tuhan. Seperti Yesus yang mengkoreksi pemahaman Nikodemus dalam bacaan kita hari ini, kita kembali diingatkan bahwa kasih Tuhan kepada dunia adalah awal dari segala karya penyelamatan-Nya (Yoh. 3:16). Kasih Allah kepada dunia itulah yang pertama-tama harus kita sadari terlebih dahulu sebagai dasar. Kehendak Allah untuk menyelamatkan dunia itulah yang menjadi dasar percaya kita.

Lalu jika sudah demikian kemudian biasanya timbul pertanyaan: “Jadi kalau kasih dan kehendak Tuhan yang menjadi pusat, apakah usaha dan perbuatan manusia tidak lagi penting? Kita kan dibenarkan oleh iman, berarti asalkan aku mengaku percaya, sudah cukup?”

Tunggu dulu! Ketika berbicara tentang iman, satu tokoh Alkitab yang paling sering disebutkan adalah Abraham. Abraham disebut sebagai bapa orang percaya. Demikian juga bacaan pertama dan kedua kita pada hari ini juga menceritakan tentang Abraham dan kehidupan imannya. Dari kedua perikop tersebut kita percaya bahwa iman Abraham adalah respon dari panggilan Allah kepadanya. Sementara panggilan Allah itu adalah panggilan untuk meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya, menuju ke suatu negeri yang entah berada dimana. Titik tolaknya jelas, tetapi tujuannya belum jelas. Abraham diutus untuk pergi dari situasi yang familiar, aman, dan nyaman menuju ke sebuah perjalanan yang penuh misteri.

Maka, iman kita itu semestinya membuat kita rela melepaskan kenyamanan. Iman itu yang membuat kita mau setia menapaki perjalanan yang terkadang jauh dari segala rasa aman dan kepastian. Kita mau pergi sebab kita percaya memang benar Tuhan yang memanggil dan memberi penyertaan.

Penutup
Hari ini kita masuk dalam Minggu Pra Paskah kedua. Masa Pra Paskah ini adalah kesempatan baik yang Tuhan sediakan bagi kita untuk kembali mempertanyakan bagaimana kita beriman? Apakah kita beriman macam iklan, yang menuntut kenyamanan dan kepastian? Atau sudah beranikah kita melangkah dalam perjalanan yang masih tersembunyi ujungnya, seperti Abraham?

Peristiwa Paskah yang akan kita sambut dalam beberapa minggu ke depan adalah peristiwa yang membuktikan kepada kita, betapa kasih Allah kepada dunia ini bukan hanya sekedar bualan semata. Kasih Allah itu sungguh-sungguh diluar kemampuan dan daya pikir kita manusia. Namun kembali pertanyaannya kepada kita: Apa benar kita percaya pada janji dan penyertaan Allah? Jangan-jangan kita lebih memilih untuk menaruh percaya kepada kemampuan diri kita sendiri.

Kiranya dalam masa pra paskah ini, kita dimampukan untuk terus memeriksa diri kita, terus memeriksa iman kita, serta terus berusaha melepaskan diri dari kenyamanan-kenyamanan yang membuat kita enggan melangkah. Maka, jika tiba saatnya Tuhan mengutus kita pergi ke tempat yang akan Ia tunjukkan sendiri, semoga dengan penuh percaya kita dimampukan berjalan dalam kesetiaan bersama Dia. Amin. [DW].

 

Pujian: KJ. 416 : 1, 2 Tersembunyi Ujung Jalan

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten setunggal iklan lami ingkang kasuwur, unen-unen iklan punika mekaten, “Buat anak kok coba-coba!”. Punapa panjenengan nate mirsani iklan punika? Punapa wonten ingkang enget iklan punapa punika? Inggih leres, punika iklan minyak kayu putih ingkang misuwur. Iklan punika nedahaken bilih minyak kayu putih ingkang dipun iklanaken punika minyak kayu putih ingkang sae, ingkang kajamin kasiatipun lan aman dipun ginaaken. Iklan punika sejatosipun gambaraken kawontenanipun manungsa ingkang sacara alami kepengin aman lan pasti. Karana punika kathah tiyang ingkang ngupaya pados amanipun dhiri, supados piyambakipun boten kenging bab-bab ingkang awon salebeting gesangipun. Para tiyang punika nyambut damel kanthi temen-temen dan rekaos supados kagungan arto kangge dipun tabung, kangge mangsa ngajengipun. Mekaten ugi wonten tiyang ingkang tumbas werna-werni asuransi supados gesangipun ing ngajeng kajamin lan aman. Nyambut damel, kagungan tabungan, kagungan asuransi punika prekawis ingkang penting lan boten salah, nanging kita kedah waspada, ngati-ati, lan perlu niti priksa kados pundi cara gesang kita wonten ngasanipun Gusti Allah? Punapa kita ugi kagungan pepenginan lampahing iman kapitadosan kita tansah nyaman lan pasti kemawon?

Isi
Nalika kita ngrembag prekawis iman, asring kita punika dawah ing cara pandeng ingkang kirang pas. Kados Nikodemus ing waosan katiga dinten punika. Nalika Gusti Yesus mucal bab lair malih (Yoh. 3:3), tanggapanipun Nikodemus ingkang sepisan, piyambakipun pados pangertosan, “Kasagedan punapa ingkang kedah dipun gadahi manungsa supados saged nindakaken prekawis punika?” Prekawis punika ketingal saking ukara δύναμαι (dunamai) ingkang kagungan teges ngetingalaken kasagedan lan kakiyatan ingkang dipun gadahi. Kanthi tembung sanesipun, Nikodemus atur pitaken, ”Tiyang sampun sepuh makaten anggenipun saged lair kados pundi?” Ing pemanggihipun Nikodemus ingkang dados pusat inggih punika kasagedanipun manungsa. Ingkang dipun mangertosi inggih punika namung kakiyatan lan usaha punapa ingkang kedah dipun tindakaken manungsa supados saged lair malih.

Kanggenipun tiyang Kristen, iman punika boten kawiwitan saking kasagedanipun manungsa, nanging saking katresnan lan karsanipun Gusti Allah. Kados Gusti Yesus ingkang nlurusaken pemanggihipun Nikodemus ing waosan kita dinten punika, kita dipun engetaken malih bilih sih katresnanipun Gusti Allah dhateng donya punika minangka wiwitan mula saking sedaya pakarya kawilujengan-Ipun (Yok. 3:16). Sih katresnanipun Gusti Allah dhateng jagad punika, ingkang kedah kita sadari minangka landesaning pakaryanipun Gusti. Karsanipun Gusti Allah milujengaken jagad punika dados dasar anggen kita pitados dhumateng Gusti Yesus.

Lajeng bilih sampun kados mekaten punika, badhe timbul pitakenan,”Bilih Sih Katresnan lan Karsanipun Gusti Allah punika ingkang dados pusatipun, punapa usaha lan tumindakipun manungsa punika sampun boten penting malih? Bilih kita kabeneraken sarana iman, punapa tegesipun anggen kita sampun pitados, punika sampun cekap?”

Sekedap rumiyin! Nalika kita ngrembag bab iman, wonten satunggaling tokoh ing Kitab Suci inggih punika Abraham ingkang dipun sebat bapa tiyang pitados. Ing waosan sepisan lan kalih dinten punika ugi nyariosaken bab Abraham lan imanipun. Saking kalih perikop punika, kita pitados bilih iman Abraham punika nedahaken responipun Abraham tumrap timbalanipun Gusti Allah dhateng piyambakipun. Abraham dipun timbali supados nilar negrinipun, sanak sederekipun, lan tiyang sepuhipun tumuju negeri ingkang boten dipun mangertosi. Timbalanipun Gusti punika sampun cetha, nanging tujuanipun dereng cetha. Abraham dipun utus medal saking situasi ingkang nyaman, aman tumuju papan lan margi ingkang kebak misteri.

Mila, iman kita kedahipun dadosaken kita rila nilar kanyamanan gesang kita. Iman punika dadosaken kita sangsaya setya netepi margining Gusti ingkang tebih saking raos aman lan pasti. Kita sumadya nilar punika sedaya karana kita pitados bilih Gusti Allah ingkang nimbali kita, tamtu tansah nganthi gesang kita.

Panutup
Dinten punika, kita lumebet ing Minggu Pra Paskah kaping Kalih. Mangsa Pra Paskah punika, mangsa ingkang sae kangge kita niti priksa gesang kita piyambak-piyambak, kados pundi anggen kita pitados dhumateng Gusti Allah? Punapa iman kita kados iklan ingkang mbetahaken kanyamanan lan kapastian? Punapa kita wantun nglangkah ing lampahing gesang ingkang boten wonten ujungipun, kados Abraham?

Paskah ingkang badhe kita sambeti pinten minggu ing ngajeng, punika dados bukti sepinten agengipun sih katresnanipun Gusti Allah dhateng jagad punika. Punika sanes apus-apusing manungsa. Sih katresnanipun Gusti Allah punika saestu boten saged dipun nalar dening manungsa. Wangsul ing pitakenan dhateng diri kita piyambak, ”Punapa kita pitados dhumateng prajanji lan panganthipun Gusti Allah?” Sampun ngantos kita langkung milih pitados dhateng kasagedan lan kakiyatan dhiri kita piyambak.

Mugi-mugi ing mangsa Pra Paskah punika, kita kasagedna niti priksa gesang kita piyambak-piyambak, niti priksa iman kita sarta tansah ngupaya ngluwari dhiri kita saking sedaya kanyamanan ingkang dadosaken kita ewet lumampah ing margining Gusti. Bilih Gusti ngutus kita tumuju papan ingkang dipun kersaaken Gusti, sumangga kita ngestoaken, awit kita pitados bilih kita badhe dipun tuntun dening Gusti anggen kita nindakaken karsanipun kanthi setya. Amin. [Terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 123 : 1, 2 Kula Pitados Mring Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak