Minggu Pra Paskah 4
Stola Ungu
Bacaan 1: 1 Samuel 16 : 1 – 13
Bacaan 2: Efesus 5 : 8 – 14
Bacaan 3: Yohanes 9 : 1 – 41
Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema Khotbah: Meneladani Tuhan Yesus Yang Solider Adalah Kesaksian Hidup Kita
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
1 Samuel 16 : 1 – 13
Di dalam Perjanjian Lama, 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Keduanya diberi nama menurut nabi Samuel, tokoh yang sangat dihormati sebagai seorang pemimpin rohani Israel yang tangguh dan yang dipakai Allah untuk mengatur kerajaan Teokratis. 1 Samuel meliputi hampir seratus tahun sejarah Israel, dari kelahiran Samuel hingga wafatnya Saul (sekitar 1105-1010 SM), dan merupakan mata rantai sejarah yang utama di antara masa hakim- hakim dengan raja Israel yang pertama. Kitab 2 Samuel terutama membahas kisah raja Daud sedangkan pada 1 Samuel meliput tiga peralihan utama dalam kepemimpinan nasional Israel, yaitu: dari Eli ke Samuel, dari Samuel ke Saul, dan dari Saul ke Daud.
Bacaan kita kali ini mengisahkan keterpilihan Daud setelah Saul ditolak oleh Tuhan, karena tidak memenuhi syarat. Bacaan dimulai dari kesedihan Samuel setelah Saul ditolak Tuhan. Lalu Tuhan menyuruh Samuel ke Yerusalem untuk memberkati di antara anak-anak Isai yang akan dipilih oleh Tuhan sendiri. Samuel berangkat dengan dibayangi ketakutan kalau akan diketahui oleh Saul. Namun Samuel tetap pergi untuk memberi pengorbanan, dalam upacara pengorbanan itu Samuel mengundang Isai dan anak-anaknya untuk dipilih Tuhan dan diberkati. Dihadapkannya satu per satu anak Isai ke hadapan Samuel, Eliab yang pertama dihadapkan. Samuel tertarik karena parasnya atau perawakan yang tinggi. Namun Tuhan menolaknya, karena bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang tampak oleh mata, tetapi Tuhan melihat hati. Kemudian dihadapkannya lagi Abinadab, tetapi lagi-lagi tidak dipilih oleh Tuhan. Syama pun juga lewat di depan Samuel, Tuhan juga tidak memilihnya. Dan sampai ketujuh anak Isai lewat di depan Samuel namun Tuhan tetap tidak memilihnya. Lalu Samuel bertanya apakah sudah tidak ada lagi anaknya Isai yang lain, ternyata masih ada Daud yang sedang menggembalakan domba. Dipanggil dan dihadapkannya Daud kepada Samuel dan Tuhan memlilihnya. Lalu Tuhan memerintahkan Samuel untuk mengurapi Daud.
Efesus 5 : 8 – 14
Surat Efesus merupakan salah satu puncak dalam penyataan alkitabiah dan menduduki tempat yang unik di antara surat-surat Paulus. Surat ini tidak ditulis sebagai jawaban terhadap suatu kontroversi doktrinal atau persoalan pastoral seperti banyak surat lain, sebaliknya Efesus memberikan kesan akan luapan penyataan yang melimpah sebagai hasil dari kehidupan doa pribadi Paulus. Paulus menulis surat ini ketika dipenjara karena Kristus (Ef. 3:1; Ef. 4:1; Ef. 6:20), kemungkinan besar di Roma.
Tujuan Paulus menulis surat ini tersirat dalam Efesus 1:15-17. Dengan tekun ia berdoa sambil merindukan agar para pembacanya bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, dan penyataan Bapa yang mulia. Dia sungguh-sungguh menginginkan agar hidup mereka layak di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, Paulus berusaha untuk menguatkan iman dan dasar rohani mereka dengan menyatakan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan “dalam Kristus” untuk gereja dan untuk setiap orang.
Pada bacaan ini Paulus mengingatkan agar umat yang sudah ditebus oleh Tuhan, tidak hidup lagi di bawah kegelapan, namun hidup di dalam terang sebagai anak-anak terang. Hidup di bawah terang akan membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran (Ay. 9).
Yohanes 9 : 1 – 41
Injil Yohanes adalah unik di antara keempat Injil. Injil ini mencatat banyak hal tentang pelayanan Yesus di daerah Yudea dan Yerusalem yang tidak ditulis oleh ketiga Injil yang lain, dan menyatakan dengan lebih sempurna rahasia tentang kepribadian Yesus. Menurut beberapa sumber kuno, Yohanes adalah rasul yang sudah lanjut usianya. Sementara dia tinggal di Efesus, dia diminta oleh para penatua di Asia untuk menulis “Injil yang rohani” ini, untuk menyangkal suatu ajaran sesat mengenai sifat, kepribadian, dan keilahian Yesus yang dipimpin oleh seorang Yahudi berpengaruh bernama Cerinthus. Injil Yohanes tetap melayani gereja sebagai suatu pernyataan teologis yang sangat dalam tentang “kebenaran” yang menjelma di dalam diri Yesus Kristus.
Dalam bacaan kita adalah bagian dari sifat keilahian Yesus. Dimana dalam bacaan ini Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Yesus meludah ke tanah, mengaduknya, dan mengoleskan ke mata orang buta ini. Lalu Yesus menyuruh orang buta itu membasuh dirinya di kolam Siloam. Orang buta itu melakukan seperti yang diperintahkan Yesus kepadanya dan dia bisa melihat. Lalu orang buta ini dibawa ke hadapan orang-orang Farisi untuk menunjukkan bahwa orang buta ini telah sembuh. Namun kesembuhannya ini menjadi masalah karena terjadi pada hari sabat, sehingga orang-orang Farisi ini menyakini bahwa kesembuhan ini berasal dari orang yang berdosa, karena tidak menguduskan hari Sabat. Pemahaman orang-orang Farisi atas hukum yang salah seringkali menghalangi karya Tuhan terjadi dalam hidup mereka. Demikianlah yang dialami oleh orang-orang Farisi yang tidak percaya, namun bagi orang buta yang percaya kepada Yesus, dia mengalami mujizat dan karya Allah dinyatakan atas dirinya, dan kemudian dia menyembah kepada Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menilai segala sesuatunya dari apa yang terlihat atau lebih kepada segala sesuatu yang bersifat duniawi. Namun Tuhan tidaklah demikian, Tuhan lebih melihat hati. Sebagai anak yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus, maka kita harus hidup dalam terang dan bukan hidup dalam kegelapan. Kita harus percaya dan meneladani Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk kita mau memperhatian orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Hidup di zaman sekarang ini, di tengah pemenuhan kebutuhan hidup yang sulit, hidup seseorang cenderung semakin mementingkan diri sendiri (egois). Apalagi hidup di tengah perkotaan dan perumahan yang padat penduduk, tampak orang yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Antar tetangga tidak saling mengenal, tidak saling peduli, yang penting adalah hidupnya sendiri. Manusia telah melebur dan mengintegrasikan kehidupannya pada hidup yang individualis tanpa menjunjung tinggi pola hidup berkomunitas. Konsep dan praktik solidaritas sebagai sebuah bentuk kebersamaan, sebagai sebuah bentuk kesatuan, dan simpati dalam kehidupan bersama perlahan terkikis dan tergerus oleh arus kelompokisme yang tidak lagi sehat. Akibatnya setiap pribadi dalam komunitas dengan kemauannya mengelola hidupnya tanpa mempedulikan sesamanya. Kita tentu sepakat bahwa entah disadari baik atau tidak, kemajuan dan perkembangan zaman inilah yang telah memberikan pengaruh besar bagi paradigma dan ideologi hidup kita. Oleh sebab itu, untuk menyadarkan kembali keberpihakan atas pentingnya solidaritas, maka baiklah kita meneladani tokoh utama dalam dunia Perjanjian Baru, yakni Yesus Kristus yang sesungguhnya telah memproklamirkan spiritualitas kesetiakawanan atau solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.
Isi
Dalam bacaan yang pertama tentang keterpilhan Daud yang diurapi Tuhan melalui Samuel, memberi pelajaran bagi kita semua bahwa Tuhan tidak melihat paras atau apa yang dilihat dengan cara manusia (tampan, perawakan tinggi, dsb), tetapi Tuhan melihat hati. Ini mengingatkan dalam kehidupan yang individualistik ini, ketika berteman kita seringkali memilih orang yang sesuai dengan penilaian kita sendiri untuk memenuhi kepentingan kita sendiri. Melihat perawakan yang tampan atau cantik, yang kaya, yang punya kekuasaan atau kedudukan, atau bahkan yang sama dengan kelompok kita atau agama kita saja yang bisa bersama dengan kita. Kalau ada orang yang tidak masuk kriteria kita, miskin, jelek, tidak punya kuasa, jangan harap bisa menjadi kawan atau teman kita.
Jika ini yang terjadi maka kita jatuh pada penilaian manusia dan bukan penilaian Tuhan. Padahal dalam hidup ini kita harus meneladani Tuhan. Maka kita pun harus membuang jauh penilaian yang manusiawi dan duniawi ini dan beralih pada penilaian Tuhan, yaitu Tuhan yang solider. Samuel melihat anak-anak Isai yang penampilan dan perawakannya baik, namun ternyata Tuhan tidak memilih mereka, Tuhan lebih memilih Daud yang hanya seorang gembala domba.
Dalam bacaan yang kedua Rasul Paulus mengingatkan kepada penduduk Efesus bahwa dia sungguh-sungguh menginginkan agar hidup jemaat Efesus layak di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, Paulus berusaha untuk menguatkan iman dan dasar rohani mereka dengan menyatakan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan “dalam Kristus” untuk gereja dan untuk setiap orang. Paulus mengingatkan agar umat yang sudah ditebus oleh Tuhan, tidak hidup lagi di bawah kegelapan, tetapi hidup di dalam terang sebagai anak-anak terang. Hidup di bawah terang akan membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Meneladani Tuhan, bersyukur selalu, hidup menjadi saksinya, serta mewartakan kasih Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dalam bacaan yang ketiga, menceritakan tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir sebagai tindakan solider atau kepedulian kepada umat-Nya yang menderita. Bacaan ini sekaligus menunjukkan keilahian Yesus. Dia menyembuhkan orang buta sejak lahir dengan cara meludah ke tanah, mengaduknya, mengoleskan ke mata orang buta ini, lalu menyuruhnya untuk membasuh dirinya di kolam Siloam. Ketika orang buta itu melakukan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus kepadanya, dia menjadi sembuh, dia bisa melihat. Lalu orang buta ini dibawa menghadap kepada orang-orang Farisi untuk menunjukkan bahwa orang buta ini telah sembuh. Namun kesembuhan ini menjadi masalah, karena kesembuhan itu terjadi pada hari Sabat. Orang Farisi menyakini bahwa kesembuhan itu berasal dari orang yang berdosa, karena tidak menguduskan hari Sabat. Pemahaman atas hukum yang salah seringkali menghalangi mujizat dan karya Tuhan Allah terjadi dalam hidup mereka. Itulah yang dialami oleh orang-orang Farisi tidak percaya pada kuasa Tuhan Yesus, namun tidak demikian dengan orang buta sejak lahir itu, dia percaya kepada Tuhan Yesus dan pada akhirnya dia dapat melihat lalu sujud menyembahNya.
Penutup
Prinsip dan tindakan solidaritas sejatinya termanifestasi di dalam tindakan Allah melalui Putra-Nya Yesus yang luar biasa kepada umat-Nya. Allah memilih dan mengasihi yang hina. Dengan cara-Nya, inkarnasi Allah dalam diri Yesus menunjukkan bela rasa dan solidaritas-Nya atas penderitaan manusia. Solidaritas Allah itu tidak terbatas pada suatu golongan. Ia sesungguhnya membuka sepenuhnya karya keselamatan bagi semua orang. Solidaritas Allah tanpa batas ini pada gilirannya menjadi inspirasi kekuatan moral dan pendorong bagi kita umat-Nya untuk rela berbagi dan memberi kepada sesama. Jika setiap orang mengamalkan prinsip solidaritas, setia kawan, dan rela berbagi kepada sesama yang menderita, maka kita akan hidup dalam damai sejahtera yang bisa kita genggam dan peroleh.
Ungkapan solidaritas harus mewujudnyata dalam tindakan atau praksis hidup kita. Yesus telah menyatakan solidaritas-Nya kepada manusia. Ia mengajar, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan bagi yang lapar, mendengarkan keluhan orang, dan memberi diri-Nya kepada orang lain.
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan misi Yesus untuk mewujudkan solidaritas-Nya bagi sesama, teristimewa bagi mereka yang ada dalam penderitaan. Seluruh pekerjaan dan pelayanan Yesus dilandasi oleh cinta kasih dan solidaritas yang tulus kepada manusia. Inilah solidaritas sosial yang menjadi awal yang signifikan untuk mewujudkan damai sejahtera. Mari kita meneladani Dia dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak menilai sesuatu hanya dengan akal pikiran manusia saja, tetapi kita mau meneladani Tuhan Yesus dan hidup dalam terang-Nya. Tuhan memberkati. Amin. [SYN].
Pujian: KJ. 292 : 1, 3 Tabuh Gendang
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Gesang ing zaman samangke, ing satengahing gesang ingkang sarwa ewet, anggenipun manungsa gesang punika sansaya mentingaken dhirinipun piyambak. Punapa malih gesang ing tengah-tengah kutha, ingkang gesang wonten perumahan, sedaya katon sami sibuk piyambak-piyambak, sami mboten tepang sakiwa tengenipun, sarta sami mboten peduli. Anggenipun manungsa gesang sansaya individualistik, kathah tiyang ingkang nglirwakaken kapentingan gesang sesarengan. Gesang ingkang kebak ing solidaritas minangka wujud gesang sesarengan, wujud gesang ing patunggilan, lan simpati kalih tiyang sanes, sansaya dangu sanyata ical saking gesang sesarengan kita. Menawi wonten namung kepentingan kelompok ingkang mboten “sehat”. Akibatipun kathah tiyang ingkang wonten komunitasipun namung mikiraken gesangipun piyambak, mboten peduli malih kaliyan tiyang sanes. Kita tamtu sarujuk: sadar punapa mboten, kemajengan lan perkembangan zaman punika paring pengaruh ingkang ageng tumrap pemanggih lan pangertosan gesang kita. Pramila, kangge ngemutaken kita supados solider dhateng tiyang sanes, kita kedah purun sinau saking tokoh Prajanjian Enggal inggih punika Gusti Yesus. Gusti Yesus punika ingkang saestu paring patuladhan bab solidaritas utawi setia kawan punika.
Isi
Wonten waosan ingkang sepisan nyariosaken Dawud ingkang kapiji lan dipun berkahi Gusti Allah lumantar Nabi Samuel. Cariyos punika paring piwucal kangge kita sedaya bilih Gusti mboten namung mirsani punapa ing dipun tingali dening manungsa (ganteng, ayu, gedi duwur, lsp), ananging Gusti mersani salebeting manahipun manungsa. Punika ugi nedahaken bilih wonten tiyang ingkang gesang sacara individualistik, inggih punika tiyang ingkang milih kanca asring ningali miturut pikajengan lan kapentinganipun piyambak. Namung milih ingkang gedi duwur, ayu utawi ganteng, sugih, nggadhahi panguawos utawi jabatan, utawi tiyang ingkang sami kelompokipun utawi sami agaminipun kemawon ingkang saged dados kancanipun. Menawi wonten tiyang ingkang mboten mlebet kriterianipun punika: mlarat, elek, mboten nggadhahi panguaos lan jabatan, boten saged dados kancanipun.
Menawi punika ingkang kelampahan ing gesang kita, kita namung saged ningali tiyang sanes punika kados punapa ingkang dipun tingali dening manungsa kemawon utawi kadonyan kemawon. Kamangka ing gesang punika, kita kedah nuladani Gusti Yesus. Pramila kita kedah bucal tebih-tebih pikiran kamanungsan punika lan purun sinau saking Gusti Yesus ingkang kebak ing solidaritas. Nabi Samuel ningali putraning Isai kanthi prawakan ingkang gedi duwur, ganteng, nanging mboten wonten ingkang dipun piji dening Gusti, kejawi Dawud. Gusti miji Daud ingkang dados Juru among mendha ingkang sederhana.
Wonten waosan kita ingkang kaping kalih, Rasul Paulus paring pangenget dhateng pasamuwan Efesus bilih piyambakipun saestu kepingin gesangipun tiyang pitados punika sembada wonten ngarsanipun Gusti Yesus Kristus. Mila saking punika, Paulus ngudi supados iman lan kapitadosan tiyang-tiyang Efesus tansah rumaket ing Gusti Yesus ingkang sampun nebus dosaning manungsa. Paulus ngengetaken bilih gesangipun tiyang ingkang sampun katebus punika kedah gesang wonten ing padhang, mboten ing pepeteng. Gesang ing pepadhang punika nuwuhaken kasaenan, kaadilan, lan kayekten. Tiyang pitados punika gesangipun tansah nuladha Gusti Yesus, tansah saos sokur dhumateng Gusti, dados paseksinipun martosaken katresnanipun Gusti wonten salebeting gesang padintenan.
Wonten waosan ingkang kaping tiga, Gusti Yesus nyarasaken tiyang ingkang wuta wiwit lair, punika wujuding solidaritas utawi kepedulianipun Gusti Yesus dhumateng umat kagunganipun ingkang mbetahaken pitulungan. Waosan punika ugi nedahaken bilih Gusti Yesus punika Allah. Gusti Yesus nyarasaken tiyang wuta punika, sarana ngidu ing lemah, diulek-ulek, diolesaken dhateng mripatipun tiyang wuta punika, lajeng tiyang wuta punika dipun utus wisuh ing kolam Siloam, lajeng saras lan saged ningali. Sarasipun tiyang wuta punika dados masalah kangge tiyang Farisi, awit Gusti Yesus paring kesarasan tiyang wuta punika ing dinten Sabat. Pemanggihipun tiyang Farisi: kasarasan punika sanes saking tiyang ingkang leres, nanging saking tiyang ingkang dosa amargi nyarasaken tiyang wuta punika ing dinten Sabat. Gusti Yesus kaanggep dening tiyang Farisi, mboten ngajeni (menguduskan) dinten Sabat. Pangertosan bab hukum ingkang mboten leres (hukum dinten sabat) punika ingkang ngalangi tiyang Farisi angsal pitulungan lan kawilujengan saking Gusti Yesus, awit mboten pitados. Benten kaliyan tiyang wuta ingkang pitados dan nyembah Gusti Yesus, piyambakipun saged ngraosaken mujizat lan pitulungan saking Gusti Yesus sacara nyata.
Panutup
Prinsip bab solidaritas punika nyata wonten ing pakaryanipun Gusti Allah lumantar Putranipun Gusti Yesus kagem umatipun. Gusti Allah miji lan tresnani tiyang ingkang hina. Kanthi pakaryanipun inggih punika Allah karsa manjalma dados manungsa wonten ing Gusti Yesus nedahaken bela rasa lan solidaritas Panjenenganipun tumrap kasangsaranipun manungsa.
Solidaritasipun Gusti Allah punika boten namung winates ing setunggal golongan kemawon. Panjenenganipun sejatosipun maringi kawilujengan kagem sedaya tiyang. Patuladhanipun Gusti Yesus ingkang solider ngiyaten dhateng kita supados purun andum berkah utawi andum katresnan dhateng tiyang sanes. Menawi kita sedaya ngamalaken prinsip solidaritas, setia kawan lan berbagi dhateng sedaya tiyang ingkang nandhang kacingkrangan, tamtu gesang kita punika tansah kebak ing tentrem rahayu.
Sejatosipun bab solidaritas punika kedah kawujudaken ing lampah gesang kita saben dinten. Gusti Yesus sampun nedahaken solidaritas dhateng kita manungsa. Panjenenganipun paring piwucal kanthi nyarasaken tiyang sakit, nangekaken tiyang seda, paring dahar dhateng tiyang ingkang kluwenen, mirengaken pasambatipun manungsa lan nyaosaken gesang-Ipun kagem tiyang sanes supados saged kawilujengaken.
Kasunyatan punika nedahaken bilih misinipun Gusti Yesus sampun nyata saking solidaritas-Ipun dhateng kita, khususipun dhateng tiyang-tiyang ingkang nandhang kasisahan. Sedaya peladosanipun Gusti Yesus punika linadesan katresnan dan solidaritas ingkang tumemen dhateng manungsa. Punika ingkang kasebat solidaritas sosial ingkang wiwitan lan cocok kagem wujudaken katentraman dan karahayon ing donya punika. Sumangga kita nuladhani Gusti Yesus wonten ing gesang padintenan kita sedaya. Kita mboten dawah ing paningal kita sacara manungsa, ananging kita tansah nuladhani Gusti Yesus lan purun gesang ing pepadhangipun Gusti Allah. Gusti tansah mberkahi kita sedaya. Amin. [SYN].
Pamuji: KPJ. 357 : 1, 2 Endahing Saduluran