Merengkuh Semua Orang Khotbah Minggu 8 Januari 2023

26 December 2022

Minggu Baptisan Tuhan
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 42 : 1 – 9
Bacaan 2: Kisah Para Rasul10 : 34 – 43
Bacaan 3: Matius 3 : 13 – 17

Tema Liturgis: Berkomitmen Terlibat Dalam Karya Kerajaan Allah
Tema Khotbah: Merengkuh Semua Orang

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 42 : 1 – 9
Pada perikop ini, Yesaya memperkenalkan sosok hamba Tuhan yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan pada umumnya. Yesaya mengungkapkan jati diri, panggilan, dan misi Sang Hamba. Pertama, Sang Hamba dikaruniai Roh Allah supaya dapat menegakkan hukum/ keadilan Allah kepada bangsa-bangsa (Ay. 1, 3, 4). Hal ini ditegaskan ulang secara mendetail dalam ayat 6-7. Allah memanggil hamba-Nya untuk membebaskan umat manusia. Pembebasan ini ditujukan kepada semua bangsa. Penegasan ini penting, karena berulang kali umat Israel terjebak pada pemikiran bahwa Allah hanya mengasihi dan menyelamatkan mereka, tetapi membenci dan akan membinasakan bangsa-bangsa lain. Kedua, sifat pelayanannya adalah tenang dan tidak meledak-ledak (Ay. 2), namun tegas dan konsisten sampai keadilan Allah tuntas ditegakkan (Ay. 4). Pelayanannya sendiri menopang dan menegakkan orang-orang yang kehilangan pengharapan akan keadilan Allah (Ay. 3). Ayat 8-9 menjadi penegasan dari pihak Allah bahwa pilihan-Nya pada seseorang untuk menjadi hamba-Nya itu tepat dan Ia yang akan mewujudkan rencana mulia-Nya.

Kisah Para Rasul 10 : 34 – 43
Bagi orang Yahudi, bergaul dengan orang non-Yahudi merupakan pantangan. Sikap rasis orang Yahudi disebabkan kekeliruan mereka memahami konsep umat pilihan. Bagi mereka, umat pilihan adalah semata-mata hak istimewa. Mereka lupa panggilan istimewa untuk tugas/ kewajiban mulia, membawa bangsa-bangsa lain kepada Allah. Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya, termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Tindakan yang dilakukan Petrus menghancurkan hukum yang selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu karena Allah. Allahlah yang menghancurkan dua golongan manusia yang saling bertolak belakang: Kornelius “si kafir” dan Petrus “si Yahudi” .

Di dalam Allah hubungan sesama manusia tidak ada penghalang. Dengan kata lain, tradisi yang bertentangan dengan prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dengan kebenaran firman Tuhan. Rahasia perkenan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (Ay. 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya disalib, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa. Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis (rasialis berarti membeda-bedakan orang dan merasa lebih unggul dari yang lain) dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (Ay. 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (Ay. 42).

Matius 3 : 13 – 17
Perikop ini menceritakan tentang baptisan Yesus. Untuk apa Tuhan Yesus dibaptis? Yohanes merasa tidak pantas membaptis Yesus. Yesus tidak berdosa, Ia tidak memerlukan pertobatan. Bahkan, sebelumnya Yohanes sudah memberitakan, bahwa baptisan air yang ia lakukan itu menunjuk kepada baptisan Roh Kudus yang akan Yesus berikan kepada orang yang sungguh bertobat (Ay. 11). Mengapa Yesus meminta Yohanes membaptis diri-Nya? Pertama, sebagai tanda pengidentifikasian-Nya dengan orang berdosa. Yesus tidak berdosa, tetapi Ia datang untuk menjadi Juruselamat orang berdosa. Untuk itu Ia perlu menempatkan diri-Nya di posisi orang berdosa. Ia dibaptis “seperti” orang berdosa (Ay. 15). Sebagai bukti bahwa Ia telah menjadi sama dengan manusia lainnya. Kita melihat perikop sesudah ini, Yesus bisa dicobai (Ay. 4:1-11).

Kedua, pembaptisan Yesus merupakan peneguhan diri-Nya dari Allah, bahwa Dialah Yang Diperkenan Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Ay. 16b). Dialah Yang Diurapi Roh untuk melaksanakan karya penebusan (Ay. 16a). Bagi Yesus peneguhan itu penting, karena Ia sadar pelayanan-Nya sebagai Juruselamat manusia bukan pelayanan biasa. Pelayanan itu adalah pelayanan yang menuntut pengorbanan hidup-Nya. Ia harus mati, agar umat manusia memperoleh hidup. Oleh sebab itu, perkenan Allah dan pengurapan Roh menjadi kekuatan bagi Yesus memulai pelayanan-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan
Yesus adalah Sang Hamba yang merengkuh manusia yang berdosa. Dialah yang menegakkan hukum/ keadilan Allah kepada bangsa-bangsa. Dialah yang diurapi Roh Allah untuk melakukan penebusan bagi umat manusia yang berdosa. Dia mau merengkuh semua umat manusia. Merengkuh semua orang agar mengerti karya keselamatan Tuhan Yesus juga menjadi tugas kita.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Kita mungkin pernah berada dalam situasi tidak diterima dan tidak dianggap oleh orang lain. Situasi itu menempatkan kita pada posisi yang lemah dan tak berdaya. Kepedulian orang lain yang dengan tulus mau memperhatikan, tidak menghakimi, dan bersedia mendengar bahkan mungkin memberi pandangan-pandangan yang mengarahkan kita pada solusi, terasa sangat menyejukkan. Setiap orang, sekuat apapun dia, suatu ketika dia butuh sahabat untuk menemani dalam menghadapi kehidupan.

Ada satu kata yang menarik untuk kita dalami bersama, kata yang menunjukkan kepedulian kepada orang lain yang dalam kondisi yang terpinggirkan. Kata itu adalah merengkuh. Merengkuh, secara harafiah bermakna menarik, mendekatkan, meraih arah ke dada (tubuh). Dari arti harafiah tersebut, kata merengkuh memiliki makna: kesediaan aktif seseorang membuat orang lain berada di dalam dekapannya. Melalui dekapan, kehangatan, dan kenyamanan dirasakan itu, seseorang yang berada dalam rengkuhan itu merasa dirinya diterima, dimengerti, dan dihargai. Penerimaan mendatangkan pemulihan dan semangat. Apakah saudara membutuhkan rengkuhan seperti itu? Ketika dalam kondisi lemah dan sulit, kita membutuhkan rengkuhan yang memulihkan dan menyemangati diri kita, demikian juga orang lain.

Isi
Allah turun ke dunia dalam diri Tuhan Yesus, bukannya tanpa tujuan. Ia hadir untuk merengkuh manusia yang dalam kondisi tidak diterima, tersisih akibat dosa yang meguasai mereka. Ia rela menjadi sama dengan manusia adalah upaya-Nya merengkuh manusia yang berdosa. Cerita Tuhan Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dalam bacaan ketiga, memberikan pemahaman bagi kita, bahwa Ia mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang berdosa. Yesus tidak berdosa, tetapi Ia datang untuk menjadi Juruselamat orang berdosa. Ia menempatkan diri-Nya di posisi orang berdosa. Ia dibaptis “seperti” orang berdosa (Ay. 15). Hal tersebut sebagai bukti bahwa Ia telah menjadi sama dengan manusia lainnya. Cerita tentang pembaptisan Tuhan Yesus juga merupakan peneguhan diri-Nya dari Allah, bahwa Dialah Yang Diperkenan Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Ay. 16b). Dialah Yang Diurapi Roh untuk melaksanakan karya penebusan (Ay. 16a). Dengan peristiwa pembaptisan itu menunjukkan bahwa Ia bersedia untuk menerima manusia yang berdosa. Walaupun Ia dalam rupa Allah, Ia mau mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia.

Karya Allah dalam Tuhan Yesus yang merengkuh manusia berdosa sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. Rengkuhan yang tidak hanya ditujukan kepada satu bangsa saja, tetapi untuk semua bangsa. Seperti yang diceritakan dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya memperkenalkan sosok hamba Tuhan yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan pada umumnya. Yesaya mengungkapkan jati diri, panggilan, dan misi Sang Hamba. Pertama, Sang Hamba dikaruniai Roh Allah supaya Ia dapat menegakkan hukum/ keadilan Allah kepada bangsa-bangsa. Allah memanggil hamba-Nya untuk membebaskan umat manusia dari penindasan dosa. Pembebasan ini ditujukan kepada semua bangsa. Penegasan ini penting, karena berulang kali umat Israel terjebak pada pemikiran bahwa Allah hanya mengasihi dan menyelamatkan mereka, tetapi membenci dan akan membinasakan bangsa-bangsa lain. Kedua, sifat pelayanannya adalah tenang dan tidak meledak-ledak (Ay. 2), namun tegas dan konsisten sampai keadilan Allah tuntas ditegakkan (Ay. 4). Pelayanannya sendiri menopang dan menegakkan orang-orang yang kehilangan pengharapan akan keadilan Allah (Ay. 3). Ayat 8-9 menjadi penegasan dari pihak Allah, bahwa pilihan-Nya pada seseorang untuk menjadi hamba-Nya itu tepat dan Ia yang akan mewujudkan rencana mulia-Nya.

Tindakan merengkuh semua orang, agar mereka mengerti karya Keselamatan Tuhan Yesus haruslah terus dikumandangkan. Keselamatan dari Tuhan Yesus tidak hanya terbatas pada satu bangsa Yahudi saja, tetapi kepada semua bangsa. Inilah juga yang dilakukan oleh murid Tuhan Yesus ketika mengabarkan karya keselamatan Tuhan Yesus. Hal ini nampak dalam khotbah Petrus kepada Kornelius. Dari bacaan kedua, kita dapat memahami bahwa khotbah Petrus dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya, termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir.

Tindakan yang dilakukan Petrus menghancurkan hukum yang selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu karena Allah. Allahlah yang menghancurkan dua golongan manusia yang saling bertolak belakang: Kornelius “si kafir” dan Petrus “si Yahudi”. Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan, untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya disalib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa. Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis (rasialis berarti membeda-bedakan orang dan merasa lebih unggul dari yang lain) dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah. Bahkan Petrus menyadari panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang .

Penutup
Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita juga mempunyai tanggung jawab untuk merengkuh semua orang, terkhusus bagi mereka yang berbeda dengan kita. Karya keselamatan Tuhan Yesus dapat diterima oleh orang lain. Hal ini dapat kita lakukan dalam kita membangun relasi dengan semua orang, tanpa memandang latar belakang mereka. Jika hal itu kita wujudnyatakan dalam program kegiatan, sasarannya menjangkau ekstern gereja, tanpa menganggap mereka lebih rendah dari kita, karena Tuhan Allah tidak membedakan orang. Tuhan Yesus yang adalah Hamba mau menerima semua orang, maka demikian jugalah kita. Amin. [SWT].

 

Pujian: KJ. 426 : 1, 3 Kita Harus Membawa Berita


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Mbok menawi kita nate wonten ing swasana ing pundi salebeting kawontenan kita mboten dipun tampi lan mboten dipun anggep kaliyan tiyang sanes. Prekawis punika mapanaken kita ing kawontenan ingkang ringkih lan tanpa daya. Tiyang sanes ingkang tulus kersa nampi kita, mboten njeksani lan kersa mirengaken, langkung-langkung kersa paring wawasan kangge manggihaken margi, saged ndadosaken manah kita kraos bingah. Saben tiyang, kados pundi kemawon kiyatipun, taksih mbetahaken tiyang sanes kangge ngancani ngadepi kawontenaning gesang.

Wonten setunggal tembung ingkang saged kita gatosaken kangge mujudaken raos peduli kangge tiyang sanes ingkang saweg kapinggiraken, inggih punika ngrengkuh. Secara harafiah tembung ngrengkuh punika nggadahi teges narik, nyelakaken, nggayuh tumuju dada (badan). Ateges tembung ngrengkuh punika nggadahi makna tansah sumadya ngrangkul tiyang ing sakngajengipun. Kanthi mekaten tiyang ingkang dipun rangkul rumaos dipun tampi lan dipun ajeni. Panampi punika dadosaken pamulihan saha semangat. Punapa panjenengan mbetahaken rengkuhan kados mekaten? Ing kawontenan ingkang ewet lan tanpa daya, kita mbetahaken rengkuhan ingkang ndadosaken kita pulih lan semangat malih. Mekaten ugi tiyang sanes.

Isi
Gusti Allah rawuh ing donya wonten ing Gusti Yesus, mboten tanpa tujuan. Panjenenganipun rawuh kangge ngrengkuh manungsa ing salebeting kawontenan ingkang mboten katampi, kasisihaken awit dosa ingkang nguwasani. Panjenenganipun kersa dados manungsa supados saged ngrengkuh manungsa ingkang dosa. Cariyos ngingingi Gusti Yesus ingkang dipun baptis kaliyan Yokanan Pambaptis wonten ing waosan kaping tiga, paring pangertosan kangge kita bilih Panjenenganipun punika mampanaken diri-Nipun kados tiyang dosa. Panjenenganipun mboten dosa nanging rawuh kangge dados Juru Wilujeng tiyang dosa. Panjenenganipun dipun baptis kados tiyang ingkang dosa (Ay. 15).

Prekawis punika minangka bukti bilih Panjenenganipun sampun dados sami kaliyan manungsa lintunipun. Cariyos ngingingi baptisipun Gusti Yesus ugi minangka paneguhan saking Gusti Allah, bilih Panjenganipun punika ingkang dadosaken renaning penggalihipun Gusti Allah. “Iki PutraningSun, kekasihingSun, kang ndadekake renaning penggalihingsun.” (Ay. 16b). Penjenenganipun ingkang dipun tedhaki Sang Roh Suci kangge mujudaken panebusan (Ay. 16a). Kanthi prastawa pambaptisan punika Panjenenganipun kersa nampi kawontenaning manungsa ingkang dosa. Senaosa Panjenenganipun asipat Allah, nanging kersa ngrucat kamulyanipun lan dodos sami kaliyan manungsa.

Pakaryanipun Gusti Allah wonten ing Gusti Yesus ingkang ngrengkuh manungsa ingkang dosa sampun dados pameca Nabi Yesaya. Rengkuhan punika mboten namung katujokaken kangge setunggal bangsa kamawon, nanging kangge sedaya bangsa. Punika kados ingkang dipun cariyosaken ing waosan ingkang sepisan, Nabi Yesaya nepangaken Abdinipun Sang Yehuwah ingkang benten kaliyan abdi-abdi sanesipun. Nabi Yesaya nerangken diri, timbalan, lan misi saking Abdi punika. Sepisan. Sang Abdi punika katedhakan Roh Suci supados saged ngundhangaken kaadilan dhateng para bangsa. Pangentasan punika katujokaken kangge sedaya bangsa. Prekawis punika wigatos, awit wongsal-wangsul umat Israel kajebak ing pemanggih bilih Gusti Allah namung ngasihi lan paring kawilujengan dhateng Israel kemawon, dene bangsa-bangsa sanesipun mboten dipun remeni lan badhe dipun tumpes. Kaping kalih. Sipat peladosanipun punika anteng (Ay. 2), nanging teges, ngatos kaadilanipun Gusti Allah dipun jejegakaken (Ay. 4). Peladosanipun nyanggi lan ngiyataken tiyang-tiyang ingkang kecalan pangajeng-ajeng kaadilanipun Gusti Allah (Ay. 3). Ayat 8-9 negesaken bilih Gusti Allah anggenipun milih Abdi saetu trep lan Abdi punika ingkang badhe mujudaken rancangan kamulyanipun.

Ngrengkuh sedaya tiyang supados mangertos pakaryan kawilujengan saking Gusti Allah kedah tansah kawujudaken. Kawilujengan saking Gusti Yesus mboten namung winates kangge bangsa Yahudi kemawon, nanging ugi kangge sedaya bangsa. Punika ugi ingkang dipun lampahi dening para sakabatipun Gusti Yesus, rikala ngabaraken pakaryan kawilujengan saking Gusti Yesus. Punika saged kita mangertosi saking khotbahipun Petrus rikala pepanggihan kaliyan Kornelius. Ing woaosan kaping kalih kita saged mangertosi bilih Petrus negesaken bilih Gusti Allah mboten mbentenaken tiyang. Gusti Allah kersa nampi saben tiyang, saking bangsa pundi kemawon, ingkang kanthi tulus kersa madosi Gusti Allah, kalebet Kornelius ingkang kasebat kafir.

Prekawis ingkang dipun tindhakeken Petrus punika nglebur pranatan ingkang sampun kelampahan. Petrus nglampahi sedaya punika awit saking Gusti Allah. Gusti Allah piyambak ingkang nglebur werni kalih pranatanipun manungsa, ingkang mboten sami antawisipun setunggal lan satunggalipun: Kornelius “si kafir” lan Petrus “si Yahudi”. Gusti Yesus rawuh ing donya mujudaken pakaryan kawilujengan supados manungsa katampi dening Gusti Allah. Sedanipun ing kajeng salib lan wungunipun saking antawisipun tiyang pejah, Gusti Yesus kersa nyawisaken margi kawilujengan kangge sedaya tiyang lan sedaya bangsa. Petrus, minangka tiyang Yahudi sinau ngatasi lampah gesang ingkang rasialis (mbeda-mbedakaken tiyang, rumaos langkung unggul tinimbang lintunipun) lan nampi Kornelius, tiyang kafir dados sesami manungsa ingkang dipun tresnani Allah. Petrus nyadari bilih timbalanipun ndherek Gusti Yesus punika kangge martosaken kawilujengan dhateng sedaya tiyang.

Panutup
Minangka pandherekipun Gusti Yesus, kita ugi nggadahi tanggel jawab kangge ngrengkuh sedaya tiyang, khususipun para tiyang ingkang benten kaliyan kita. Pakaryan kawilujengan saking Gusti Yesus, saged ta katampi dening tiyang sanes. Punika kita lampahi kanthi tumindhak nyata ing pigesangan sadinten-dinten. Prekawis punika saged kita lampahi ing salebeting kita mbangun pasrawungan kaliyan sedaya tiyang, tanpa ningali asalipun. Menawi punika kita wujudaken ing program kegiatan, sae menawi ugi saged kalampahan sesarengan/ katujokaken dhateng tiyang sakjawinipun greja. Tanpa nganggep tiyang-tiyang sakjawinipun greja langkung ngandhap saking kita, awit Gusti Allah mboten mbentenaken tiyang. Gusti Yesus minangka abdi, saged nampi sedaya tiyang, mekatena ugi kita. Amin. [SWT].

 

Pamuji: KPJ. 441 Kita Sami Tinimbalan

Renungan Harian

Renungan Harian Anak